DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Mata batin pak Jarwo.


__ADS_3

"Sebenarnya aku sudah memiliki perasaan tidak enak ketika melihat ekspresi senyuman di wajah simbah itu, tapi aku memilih tidak menghiraukan nya, seharusnya aku memperingatkan kalian semua". Seru suami bu Ratih dengan menundukan kepala nya.


Lalu dari luar rumah terdengar suara ramai warga yang menyapa pak Jarwo, kemudian Anang mengajak kedua orang tua nya untuk bergegas menemui pak Jarwo.


Terlihat pak Jarwo sedang berdiri di depan bongkahan tanah yang sudah di bongkar oleh makhluk gaib tadi, pak Jarwo duduk di depan nya dengan menyilakan kedua kaki nya dan menyatukan kedua tangan di depan dada nya.


Pak Jarwo sedang melihat kejadian beberapa waktu lalu saat siluman kuda itu menggali ari-ari bayi Anang, dengan seksama mata batin pak Jarwo melihat satu persatu kejadian disaat makhluk gaib itu datang dengan maksud dan tujuan nya.


Mata batin pak Jarwo melihat banyak kejadian di alam gaib tempat siluman kuda itu berasal, gambaran itu terlihat nyata seperti slide film di bioskop, satu persatu kejadian terlihat nyata saat ada penyiksaan yang dilakukan sesosok siluman ular terhadap jiwa seorang laki-laki tua yang nampak nya raga nya masih hidup disuatu tempat, bahkan dia melihat seorang manusia hidup di alam gaib dengan kondisi yang mengenaskan karena di siksa setiap hari nya untuk bekerja paksa melayani para pemuja makhluk gaib itu dan samar-samar mata batin pak Jarwo juga melihat sesosok hantu londo yang ditahan bersebelahan dengan laki-laki tua yang jiwa nya dibawa paksa ke alam gaib.


Setelah itu jiwa pak Jarwo tertarik kembali ke raga nya, nampak dia bernafas dengan tersengal-sengal di sertai keringat dingin yang mengucur deras dari atas kening nya.


Astagfirullah... Astagfirullaah... Gumam pak Jarwo pada diri nya sendiri.


"Ada apa pak Jarwo?". Tanya bu Ratih dengan wajah cemas nya.


"Tidak apa-apa bu, setelah ini aku akan memagari rumah kalian supaya tidak ada makhluk gaib yang bisa masuk kesini lagi". Jawab pak Jarwo seraya bangkit dari duduknya.


Kemudian bu Ratih menceritakan tentang simbah tua yang sempat singgah di rumah nya, lalu pak Jarwo memasuki kamar yang tadi digunakan simbah tua itu untuk istirahat, dengan posisi yang sama pak Jarwo duduk menyilakan kaki nya dan memejamkan kedua mata nya lalu munculah cuplikan gambar demi gambar saat simbah tua itu berubah wujud menjadi siluman kuda dan berniat mencuri ari-ari bayi yang baru dilahirkan oleh Mira menantu di rumah itu, setelah menyelidiki lebih lanjut ternyata siluman kuda itu adalah tabib di alam gaib yang bertugas menyembuhkan wajah Tuan puteri nya yang terluka oleh penyerangan seorang laki-laki tua yang sedang berada didalam sebuah jeruji besi emas.


Setelah mengetahui siapa simbah tua itu, pak Jarwo menutup mata batin nya lagi dan dia bangkit dari duduknya menceritakan semua yang dia lihat.


"Begini bu, sebenarnya simbah tua yang kau tolong itu memang bukan manusia, dia datang ke desa kita memang untuk mencari ari-ari bayi dan kebetulan bu Ratih yang menolongnya dan dia juga tau jika menantumu baru saja melahirkan, tapi masalah ini tidak hanya menyangkut desa kita saja sepertinya desa tetangga kita juga tertimpa musibah dan lebih membutuhkan bantuanku". Seru pak Jarwo berbicara pada bu Ratih di depan kerumunan warga.

__ADS_1


"Tapi pak bagaimana dengan keadaan desa kita nanti nya, jika pak Jarwo pergi meninggalkan desa ini". Celetuk pak Wawan yang baru saja datang ke rumah Bu Ratih setelah melakukan patroli keliling desa.


"Sebenarnya kalian semua akan baik-baik saja selama kalian melakukan ibadah dan berdoa pada Allah, dan aku akan tetap melakukan pemagaran disemua wilayah desa kita terlebih lagi makhluk gaib itu tidak ada masalah dengan warga desa kita, berbeda masalahnya dengan desa Rawa belatung yang menjadi sasaran balas dendam Tuan puteri dari alam gaib, beberapa warga nya sudah ada yang dibawa ke alam gaib dan jika aku terlambat membantu mereka bisa-bisa manusia-manusia itu akan tiada disana". Cetus pak Jarwo dengan wajah cemas nya.


"Memang siapa manusia itu pak, bukankah di desa itu ada sesepuh desa yang sangat sakti?". Tanya bu Ratih dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


"Entahlah bu, aku tidak dapat melihat begitu jelas raut wajah nya karena seperti ada kekuatan gaib yang membatasi mata batinku untuk melihat dengan sempurna, dan satu yang perlu bu Ratih tau tidak ada manusia yang sakti di dunia ini, sekalipun sesepuh desa yang mengerti tentang dunia gaib dan supranatural dia tetap manusia biasa yang memiliki kelemahan, jadi aku berharap pada semua warga desa ini untuk tetap mendekatkam diri pada Allah supaya tidak ada makhluk gaib yang dapat memperdaya kita sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna". Tegas pak Jarwo memandang semua warga desa nya.


Dan setelah menjelaskan semuanya pada semua warga pak Jarwo kembali melakukan ritual pemagaran di seluruh wilayah desa nya, pak Jarwo tidak ingin makhluk gaib itu menyerang semua warga desa nya disaat dia berusaha membantu warga desa Rawa belatung yang sangat membutuhkan bantuan nya saat itu.


Samar-samar terdengar ibu-ibu yang berbicara membujuk istri pak Jarwo untuk melarang suami nya pergi dari desa nya, lalu pak Jarwo yang mengetahui maksud buruk ibu itu dengan tegas mengatakan jika mereka tidak boleh egois dengan kepentingan nya sendiri, mereka sebagai makhluk sosial harus saling membantu manusia lain nya yang sedang membutuhkan bantuan.


Nampak raut wajah sendu istri pak Jarwo karena didepan semua warga dirinya berteriak kencang menegur ibu-ibu yang sedang berbincang dengan dirinya, kemudian istri pak Jarwo bergegas pergi meninggalkan keramaian warga, dia terlihat berjalan tergesa-gesa kembali ke rumah nya.


Setelah hampir dua jam pak Jarwo melakukan ritual, beliau kembali ke rumah nya untuk membujuk istri nya supaya besok pagi dirinya bisa langsung pergi ke desa Rawa belatung dan membantu semua warga desa itu untuk dapat terlepas dari ancaman makhluk gaib dari hutan angker itu.


Assalamuallaikum, seru pak Jarwo.


Cekleek...


Waalaikumsallam, sahut istri pak Jarwo dengan mengerucutkan bibir nya.


"Loh ibu kok belum tidur to?". Tanya pak Jarwo lembut seraya mengusap rambut panjang istri nya yang tergerai bebas.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa tidur jika besok suamiku berniat pergi meninggalkanku dan membahayakan nyawa nya sendiri". Jawab istri pak Jarwo seraya memalingkan wajahnya.


"Bu tolonglah mengerti tentang tanggung jawab kita pada sesama manusia, kita tidak boleh egois mementingkan diri sendiri dan menutup mata dari bencana yang di alami warga desa tetangga kita, apalagi kita juga mempunyai hubungan baik dengan beberapa warga desa Rawa belatung, lalu apa kau tega jika musibah itu di alami oleh keluargamu sendiri coba pakai hati nurani mu bu". Cetus pak Jarwo dengan menggenggam kedua tangan istri nya.


Terlihat hati istri pak Jarwo sedikit luluh, dia mulai memandang wajah suami nya yang sudah berkeringat karena membantu warga desa nya sepanjang malam ini, istri pak Jarwo mengusap peluh di kening suami nya menggunakan tisu yang ada di meja samping tempat tidur nya.


"Jika menurut mu itu yang terbaik, aku tidak akan melarangmu pergi suamiku tapi satu yang harus kau tepati padaku, jika besok kau pergi dengan niat baik untuk menolong warga desa Rawa belagung, kau juga harus pulang dengan keadaan selamat tanpa kurang satupun". Ucap istri pak Jarwo berlinang air mata.


"InsyaAllah istriku". Sahut pak Jarwo seraya memeluk tubuh istri nya yang sedang bersedih itu.


Tapi tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar sana, sepasang suami istri itu saling melepaskan pelukan nya dengan mengkerutkan kening nya masing-masing.


"Siapa ya bu yang datang di tengah malam seperti ini". Tukas pak Jarwo seraya bangkit dari tempat tidur nya.


Kemudian pak Jarwo berjalan keluar dari dalam kamar nya dan bergegas membuka pintu rumah nya.


Cekleek...


*


*


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2