
Setelah Rigo selesai bicara untuk menyapa, dan sebentar mengajak ngobrol Nyonya Fer, Rigo memberikan sebuah amplop untuk membantu Nyonya Fer berobat. Setelah itu Rigo memutuskan untuk keluar dari kamar, sedangkan Velo memilih untuk tinggal di sana agar bisa mengatakan beberapa kalimat kepada Nyonya Fer. Rigo sebenarnya khawatir, tapi dia juga tidak bisa melarang karena Velo juga harus bertindak agar dia bisa merasa cukup dengan balas dendamnya. Tapi, Rigo juga bersiap dengan benar jika terjadi sesuatu dia akan langsung membawa Nyonya Fer ke rumah sakit.
Velo tersenyum, dengan tatapan angkuh, sombong, percaya diri dan mimik yang ingin menindas, dia berjalan mendekati Nyonya Fer yang terus menatapnya dengan tajam seolah dia sedang memaki di dalam hati. Hah, lucu sekali ya? Padahal sedang tidak bisa melakukan apapun seperti ini, tapi tatapan matanya yang membelalak memaki dirinya membuat Velo tak merasakan kasihan barang sedikitpun.
" Hah...... Nyonya Fer yang terhormat, tepat sebelas tahun lalu, anda menghampiriku dengan tatapan mata yang persis seperti itu, dengan percaya diri anda menghina, mengusirku, menyakitiku, meludahiku. Mengingat hari itu, " Velo mengangkat satu tangannya, mengerakkan lima jemarinya dengan tatapan mengancam, Velo tersenyum semirik membuat Nyonya Fer merasa terancam karena bukan tidak mungkin Velo akan menyakitinya.
" Tanganku ini, rasanya benar-benar gatal ingin mencekik lehermu, memelintir lidahmu yang begitu nyaman menghinaku, sampai meludahiku. Aku ingin membuat kerongkonganmu tak mendapatkan udara untuk menghasilkan suara. Aku, selalu membayangkan kapan ya aku memiliki kesempatan untuk melakukan itu? "
Nyonya Fer mencoba untuk bicara, tapi entah apa yang dia katakan Velo sama sekali tidak bisa mengartikannya. Tapi dari sorot matanya itu, sepertinya dia sedang memaki dan memarahi Velo habis-habisan.
Velo tersenyum, lalu lama kelamaan jadi terkekeh senang. Sebenarnya dia ingin sekali melakukan apa yang dia katakan, tapi dia tidak begitu bodoh melakukan hal tidak berguna seperti itu. Untuk Nyonya Fer, dia biarkan saja semua seperti ini, kesengsaraan yang akan datang di masa depan juga sudah jelas.
" Nyonya, pria yang memberikan amplop berisi uang itu adalah pria yang baik hati, tapi asal kau tahu saja, sebenarnya aku lah yang memintanya untuk datang mengunjungimu. Kau tahu kenapa? Karena aku ingin memberitahu kepadamu bahwa pria itu tidak akan datang kalau bukan aku yang memintanya, itu juga sudah sebagai bukti bahwa dia sangat mencintaiku. Yah, memang hak normal sih seorang suami mencintai istrinya. "
Nyonya Fer terlihat sangat terkejut, dia ingin menggerakkan tangannya agar bisa memukul Velo, tapi dengan tatapan meledek dan menghina dia terkekeh dan menghindar di setiap tangan Nyonya Fer bergerak. Sungguh sangat kasihan, tapi sayangnya Velo tak memiliki perasaan sebaik itu, sehingga dia bahkan tidak memiliki rasa kasihan padanya.
Di luar ruangan.
__ADS_1
Rigo dan juga Selena kini tengah duduk di ruang keluarga sembari Rigo menunggu Velo keluar dari kamar Nyonya Fer.
Selena, gadis itu sudah menggunakan pakaian yang bagus, riasan tipis natural sudah menghiasi wajahnya membuatnya terlihat semakin manis dan cantik. Tentu saja dia sengaja karena tahu kalau pasti ada masanya untuk mereka bicara berdua seperti ini.
" Kak, hubunganmu dengan wanita itu apa sungguhan? Kenapa kak Rigo melakukan ini? Aku benar-benar ingin bertanya, kenapa kak Rigo melakukan ini padaku? Kak Rigo tahu kan kalau ini sangat membuatku malu? "
Rigo terdiam sebentar, dia menarik nafasnya dalam-dalam karena dia benar-benar bingung bagaimana mengatakannya kepada Selena. Tidak mungkin kan dia mengatakan kepada Selena bahwa dia tidur dengan Velo saat mereka mabuk, lalu Velo menjebaknya untuk di nikahi, apalagi menceritakan bahwa semua ini terjadi karena rancangan balas dendam dari Velo. Entah harus beralasan apa, yang pasti dia tidak bisa memojokkan Velo sama sekali.
Begitu menghembuskan nafasnya, Rigo menatap Selena seolah dia ingin mengatakan apa yang memang dia ingin katakan.
" Tapi apa? " Tanya Selena karena tiba-tiba saja Rigo tak melanjutkan ucapannya.
Rigo sebentar menimbang apakah boleh dia jujur kali ini? Tapi kalau dia tidak mengatakan yang sebenarnya, dia takut Selena masih memiliki harapan padanya. Tahu sendiri kan? Orang yang mudah tersakiti adalah orang yang menyimpan harapan kepada orang lain yang bahkan tidak menghiraukan harapan itu.
" Aku merasa lebih cocok dengan Velo, aku merasa aku bisa menjadi diriku sendiri saat dengan Velo. Apa yang aku suka, apa yang tidak aku suka, aku bebas memilah dan Velo juga mampu mengimbangiku. Kami tidak pernah bertanya apa yang kami sukai antara satu sama lain, tapi kami bisa menjalani hari-harinya tanpa harus menjadi orang lain untuk menyenangkan satu sama lain. "
Selena tersenyum kelu, dia menatap Rigo dengan tatapan kecewa yang begitu jelas terlihat.
__ADS_1
" Jadi, kak Rigo merasa menjadi palsu saya bersama denganku? "
" Maaf, tapi memang seperti itu. Warna kesukaan, makanan kesukaan, hobi, dan lainnya aku harus mengikuti mu. Kau tahu kan selama ini aku selalu tahu apa yang kau suka, dan tidak suka? kau sendiri? Apa yang kau tahu tentang ku? Kau seperti menganggap ku adalah dirimu, tidak pernah bertanya dan mencoba mencari tahu tentangku. Aku merasa sangat terganggu begitu kita akan menikah, aku terus berpikir sampai kapan aku harus berpura-pura seperti ini? Kalau pernikahan kita terjadi dengan kita yang seperti ini, bukankah benar-benar tidak akan berjalan dengan baik? "
" Kak Rigo, padahal kak Rigo hanya tinggal mengatakan apa yang kakak sukai, dan kak Rigo membicarakan ini dengan baik supaya kita bisa tetap bersama bukan? "
" Aku sudah mencobanya beberapa kali, tapi pada akhirnya kau tetap memilih dirimu sendiri, kau mengedepankan dirimu, jadi maafkan aku yang memilih jalan ini, di tambah aku juga sudah menikah dengan Velo. "
Selena tercengang, dia benar-benar seperti tersambar petir rasanya. Sudah menikah dengan Velo? Berarti alasan yang sebelumya hanya lah omong kosong belaka. Tidak, Selena benar-benar tidak bisa menerima jika Rigo bahkan sudah mengkhianati dirinya dari jauh-jauh hari.
" Kak Rigo, bukankah itu sama artinya jika kak Rigo hanya mencari-cari alasan saja? Bersamaku menjadi palsu? Hah! Itu hanya alasan! Kalian berdua sudah memiliki hubungan itulah kenapa kak Rigo memilih dia dan meninggalkanku kan? Kenapa? Apa karena dia dengan mudanya memberikan tubuhnya sementara aku tidak? Jadi kak Rigo serendah itu? "
" Ckckck....... Sudah tahu pria rendahan ya untuk apa tatapan tidak rela itu? " Velo berjalan mendekat dan duduk di samping Rigo.
" Suamiku tersayang ini bukan rendahan, tapi dia sudah sembuh dari buta. "
Bersambung.
__ADS_1