
Waktu berlalu dengan cepat jam menunjukan pukul 20.30 WiB hanya tersisa beberapa orang yang ada di rumah simbah, tiba-tiba simbah Parti justru terbangun dari lelap nya, nampak bude Walimah dan Anggi tersenyum bahagia, karena akhirnya simbah membuka kedua matanya kembali.
"Rania... Watii... Dimana cucuku nduk." ucap simbah Parti lirih.
"Sebentar mbah tak panggilkan dulu." sahut bude Walimah seraya berjalan terburu-buru untuk memanggil Rania dan Wati.
Nampak kedua gadis yang beranjak dewasa itu tengah berdoa, setelah melakukan ibadah, lalu bude Walimah mengatakan pada keduanya jika simbah Parti sudah sadar dan mencari mereka.
"Ayo nduk cepatlah temui simbah kalian, beliau sudah sadar dan memanggil nama kalian berdua." seru bude Walimah dengan air mata bahagia.
Setelah itu Rania dan Wati yang masih memakai mukena, berlari ke kamar simbah dengan senyum bahagia nya, nampak kedua nya memeluk simbahnya yang masih terbaring di atas ranjang.
"Simbah kita ke rumah sakit ya, kami tidak mau simbah sakit seperti ini." tukas Rania berderai air mata.
"Iya simbah harus diperiksa dokter, simbah sudah setengah hari tidak sadarkan diri huhuhu." ucap Wati terisak.
Nampak simbah Parti hanya menyunggingkan senyumnya, dan mengatakan pada kedua cucu nya jika simbah hanya ingin bersama semua keluarga nya.
"Jika kalian ingin simbah sehat kembali, temani simbah malam ini ada banyak hal yang ingin simbah sampaikan pada kalian semua." ujar simbah lirih.
Terlihat semua orang saling memandang, mereka bingung dengan permintaan simbah yang tidak biasanya, lalu tiba-tiba Dedy datang bersama seorang dokter yang sengaja dijemputnya dari kota.
"Mari pak dokter silahkan masuk." seru Dedy mempersilahkan dokter itu masuk ke dalam rumah.
Setelah masuk ke dalam kamar simbah, nampak Dedy tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.
"Alhamdulillah simbah sudah sadar." seru Dedy seraya mengecup punggung tangan simbah Parti.
Lalu simbah bertanya untuk apa membawa dokter ke rumah, karena simbah merasa keadaan nya baik-baik saja, kemudian Rania membujuk simbah untuk di cek saja kondisinya, supaya semua orang dapat lebih tenang.
Setelah itu dokter memeriksa kondisi simbah Parti, dan semua keluarga menunggu di ruang tengah, dan terdengar suara sepeda motor yang memasuki halaman rumah, ternyata pak Jarwo dan mbah Karto datang kembali untuk melihat keadaan simbah.
"Assalamuallaikum." seru keduanya.
"Waalaikumsallam." sahut semua orang.
Kemudian mbah Karto duduk disamping papa Rania yang sedang memijat pangkal hidungnya.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan simbah saat ini Le?." tanya mbah Karto pada Dedy.
"Alhamdulillah simbah sudah sadarkan diri, dan saat ini dokter sedang memeriksa keadaan nya." jawab Dedy dengan menyunggingkan senyum nya.
Mungkin Parti kembali untuk mengucapkan salam perpisahan, karena aku dapat melihat bayangan hitam yang terkadang ada didekatnya, batin mbah Karto dengan menghembuskan nafasnya panjang.
Lalu dokter pun keluar dari dalam kamar simbah Parti, dokter mengatakan pada semua orang yang ada disana, jika kondisi simbah Parti stabil hanya detak jantungnya yang terkadang melambat.
"Untuk mengetahui kondisi yang lebih lanjut, mungkin beliau harus dibawa ke rumah sakit, karena alat kesehatan lebih memadai." jelas dokter itu.
"Jadi kami harus membawa simbah ke rumah sakit ya dok, tapi yang menjadi masalah beliau susah dibujuk dok." ucap bude Walimah dengan mengkerutkan keningnya.
Lalu dokter mengatakan jika memang simbah tidak mau dibawa ke rumah sakit, mungkin beliau merasa kondisi nya baik-baik saja, dan dokter menyarankan supaya simbah meminum obat yang dokter resepkan.
Kemudian papa Rania menyiapkan mobil untuk mengantar dokter kembali ke rumah nya, dan juga pergi ke apotek untuk menebus obat, sementara semua orang yang ada di rumah sedang menemani simbah di dalam kamarnya.
Terdengar simbah Parti menceritakan kisah masa muda nya dulu, ketika beliau masih remaja dan berkenalan dengan mbah Karto, keduanya sangat dekat tapi hanya sebatas kakak adik saja.
"Dulu simbah kakungmu sempat cemburu pada mbah Karto, karena simbahmu ini sangat dekat dengan nya." seloroh simbah Parti menceritakan masa lalu nya.
"Kang Jarwo ada yang ingin ku sampaikan padamu." ucap simbah Parti lirih.
Lalu mbah Karto meminta semua orang untuk menunggu di luar, karena mbah Karto tidak ingin semua keluarga tau apa yang ingin simbah Parti katakan.
Pasti kau ingin mengatakan sesuatu yang akan membuat semua keluargamu sedih, lebih baik aku meminta semua orang meninggalkan kamar ini, batin mbah Karto didalam hatinya.
Terlihat semua orang meninggalkan kamar simbah Parti, hanya Rania saja yang masih bertahan dan berdiri memandang sendu wajah simbahnya, lalu mbah Karto membalikan tubuhnya menatap Rania yang nampak bersedih memandang simbahnya.
"Nduk cah ayu kenapa kau masih berdiri disitu?." tanya mbah Karto.
"Bisakah Rania selalu bersama simbah huhuhu." jawab Rania terisak.
"Loh kok malah nangis to nduk, sana tunggu di depan dulu." tukas mbah Karto seraya mengusap lembut rambut Rania.
Nampak Rania berjalan tertatih dengan terus terisak, nampaknya ada yang mengganggu pikiran Rania, lalu mama Rania datang menghampiri anak gadis nya itu.
"Kau kenapa sayang sudah ya jangan menangis lagi, simbah akan baik-baik saja kok." ucap Anggi seraya memeluk Rania.
__ADS_1
Bagaimana caranya supaya simbah baik-baik saja mam, tadi aku melihat bayangan hitam berdiri tepat disamping simbah, dan sepertinya simbah merasakan kehadiran nya, batin Rania didalam hatinya pilu.
"Mama aku takut ma huhuhu... Aku takut simbah kenapa-kenapa." seru Rania berderai air mata.
Nampak Wati yang sangat mengenal sepupunya dengan baik, hanya mengkerutkan keningnya dan menerka-nerka apa yang ada didalam pikiran Rania.
Jangan-jangan Rania melihat sesuatu, dan itu berhubungan dengan simbah, batin Wati dengan mengkerutkan keningnya.
Lalu Wati bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Rania, nampak Wati mengatakan pada Rania jika ada yang ingin ditanyakan nya.
"Bicara saja Wati apa yang ingin kau tanyakan padaku." seru Rania dengan mengusap air matanya.
"Apakah kau melihat sesuatu didekat simbah." celetuk Wati dengan mengkerutkan keningnya.
Nampak Rania membulatkan kedua matanya ketika mendengar pertanyaan Wati, Rania tidak tau harus mengatakan apa dan dia hanya menelan ludahnya kasar.
"Ti tidak ada apa-apa Wati, aku hanya mencemaskan simbah yang tidak mau dibawa ke rumah sakit." sahut Rania berdalih.
"Apakah kau yakin tidak ada yang kau sembunyikan dari kami nduk." tukas bude Walimah yang tiba-tiba berjalan mendekati Rania.
Aduh bagaimana ini, apa yang harus ku katakan pada mereka semua, aku tidak ingin semua orang semakin sedih karena mendengar ceritaku, batin Rania seraya mengusap peluh dikening nya.
"Kau jujur saja sayang, katakan pada kami semua jika kau memang melihat sesuatu." cetus Anggi menatap tajam pada anak gadisnya.
Kemudian Rania terpaksa menceritakan pada semua keluarga nya, jika Rania sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri, jika ada bayangan hitam didekat simbah, karena itu lah simbah ingin berbicara dengan mbah Karto.
"Sebenarnya Rania tidak mau keluar dari kamar simbah, karena Rania hawatir jika bayangan hitam itu membawa simbah huhuhu." jelas Rania berderai air mata.
Terlihat semua orang sangat terkejut mendengar cerita Rania, lalu mereka menangis bersamaan dan saling memeluk, sedangkan pak Jarwo yang baru saja dari kamar mandi terlihat heran melihat semua orang yang ada disana menangis.
Kenapa mereka semua menangis, apa kondisi simbah Parti memburuk, batin pak Jarwo seraya berjalan ke arah kamar simbah Parti.
*
*
...Bersambung....
__ADS_1