
"Ayo nduk kita pulang dulu bersama warga yang lain nya". Ajak simbah Parti seraya berdiri menghampiri kedua cucu nya.
"Mbah boleh tidak Rania pulangnya nanti saja, karena masih ada urusan yang harus Rania selesaikan". Jelas Rania dengan menggenggam erat tangan simbahnya.
"Memang kau ada urusan apa to nduk, terus nanti pulangnya bagaimana?". Tanya simbah Parti dengan membelai lembut rambut Rania.
"Rania biar pulang bersama kami saja mbah naik mobiknya Anto". Celetuk pak Budi yang sengaja pulang terakhir karena ingin menemui Anto dan juga pak Dahlan.
"Eh iya mbah kebetulan Rania memang ingin bertemu dengan mas Anto dan juga pak Dahlan, ada yang ingin Rania tanyakan". Jelas Rania meyakinkan simbahnya.
"Lalu aku bagaimana Ran". Sahut Wati dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
"Kau pulang saja temani simbah Wat, nanti sore aku akan pulang bersama pak Budi dan pak Sapri". Cetus Rania.
"Mbah Karto juga pulang bersamamu kok nduk, ada yang ingin mbah Karto ketahui juga". Tukas mbah Karto dengan senyum ramah nya.
Setelah perbincangan itu beberapa warga bersama simbah Parti dan juga Wati berpamitan untuk pulang ke desa nya, pak Eko yang masih lemas hanya bisa terbaring diranjang dan mengucapkan selamat jalan.
Sementara Rania yang merasakan kejanggalan dengan nama Jansen dan juga Petter bergegas ke IGD untuk menemui Anto ataupun pak Dahlan, tapi perawat jaga yang ada didepan IGD melarang Rania untuk menjenguk pasien karena sedang ada Dokter yang memeriksa keadaan kedua pasien itu.
"Maaf dek untuk saat ini pasien tidak dapat ditemui, mungkin setelah pasien dipindahkan ke ruang perawatan umum baru bisa dikunjungi". Tukas perawat perempuan itu.
"Baiklah sus, kapan pasien akan dipindah ke ruangan perawatan sus?". Tanya Rania dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
"Mungkin setelah pemeriksaan ini, jika adek berkenan silahkan menunggu disini". Ucap perawat itu dengan senyum diwajah nya.
Lalu Rania memutuskan untuk menunggu didepan ruang IGD, nampak Rania duduk di kursi panjang Rumah sakit seorang diri, tapi tiba-tiba ada sesosok hantu laki-laki keturunan Belanda sedang masuk kedalam ruang IGD, nampak hantu itu menembus tembok dan tidak segera keluar daro dalam sana.
Hantu tadi kemana ya, kenapa dia belum keluar juga dari dalam IGD, jangan-jangan hantu itu punya niat buruk dengan mas Anto dan juga pak Dahlan, batin Rania didalam hati nya.
__ADS_1
Lalu Rania berdiri dari tempat duduknya dan menemui perawat untuk menanyakan kapan kedua pasien itu akan dipindahkan, tapi tiba-tiba pak Budi bersama mbah Karto datang untuk menanyakan hal yang sama pada perawat, dan perawat itu menjelaskan jika ruang perawatan umum sedang disiapkan untuk kedua pasien yang ada didalam IGD.
Dan dengan tidak sabar Rania menunggu Anto dan pak Dahlan didepan pintu IGD, sedangkan mbah Karto yang melihat tingkah aneh Rania pun bertanya padanya.
"Nduk sebenarnya apa yang ingin kau ketahui?". Tanya mbah Karto dengan mengkerutkan kening nya.
"Anu itu mbah...". Jawab Rania yang belum sempat melanjutkan perkataan nya karena melihat perawat sudah memindahkan Anto dan juga pak Dahlan.
"Mari mbah kita ikuti perawat ke ruangan rawat inap". Ajak pak Budi dengan tergesa-gesa.
Kemudian Rania pun berjalan dibelakang mbah Karto dan juga pak Budi yang sedang mengikuti perawat yang mendorong brangkar Anto dan juga pak Dahlan, keduanya diletakan di ruangan yang sama untuk memudahkan dalam pemeriksaan.
Setelah perawat merapikan peralatan medis yang masih harus dipakai Anto dan pak Dahlan, perawat pun meninggalkan ruangan itu, nampak Rania yang paling bersemangat untuk menemui mereka berdua.
"Apa kabar mas Anto dan pak Dahlan". Sapa Rania dengan senyum ramah nya.
Tapi tiba-tiba saja Rania di kagetkan dengan kehadiran sesosok hantu laki-laki dengan rambut pirang dan mata biru, mengingatkan nya dengan sosok teman hantu nya Petter, nampak Rania terkejut dengan membulatkan kedua mata nya, lalu mbah Karto datang mendekati Rania dan menepuk pundaknya seraya berbisik ditelinga Rania "ora opo-opo nduk ora usah wedi (tidak apa-apa nak tidak usah takut)".
Setelah itu Rania memberanikan diri untuk tetap berada di ruangan itu meski hantu Belanda itu terus menatapnya dengan tatapan mata yang dingin, karena Rania yakin dirinya akan baik-baik saja selama ada mbah Karto didekat nya.
"Pak Dahlan Rania hanya ingin bertanya tadi pagi pak Dahlan dan mas Anto mengigau menyebut nama seseorang, apakah pak Dahlan atau mas Anto mengenal orang dengan nama Jansen atau Petter?". Tanya Rania dengan menundukan kepala nya.
Karena Anto sudah tertidur setelah meminum obat yang baru saja perawat berikan padanya, akhirnya hanya pak Dahlan yang menjawab pertanyaan Rania, terlihat dari wajah pak Dahlan jika dia bingung harus mengatakan apa pada Rania.
"Sebenarnya kami mengetahui nama itu baru semalam saat kami tersesat di Rumah sakit, dan ada seorang laki-laki Belanda yang menolong kami untuk kembali kesini lagi". ucap pak Dahlan yang sedang terbaring di ranjang nya.
"Hah semalam pak". Seru Rania dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
Lalu mbah Karto dan pak Budi menjelaskan pada pak Dahlan jika dia dan Anto sudah menghilang selama tiga hari, dan baru tadi pagi mereka ditemukan di lorong Rumah sakit, sementara pak Dahlan yang merasa kepergian nya hanya semalam pun terus menyangkal karena dia hanya merasa tersesat satu malam saja, bahkan selama dirinya tersesat belum pernah sekalipun melihat sinar matahari mana mungkin mereka tersesat selama tiga hari.
__ADS_1
Tapi mbah Karto tetap meyakinkan pak Dahlan jika dirinya memang menghilang selama tiga hari, dan satu malam itu di dunia gaib, jelas mbah Karto dengan mengkerutkan kening nya.
"Tapi memang aku merasa banyak keanehan mbah, di malam itu aku bisa melihat pertempuran antara tentara Belanda dan tentara Jepang yang saling menembak, bahkan aku ditolong seseorang entah dia hantu atau bukan yang jelas dia sudah baik pada kami dan dia juga meminta bantuan pada kami". Tukas pak Dahlan menceritakan kisahnya di dimensi gaib.
"Katakanlah apa yang dia minta dari kalian, karena saat ini dia sudah datang menjenguk kalian berdua disini". Seru mbah Karto membuat pak Dahlan dan pak Budi merasa ketakutan.
Nampak wajah pak Dahlan dan pak Budi bingung dan ketakutan, mereka berdua memandang ke segala arah, sedangkan Rania hanya diam dan menundukan kepalanya.
"Anu mbah laki-laki itu meminta kami menuliskan surat untuk anaknya, jadi apa yang aku dan Anto alami itu bukan mimpi to mbah, berarti semalam kami ditolong oleh hantu?". Tanya pak Dahlan dengan menelan ludahnya kasar.
"Kau tidak perlu takut Le, jika dia jahat tidak mungkin dia akan menolong kalian kembali kesini, dan sekarang dia datang untuk memastikan kalian menepati janji padanya". Cetus mbah Karto memberikan penjelasan pada pak Dahlan.
"Kami pasti akan menepati janji itu mbah, tapi sekarang kami belum bisa melakukan nya, dan setelah keluar dari Rumah sakit kami akan menepati janji pada Tuan Belanda itu". Ucap pak Dahlan dengan suara bergetar.
Terlihat Jansen yang berdiri di pojok ruangan itu hanya menyeringai mendengar penjelasan pak Dahlan, lalu dia terbang keluar dari ruangan itu sedangkan Rania yang penasaran dengan Jansen berusaha mengajaknya bicara.
Dengan langkah yang tertatih Rania memberanikan dirinya untuk berbicara dengan hantu Belanda yang bernama Jansen itu, nafas Rania berderu kencang meski ini bukan pertama kalinya dia berbicara dengan hantu.
"Permisi Tuan apakah kau yang bernama Jansen". Tukas Rania dengan menundukan kepala nya.
Sedangkan Jansen yang merasa di ajak berbicara oleh seseorang merasa aneh, dia membalikan badan nya yang berdiri mengambang dan terbang mendekati Rania.
Wuush...
*
*
...Bersambung....
__ADS_1