DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Pertemuan yang mengharukan.


__ADS_3

Beberapa hari kemudian mbahk Karto yang sudah kembali ke desa nya, bergegas melakukan perjalanan ke puncak gunung belakang desa, dan tanpa halangan yang berarti mbah Karto dapat menyelesaikan ritual itu dengan mudah.


Nampak Pangeran Asopati datang menghampiri mbah Karto, dan menanyakan apa yang dia inginkan.


"Pangeran tujuanku datang kesini, untuk meminta jimat suci darimu, insyaAlloh dengan berkat dari Alloh jimat yang kau berikan akan berguna untuk Lala". Jelas mbah Karto.


Setelah itu Pangeran Asopati memberikan sesuatu pada mbak Karto, dan memintanya memberikan jimat itu pada Lala.


"Minta Lala untuk memakai kalung itu, dan jangan sampai dia melepaskan nya, karena jimat suci itu bisa menghindarkan Lala dari semua makhluk gaib yang berniat jahat padanya". Jelas pangeran Asopati.


Dan setelah mendapatkan jimat suci untuk Lala, mbah Karto meminta Rania untuk mengantarkan jimat itu ke rumah Lala.


"Nduk berikanlah kalung ini pada Lala, minta dia untuk memakainya setiap hari, itu adalah jimat suci yang akan membuat Lala terhindar dari makhluk gaib itu". Tukas mbah Karto pada Rania.


Lalu Rania bergegas mengendarai sepeda motornya ke desa Randu garut, tapi ditengah perjalanan Rania melihat Evana dan Jansen sedang melesat mengikuti Bambang ke suatu tempat.


Kemana mereka pergi, apakah kuburan Bambang sudah dibongkar, batin Rania dengan mengaitkan kedua alis matanya.


Kemudian Rania melanjutkan perjalanan nya ke rumah Lala, dan disana sudah ada pak Jarwo yang sedang berbicara dengan Petter.


"Assalamualaikum". Seru Rania seraya mengecup punggung tangan pak Jarwo.


"Waalaikumsalam nduk, apa yang membawamu kesini Ran?". Tanya pak Jarwo dengan senyum ramahnya.


"Ini pak, aku mendapatkan titipan dari mbah Karto". Jawab Rania seraya memberikan jimat suci yang berupa kalung itu.


"Alhamdulillah, akhirnya Lala bisa terbebas dari makhluk gaib itu". Seru pak Jarwo dengan menghembuskan nafasnya panjang.


"Oh iya pak, apakah jazad mas Bambang sudah dibongkar dan dikuburkan dengan layak, karena tadi aku sempat melihat arwahnya melesat ke suatu tempat". Ucap Rania dengan mengkerutkan keningnga.

__ADS_1


"Belum nduk, tadi aku sudah meminta Evana dan Jansen untuk membantu Bambang, karena Bambang akan memasuki alam mimpi orang tuanya supaya mereka datang ke warung bakso pak Rahmat, dan menanyakan dimana keberadaan anaknya saat ini, hanya dengan begitu perlahan Pardi akan semakin tersudut dan merasa bersalah, lalu Pardi akan mengatakan yang sebenarnya pada orang tua Bambang". Jelas pak Jarwo pada Rania.


"Semoga jazad mas Bambang segera ditemukan dan dia kembali ke alam keabadian ya pak". Tukas Rania.


Terdengar suara Kasmi memanggil pak Jarwo, karena kondisi kesehatan bapaknya menurun, lalu pak Jarwo memeriksa kondisi mertuanya itu, ternyata asma bapak mertuanya kambuh, dan mereka harus membawa mbah Abdul ke rumah sakit.


"Rania tolong jaga Lala sebentar ya, mintalah dia memakai kalung jimat ini, supaya dia aman di tempat manapun, kami akan membawa mbah Ahmad ke rumah sakit yang ada di kota". Ucap pak Jarwo seraya menggotong mbah Ahmad ke dalam mobil.


Nampak Lala menghembuskan nafasnya panjang, serta mengusap peluh dikeningnya, Rania duduk di kursi ruang tamu dengan berbagai masalah yang ada disekitarnya, terlihat Petter memandang sendu sahabatnya dari luar rumah itu.


Kasihan Rania dia pasti sedang banyak pikiran, karena sebentar lagi orang tua nya akan datang membawanya pergi dari desa ini, tapi disini masih banyak yang membutuhkan bantuan nya, batin Petter didalam hatinya.


Setelah itu nampak Lala keluar dari kamarnya, memandang heran ke arah Rania yang sedang termenung.


"Kau kenapa Ran, aku lihat kau sedang murung?". Tanya Lala dengan menepuk pundak Rania dari belakang.


"Aku sedang gelisah La, sebentar lagi mama papa ku akan datang menjemputku, mereka akan mendaftarkanku ke perguruan tinggi yang ada di kalimantan, karena mereka tidak ingin aku jauh lagi dari mereke berdua, tapi aku sudah terlanjur nyaman tinggal di lingkungan desa ini, bahkan aku sudah menyiapkan formulir pendaftaran ke perguruan tinggi yang sama denganmu dan juga Wati, tapi aku tidak tega menolak permintaan kedua orang tuaku". Ujar Rania dengan wajah sendu.


"Oh iya La, aku sampai melupakan sesuatu, ini pakailah jimat suci yang diberikan mbah Karto, ingat satu hal ya La, jangan pernah kau melepaskan kalung itu, karena kalung itu dapat membuatmu terhindar dari makhluk-makhluk gaib itu". Tukas Rania seraya memasangkan kalung itu dileher Lala.


Kemudian Rania dan Lala mencari udara segar di sekitar desa, mereka berjalan-jalan menghirup udara segar dengan diikuti Petter yang melesat dibelakangnya.


Wuuush...


Ada hawa dingin dan juga panas melesat melewati mereka, nampak Petter mengatakan pada Rania jika ada makhluk gaib yang sedang mengikuti mereka, nampak Rania sangat cemas dengan keselamatan Lala.


"Maafkan aku La, seharusnya kau tidak mengikutiku keluar dari dalam rumahmu, aku takut kau kenapa-kenapa". Tukas Rania dengan wajah sendu.


"Kau tenang saja Ran, bukankah aku sudah memakai jimat suci ini, percayalah tidak akan terjadi apapun padaku". Jelas Lala seraya merangkul pundak Rania.

__ADS_1


"Ibunda...". Terdengar suara lirih dari balik pohon besar.


Kenapa aku mendengar suara Seno yang memanggilku, apakah ini hanya perasaanku saja, batin Lala dengan mengkerutkan keningnya.


"La, aku mendengar sesuatu". Ucap Rania lirih dengan memandang ke segala arah.


Kemudian Petter melesat ke belakang pohon besar, dan dia nampak membulatkan kedua matanya melihat sesosok bocah laki-laki yang sedang memandang sendu ke arah Lala.


Lalu Rania bergegas menghampiri Petter dan menatap bocah yang ada dihadapan nya dengan penuh tanya.


"Siapa kau". Seru Rania menatap tajam pada bocah itu.


Kemudian Lala berjalan mendekati sosok bocah yang ada dibalik pohon itu.


"Seno, apakah kau benar Senopati anakku". Pekik Lala dengan mata berkaca-kaca.


Kemudian sosok bocah laki-laki itu menghambur ke pelukan Lala, dan Lala membalas pelukan nya dengan berderai air mata.


"Kau memang anakku Senopati, karena kau bisa memelukku tanpa terjadi apapun padamu nak". Seru Lala terisak pilu.


Terlihat Rania dan Petter memandang haru pertemuan ibu dan anak itu, kemudian datang sesosok makhluk gaib lain nya, dia adalah Mekar istri kedua Elang yang membawa Senopati ke alam manusia untuk bertemu dengan ibundanya.


"Mbakyu Mekar terima kasih sudah mempertemukan kami berdua huhuhu". Ucap Lala menangis sesegukan.


Nampak Mekar hanya menyunggingkan senyum diwajahnya, kemudian Mekar mengatakan jika mereka berdua tidak bisa lama-lama berada di alam manusia.


"Maafkan aku La, aku tidak bisa lama-lama mempertemukan kalian berdua, karena kangmas Elang bisa sangat murka padaku jika dia mengetahui semua ini, aku hanya tidak tahan melihat kesedihan Senopati, dia selalu mengurung diri di dalam kamarnya, dan aku terpaksan membawanya ke alam mu supaya Seno bisa bertemu denganmu meski hanya sesaat". Cetus Mekar dengan wajah sendu.


*

__ADS_1


*


...Bersambung. ...


__ADS_2