Dendam Si Gadis Penggoda

Dendam Si Gadis Penggoda
Hadiah Tak Istimewa


__ADS_3

Suara deburan ombak menyuguhkan angin laut yang terasa begitu memiliki ciri khas. Suasana malam yang gelap, lampu di pinggiran jalan, serta bukan yang menerangi membuat suasana malam itu begitu indah. Di bawah sinar bulan, wajah Velo begitu jelas terlihat, ekspresi yang tidak sekalipun pernah Rigo lihat sebelumnya.


Rigo menghela nafasnya, ini sudah hampir satu jam Velo diam tak mengatakan apa-apa semenjak Rigo memaksanya untuk ikut keluar apartemen, lalu membawa Rigo ke pantai. Memang aneh karena pergi di malam hari, tapi suasana hati Velo pasti tidak ingin berada di keramaian makanya Rigo membawa Velo kesana.


" Velo, dari pada duduk saja bagaimana kalau kita berjalan sebentar? Lepaskan alas kakimu, biarkan telapak kakimu menyentuh pasir pantai, meskipun kegiatan biasa, tapi saat melakukanya di malam hari, itu akan menyenangkan. "


Velo hanya membuang nafas, sebenarnya dia sangat malas keluar apartemen apalagi hanya untuk pergi ke pantai seperti ini.


" Ayolah.... " Rigo tersenyum, mengulurkan satu tangannya untuk membuatkan Velo meletakan tangannya di dana. Velo memberikan tangannya, membiarkan Rigo menariknya dan membuatnya berdiri di dekatnya.


Velo dan Rigo kini berjalan bersama tanpa alas kaki, meskipun Velo tidak merasakan adanya perubahan, dia tetap mengikuti langkah kaki Rigo karena Rigo juga tak melepaskan genggaman tangannya.


" Velo, coba pejamkan matamu tanpa menghentikan langkah kakimu, ikuti aku, percayalah aku akan menjaga jalanmu, menyingkirkan jika ada benda yang akan menyakiti kakimu. Dengarkan suara ombak, rasakan angin laut yang berhembus, hirup udara laut dan rasakan sejuknya malam ini. "


" Kenapa aku harus patuh? " Tanya Velo tak berekspresi.


Rigo tersenyum.


" Karena saat kau patuh, kau akan menjadi berjuta kali lebih cantik. "


" Aku tidak membutuhkan itu. "


" Tapi aku suka melihatnya. "

__ADS_1


" Artinya aku harus menyenangkanmu? "


" Kau maunya bagaimana? Mau sama-sama saling membuat senang? Sungguh ingin di sini? "


Velo membuang nafasnya, dia tidak menjawab ucapan Rigo, tapi dia memejamkan matanya seperti keinginan Rigo. Tentu saja Rigo benar-benar senang melihatnya.


" Dengarkan baik-baik suara ombak, rasakan sejuknya angin laut yang berhembus menerpa kulit, hirup perlahan udara malam ini, terus lakukan itu. " Ucap Rigo.


Velo mencoba untuk mendengarkan suara ombak, lalu saat angin berhembus dia merasakan hawa sejuk menerpa kulitnya, wajahnya, lalu dia menghirup udara malam. Velo mengernyit karena ternyata hal itu mampu membuat isi kepalanya tidak lagi hanya tentang Ibunya. Velo bisa mendengar suara ombak dengan jelas, jelas sekali sampai dia tidak bisa mendengar suara Ibunya lagi. Velo menghentikan langkah kakinya, perlahan membuka matanya. Dia tersenyum tipis, ini sudah jauh lebih baik, dia sudah tidak lagi harus menahan diri dan berpura-pura baik di hadapan Rigo karena nyatanya dia sudah tidak memiliki masalah dengan suara Ibunya.


" Kau membuka mata lebih cepat dari dugaan ku. " Ujar Rigo menatap Velo yang kini juga beralih menatapnya.


" Iya, suara ombak yang sangat kuat dan mengganggu itu rupanya berguna juga. "


" Apa aku boleh mengatakan sesuatu meski kau tidak akan menyukainya? " Tanya Rigo.


" Kalau kau tahu aku tidak akan suka, lebih baik jangan mengatakan itu. "


Rigo menghela nafas lalu tersenyum.


" Tapi aku ingin mengatakannya. "


" Kalau kau tahu begitu kukuh ingin bicara, untuk apa kau meminta izin dariku? "

__ADS_1


Rigo menarik tangan Velo agar mereka bisa lebih dekat lagi, membawa genggaman tangan mereka berdua ke dalam saku jaketnya.


" Kau tahu seberapa pentingnya kehidupan? Semua akan terasa indah dan berarti saat kita memiliki kedamaian di dalam hati. Hentikan perasaan ingin selalu membenci, tentu saja itu akan sulit karena manusia memiliki sensitivitas berbeda-beda. Aku memang tidak tahu beberapa besar dan dalam luka yang kau alami, tapi aku ingin kau tahu bahwa masih ada orang yang menyayangimu, siap menjadi tempat untuk kau berkeluh kesah. "


" Berkeluh kesah hanya membuang waktu saja, mereka bisa apa selain mengatakan sabar? Tidak ada yang bisa di pahami oleh orang lain karena setiap orang memiliki pengalaman hidup yang berbeda. Aku memercayai diriku sendiri, aku yakin akan baik-baik saja saat aku tetap berada di jalanku. Tidak selalu menggunakan perasaan agar tidak terlalu merasa tersakiti oleh ucapan serta perbuatan orang lain. Aku selalu berpikir bahwa, manusia adalah makhluk yang paling menakutkan, manusia sulit untuk di percaya, manusia yang di lahirkan dengan hati, perasaan, akal, bahkan bisa dengan nyaman menyakiti orang lain, membunuh satu sama lain. Jika yang kau ingin adalah melunakkan hati dan mengarahkan cara berpikirku, maka lebih baik urungkan saja niatmu. "


Rigo tak bicara lagi, dia menghela nafas pelan. Iya, hati Velo seperti mati rasa, keras melebihi batu. Tentu saja Rigo cukup paham bahwa pengalaman hidup Velo pasti sangat tidak biasa, meskipun sampai detik ini dia masih tidak mengerti banyak hal dari seorang Velo, dia akan mencoba untuk memaklumi Velo, juga tidak akan lelah membuat Velo mengerti bahwa berdamai dengan masa lalu, hidup bahagia sebagai balas dendam adalah hal paling menyenangkan dan hati akan selalu merasa damai. Rigo meraih tengkuk Velo, mencium dengan lembut bibir Velo, menikmati ciuman yang terasa hangat seolah hangatnya menjalar keseluruh tubuh.


" Aku punya hadiah kecil untukmu. " Rigo merogoh satu lagi saku jaketnya, mengeluarkan kotak kecil dan membukanya dengan satu tangan. Dia tersenyum karena pada akhirnya dia memiliki keberanian untuk memberikan cincin berlian yang pernah dia beli saat sedang membeli cincin bersama Selena beberapa waktu lalu. Cincin itu Rigo beli karena saat itu dia terus menerus mengingat Velo.


Velo segera menarik tangannya karena Rigo sudah akan memakaikan cincin itu di jarinya. Tentu saja Rigo terkejut, dia juga terlihat kecewa tapi dia masih bisa terus menahan diri agar tidak bertanya kepada Velo.


" Tidak, kau tidak boleh memberikan cincin itu padaku, Rigo. Aku tidak bisa menerima apapun, aku tidak ingin hubungan kita jadi di luar kendali. "


Rigo memaksakan senyumnya.


" Cincin ini tidak ada makna penting, hanya hadiah saja. Aku memberikan ini karena tidak sengaja membelinya. Penjualnya adalah teman lama ku, aku membelinya karena sekedar ingin membantu dia. "


Velo masih ingin menolaknya, tapi Rigo yang kukuh memaksa Velo memberikan tangannya, lalu memasangkan cincin itu di jari manis Velo.


" Benar-benar sangat cocok di jarimu, untung juga ukurannya sangat pas di jarimu. " Ujar Rigo lalu tersenyum senang.


Velo terdiam, jari itu tidak pernah sekalipun dia pakaikan cincin, dan ini kali pertama jari manisnya di hiasi cincin. Menganggu, dan tidak nyaman sekali baik hati juga hatinya. Velo merasa begitu berat menerima cincin itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2