DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Ditemukan nya sesosok mayat.


__ADS_3

"Kalian tenang saja aku akan berusaha menolong anak itu supaya dapat kembali ke rumah, tapi kalong wewe itu sangat berbahaya dia sangat menyukai anak-anak, dan satu pesan ku jika ada warga yang baru saja melahirkan atau masih mempunyai anak yang masih bayi tolong di jaga baik-baik karena kapan pun kalong wewe itu bisa menculik mereka". Ucap mbah Wongso mengelabuhi mereka.


"Baiklah mbah kami permisi pulang dulu". Sahut mereka semua seraya meninggalkan pondokan itu.


Sedangkan mbah Warni yang sudah tidak sabar lagi menunggu kedatangan cucu nya memutuskan untuk mencarinya di sekitar hutan, karena menurut beliau ada yang sengaja menculik cucu nya untuk dijadikan sesembahan makhluk gaib.


"Sudah to Yu sabar dulu di rumah, ini kan sudah mau magrib kau mau kemana". Cegah mbah Sumi.


"Justru karena ini sudah mau magrib War, aku harus segera menemukan cucuku Beni". Jelas mbah Warni terisak.


Lalu tiba-tiba warga yang baru pulang dari pondokan mbah Wongso menjelaskan pada mbah Warni jika cucu nya sedang dibawa kalong wewe dan mbah Wongso akan segera menyelamatkan nya.


"Ya Allah gusti Le hu hu hu". Pekik mbah Warni berderai air mata mendengar kabar tentang cucu nya.


Karena hari semakin larut semua orang memutuskan untuk kembali ke rumah nya masing-masing, tapi Kasmi yang tidak tega meninggalkan mbah Warni seorang diripun berniat bermalam di rumah mbah Warni untuk menemani nya.


"Mbok aku nginep disini dulu ya, menemani mbah Warni kasihan kalau sendirian". Tukas Kasmi pada ibu nya.


"Ya sudah nduk, terserah kau saja". Sahut mbah Sumi seraya berjalan pulang ke rumah nya.


Malam itu Kasmi pun berbincang dengan mbah Warni tentang warga barj yang menurut semua orang adalah orang pintar karena dapat menyembuhkan penyakit yang tidak wajar seperti santet dan juga pelet.


"Lho mbah kenapa kau bisa langsung percaya dengan ucapan mbah Wongso itu, apa kau sudah lama mengenalnya?". Tanya Kasmi penasaran.


"Jika tidak percaya dengan ucapan nya, siapa lagi yang akan membantuku mencari Beni nduk, semua warga disini sudah banyak yang percaya dengan kehebatanya, karena tidak ada lagi orang pintar seperti dia di desa ini, meski beberapa di antara warga belum banyak yang mengenalnya, karena dia baru pindah kesini". Jelas mbah Warni lirih.


Terlihat Kasmi mengkerutkan kening nya mendengar penjelasan mbah Warni, ada sesuatu yang mengganjal didalam pikiran nya.


Tadi mbah Warni bilang orang pintar itu baru beberapa bulan pindah kesini, tapi selama beberapa bulan ini juga banyak warga yang hilang misterius dan ada yang ditemukan meninggal jangan-jangan ini semua ada hubungan nya, batin Kasmi didalam hati nya.


Tidak lama setelah itu terdengar seseorang yang mengetuk pintu rumah mbah Warni berulang kali.

__ADS_1


Tok tok tok...


*Assalamuallaikum, seru seseorang diluar sana.


Waalaikumsallam, sahut Kasmi seraya berjalan membukakan pintu*.


Cekleek...


"Ada apa pak Manto?". Tanya Kasmi dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


"Itu Kas aku hanya ingin memberi tau jika mbah Wongso sudah menemukan Beni tergeletak di balik pohon keramat, sepertinya dia telah di mangsa kalong wewe itu". Jawab pak Manto dengan nafas tersengal-sengal.


"Jangan asal ngomong to pak, kasihan mbah Warni kalau mendengarnya". Seru Kasmi kesal.


"Aku serius Kas tadi ada warga yang ikut melihat sendiri wujud kalong wewe itu yang tengah menyeret tubuh Beni, lalu mbah Wongso melawan kalong wewe itu tapi kami semua belum tau bagaimana kondisi Beni sekarang makanya aku memberi kabar kesini". Tukas pak Manto dengan wajah cemas.


Samar-samar terlihat bayangan mbah Warni yang mendekat ke arah pintu rumah nya, ternyata beliau mendengar semua pembicaraan pak Manto dan juga Kasmi.


"Sudah mbah yang sabar, ayo kita lihat dulu bagaimana kondisi Beni disana". Ajak Kasmi.


Setelah itu mereka semua bergegas berjalan ke arah hutan karena disana sudah banyak warga yang berkumpul untuk melihat kondisi Beni, yang di duga di culik kalong wewe.


Terdengar mereka berbisik membicarakan tentang Beni yang tidak bergerak sedari tadi, mungkin saja dia sudah tiada tapi tidak ada satu pun orang yang berani mendekat.


Sampai pada akhirnya mbah Warni pun datang menghampiri cucu nya yang sedang tergeletak di rerimbunan ilalang, kemudian mbah Warni pun berteriak histeris karena melihat wajah cucu nya yang sudah membiru dan terdapat banyak belatung di dekat tubuh nya.


"Sudah mbah yang sabar, ayo kita bawa pulang dulu jenazah cucumu ini". Ucap Kasmi menenangkan hati janda tua itu.


Kok aneh to baru ditemukan meninggal sudah ada belatung didekat jenazahnya, batin Kasmi didalam hati nya.


Sementara disana nampak mbah Wongso yang memberitau semua warga supaya menaruh sesajen di depan rumah takutnya kalong wewe itu datang lagi dan berusaha mengambil anak-anak di desa mereka.

__ADS_1


"Baiklah mbah saya akan sampaikan pesanmu pada warga". Sahut pak Manto dengan menganggukan kepala nya.


Dengan menuruti perintah mbah Wongso, para warga itu tidak tau dengan meletakan sesajen dj depam rumah mereka, maka sesembahan mbah Wongsl akan bebas memilih dan menentukan calon korban nya sendiri.


Baguslah mereka mendengarkan ucapanku, dengan begitu aku tidak perlu bersusah payah lagi mencari calon tumbal yang akan ku persembahkan, batin mbah Wongso dengan menyeringai dihadapan para warga.


Sesampainya di rumah mbah Warni nampak pak Modin pun sudah di panggil untuk segera mensucikan jenazah Beni, mbah Warni yang baru saja kehilangan cucu semata wayang nya hanya bisa berderai air mata karena dia akan hidup sebagang kara setelah ini.


"Hu hu hu aku akan meminta mbah Wongso untuk melenyapkan kalong wewe yang telah membuat cucuku Beni meninggal dunia". Seru mbah Warnj dengan mengepalkan kedua tangan nya.


Setelah itu mbah Sumi pun berusaha menenangkan hati janda tua itu supaya dapat lebih ikhlas lagi, supaya jiwa cucu nya dapat beristirahat dengan tenang.


"Nyebut Yu Astagfirullah, biarkan jiwa Beni tenang di alam sana, kita yang masih hidup harus banyak mendoakan nya, jangan kau turuti nafsumu untuk membalas dendam". Ucap mbah Sumi memeluk tubuh tua mbah Warni yang sudah sangat lemah sampai akhirnya beliau pingsan dipelukan mbah Sumi.


Lalu beberapa warga membantu untuk membawa mbah Warni ke atas ranjang supaya beliau dapat istirahat sejenak, dan beberapa dari mereka terlihat sibuk menyiapkan sajen untuk diletakan di depan rumah warga lain nya.


Suami mbah Sumi pun terheran dengan kegiatan warga di tengah suasana duka itu.


"Lho Man itu buat apa kok ada sesajen segala?". Tanya mbah Kromo penasaran.


"Ini lho mbah buat tolak balak supaya kejadian yang di alami Beni tidak di alami anak-anak yang lain nya". Jawab pak Manto dengan wajah cemas.


Dan ditengah suasana duka itu mbah Wongso pun hadir untuk menunjukan simpati nya pada warga, supaya tidak ada yang curiga pada dirinya, terlihat semua warga menghormati mbah Wongso dan beliau nampak di segani disana karena banyak warga yang memberi salam dengan mengecup punggung tangan nya.


Mereka semua sudah tertipu dengan topeng kebaikan mbah Wongso yang sebenarnya akan menjadikan warga desa itu sebagai tumbal untuk sesembahan nya, supaya dia mendapatkan kesaktian, umur panjang, dan juga kekayaan yang berlimpah meskipun begitu mbah Wongso tidak memperlihatkan banyaknya harta yang dia miliki dengan alasaan supaya rahasianya semakin terjaga selama dia tinggal di desa itu.


*


*


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2