Dendam Si Gadis Penggoda

Dendam Si Gadis Penggoda
Uang Berkekuatan Besar


__ADS_3

Rigo menatap Velo dengan tatapan khawatir, dia takut kalau suatu hari apa yang di lakukan Velo, aksi balas dendamnya menjadi bumerang untuknya, menjadi hal yang paling dia sesalkan hingga membuat dia merasa terus bersedih. Jujur Rigo bukan takut apa yang akan terjadi dengan Selena karena perasaan perduli itu mulai menipis dan dia selalu meletakkan semua perasaannya untuk Velo. Tidak bodoh, juga bukan tidak peka, selama ini dia sadar kalau sudah cukup mengelak tentang perasaanya sendiri, dia tidak ingin lagi melawan perasaan itu, dia tidak ingin lagi mengelak karena Rigo tahu benar akan sulit baginya melakukan itu.


Dia perduli tentang Velo, dia ingin Velo selamat hingga akhir. Dia ingin bisa bersama Velo dengan keadaan di mana Velo bisa fokus dengan kehidupan mereka saja. Rigo pikir jika Velo berusaha menerima dan berdamai dengan masa lalu hidupnya pasti akan bahagia. Mereka berdua bisa memulai segalanya dari awal dan tidak masalah juga kalau dia harus menunggu Velo untuk jatuh cinta padanya.


" Kau tidak akan memahaminya, kau tidak akan mengerti sampai kau mengalami sendiri. Luka demi luka, perasaan sakit dan kecewa, ingin merasakan kelegaan tapi yang hadir di dalam hidup hanyalah kecewa. Aku mengalami banyak hal menyakitkan sepanjang hidupku, Rigo. Aku tidak ingin menjelaskan panjang lebar apa saja yang terjadi padaku selama ini, karena aku benci di kasihani, aku benci orang lain menatap iba tapi hanya tahu cara mengatakan sabar. Ini tentang kehidupan dimana nasib diri berada di genggaman tangan masing-masing. Aku boleh kalah selama dua puluh tiga tahun yang lalu, dan kali ini aku tidak akan kalah lagi. "


Seperti itulah kalimat yang di katakan Velo, dan kini membuat Rigo tidak berdaya. Takut, dia benar-benar takut kalau pada akhirnya Velo akan dalam bahaya, dia takut tidak bisa banyak membantu, dia takut melihat wanita yang memiliki arti penting di hatinya akan bersedih. Bersedih? Rigo mengeryitkan dahinya, kenapa selama ini dia sama sekali tidak pernah melihat Velo bersedih apalagi menangis?


Rigo menghela nafasnya, Velo kini sedang tertidur dan dia juga tidak ingin mengganggunya. Tapi masalahnya adalah, Rigi tidak tahan untuk tidak merawat luka di kaki Velo sehingga perlahan dia merawat luka itu. Setelah selesai barulah dia mulai bergerak mengambil posisi untuk berbaring di sebelah Velo.


Kau bisa menyembunyikan sejuta rahasia tentang dirimu, Velo. Tapi aku akan berusaha mendobrak masuk, mencari tahu semuanya sendiri. Aku memang bukan pria yang memiliki perjuangan semacam ini sebelumnya, tapi aku akan berusaha melindungimu sekuat tenaga.


Rigo mengecup kening Velo, lalu perlahan mulai memejamkan mata untuk tertidur.


Pagi harinya.


Ayah Fer membatalkan niatnya untuk pergi dari rumah Nyonya Fer karena Nyunya Fer sendiri. Pertama-tama dia di usir pergi karena tidak bisa menjadi suami yang di inginkan, tapi begitu ingin pergi Nyonya Fer malah menjadi lebih marah karena menuduh suaminya sengaja memancing emosinya karena ingin meninggalkannya dan membebaskan diri untuk lepas tanggung jawab dan tidak memiliki beban lagi.

__ADS_1


Entah harus apa, tapi Ayah Fer memang benar terguncang hatinya oleh Nyonya Fer. Dia sebenarnya juga hanya modal nekat saja untuk pergi ke kampung dan entah bagaimana dia akan mencari uang di sana. Bisa di bilang selama ini dia hanya bergantung kepada istrinya kalau masalah keuangan sehingga dia jadi tidak berguna seperti ini kalau urusan uang.


Saat ini mereka sudah berada di meja makan, mereka semua kompak terdiam memandangi menu sarapan pagi ini yang jauh sekali berbeda dari sebelumnya. Hanya ada telur mata sapi, nasi, dan juga sayuran saja. Awalnya Nyonya Fer kesal dan menegur pembantu rumahnya, tapi karena pembantunya mengatakan jika dia sudah seminggu ini tidak di berikan uang belanja, sehingga dia harus memasakkan tuan dan Nyonya rumah mereka menggunakan uangnya sendiri.


Nyonya Fer benar-benar pusing sekali, dia belum memberikan upah pembantu karena dia juga bingung bagiamana mengatur keuangannya yang hanya tinggal sedikit. Tapi kalau dia tidak memberikan uang upah, dia juga tidak bisa kalau tidak ada pembantu di rumah. Dia tidak bisa memasak, membersihkan rumah juga bukan hal yang biasa dia kerjakan.


" Ibu, apa tidak ada makanan yang lain? " Tanya Selena. Telur mata sapi adalah makanan yang tidak di sukai oleh Selena. Sarapan pagi biasanya dia hanya akan memakan buah, atau salad sayur, juga roti bakar dengan madu. Dia tidak terbiasa sarapan dengan nasi, jadi tentu saja dia akan mencari menu lain sesuai dengan apa yang dia inginkan.


Nyonya Fer menghela nafas kesalnya, padahal dia benar-benar sedang pusing sekali, sekarang malah di buat tambah pusing oleh pertanyaan Selena. Makanan yang lain? Makanan yang akan menjadi sarapan mereka saja itu di bilang hutang dengan pembantu, tapi berani sekali menginginkan makanan yang lain.


Selena mengepalkan tangannya, matanya sudah memerah menahan tangis karena lagi-lagi harus mendengarkan ucapan yang sangat menyakitkan dari Ibunya. Selena tidak lagi ingin mengatakan apapun, tidak bisa pula dia pergi begitu saja karena dia sangat lapar. Selena mengambil sedikit nasi, lalu sayuran yang lebih banyak agar perutnya bisa nyaman seperti biasanya.


Di dalam hati dia benar-benar menangis sedih karena rasa makanan yang dia makan sangat asin menurutnya. Bisa di bilang pembantu rumah mungkin hanya mengunakan garam untuk memasak karena tidak ada bumbu yang lain. Padahal beberapa waktu lalu Selena mendapatkan bayaran dari tempat dia menjadi model, meskipun memang terjadi masalah di sana, penyelenggara tetap mengirim uang upahnya. Tidak usah bertanya kemana uang itu karena sudah pasti ada di tangan Ibunya, hanya penasaran saja untuk apa uang yang dia terima sebagai upah kalau makan saja dia tidak bisa sesuai dengan seleranya?


Selena menghentikan kegiatannya, menatap sebentar Ibunya dengan tatapan bertanya di dalam hati.


" Kenapa menatap Ibu seperti itu? " Tanya Nyonya Fer yang merasa risih dengan cara Selena menatapnya.

__ADS_1


Selena menggelengkan kepala dan kembali melanjutkan kegiatan sarapannya.


Nyonya Fer meletakkan sendok dan garpunya, menatap Selena dengan mimik sebal karena sepertinya dia tahu apa maksud Selena menatapnya tadi.


" Kau Penasaran kemana uang mu sampai kau harus makan seperti ini? "


Selena tidak menjawab membuat Nyonya Fer semakin berpikir demikian.


" Untuk membayar cicilan mobilmu, mobil itu sudah menunggak dua bulan, dan upahmu hanya cukup membayar satu bulan dengan bunganya. Meskipun tersisa sedikit, Ibu harus baik-baik menyimpannya dan bisa kita gunakan saat mendesak nanti. Dasar tidak berguna, menghasilkan sedikit uang saja sudah mau perhitungan. " Kesal Nyonya Fer membuat Selena kehilangan selera makannya.


Di tempat lain.


Velo tersenyum senang mendengar kekacauan keluarga Fer yang semakin menyenangkan.


" Uang benar-benar memiliki kekuatan yang luar biasa. Keluarga harmonis bisa menjadi keluarga neraka, lawan bisa menjadi teman, jauh bisa merapat, dan uang bisa membuat orang saling memaki, berebut, juga saling membunuh. Ah, memiliki uang untuk menonton penderitaan orang lain juga lumayan menyenangkan. " Gumam Velo duduk santai menikmati secangkir teh hijau di sana.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2