
Sesampainya Luna di cafe, nampak beberapa pegawai yang sudah datang, sedang membersihkan beberapa perkakas yang pecah, nampak Luna sangat terkejut karena tidak ada barang berharga yang rusak.
Jika memang ada maling kenapa tidak ada barang-barang yang hilang, batin Luna didalam hati nya dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
Setelah itu Luna berjalan masuk ke dalam ruangan kerja nya, dia membuka laptop untuk melihat cctv di depan cafe nya, tapi tidak ada seorang pun yang masuk ke dalam cafe, sampai pegawai nya itu datang.
Kalau tidak ada orang yang masuk ke dalam cafe, mungkin tidak ya ini karena tikus yang merusak perkakas di dapur, ah sudah lah yang penting barang-barang berharga tidak ada yang hilang, gumam Luna pada dirinya sendiri.
Wuuush...
Arwah Pardi melesat menghampiri Luna, menatan wajah cantik jelita yang sedang bermuram durja, didalam hati Pardi tidak tega melihat Luna bersedih, tapi dia terpaksa melakukan nya demi mendapatkan keinginan nya.
"Maafkan aku Luna, aku melakukan semua ini demi membalaskan kematian ku pada seseorang, dan aku juga ingin bisa menyentuhmu secara langsung." ucap arwah Pardi yang berdiri mengambang memandang Luna dengan kagum.
Kemudian Luna memerintahkan beberapa pegawai nya, untuk segera menyelesaikan pekerjaan nya di dapur, karena cafe akan buka lebih cepat, hari itu ada pelanggan yang memesan tempat di cafe Luna untuk acara perpisahan sekolah.
Tidak lama setelah itu datanglah beberapa remaja menggunakan sepeda motor, di antara remaja itu ada Rania bersama Wati dan juga Lala, mereka datang ke cafe itu untuk merayakan perpisahan bersama teman-teman sekolah nya.
Terlihat Rania memandang ke segala arah, memperhatikan cafe dimana biasanya dia berkumpul bersama teman-teman nya nampak sepi, karena biasa nya perlu memesan tempat dulu sebelum datang kesana.
"Tumben ya tempat nya sepi, biasa nya begitu buka langsung ramai pengunjung." seru Wati dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
"Mungkin semua orang sedang sibuk Wati, ayo kita masuk." sahut Lala yang melangkahkan kaki nya bersama teman-teman nya yang lain.
Lalu Rania mengikuti langkah Wati dan masuk ke dalam cafe itu, nampak Rania merasakan kejanggalan tapi dia belum bisa mengetahui ada apa sebenarnya, sampai akhir nya Lala melihat ada sesosok arwah melesat di dalam cafe itu.
"Rania apa kau membawa sahabat tak kasat mata kesini?." tanya Lala memandang Rania.
"Tidak Lala mereka semua tidak bersamaku, memang nya kenapa La." jawab Rania dengan mengkerutkan kening nya.
"Tadi ada sesosok arwah di dalam cafe ini, karena itu lah aku bertanya." jelas Lala yang sedang melihat-lihat menu di cafe itu.
Kemudian Rania dan Wati melihat-lihat dekorasi di cafe itu, karena acara perpisahan akan dimulai siang nanti, tidak berselang lama Luna pun datang menghampiri kedua nya.
__ADS_1
"Selamat pagi adik-adik yang cantik, bagaimana dekorasi nya cukup seperti ini saja apa ada yang mau ditambah." sapa Luna dengan senyum ramah nya.
"Seperti ini saja sudah cukup kak, kan hanya acara perpisahan sederhana saja." sahut Wati yang membantu pegawai cafe itu menata dekorasi.
"Oh iya kak tumben jam segini cafe masih sepi, kesan nya seperti kami membooking semua tempat di cafe ini." seloroh Rania dengan memandang ke segala arah.
"Iya dek sudah dua hari ini mendadak cafe sepi, kakak juga tidak tau kenapa." jelas Luna dengan wajah sendu.
Wuuush...
Tiba-tiba arwah Pardi melesat mendekati Luna yang tengah bersedih, nampak Rania sangat terkejut dan membulatkan kedua mata nya.
Kenapa ada arwah Pardi disini, batin Rania dengan mengkerutkan kening nya.
Terlihat Luna menepuk pundak Rania, dan menyadarkan nya dari lamunan nya, Luna bertanya pada Rania apa yang telah membuatnya terkejut seperti itu, nampak Wati yang mendengar ucapan Luna bergegas menghampiri saudara sepupu nya itu.
"Pasti kau melihat sesuatu ya." tukas Wati dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
"Ya sudah kakak ke dapur dulu ya, mau melihat persiapan disana." jelas Luna seraya melangkahkan kaki nya meninggalkan Rania dan Wati yang masih berbincang.
Nampak Rania memperhatikan arwah Pardi yang selalu mengikuti Luna, Rania menerka-nerka kenapa arwah Pardi berada di cafe itu.
Sebenarnya apa yang dilakukan Pardi disini ya, batin Rania didalam hati nya.
Setelah itu Rania menemui Lala dan bertanya tentang arwah yang sempat dilihat nya di cafe itu.
"Kau ingat arwah Bambang yang ada di warung bakso pak Rahmat, teman nya yang berdagang bakso disana sudah meninggal La, dan yang kau lihat tadi arwah nya." jelas Rania pada Lala yang sedang menulis daftar tamu undangan.
"Kenapa dia ada disini Ran, apakah dia menjadi hantu gentayangan?." tanya Lala dengan mengkerutkan kening nya.
"Itu lah yang aku pertanyakan La, aku juga tidak mengerti kenapa arwah Pardi ada disini dan mengikuti kakak pemilik cafe ini." jawab Rania dengan menghembuskan nafas nya panjang.
Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat, acara perpisahan sekolah sudah di penghujung acara, nampak Luna datang menghampiri Rania dan berbincang tentang acara hari itu.
__ADS_1
"Senang ya dek baru lulus sekolah, dan merayakan perpisahan bersama teman-teman, jangan kapok ya berkunjung di cafe kakak." ucap Luna dengan menundukan kepala nya.
"Kakak jangan salah kebanyakan dari kami semua suka jajan di cafe ini, pasti kami akan tetap berkunjung kesini kak." jelas Rania pada Luna yang nampak murung.
"Semoga saja cafe ini masih buka seterusnya dek, kakak jadi dilema untuk meneruskan usaha ini." ujar Luna menucurahkan isi hati nya.
"Memangnya kakak mau pergi kemana, kan sayang kak cafe ini ramai pengunjung loh." seru Rania dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
Tapi tiba-tiba arwah Pardi melesat mendatangi Luna yang tengah bersedih, arwah Pardi tidak mengetahui jika Rania gadis yang ada dihadapan nya, memiliki kemampuan untuk melihat makhluk sepertinya, arwah Pardi nampak berbicara disamping Luna, dia meminta maaf karena telah membuat usaha nya berantakan.
"Aku melakukan ini karena perintah dukun itu, dan sebagai imbalan nya aku bisa membalaskan dendamku, bahkan dukun itu bisa membantuku untuk memilikimu Luna." ucap arwah Pardi disamping Luna.
Jadi Pardi bersekutu dengan seorang dukun, dia ingin membuat usaha kakak ini bangkrut, lalu Pardi bisa mendapatkan imbalan dari apa yang telah dilakukan nya, batin Rania didalam hati nya dengan mengkerutkan kening nya.
Nampak Pardi memandang ke arah Rania, dan Rania pun membulatkan kedua matanya menatap dingin ke arah Pardi.
Apakah gadis ini bisa melihatku, kenapa dia memandang ke arah ku, batin Pardi seraya melesat meninggalkan Rania yang masih melihat ke arah nya.
Setelah itu Rania berpamitan pada Luna, karena Rania ingin berbicara dengan arwah Pardi, yang nampak menghindari nya setelah tau Rania bisa melihat kehadiran nya.
"Aku ke toilet dulu ya kak." tukas Rania seraya berjalan mengikuti arwah Pardi.
Nampak Rania mengikuti arwah Pardi ke dapur, Pardi ingin melakukan sesuatu menggunakan kekuatan nya, lalu Rania menghentikan kegiatan Pardi dan berteriak ke arah nya.
"Berhenti jangan lakukan itu." seru Rania dengan menggebrak meja yang ada di dapur.
Terlihat beberapa pegawai Luna membalikan badan nya, menatap Rania dengan penuh tanya, sementara arwah Pardi yang mengetahui jika niat buruk nya dilihat oleh Rania segera melesat meninggalkan Rania yang masih berdiri di dapur cafe.
*
*
...Bersambung....
__ADS_1