
Akhirnya waktu yang ditunggu pun tiba, jam dua malam waktu setempat dimana sinar bulan purnama mulai redup, sosok buto ireng mulai merubah wujudnya menjadi laki-laki tampan dan gagah lalu menyembuhkan mental Lala dan menyihirnya supaya dirinya selalu ada didalam hati dan pikiran Lala, dengan begitu Lala akan setuju menikah dengan nya tanpa ada syarat yang lain nya.
Ritual pernikahan antara dua makhluk yang berbeda alam itu berlangsung secara singkat, dimana keduanya melangsungkan pernikahan gaib dengan adat di alam buto itu tinggal.
"Kecuplah tanganku dek, sekarang kau sudah sah menjadi istriku, dan jangan pernah berpaling dariku". Ucap buto itu yang mengubah jadi dirinya sebagai seorang laki-laki tampan bernama Elang.
"Iya mas Elang, aku akan setia kepadamu". Sahut Lala yang dalam pengaruh sihir buto itu.
Nampak Lala mengecup punggung tangan Lala, terlihat senyum kebahagiaan di wajahnya, kemudian Elang mengajak Lala pergi ke rumahnya, Lala yang dalam pengaruh sihir Elang menerima ajakan nya begitu saja, dia membopong bayi laki-laki nya dan melangkahkan kaki nya keluar dari kamarnya tanpa berpamitan pada siapapun yang ada disana termasuk bapapnya yang terlelap di depan kamarnya.
Terlihat di depan rumah mbah Sumi sudah ada kereta kuda yang menanti kedatangan Lala, Elang membawa Lala beserta bayi nya menaiki kereta kuda itu, mereka semua akan menuju alam gaib dimana Elang tinggal sebagai anak penguasa alam gaib yang berada di balik perbukitan itu.
Plak plak plak...
Terdengar suara sepatu kuda yang melewati jalanan di desa itu, banyak juga warga desa yang mendengar suara ringkikan kuda yang dipercayai oleh warga sekitar jika di jam malam seperti itu mereka mendengar suara ringkikan kuda itu pertanda jika ada makhluk gaib yang sedang menjemput mempelai pengantin nya.
Sementara itu istri pak Erwin dan pak Bagio sedang sangat cemas di rumah nya, mereka sedang berada di luar rumahnya untuk menunggu suami mereka pulang, tapi keduanya justru melihat Lala sedang membopong seorang bayi dan menaiki kereta kuda bersama seorang laki-laki tampan disampingnya, keduanya nampak membulatkan kedua matanya, memandang Lala dengan bingung.
Dan tiba-tiba kereta kuda itu menghilang setelah melewati pohon bambu yang sangat rimbun dan gelap di malam seperti itu.
Apakah yang aku lihat tadi benar-benar Lala, batin Weny istri pak Erwin.
Lalu tiba-tiba Weny nampak terperanjat setelah melihat bu Fatimah sedang berjalan tergesa-gesa ke arah rerimbunan pohon bambu, kemudian Weny pun menyusul bu Fatimah karena tidak ingin terjadi apa-apa pada istri pak Bagio.
"Bu Fatimah mau kemana to malam-malam begini kok diluar rumah?". Tanya Weny seraya menepuk pundak bu Fatimah.
Nampak bu Fatimah membalikan badan nya dengan nafas tersengal-sengal, apalagi setelah Weny mengagetkan nya.
"Anu Wen aku aku melihat sesuatu". Jawab bu Fatimah dengan mengusap peluh dikeningnya.
"Bu Fatimah lihat Lala yo, dia sedang bersama seorang laki-laki di atas kereta kuda". Celetuk Weny dengan mengaitkan kedua alis matanya.
__ADS_1
"Loh kamu juga lihat to Wen?". Tanya bu Fatimah menatap tajam pada Weny.
"Sudah bu kita bicarakan di rumah ku saja, mari". Ajak Weny seraya menggandeng tangan bu Fatimah.
Sesampainya di rumah Weny nampak keduanya berbicara dengan serius, mereka membicarakan mitos yang ada di desa Randu garut.
"Bu aku sempat mendengar tentang kepercayaan warga disini, katanya jika kita mendengar suara ringkikan kuda di tengah malam itu artinya ada makhluk gaib yang sedang menjemput pengantin nya, nah tadi yang aku lihat di atas kereta kuda ada Lala anaknya mbah Sumi". Tukas Weny menjelaskan pada bu Fatimah.
"Loh kok sama Wen, tadi aku juga melihat Lala bersama seorang laki-laki tampan di atas kereta kuda itu makanya aku mengikutinya, tapi sesampainya di pohon bambu yang ada disana mereka sudah tidak terlihat lagi". Seru bu Fatimah dengan mengkerutkan kening nya.
"Loh memangnya bu Fatimah sedang apa kok bisa melihat Lala dengan jelas?". Tanya Weny dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku sedang menunggu suamiku di teras rumah, biasanya dia sudah pulang ngeronda tapi perasaanku tidak tenang dan aku memutuskan menunggunya diluar rumah, eh malah Lala yang aku lihat tadi". Jawab bu Fatimah mengaitkan kedua alis matanya.
"Sama bu, aku juga menunggu mas Erwin karena dia belum pulang ngeronda". Seru Weny seraya bangkit dari duduknya.
Setelah itu Weny berusaha memastikan ke rumah mbah Sumi dan melihat Lala dengan mata kepala mereka sendiri.
Kemudian mereka berdua berjalan bersama ke rumah mbah Sumi, dan ditengah perjalanan mereka berdua mendengar suara seseorang yang sedang meminta tolong.
"Bu aku jadi merinding, bu Fatimah dengar suara orang minta tolong tidak". Ucap Weny dengan mengusap tengkuknya.
"Iya Wen, aku juga dengar, lebih baik kita lari saja supaya cepat sampai di rumah mbah Sumi". Cetus bu Fatimah seraya melangkahkan kaki nya dengan cepat.
Terlihat Weny berlari bersama bu Fatimah, tanpa dia sadari suara minta tolong tadi adalah Erwin suaminya yang sedang terluka dan tergeletak di persawahan.
Wenya dan bu Fatimah lari tunggang langgang, lalu sesampainya di depan rumah mbah Sumi nampak keduanya tercekat melihat pintu rumah itu terbuka lebar, dengan berjalan perlahan keduanya mendekati pintu rumah itu dan mengetuknya.
Tok tok tok...
"Assalamualaikum". Seru Weny dan bu Fatimah bersamaan.
__ADS_1
Siapa yang bertamu di jam-jam seperti ini, batin Kasmi didalam hati nya kemudian dia bangkir dari duduknya.
"Waalaikumsalam". Sahut Kasmi seraya berjalan keluar dari kamar simboknya.
Nampak Kasmi membulatkan kedua matanya menatap bingung ada dua orang peremuan yang datang ke rumahnya di jam setengah tiga pagi, Lalu Kasmi mempersilahkan Weny dan bu Fatimah masuk ke dalam rumahnya, tapi keduanya terlihat cemas dengan keringat yang membasahi keningnya.
Nampak Weny memberanikan diri dan mengatakan pada Kasmi jika dia ingin memastikan Lala ada di rumah, karena tadi mereka berdua melihat Lala sedang menaiki kereta kuda bersama seorang laki-laki.
"Dan kau pun tau mitos di desa ini yang mengatakan jika ada kejadian seperti itu artinya ada makhluk gaib yang sedang menjemput pengantin nya, kami hawatir jika yang tadi kami lihat benar-benar Lala". Tukas Weny dengan mengaitkan kedua alis matanya.
Sementara Kasmi yang tercengang mendengar penjelasan Weny bergegas berjalan menuju kamar Lala, tapi disana hanya ada Bima yang sedang tergeletak di lantai, Kasmi bertetiak histeris memanggil-manggil nama Lala sehingga bapaknya yang sedang tertidur karena pengaruh obat tidur pun dapat terbangun dan menghamoiri anak perempuan nya itu.
"Lala hilang pak hu hu hu, bagaimana ini". Pekik Kasmi berderai air mata.
Nampak mbah Ahmad sangat cemas beliau berusaha membangunkan Bima yang tergeletak di lantai kamar Lala.
"Mas Bima, bangun mas ada apa sebenarnya kenapa kau tergeletak disini?". Tanya mbah Ahmad dengan mengkerutkan keningnya.
Setelah itu Bima membuka kedua matanya, dan menjelaskan pada semua orang yang ada disana jika tadi ada makhluk gaib yang menyerangnya dengan membabi buta, sehingga kekuatan dalamnya melemah dan dia tidak sadarkan diri.
"Maafkan saya pak, saya tidak bisa mengalahkan makhluk gaib itu, sehingga anak perempuan bapak dibawa makhluk itu". Ucap Bima dengan nafas tersengal-sengal.
Aku sengaja membuat sandiwara ini, supaya kangmas Karto tidak mencurigaiku, batin Bima didalam hatinya.
*
*
...Hai para pembaca semuanya, bagaimana suasana lebaran di tempat kalian dengan keadaan pandemi seperti ini, apakah masih ramai seperti lebaran sebelumnya? hehe maafkan Author ya kemarin tidak sempat up bab baru, karena Author sedang hanyut didalam suasana lebaran sehingga tidak sempat menulis bab baru untuk kalian semuanya, tapi hari ini aku sempatin nulis buat kalian, sekali lagi maaf ya jika ada yang menunggu 🙏🙏🙏...
...Bersambung....
__ADS_1