DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Arwah gentayangan yang menakutkan.


__ADS_3

Lalu mbah Karto menghampiri Rania dan menepuk pundak nya dari belakang, beliau mengatakan pada Rania jika dia tidak perlu takut melihat sosok yang menyeramkan itu.


"Kau kan sudah terbiasa melihat mereka nduk, sepertinya arwah nya Parjo penasaran, karena pelaku tabrak lari itu belum tertangkap." jelas mbah Karto dengan memandang ke suatu tempat dimana sosok itu sedang berdiri mengambang.


"Aku memang terbiasa melihat hantu mbah, tapi wujudnya yang hancur itu membuatku bergidik, aroma anyir darah nya sangat pekat menusuk hidung ku, apakah dia tidak bisa merubah wujud nya seperti dulu dia hidup." ucap Rania dengan menundukan kepala nya.


"Sebenarnya dia bisa saja berubah wujud seperti sebelumnya, tapi sepertinya dia ingin menunjukan wujudnya yang saat ini kau lihat, arwahnya tidak tenang mencari pelaku tabrak lari itu." tukas mbah Karto dengan mengkerutkan kening nya.


Setelah itu Rania nampak mengingat tujuan nya datang menemui mbah Karto, gadis itu menepuk kening nya karena hampir saja lupa untuk berbicara pada mbah Karto tentang pesan ibu Luna.


"Begini mbah ada yang ingin kami tanyakan, apakah mbah Karto memiliki kerabat di kota yang bernama ibu Wulan?." tanya Rania dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


"Wulan yang mana nduk, aku ini kan sudah berumur jika hanya mengingat nama, aku sedikit susah untuk mengingatnya." jawab mbah Karto dengan mengkerutkan kening nya.


Setelah itu Rania menyerahkan selembar kertas, yang Wulan berikan pada Rania siang tadi, lalu mbah Karto memejamkan kedua mata nya, seraya membaca rapalan mantra untuk melihat siapa yang menulis alamat di atas kertas, yang saat ini beliau pegang.


Nampak dimata batin mbah Karto, ada seorang perempuan yang pernah beliau kenal sebelumnya, dia adalah mantan istri dari saudara jauh mbah Karto yang suda meninggal, lalu mbah Karto membuka kedua mata nya, dan mengkerutkan kening nya.


"Kalian mengenal perempuan ini darimana nduk?." tanya mbah Karto.


Kemudian Rania menjelaskan pada mbah Karto, jika anak dari perempuan itu, saat ini sedang diganggu oleh arwah gentayangan, yang diperintahkan seorang dukun untuk membuat bangkrut usaha cafr nya.


"Kasihan kak Luna mbah, dia jadi berubah kasar pada semua orang, dan usahanya terancam bangkrut karena kak Luna, sudah terpengaruh arwah Pardi, lalu tante Wulan meminta tolong pada kami, untuk mencari alamat kerabatnya di desa ini, yang nama nya hampir mirip dengan mbah Karto." tukas Rania dengan menundukan wajah nya.


"Jadi karena itu lah kalian mencariku, kalau begitu besok aku akan ke kota bersama kalian untuk menemui keponakan ku itu, kalian pulang saja ke rumah, dan kau Rania jangan terlalu lelah, aku tau saat ini kemampuan mu sudah bertambah, kau dapat melihat ke masa lalu, jika kau terus belajar dan mengasah bakatmu itu, kau akan bisa melihat ke masa depan, untuk membantu orang-orang disekitarmu, bahkan makhluk tak kasat mata seperti Parjo akan lebih sering mendatangi mu untuk meminta pertolongan." jelas mbah Karto dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


"Tapi kenapa sebelumnya aku tidak mempunyai kemampuan itu mbah, padahal aku ingin sekali membantu semua orang disekitar ku." tukas Rania dengan menghembuskan nafas nya.

__ADS_1


"Entahlah nduk hanya Alloh yang tau itu, lekaslah pulang sebelum kau semakin lelah karena kemampuan yang kau miliki itu belum terbiasa dengan tubuhmu." ucap mbah Karto dengan menepuk punda Rania.


Setelah itu nampak Rania dan Wati berpamitan pada mbah Karto, seraya mengecup punggung tangan sesepuh desa itu, terlihat mbah Karto hanya menggelengkan kepala nya menatap kepergian kedua gadis itu.


Aku harus lebih mengawasi Rania, karena setelah kemampuan nya semakin bertambah, akan bertambah pula arwah gentayangan yang akan mengganggu nya, batin mbah Karto didalam hati nya.


Nampak arwah pak Parjo melesat mengikuti Rania pulang, dia berniat meminta tolong pada Rania, karena dia tau jika Rania memiliki kemampuan untuk melihat makhlum seperti nya.


Dan disaat Rania sedang duduk seorang diri di bangku samping rumah nya, gadis itu terdengar menjerit dengan menutupi kedua mata nya, tapi tiba-tiba Petter datang melesat menghampiri sahabatnya yang sedang ketakutan, karena melihat wujud pak Parjo yang hancur dan berantakan itu.


Nampak Petter berdiri mengambang seraya mengusir arwah pak Parjo, hantu kecil itu membentak arwah pak Parjo, yang menakuti Rania dengan wujudnya yang menjijikan itu.


"Kenapa kau menakuti Rania, lihatlah wujudmu yang menjijikan itu, manusia mana yang tahan melihat wujudmu." seru Petter setengah berteriak.


Lalu arwah pak Parjo menjelaskan pada Petter, jika dia datang menemui Rania setelah mendengar pembicaraan nya dengan mbah Karto, karena mbah Karto berkata jika Rania memiliki kemampuan untuk melihat masa lalu, karena itu lah arwah pak Parjo datang untuk meminta bantuan, supaya Rania dapat menemukan pelaku tabrak lari, yang telah menabrak nya hingga tewas dan kabur.


Ternyata Petter meminta arwah pak Parjo, untuk merubah wujud nya ketika bertemu dengan Rania, karena Rania tidak tahan melihat wujud nya yang hancur berantakan.


"Jika kau ingin meminta tolong pada Rania, rubahlah wujudmu seperti dulu, ketika kau masih hidup di dunia ini, Rania memang manusia yang baik, dan dia akan menolong siapa saja yang meminta bantuan nya, tapi jika kau datang dengan wujudmu yang sekarang, dia pasti akan ketakutan." jelas Petter seraya melesat meninggalkan arwah pak Parjo.


Sementara Rania yang berada di dapur tengah bercerita pada bude nya, jika arwah suami bu Siti baru saja menampakan wujud nya pada dirinya.


"Bude Rania sangat takur melihat nya, meskipun Rania sudah terbiasa melihat makhluk tak kasat mata, tapi Rania tidak tahan melihat makhluk dengan wujud yang hancur berantakan seperti itu." tukas Rania dengan mengusap tengkuk nya, karena bulu-bulu halus ditubuh nya meremang.


"Lha wong meninggalnya kelindes truk nduk, pasti tubuh nya hancur to, tadi saja dikubur langsung bersama peti mati nya, dan tidak ada yang boleh membuka peti nya, termasuk bu Siti juga." cetus bude Walimah seraya memotong sayur-sayuran.


"Aduh bude jika seperti ini terus, Rania tidak akan nafsu makan dan akan susah tidur, karena arwah itu akan terus mendatangi Rania." ucap Rania dengan wajah sendu.

__ADS_1


"Kau minta tolong saja pada sahabat hantu mu itu, supaya arwah pak Parjo tidak menakutimu lagi." tukas bude Walimah dengan mengkerutkan kening nya.


"Sebenarnya arwah pak Parjo tidak berniat menakuti Rania, tapi dia menampakan wujudnya yang tidak utuh lagi, karena itu lah Rania takut bude, sepertinya dia mendatangi Rania dengan maksud lain." jelas Rania dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


"Mungkin arwah pak Parjo ingin meminta tolong padamu nduk, seperti arwah-arwah gentayangan yang lain nya, mungkin dia tidak terima karena sopir truk itu belum tertangkap." seru bude Walimah dengan menelan ludah nya kasar.


"Entahlah bude yang jelas besok Rania dan Wati, harus mengantarkan mbah Karto ke kota, karena disana ada seseorang yang harus ditolong secepatnya, apalagi dia itu keponakan mbah Karto sendiri." ucap Rania seraya bangkit dari duduknya.


"Ya sudah nduk kau mandi dulu, setelah itu lekaslah makan bersama Wati, karena bude harus kembali ke rumah bu Siti, untuk membantu acara tahlilan nanti malam." ujar bude Walimah yang masih sibuk didepan tungku.


Tidak berselang lama datanglah Petter yang melesat menghampiri Rania, nampak Petter mengatakan pada Rania, jika arwah pak Parjo ingin meminta tolong padanya, lalu Rania hanya mengkerutkan kening nya seraya menganggukan kepala nya.


Apakah aku harus menolong nya, sedangkan aku sendiri tidak tau, siapa yang telah menabraknya hingga tewas seperti itu, batin Rania didalam hati nya.


Kemudian Rania melangkahkan kaki nya gontai masuk ke dalam kamar nya.


Cekleek...


Terlihat Rania menghentikan langkah kaki nya, nampak gadis itu membulatkan kedua mata nya, karena di dalam kamar nya ada bayangan hitam di samping lemari baju, yang tengah berdiri menghadap ke arah nya.


*


*


...Yuk kak panjangkan list Vote dan hadiah nya, untuk memberikan dukungan semangat pada Author, karena tanpa dukungan dari kalian semua, aku tidak akan bisa menulis sampai bab sebanyak ini, terima kasih semua pembaca setia 🙏...


...**Bersambung....

__ADS_1


m**


__ADS_2