
"Tapi apa yang mas Ari lakukan didalam kamarnya ya bu, aku takut jika penyakitnya yang dulu kambuh lagi". Ucap Anto dengan wajah cemas nya.
"Pasti dia sedang tidur saat ini, lebih baik kau juga tidur saja Le bukankah besok kau juga harus bekerja". Seru bu Ema dengan seringai kecil di wajah nya.
Kemudian Anto berjalan masuk ke dalam kamar nya, dia sangat penasaran dengan tingkah aneh kakak laki laki nya dan juga ibu mertua nya itu, mereka seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh dia ketahui.
Jangan jangan memang mereka menyembunyikan sesuatu dariku lagi, batin Anto didalam hati nya.
Disaat Anto sedang duduk ditepi ranjang nya, samar samar dia mendengar suara ketukan pintu dan tidak lama terdengar suara pintu yang terbuka.
Anto berdiri dari ranjang nya mengintip dari balik pintu kamar nya, ternyata saat itu bu Ema sedang berbicara dengan Ari, terlihat mereka sedang membicarakan sesuatu yang serius dilihat dari tatapan mata kedua nya.
Setelah itu bu Ema nampak melemparkan senyuman pada seseorang yang berada didalam kamar Ari, yang membuat Anto mengernyitkan dahi nya karena penasaran.
Bu Ema senyum sama siapa ya, gumam Anto dengan menggaruk rambut nya yang tidak gatal.
Kemudian Anto terjaga didalam kamar nya, mencerna kejadian yang baru saja dia lihat.
Aku harus mencari tau ada apa sebenarnya, ucap Anto pada dirinya sendiri.
Lalu Anto melangkahkan kaki nya keluar dari dalam kamarnya, dia berusaha mengintip kamar kakaknya dari lubang ventilasi, setelah Anto berdiri memanjat di kursi kayu yang dia bawa dari dapur, nampak Anto terbelalak melihat almarhum kakak ipar nya sedang berada didalam kamar Ari kakaknya.
Keduanya sedang duduk bersandingan di ranjang dengan saling memeluk satu sama lain, sedangkan Anto yang mengerutkan dahi nya dengan mata yang membulat tidak dapat menelan ludah nya karena dia begitu kaget dan juga takut dengan apa yang dia lihat di kamar kakaknya itu.
Disela sela kekagetan nya nampak Rara menolehkan kepalanya menuju lubang ventilasi kamar nya, membuat Anto terperanjat karena takut keberadaan nya akan diketahui oleh mereka.
Lalu Anto bergegas turun dari kursi kayu itu dan mengembalikan nya ke dapur, tapi dia dikejutkan oleh Ari yang menepuk pundaknya dari belakang.
"Kau sedang apa To?". Tanya Ari dengan seringai kecil di wajah nya.
"Anu itu mas a aku ha haus". Jawab Anto dengan gagap.
"Ya sudah cepatlah minum dan tidur,bukankah besok kau harus bekerja, kenapa jam segini belum tidur juga". Seru Ari seraya mengambil gelas untuk minum adik laki laki nya itu.
"Kau sendiri kenapa belum tidur mas". Celetuk Anto dengan mengusap peluh di kening nya.
__ADS_1
"Aku juga merasa haus To, ini mau ngisi teko air dulu". Tukas Ari dengan mengisi teko air yang ada di tangan nya.
Setelah menghabiskan minum nya Anto berpamitan pada Ari untuk kembali ke kamarnya dengan melirik ke arah pintu kamar Ari yang sedikit terbuka, tapi Anto tidak dapat melihat apa apa.
Nampak guratan cemas di wajah Anto, mengingat apa yang dia lihat di kamar Ari kakaknya.
"Apa yang harus kulakukan". Gerutu Anto pada dirinya sendiri.
Karena matanya sudah lelah terjaga akhirnya Anto memejamkan kedua mata nya, dia tertidur sampai kesiangan.
*
*
Keesokan pagi nya nampak Rara membangunkan suami nya yang sedang tertidur didalam pelukan nya, Rara mengecup kening Ari dengan membisikan kata kata cinta nya.
"Mas cepatlah bangun, nanti kau bisa terlambat bekerja jika terus tertidur begini". Ucap Rara seraya mengecup kening suami nya itu.
"Sudah pagi to dek, padahal aku masih ingin berlama lama denganmu". Tukas Ari seraya meregangkan otot dibadan nya.
"Cepatlah bangun mas, tadi ibu sudah memasak untuk sarapanmu dan juga Anto, tapi aku tidak bisa membantu ibu memasak karena bisa saja Anto terbangun sewaktu waktu". Seru Rara dengan wajah sendu nya.
Dan tidak lama kemudian terdengar bu Ema mengetuk pintu kamar Anto dan membangunkan nya dari tidur nya.
"Le bangunlah ini sudah siang lho, nanti kau terlambat berangkat bekerja". Teriak bu Ema dari balik pintu kamar Anto.
Sementara Anto yang mendengar teriakan bu Ema bergegas bangun dari tidurnya dan berlari ke kamar mandi dengan tergesa gesa, setelah selesai merapikan dirinya Anto keluar dari kamarnya dan segera duduk di meja makan untuk sarapan bersama bu Ema dan juga kakaknya Ari.
"Tumben kau kesiangan To, apa semalam kau tidak langsung tidur ya?". Tanya Ari dengan mengernyitkan dahi nya.
"Iya mas semalam mataku susah terpejam". Jawab Anto dengan wajah yang kusut.
"Ya sudah cepatlah kau habiskan sarapanmu, nanti biar aku saja yang mengantarmu sampai tempat kerja, aku tidak ingin kau kenapa kenapa di jalan". Tukas Ari dengan merangkul adik laki laki nya itu.
Setelah menghabiskan sarapan nya mereka berdua berangkat bekerja bersama, lalu bu Ema mengajak Rara keluar dari dalam kamarnya untuk makan pagi menu kesukaan nya bunga tujuh rupa dan juga bunga kantil.
__ADS_1
"Kau makanlah dulu nduk, lalu bantu ibu membersihkan rumah ini, sudah lama sejak bapakmu meninggal dunia tidak ada lagi yang membersihkan rumah ini karena ibu sibuk berduka karena kalian berdua meninggalkan ibu seorang diri di dunia ini". Tukas bu Ema dengan berderai air mata.
Nampak Rara langsung memeluk ibu tercinta nya itu tanpa menyadari ada seseorang diluar jendela yang melihat nya dari samping.
Sementara diluar rumah itu ada bu Siti yang sedang mengambil kelapa disamping rumah nya memandang kedalam rumah Ari yang terbuka jendela nya.
Dilihatnya seorang perempuan muda dengan rambut tergerai bebas sedang memeluk bu Ema yang sedang menangis.
Siapa perempuan yang memeluk bu Ema ya, kok pagi sekali sudah ada tamu disana, batin bu Siti didalam hati nya.
Dan belum selesai bu Siti mencerna apa yang ada didalam pikiran nya, dia terkejut setelah melihat wajah perempuan muda itu.
"Ra... Raaraaa... ". Ucap bu Siti dengan terbata bata.
Setelah melihat apa yang ada didepan mata nya nampak bu Siti sangat ketakutan dan berlari ke arah rumah simbah Rania.
Dia berjalan setengah berlari dan mengetuk pintu rumah itu dengan terburu buru.
Tok tok tok...
Suara ketukan pintu yang terus menerus mengagetkan bude Walimah yang sedang sibuk di dapur, bude berlari ke depan pintu dan membuka nya.
Ceklek...
"Eh bu Siti, tumben pagi sekali datang kesini". Ucap bude Walimah dengan seringai kecil di wajah nya.
Sedangkan bu Siti yang sangat panik tidak menjawab ucapan bude Walimah, terlihat keringat dingin mengucur dari atas kening nya.
Lalu bude Walimah mengajak bu Siti masuk kedalam rumah nya dan memberikan nya segelas air putih untuk menenangkan dirinya.
"Ini bu diminum dulu supaya tenang, lalu katakanlah ada apa sebenarnya kenapa kau terlihat sangat ketakutan seperti dikejar hantu saja". Tukas bude Walimah dengan mengernyitkan dahi nya.
Setelah menghabiskan air minum nya bu Siti mulai mengatur nafas nya yang sedari tadi tidak beraturan karena dia berjalan tergesa gesa ke rumah simbah Rania.
*
__ADS_1
*
...Bersambung....