
Zegon terus menatap Velo yang di gendong seorang pria masuk ke dalam sebuah mobil. Tentu saja dia marah, dia kecewa, dia bahkan ingin menghancurkan pria bernama Rigo, anak dari pemilik perusahaan yang baru-baru ini menjalin hubungan kerja sama dengannya. Tentu saja dia mengambil kesempatan kerja sama itu meski tidak begitu tertarik hanya karena ingin memiliki peluang lebih besar untuk bisa bertemu dengan Velo secara tidak sengaja.
Dia bisa saja langsung datang menghampiri Velo, memaksanya untuk kembali padanya, tapi dia paham benar bagaimana sikap dan sifat Velo jika dia melakukan itu. Di banding siapapun, bahkan di banding Velo sendiri, Zegon adalah satu-satunya orang yang mampu mengenali Velo dengan baik.
" Velove....... Bahkan kau bisa bersandiwara seperti ini, tekad mu ingin membalas dendam benar-benar sudah sangat bulat. Tidak apa-apa, tidak masalah kau melakukan apa, dengan siapa, akan ku tahan perasaan marah, cemburu dan kesal yang bahkan sulit untuk di tahan apalagi saat melihat pria itu di hadapanku. Sama sepertimu, aku juga akan berjuang untuk menunggumu, memperhatikan mu baik-baik, mendoakan agar wanita yang paling aku cintai tidak akan terluka. " Gumam Zegon menatap laju mobil milik Rigo yang lebih dulu meninggalkan tempat parkir kendaraan di banding dirinya.
Tahu, dia sangat tahu dan paham benar bagaimana perasaan Velo untuknya. Tapi, Zegon sendiri tidak pernah merasakan perasaan seperti saat bersama Velo, memikirkan tentang Velo. Sebenarnya dia tidak terlalu ingin memliki hubungan pernikahan, tapi karena mantan istrinya yang saat itu adalah kekasih sesaatnya menjebaknya dan membuat seolah-olah Zegon melecehkannya, hingga pada akhirnya keluarga Zegon memaksa Zegon habis-habisan untuk menikahi mantan istrinya.
Beruntung Zegon bertemu Velo, meskipun dari awal dia hanya ingin main-main saja, tapi begitu mengetahui Velo masih suci di balik wajah menggoda seolah dia wanita murahan, Zegon mengetahui dan menyadari satu hal bahwa Velo hanyalah seorang gadis polos dengan ambisi tersembunyi. Zegon menjalani hubungan itu selama beberapa tahun, dia menemukan kenyamanan, dia bisa merasakan perasaan ingin terus menyayangi, memanjakan, berdekatan, memeluk Velo dan mencium aromanya. Zegon akan merasa frustasi saat dia tidak bertemu setengah hari saja dengan Velo, dia benar-benar kecanduan dengan Velo. Tidak sehebat wanita penggoda dalam kegiatan di atas ranjang, tapi entah alasan apa Velo seperti memiliki sensasi yang berbeda, dan itu belum pernah Zegon temukan pada wanita sebelumnya.
***
Selena semakin deras menitihkan air mata karena dengan jelas dia bisa melihat betapa dekatnya Velo dan juga Rigo yang sudah seperti pasangan menikah tengah merasakan hangatnya hubungan awal menikah. Jantungnya benar-benar berdegup kencang tanpa bisa berkata-kata, dia tidak mampu bahkan hanya untuk membuka mulutnya. Di dalam hati dia terus memaki, membenci semua yang terjadi hari ini, dia membenci Velo yang mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan.
Sakit, sakit sekali sampai seluruh tubuhnya gemetar hebat, tubuhnya menjadi dingin, begitu juga keringat mulai membasahi seluruh tubuhnya. Bagaimana bisa dia kehilangan segalanya? Rigo yang dulu terus mengejarnya, tatapan kagum dari semua orang, kesempatan untuk menjadi balerina dan model terkenal sudah sangat jauh dari jangkauannya. Rasanya ingin pasrah dan hanya menyalahkan Tuhan, tapi saat mengingat ucapan Velo, Hanya pengecut yang akan menyalahkan orang lain atas ketidak kemampuan diri sendiri. Selena hanya bisa menggenggam erat-erat setitik harapan untuk bisa bangkit dan perlahan melangkah maju, mencoba lagi siapa tahu ada kesempatan di masa depan untuknya menjadi apa yang dia inginkan.
__ADS_1
" Hancur! Hancur sudah semuanya! Tidak bisa mendapatkan menantu yang kaya, tidak bisa menjadi model, tidak bisa menjadi balerina, tidak bisa pula bekerja untuk menghasilkan uang! Kenapa sekarang aku seperti harus berjuang sendirian? Kemana kata keluarga? Seharusnya kita berjuang bersama bukan? " Kesal Nyonya Fer yang sudah tidak bisa menahan diri lagi. Sahabat memerah kesal mengingat bagaimana Velo mencuri perhatian semua orang, lalu apa yang di lakukan putrinya hingga harus kehilangan kesempatan emas, lalu sekarang dengan kedua bola matanya dia melihat calon menantunya menggendong wanita lain dengan begitu mesra penuh kasih seperti Velo hanyalah satu-satunya wanita di bumi ini.
" Sayang, tenangkan dirimu dulu. Bukan hanya berat untukmu saja, tapi untuk putri kita pasti ini berkali-kali lipat lebih menyakitkan. Lihat, sedari tadi dia hanya diam dan menangis tanpa suara, dia juga menderita sekali, tapi tidak berani mengatakannya. " Ujar Ayah Fer, tentu saja sedari tadi dia menyadari benar bagaimana putrinya terlihat begitu bersedih.
Nyonya Fer menghela nafasnya.
" Aku sudah muak dengan semua ini, aku seperti sedang di permainkan oleh takdir. Padahal beberapa saat lalu aku begitu senang karena setidaknya Selena bisa menghasilkan uang sendiri dengan menjadi model. Tapi hanya dalam hitungan detik semuanya begitu berubah setelah adanya wanita sialan itu. Sekarang semuanya sudah hancur, bukan hanya karena ulah sanita itu saja, tapi juga karena Selena yang tidak bisa menggunakan isi kepalanya dengan baik. " Nyonya Fer membuang nafas kasarnya setelah selesai berkalimat membuat Selena semakin terdiam dan hanya bisa membiarkan saja air matanya jatuh.
" Tetap saja bukan kewajiban Selena untuk menghasilkan uang. " Ujar Ayah Fer yang tidak tahan lagi melihat Selena semakin bersedih.
" Kalian begitu kewajiban siapa? Kewajibanmu kan? Jadi kapan kau akan menghasilkan uang untuk kita berdua? Hem? Kapan? "
Ayah Fer sontak terdiam, di dalam hati dia benar-benar kesal sekali karena ujungnya malah dia juga yang menjadi sasaran istrinya.
" Besok kalian berdua harus cari kerja! Masa bodoh mau kerja apa, tukang sapu juga tidak masalah asalkan menghasilkan uang. "
__ADS_1
Selena semakin tidak tahan lagi, dia memutuskan untuk keluar dari mobil yang Sedari tadi hanya diam tak melaju karena Ayah dan Ibunya sibuk berdebat.
" Selena! " Panggil Ayah Fer saat Selena keluar begitu saja dari mobil.
" Lihat, beginilah caramu membesarkan putriku. Kau tidak pernah mengajarkan bagaimana caranya mandiri, kau yang membuat dia hidup manja dengan berlebihan! Kalau saja saat itu aku lebih tegas dengan kalian berdua, pasti tidak akan jadi seperti ini keluarga kita! "
Ayah Fer membuang nafasnya. Kesal, dia benar-benar kesal, tidak tahan lagi dengan ucapan istrinya yang semakin tidak terkendali.
" Kau pikir aku saja yang salah? Saat masih kecil kau selalu melarang ini dan itu, kau bilang kita menghasilkan uang sepenuhnya untuk anak kita, biarkan anak kita mendapatkan apa yang dia inginkan dengan uang kita. Kau ingin anak kita di utamakan dan di perlakukan seperti tuan putri, jadi tida perlu tahu bagaimana kerasnya hidup! Kau pikir hanya aku yang salah? Kenapa kau tidak coba introspeksi dirimu sendiri, hah?! "
" Berani sekali kau membentakku?! "
" Aku muak! Setiap kali kau hanya bisa marah saja! "
" Muak? Kau bilang muak?! Baiklah, aku akan menceraikan mu supaya kau tahu diri bahwa kalau tidak ada aku kau pasti sudah jadi gelandangan! "
__ADS_1
Bersambung.