
"Teman lama nya yang mana nak, jika Bambang berniat pindah kerja, pasti dia akan memberitau ku nak, tapi sudah beberapa hari ini Bambang tidak bisa dihubungi, ponselnya sudah tidak aktif lagi". Jelas ibu Bambang dengan wajah sendu.
Ya Alloh apa yang harus ku katakan pada ibu Bambang, meski bukan aku yang membunuhnya, tapi aku juga berdosa telah menyembunyikan kebenaran ini, batin Pardi didalam hatinya.
"Mungkin Bambang belum sempat mengabari ibu, lebih baik ibu istirahat di rumah mess ku dulu, pasti ibu sangat lelah diperjalanan". Tukas Pardi seraya mengajak ibu Bambang ke rumah mess nya.
Cekleek...
Pardi membuka pintu rumah itu, dan mempersilahkan ibu Bambang untuk masuk dan beristirahat disana.
"Maaf ya nak, ibu jadi merepotkanmu". Ujar ibu Bambang dengan mengusap peluh dikeningnya.
"Ah... Tidak apa-apa bu, tidak merepotkan sama sekali, kalau ibu mau makan atau minum ambil di dapur saja bu, aku mau kembali bekerja dulu". Terang Pardi seraya berjalan meninggalkan rumah mess nya.
Kemudian Pardi melangkahkan kaki nya ke warung bakso pak Rahmat, lalu Evana dan Jansen melesat mengikuti Pardi dibelakangnya.
Sementara Bambang tetap menemani ibu nya, nampak perempuan tua itu sedang berbaring di sofa ruang tamu, guratan lelah menghiasi wajahnya, terlihat Bambang ingin sekali menyentuh kaki ibu nya, tapi sentuhan nya selalu tembus begitu saja.
Tidak berselang lama ibu Bambang terlelap dalam tidurnya, nampak Bambang ingin memasuki alam mimpi ibu nya, tapi dia tidak memiliki kelebihan seperti itu karena hanya Evana atau Jansen saja yang bisa membantunya.
Didalam tidurnya ibu Bambang nampak melihat anaknya berada didekatnya, ibu itu memimpikan Bambang tanpa dia harus memasuki mimpi ibu nya.
Didalam mimpi itu ibu Bambang nampak memasuki sebuah kamar yang ada di dalam rumah itu, dan ketika dia masuk kesana ada beberapa pakaian Bambang yang tersimpan di dalam lemari kayu yang ada disana.
Kemudian ibu itu membuka lemari kayu yang ada dihadapan nya, dan betapa terkejutnya dia menemukan Bambang yang sudah kaku menjadi mayat, dengan seluruh luka ditubuhnya, nampak perempuan itu menangis histeris melihat mayat anaknya.
Dan tiba-tiba saja perempuan tua itu terbangun dengan berderai air mata, terlihat arwah Bambang sangat panik melihat ibu nya menangis.
"Huhuhu... Anakku dimana kau Le, ibu bermimpi buruk jika kau sudah tiada Le". Ucap ibu Bambang menangis sesegukan.
__ADS_1
Kemudian dia bangkit dari duduknya berjalan masuk ke dalam kamar yang ada di mimpi nya, lalu arwah Bambang pun melesat mengikuti ibunya.
Kreeaaak...
Perempuan tua itu membuka pintu kamar yang tidak terkunci, dan dia berjalan gontai membuka lemari pakaian yang ada dihadapan nya.
Ini kan pakaian anakku Bambang, tadi aku bermimpi mayat anakku ada didalam lemari ini, tapi yang ku lihat hanya pakaian nya saja, batin perempuan itu dengan mengkerutkan keningnya.
"Le kau dimana to, tadi ibu bermimpi menemukan mayatmu di dalam lemari ini, tapi yang ibu lihat hanya pakaianmu saja huhuhu". Ucap ibu itu dengan berderai air mata.
Ternyata ibu menangis karena memimpikanku, dan kebetulan sekali ibu bermimpi jika aku sudah menjadi mayat, batin Bambang didalam hatinya dengan wajah yang sendu.
Cekleek...
Terdengar suara pintu yang terbuka dari arah luar, lalu ibu Bambang berjalan tertatih menuju ruang tamu untuk melihat siapa yang datang, nampak ada Pardi sedang meletakan beberapa makanan untuk ibu Bambang.
"Monggo bu dimakan dulu, saya bawakan beberapa makanan untuk ibu, karena saya tidak tau makanan yang ibu suka". Tukas Pardi dengan tersenyum simpul.
Aduh apa yang harus ku katakan, aku terpaksa berbohong lagi padanya, batin Pardi seraya mengusap peluh dikeningnya.
"Iya bu Bambang tidak membawa semua pakaian nya, mungkin saja dia akan kembali lagi kesini, jika tidak betah bekerja di tempat teman lamanya". Jawab Pardi dengan menundukan kepalanya.
"Nak perasaan ibu kok tidak enak ya, tadi ibu bermimpi menemukan Bambang yang sudah menjadi mayat, jangan-jangan ada apa-apa dengan nya". Tukas perempuan itu dengan mata berkaca-kaca.
Terlihat Pardi terkejut mendengar ucapan ibu itu, wajahnya berubah pucat dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya.
"Mimpi kan hanya bunga tidur, tidak usah terlalu dipikirkan bu". Sahut Pardi dengan wajah yang cemas.
"Semoga saja kau benar nak, perasaan ibu semakin tidak karuan berada di rumah ini, sepertinya Bambang ada disini tapi ibu tidak bisa melihatnya". Jelasnya.
__ADS_1
"Ya sudah ibu makan dulu nggih, jangan sampai ibu jatuh sakit disini". Tukas Pardi seraya menyiapkan makanan di atas piring.
Sementara itu Evana dan Jansen yang berada di warung bakso, nampak menakuti pak Rahmat yang sedang seorang diri di dalam warungnya, Evana menampakan wujudnya yang penuh darah dan berusaha menusuk pak Rahmat menggunakan garpu yang ada di meja.
Lalu pak Rahmat menjerit ketakutan karena dia tidak pernah menyangka, jika dirinya akan melihat hantu meski dia menyembah pocong untuk penglaris di warung nya, pak Rahmat tidak pernah bertatap muka langsung dengan hantu itu.
Lalu pak Rahmat berlari tunggang langgang meninggalkan warung nya yang masih terbuka, nampak pak Rahmat berlari ke arah rumah mess Pardi.
Dan sesampainya di rumah mess itu, pak Rahmat nampak berdiri dengan nafas yang tersengal-sengal, pak Rahmat meminta Bambang untuk kembali ke warung karena disana ada hantu yang menakutinya.
"Aku takut Di jika harus kembali kesana, padahal warungnya belum ku tutup, lekaslah kesana dan tutup warung itu jangan lupa bawa sepeda motorku kesini". Ucap pak Rahmat seraya mengusap peluh dikeningnya.
"Ta tapi pak, jika bapak saja takut kembali kesana apalagi aku pak". Seru Pardi dengan suara bergetar.
"Ya sudah nak, mari ibu temani kau ke warung, insyaAlloh tidak akan ada apa-apa disana". Ucap ibu Bambang seraya berjalan keluar.
Kemudian Pardi berjalan kembali ke warung bakso itu bersama ibu Bambang, nampak Pardi sangat ketakutan sampai badan nya bergetar dan bercucuran keringat dingin.
"Kau tenang saja nak, hantu itu hanya menampakan wujudnya pada manusia yang lemah iman". Tukasnya.
"Tapi bu sebelum ini saya juga sudah pernah melihat hantu, makanya saya sangat takut bu". Jelas Pardi dengan mengusap tengkuknya.
"Banyakin doa nak jangan tinggalkan sholat lima waktu, insyaAlloh kau akan terhindar dari hantu-hantu yang berusaha menakuti manusia seperti kita". Ujar ibu Bambang dengan senyum ramahnya.
Seandainya ibu tau, jika hantu yang ku lihat itu adalah hantu Bambang, pasti ibu akan sangat sedih dan terluka, maafkan aku ya bu, seandainya aku bisa mengatakan yang sebenarnya, batin Pardi didalam hatinya resah.
*
*
__ADS_1
...Bersambung....