DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Kembalinya Ayu ke alam keabadian.


__ADS_3

Dengan bersusah payah Yati mencari pendonor darah untuk Dudung, dan setelah mendapatkan golongan darah yang cocok, dokter pun memberikan sekantong darah lagi pada Dudung.


Beberapa jam kemudian Dudung sudah tersadar dan membuka kedua matanya, nampak Yati memicingkan kedua matanya, menatap Dudung penuh tanya.


"Apakah ada yang ingin kau katakan padaku mas?". Tanya Yati dengan mengaitkan kedua alis matanya.


Lalu Dudung berbicara dengan terbata-bata dia mengakui semua kejahatan nya, sedangkan Yati yang mendengar pengakuan Dudung hanya bisa merasakan sesak didalam hatinya.


"Aku yang telah melakukan semua kejahatan itu buk, maafkan aku karena kebodohanku sudah membuat Ayu tiada". Ucap Dudung yang terbaring di atas ranjang.


"Kau jahat sekali mas, tega-teganya kau melecehkan anakku dan membuatnya meninggal, aku tidak akan memaafkanmu mas". Seru Yati seraya berjalan mendekati Dudung dan berusaha mencekiknya.


Lalu bude Lasmi berusaha menenangkan Yati, dan memintanya melepaskan Dudung.


"Sudah Yat, lepaskan dia jangan kau ikuti amarahmu itu, biarkan polisi yang akan menahan Dudung, lebih baik sekarang juga kau menghubungi pihak yang berwajib". Tukas bude Lasmi dengan wajah sendu.


Setelah itu Yati menghubungi kantor polisi dan melaporkan Dudung sebagai tersangka pembunuhan anaknya Ayu, dan beberapa polisi pun datang untuk menginterogasinya.


Sedangkan arwah Ayu yang berada disana nampak berlinang air mata memandang ibunya dengan haru, Ayu bersedih karena dia harus segera kembali ke alam keabadian meninggalkan ibunya untuk selamanya.


"Petter bisakah aku berpamitan pada ibuku, aku ingin hadir didalam mimpi ibuku". Ucap Ayu berderai air mata.


"Tentu saja Ayu kau harus berpamitan pada ibumu, supaya kau dapat pergi dengan tenang, setelah ini aku akan membantumu memasuki alam mimpi ibumu". Ujar Petter dengan wajah sendu.


Terlihat Yati sangat terguncang mengetahui kebenaran jika Dudunglah yang membunuh anaknya, Yati tidak kuasa menahan kesedihan nya sampai pada akhirnya, Yati tergeletak tidak berdaya menanggung beban kesedihan yang teramat dalam.


Ibu maafkan Ayu tidak bisa menjaga ibu, karena Ayu harus segera pergi meninggalkan dunia fana ini, batin Ayu berderai air mata.


"Ayu mungkin sekarang waktu yang tepat untukmu masuk ke dalam mimpi ibumu, berpamitanlah karena waktumu tidak banyak". Jelas Petter dengan menundukan kepalanya.

__ADS_1


Setelah itu jiwa Ayu memasuki alam bawah sadar Yati, didalam mimpi Yati nampak dia bertemu dengan anak gadisnya yang telah meninggal dunia.


"Ibu terima kasih sudah menjaga dan merawat Ayu selama ini, maafin Ayu ya bu belum bisa menjadi anak yang baik untuk ibu, Ayu harus pergi selamanya meninggalkan ibu huhu". Ucap Ayu terisak seraya memeluk ibunya.


"Anakku kau tidak perlu meminta maaf pada ibu nak, justru ibu yang harus minta maaf padamu, seandainya ibu tidak menikah dengan laki-laki jahat itu, pasti kau masih ada bersama ibu". Seru Yati berderai air mata memeluk Ayu didalam mimpinya.


"Ibu tidak bersalah, laki-laki itu yang sudah menyalah gunakan kepercayaan ibu, setelah ini Ayu bisa istirahat dengan tenang bu, ibu jaga diri baik-baik ya, Ayu pamit bu huhuhu". Tukas Ayu seraya keluar dari mimpi ibunya.


Dan tidak berselang lama Yati tersadar dari pingsan nya, dan berteriak memanggil nama Ayu.


"Ayu jangan tinggalkan ibu nak huhuhu, ibu tidak bisa hidup tanpamu nak". Pekik Yati berderai air mata.


"Sudah to Yat, tenangkanlah dirimu, biarkan Ayu tenang di alamnya". Tukas bude Lasmi memeluk Yati dengan terisak.


"Ayu datang dalam mimpiku mbakyu, dia berpamitan untuk selamanya karena pelaku pembunuhan nya sudah terungkap sehingga Ayu dapat beristirahat dengan tenang, aku sangat menyesal mbak kenapa tidak dari dulu aku mempercayai ucapan nya tentang laki-laki laknat itu". Seru Yati.


Sementara Ayu yang berdiri mengambang di samping ibunya nampak berderai air mata, lalu Ayu melesat menghampiri Petter dan mengucapkan terima kasih.


"Petter terima kasih sudah membantuku selama ini, sampaikan ucapan terima kasihku pada Rania dan juga orang tuamu, aku akan pergi bersamaan dengan iringan doa-doa orang yang akan mendoakanku besok". Tukas Ayu dengan wajah sendu.


"Baiklah Ayu akan ku sampaikan pesanmu, aku juga pamit dulu ya, sampai bertemu di kehidupan yang berikutnya". Ucap Petter mengucapkan salam perpisahan pada Ayu.


Setelah itu Petter melesat kembali ke rumah simbah Parti, nampak disana hanya ada bude Walimah yang sedang melipat baju di dalam kamarnya.


Dimana Rania dan yang lain nya kenapa mereka tidak ada di rumah, batin Petter melesat ke dalam gudang.


Tapi di dalam gudang juga tidak ada tanda-tanda kehadiran kedua orang tuanya, kemudian Petter memutuskan mencari mereka semua ke desa Randu garut.


Mungkin saja mereka sedang menemui Lala di rumahnya, tapi kenapa semalam ini mereka belum kembali, batin Petter menerka-nerka.

__ADS_1


Wuuush...


Petter melesat ke rumah Lala, nampak disana ramai banyak warga yang sedang melakukan pengajian, jiwa tanpa raga Petter tidak bisa mendekat kesana, karena dia merasa kepanasan ketika mendengar lantunan ayat-ayat suci itu.


Kemudian Petter menunggu di depan rumah kosong yang berada tidak jauh dari rumah Lala, nampak Petter melihat sesosok makhluk gaib yang sedang mengawasi rumah Lala dari kejauhan.


Siapa dia, kenapa aku curiga dengan makhluk itu, sepertinya dia makhluk yang sakti, gumam Petter pada dirinya sendiri.


Ternyata makhluk gaib itu adalah Bagaskara, dia mencemaskan Lala yang menghilang dari rumah ilusinya, Bagaskara takut jika Elang menemukan dimana keberadaan Lala.


Aku tidak dapat mendekati rumah itu, apa yang harus aku lakukan, jangan sampai kangmas Elang menemukan Lala lebih dulu dariku, batin Bagaskara dengan mengkerutkan keningnya.


Setelah menunggu beberapa lama, acara pengajian itupun selesai dan Bagaskara bergegas melesat ke dalam rumah Lala, nampak di dalam sana ada Lala yang sedang membantu Kasmi membereskan piring-piring makanan.


Lala yang masih bisa melihat makhluk gaib pun tercekat karena melihat kehadiran Bagaskara di alam manusia, kemudian Lala memutuskan untuk berbicara empat mata dengan makhluk gaib itu.


"Kangmas Bagaskara, bagaimana kau bisa tau aku berada disini, dan untuk apa kau mendatangiku?". Tanya Lala dengan mengaitkan kedua alis matanya.


"Aku hanya ingin memastikan jika kau baik-baik saja Lala". Jawab Bagaskara dengan menundukan kepalanya.


"Kau bohong mas, pasti kangmasmu Elang yang memintamu untuk mencariku kan, katakan saja yang sejujurnya". Seru Lala dengan menghembuskan nafasnya panjang.


"Kangmas Elang memang memintaku untuk mencarimu La, tapi jika kau tidak ingin kembali kesana, aku tidak akan memaksakanmu percayalah padaku, aku tidak akan memberitau nya jika kau berada disini". Cetus Bagaskara meyakinkan Lala.


*


*


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2