
Sementara itu Rania yang berjalan seorang diri mendekati goa yang berada disamping air terjun nampak kebingungan karena seperti ada yang mengawasinya dari jauh, Rania membalikan badan nya dan memandang ke segala arah.
Kenapa aku merasa ada seseorang yang mengawasiku, batin Rania dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Lalu Rania melanjutkan pergerakan nya namun dia tersandung ranting pohon dan berguling ke tanah, seketika kepala Rania mendongak ke atas pepohonan, dan disana nampak Evana sedang berada di atas pohon itu, nampak Evana memberi isyarat untuk meninggalkan tempat itu.
Apakah aunty Evana memintaku pergi dari sini, jangan-jangan nyawaku sedang dalam ancaman, batin Rania dengan mengkerutkan keningnya.
Kemudian Rania bangkit berdiri dan berjalan dengan tergesa-gesa, nampak dia berusaha meninggalkan hutan itu, Rania sangat mengerti dengan isyarat yang diberikan Evana, ketika di situasi seperti itu Evana tidak akan bisa menjelaskan apapun karena keadaan nya sangat tidak memungkinkan untuk menceritakan yang sebenarnya.
Sedangkan Bima yang tidak mengetahui jika Rania telah meninggalkan hutan itu, dia nampak melangkahkan kaki nya ke dekat air terjun dengan membawa jiwa Petter didalam botol yang dia pegang.
Evana yang telah berhasil menemukan Rania mengiringi langkah Rania sampai ke rumahnya, Evana tidak menyadari jika anaknya sedang dalam bahaya, lain dengan Jansen yang kebingungan mencari Petter yang mencari Rania di sisi timur hutan itu.
Bukankah tadi Petter pergi ke arah sini, kenapa aku tidak dapat menemukan nya, batin Jansen dengan mengkerutkan keningnya.
Setelah itu Jansen menggunakan kekuatan nya untuk melihat dimana keberadaan Petter, tapi di penglihatan Jansen nampak anaknya Petter sedang berdiri mengambang dengan wajah ketakutan, dan disaat dia berusaha melarikan diri, terlihat juga jiwa Petter seperti tersedot sesuatu yang menghempaskan jiwa nya entah kemana.
Nampak Jansen membulatkan kedua matanya dengan nafas yang tersengal-sengal, dia sangat terkejut melihat apa yang terjadi pada anak laki-laki nya.
Aku harus menemukan Petter sekarang juga sebelum terjadi apa-apa padanya, gumam Jansen seraya melesat tak tentu arah.
Dan di rumah mbah Sumi yang masih ramai orang berdatangan untuk mengucapkan duka cita, terlihat sangat terkejut mengetahui jika Lala telah hilang dan belum ditemukan.
Terdengar warga yang bergunjing membicarakan Lala yang tidak-tidak, Weny yang mengetahui kejadian sebenarnya nampak kesal dan ingin menegur ibu-ibu itu, tapi Kasmi menghentikan niat Weny dan mengajaknya ke dapur untuk membantu memasak makanan untuk tahlilan nanti.
"Sudah Wen, kau tidak perlu menceritakan apapun pada mereka, biarkan saja misteri hilangnya Lala hanya orang tertentu saja yang tau". Cetus Kasmi seraya mengupas kulit bawang putih.
"Tapi Kas mereka sudah sangat keterlaluan, ibumu baru saja dimakamkan bahkan tanah kuburan nya masih sangat basah, tapi mereka semua dengan teganya mengolok-ngolok Lala di rumahnya sendiri". Seru Weny dengan mengerucutkan bibirnya kesal.
Dan tidak berselang lama nampak Rania datang lewat pintu dapur itu, Rania langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci kaki dan tangan nya, lalu dia berjalan keluar kamar mandi dan berniat membantu Kasmi dan Weny yang sedang sibuk mengupas bawang putih.
__ADS_1
"Astagfirullahaladzim". Teriak Rania kencang.
"Ada apa nduk, kau mengagetkan kami saja". Seru Kasmi yang berjalan menghampiri Rania.
Nampak Rania susah menelan ludah nya, kedua matanya membulat menatap sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh Kasmi dan Weny.
Sementara Evana yang mengetahui jika Rania terkejut dengan kehadiran arwah mbah Sumi, berusaha menengnakan hati gadis itu.
"Kau tidak perlu takut padanya Rania, dia memang sudah menjadi hantu sepertiku, dia kembali kesini karena merasa urusan nya di dunia ini belum selesai, jangan takut Rania, cobalah bertanya padanya, apakah yang dia inginkan". Jelas Evana yang berdiri mengambang disamping Rania.
Ternyata Rania sangat terkejut karena melihat arwah mbah Sumi berada disamping Kasmi, tapi setelah mendengar penjelasan Evana, Rania berusaha memberanikan dirinya untuk melihat wujud mbah Sumi yang nampak pucat dengan kapas yang masih menempel di kedua hidungnya.
"Kau kenapa to nduk?". Tanya Kasmi dengan menepuk pundak Rania.
Lalu Wati dan ibu nya berjalan ke dapur, nampak Wati yang sudah tidak terkejut dengan tingkah Rania yang seperti itu menjelaskan pada Kasmi jika Rania sedang melihat wujud hantu yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
"Karena jika Rania sudah terbiasa melihat hantu itu, raut wajah Rania tidak akan sepucat ini". Tegas Wati dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Ehm maaf, aku permisi ke depan saja". Sahut Rania dengan menundukan wajahnya.
Aku bukan nya takut melihat arwah mbah Sumi, tapi aku hanya tidak terbiasa mencium aroma hantu yang baru saja meninggal, itu membuatku sedikit mual, batin Rania dengan mengusap tengkuknya.
Sementara itu arwah mbah Sumi terus mendekati Rania, karena dia tau Rania bisa melihat kehadidan nya disana, tapi Rania yang masih belum terbiasa dengan aroma mayat malah mual-mual dan berkeringat dingin.
Bude Walimah yang mengetahui jika keponakan nya sedang tidak sehat bergegas menghampirinya dan mengajaknya istirahat di kamar Lala, tapi disaat Rania berbaring disana lagi-lagi mbah Sumi mendekatinya dan ingin berbicara pada Rania.
"Jangan sekarang mbah, tolong beri aku waktu untuk beradaptasi dengan kehadiranmu". Ucap Rania dengan memejamkan kedua matanya.
Karena Rania sudah tidak mencium aroma mayat dan wangi bunga tujuh rupa, Rania membuka kedua matanya dan melihat ke berbagai arah.
Syukurlah mbah Sumi sudah tidak ada disini, semoga dia mau mendengarkanku dan memberiku wakti supaya aku terbiasa dengan kehadiran nya, batin Rania dengan mengusap peluh di kening nya.
__ADS_1
Lalu Evana pun datang dan mengatakan jika arwah mbah Sumi ingin meminta Rania mengatakan pada mbah Karto jika Bima adalah dalang dibalik hilangnya Lala.
"Aunty tau darimana". Seru Rania dengan mengaitkan kedua alis matanya.
Lalu Evana menjelaskan jika arwah mbah Sumi baru saja melihat Bima melakukan ritual untuk menyembah buto ireng yang sudah menodai Lala waktu itu.
Terlihat Rania sangat terkejut dan membulatkan kedua matanya, dia nampak bersyukur karena tadi Evana sudah menyelamatkan nya, jika tidak mungkin saat ini dia sudah menjadi korban selajutnya.
"Aku harus memberitau mbah Karto dan pak Jarwo, aku pergi dulu Aunty". Ucap Rania seraya berjalan keluar dari kamar Lala.
Nampak Rania menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena dia tidak tau dimana keberadaan mbah Karto ataupun pak Jarwo.
"Kau sedang mencari siapa Rania?". Tanya Wati yang sedang membersihkan meja di ruang tamu.
"Aku sedang mencari mbah Karto dan juga pak Jarwo Wat, ini sangat penting". Jawab Rania dengan mengkerutkan kening nya.
"Oalah kalau itu aku tau Rania". Seru Wati dengan berkacak pinggang.
Setelah itu Wati mengatakan pada Rania, jika mbah Karto dan pak Jarwo sedang melakukan ritual penting dan tidak ada yang boleh mengganggu mereka.
"Kau jangan sok tau Wati". Pekik Rania dengan menatap tajam saudara sepupunya itu.
"Aku tidak bohong Rania, tadi aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mbah Karto dengan bu Kasmi, jika kau tidak percaya padaku tanya saja". Sahut Wati seraya berjalan meninggalkan Rania seorang diri.
Kemudian Rania berjalan ke dapur untuk menemui Kasmi dan menanyakan dimana mbah Karto ataupun pak Jarwo, lalu Kasmi menjelaskan hal yang sama pada Rania, jika mereka sedang melakukan ritual penting untuk menangkap dalang dari semua masalah di keluarganya.
*
*
...Bersambung....
__ADS_1