
Beberapa hari setelah itu, ketiga gadis yang memiliki kemampuan spesial itu, mulai melakukan kegiatan di kampus nya, banyak makhluk-makhluk gaib yang melesat disekitar mereka, nampak Wati yang belum terbiasa dengan pemandangan menyeramkan itu, sesekali menutupi wajahnya menggunakan kedua tangan nya, tapi Rania dan juga Lala selalu menenangkan nya supaya tidak terlaly ketakutan melihat wujud mereka yang beraneka ragam.
Siang itu setelah jam mata kuliah selesai Wati duduk di kantin seorang diri, dia memesan segelas lemon tea dari salah satu pedagang yang ada disana, tapi Wati melihat sesuatu yang diluar nalar, ada makhluk persugihan yang sedang melakukan tugas nya, untuk membuat dagangan pengikutnya laris manis, Wati melihat mangkok soto yang bercampur dengan air liur makhluk menjijikan yang sedang merayap di atas plafon kantin.
Astagfirullohaladzim ternyata memang ada yang menggunakan penglaris semacam itu, batin Wati dengan menelan ludah nya kasar.
Plak plak plak...
Terdengar suara langkah kaki yang mendekati Wati, nampak Wati tidak menghiraukan asal suara itu berasal, dan tiba-tiba ada sesosok hantu perempuan yang ngesot di lantai kantin itu, suara tangan nya yang menyeret tubuhnya terdengar nyaring ditelinga Wati, nampak hantu itu mendongakan wajahnya ke atas, dan Wati yang ada diatas nya seketika menjerit ketakutan, karena wajah hantu itu rata dengan luka melepuh dan kedua mata nya yang pecah, sedangkan Wati yang tidak tahan dengan penampakan-penampakan yang dilihat nya, akhirnya bergegas berlari ke arah taman kampus.
Braak...
Wati berlari dan menabrak Yudistira, nampak lelaki itu mengkerutkan kening nya melihat wajah Wati yang berkeringat dingin.
"Kau kenapa Wati, apa ada yang mengganggumu?." tanya Yudistira seraya menepuk pundak Wati.
"Aku aku takut Yud, di kantin ada hantu yang menakutiku." jawab Wati dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Ah kau tidak perlu takut dengan hantu rendahan seperti itu, mereka tidak ada apa-apa nya dibanding dengan siluman dan buto, karena hantu rendahan seperti itu hanya bisa menakuti manusia saja." jelas Yudistira dengan tersenyum kecut.
"Darimana kau tau itu, memangnya kau bisa melihat makhluk tak kasat mata juga." seru Wati dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
"Ehm aku tau dari simbahku, karena dia adalah orang sakti yang mengerti dengan dunia gaib semacam itu." tukas Yudistira dengan menghembuskan nafas nya panjang.
__ADS_1
"Dulu simbahku juga memiliki kemampuan semacam itu, tapi beliau sudah tiada, untung saja masih ada mbah Karto yang menjaga kami semua, aku berdoa semoga beliau berumur panjang." ujar Wati dengan wajah sendu.
Justru aku harapa manusia itu segera tiada, supaya aku bisa bebas melakukan rencanaku untuk memiliki Lala, batin Yudistira dengan tersenyum licik.
"Apa yang sedang kau pikirkan Yud, kenapa kau tersenyum tanpa sebab." tukas Wati dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ah tidak ada Wat, jika kau mau aku bisa membantumu, supaua makhluk tak kasat mata itu lebih takut padamu, dan tidak akan mengganggumu, tapi kau harus membantuku supaya Lala tertarik padaku." ucap Yudistira membujuk Wati.
Sebenarnya aku bisa dengan mudah merebut hati Lala, tapi aku tidak mungkin menggunakan kesaktianku, karena bagaimanapun Lala akan menyadari itu, dan dia akan curiga padaku, aku harus menyembunyikan kesaktianku dihadapan nya, karena Lala sudah sangat mengenal kesaktian para buto, batin Yudistira dengan mengkerutkan kening nya.
"Apa kau benar-benar menyukai Lala, tapi aku tidak yakin bisa membantumu dekat dengan nya, karena ada beberapa hal yang tidak kau ketahui tentang nya, lagipula belum tentu Lala mau menjalin hubungan yang lebih denganmu, jika kau mau coba saja bicara jujur padanya, mungkin saja Lala akan memberikanmu kesempatan untuk lebih dekat dengan nya, lagipula kau tampan keren dan kelihatan nya pintar, mungkin saja Lala juga tertarik padamu." tukas Wati.
Tidak lama setelah itu Lala datang menghampiri mereka, gadis itu menanyakan kabar Wati, yang memiliki kemampuan baru di hari pertamanya di kampus.
"Aku baru tau La, jika memiliki kemampuan melihat makhluk tak kasat mata itu bisa membuatku seperti orang gila, kau tau tidak di dalam kantin sana, aku melihat makhluk peliharaan salah satu pedagang, yang dipakai untuk penglaris, dan ada juga hantu perempuan ngesot dengan wajah rata, ih serem banget La." bisik Wati ditelinga Lala.
"Biarkan saja Wat, kita tidak bisa ikut campur dengan kehidupan semua orang, mungkin orang itu belum mendapatkan hidayah, sehingga dia nekat memakai penglaris." sahut Lala menenangkan Wati.
Setelah itu Yudistira terdengar mengajak mereka pulang bersama, tapi Lala menjawab jika dia ada tugas di luar kampus.
"Aku harus pergi ke perpustakaan daerah yang ada di kota, semua materi kuliahku ada dibuku itu, dan di perpustakaan kampus tidak ada buku yang ku cari, kalian pulang saja dulu." jelas Lala dengan menghembuskan nafasnya panjang.
"Kalau begitu kau diantar Yudistira saja La, daripada kau naik angkot kan lama, lagipula Rania masih belum keluar dari kelas, akan memakan waktu kalau kau menunggu nya." tukas Wati dengan mengkerutkan keningnya.
__ADS_1
"Lalu kau bagaimana Wat, aku ingin kau pulang lebih dulu diantar Yudistira, aku tidak mau kau jatuh sakit karena terlalu lelah berinteraksi dengan makhluk tak kasat mata itu." ucap Lala dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Aku akan menunggu Rania selesai kelas, disaat aku menunggu aku mau ke mushola saja, baca-baca alquran supaya hatiku tenang." cetus Wati.
Disela-sela mereka berbincang nampak Senopati datang melihat keadaan ibunda nya, dia berdiri mengambang di suatu sudut taman itu, nampak Seno merasakan aura negatif disekitar ibu nya, tapi dia tidak dapat melihat sosok makhluk gaib disana.
Didekat ibunda hanya ada kedua manusia itu, tapi kenapa aku merasakan ada aura hitam pekat disekitar nya, batin Senopati yang berusaha mencari makhluk gaib yang ada didekat ibunda nya.
Tapi usaha Senopati sia-sia karena dia tidak tau, jika Bagaskara sudah menjelma menjadi manusia, dan akhirnya Lala pergi bersama Bagaskara yang telah menyamar, disepanjang perjalanan nampak Yudistira menanyakan berbagai hal, termasuk tentang kedekatan mereka saat itu.
"Lala bisakah aku lebih dekat denganmu, jujur saja aku sudah menyukaimu dari awal kita bertemu." ucap Yudistira seraya mencuri pandang melihat wajah cantik Lala.
Nampak Yudistira ingin menggunakan sihirnya, supaya Lala terpengaruh dan lebih dekat dengan nya, tapi keaaktian yang dimiliki nya tidak dapat menembus tubuh Lala, karena gadis itu masih mengenakan jimat suci yang melingkar dilehernya.
Kenapa kesaktianku tidak berpengaruh pada Lala, apa ini semua karena kalung suci yang ada lehernya, aku harus menjauhkan benda itu dari Lala, tapi bagaimana caranya, batin Yudistira didalam hati nya.
*
*
...Yuk berikan dukungan Vote dan hadiahnya, mampir juga ke novel horor terbaru Author Dendam perempuan berjubah merah, akan kembali Author update 😉...
...Bersambung....
__ADS_1