
"Begini To kami semua juga baru tau jika ibumu menjadi kuntilanak, karena tiba tiba saja ibumu menampakan wujudnya didepan warga yang berada diluar rumah". Ucap pak haji Faruk dengan menepuk pundak Anto.
"Tapi pak haji kenapa ibuku menjadi hantu seperti itu, apakah dia meninggal secara tidak wajar sehingga ibuku menjadi arwah penasaran". Seru Anto dengan mata berkaca kaca.
Tapi tiba tiba bu Ani datang memaki Anto dan mengusirnya dari dalam rumah nya.
"Pergi kau anak lintah darat suamiku menjadi buta dan meninggal itu semua karena ulah kedua orang tua mu yang menjadi hantu si.l.n itu". Teriak bu Ani dengan berkacak pinggang.
Sementara Anto yang mendengar makian bu Ani tentang kedua orang tua nya tidak terima dan hampir saja melayangkan tangan nya ke wajah bu Ani tapi pak haji Faruk menghentikan nya.
"Sudahlah To, kau pulang saja tenangkanlah hatimu jangan hiraukan ucapan bu Ani, karena saat ini dia sedang berduka atas kematian suami nya". Cetus pak haji Faruk mengiringi langkah Anto menuju pintu rumah bu Ani.
Kemudian Anto melangkahkan kaki nya kembali ke rumah dengan perasaan yang campur aduk, dia sangat kesal mendengar ucapan bu Ani tentang kedua orang tua nya.
"Setaaaan". Pekik Anto dengan menendang batu kecil yang ada didepan kaki nya.
*
*
Malam berganti pagi jenazah pak Slamet akan segera dikuburkan setelah di sholatkan, terlihat beberapa warga ikut menyolati jenazah nya.
Sementara ibu ibu yang melayat disana mulai membicarakan kejadian semalam tentang kejanggalan kematian pak Slamet dan tentang bu Jamilah yang menjadi hantu kuntilanak.
"Aduh desa kita semakin angker saja ya, dulu sering ada yang meninggal karena di tumbalkan tapi sekarang ada yang meninggal karena di santet, hih serem ya". Seru bu Ratih bergidik ketakutan.
"Jangan jangan ada hubungan nya dengan keluarga bu Ani dan juga bu Jamilah". Tukas bu Siti menebak keadaan.
"Entahlah bu kita hanya bisa menebak, sepertinya kita butuh bantuan orang pintar tapi mbah Karto sedang tidak ada di rumah nya". Jelas bu Ratih mengaitkan kedua alis mata nya.
*
__ADS_1
*
Setelah itu terdengar pak haji membacakan doa dan ucapan maaf terakhir yang diwakilkan pak haji Faruk untuk warga desa semua, kemudian beberapa warga mengangkat keranda mayat pak Slamet tapi lagi lagi keranda mayat itu terasa sangat berat meski sudah dipikul delapan orang laki laki yang berbadan besar.
Mereka semua mengeluh tidak kuat memikul beban pak Slamet, kemudian pak haji Faruk membacakan ayat ayat suci yang membuat keranda itu bisa di angkat oleh sepuluh orang laki laki tapi baru beberapa langkah saja mereka semua mengeluh tidak kuat dan meletakan keranda mayat itu kebawah.
"Aduh pak haji kami menyerah jika harus memikul keranda ini sampai di area pemakaman". Tegas pak Budi yang berbadan gempal.
Kemudian pak haji memikirkan solusi yang harus segera di ambil, pak haji Faruk meminta anak laki laki nya mengambil mobil pick up yang ada di rumah nya untuk mengangkut keranda mayat pak Slamet karena akan membutuhkan waktu lama jika mereka harus menghubungi ambulance yang ada di puskesmas desa itu.
Setelah mobil pick up datang warga bergotong royong memikul keranda mayat itu ke atas mobil dengan bersusah payah.
Setelah memastikan keranda mayat itu aman di atas mobil mereka semua bergegas membawa jenazah pak Slamet menuju ke area pemakaman.
Terlihat tukang gali kubur menanti kedatangan jenazah pak Slamet dan membantu warga menurunkan keranda itu dari atas mobil pick up.
Terdengar beberapa warga membicarakan keanehan dihari pemakaman pak Slamet, sementara Harto yang mendengar ucapan warga tentang suami mbakyu nya hanya bisa terdiam dan menundukan kepala nya.
"Lho pak kok lubang kubur nya kurang panjang to". Seru Harto pada tukang gali kubur.
"Wah mas kami sudah mengukurnya sesuai panjang jenazah ini". Tukas pak Ali salah satu tukang gali kubur seraya menunjukan coretan kertas berisi panjang dan lebar liang lahat itu.
"Sudah sudah tolong di ukur kembali". Pinta pak haji dengan mengernyitkan dahi nya.
Setelah Harto dan pak Ali mengukur ulang panjang jenazah itu, tukang gali kubur mulai menggali tanah kembali sesuai panjang yang baru saja mereka ukur.
Dan setelah proses menggali selesai beberapa warga mulai mengangkat kembali jenazah pak Slamet, tapi lagi lagi lubang kuburan itu kurang panjang.
Dengan terpaksa pak haji Faruk mengambil keputusan untuk menekuk kedua kaki jenazah itu dengan ijin dari bu Ani sebagai istri nya.
Terlihat bu Ani tidak rela jika jenazah suami nya harus di tekuk kedua kaki nya, tapi pak haji tidak punya pilihan lain karena berbagai kejadian aneh hari ini akan terus berlanjut jika jenazah tidak segera di kebumikan.
__ADS_1
"Baiklah pak haji saya setuju dengan keputusan pak haji". Ucap bu Ani dengan berderai air mata.
Setelah itu beberapa warga terpaksa mengikuti perintah pak haji untuk menekuk kaki jenazah pak Slamet, terlihat wajah ketakutan dari semua orang yang berada dibawah lubang kuburan itu.
Sedangkan pak haji yang mengerti dengan ketakutan warga membantu mereka dengan memutuskan untuk ikut turun kedalam liang lahat itu.
Kraaakks...
Terdengar suara tulang yang patah setelah dipaksa menekuk oleh pak haji Faruk, terlihat bu Ani menangis histeris dan langsung pingsan ditempat setelah mendengar suara tulang kaki suami nya yang patah.
Harto memegangi pundak mbakyu nya yang tidak sadarkan diri itu.
Dan setelah proses penguburan selesai semua orang terlihat membacakan doa untuk almarhum pak Slamet.
"Aduh bu aku kok ngeri ya melihat kejadian pemakaman hari ini, seumur hidupku baru kali ini melihat jenazah yang kaki nya di tekuk". Bisik bu Siti di telinga bude Walimah.
"Yo sama bu aku juga baru kali ini melihat kejadian janggal di pemakaman". Ucap bude Walimah berbicara dengan nada pelan.
"Apa ya dosa yang dilakukan almarhum pak Slamet sampai jenazah nya ditekuk seperti itu". Ujar bu Siti dengan mengernyitkan dahi nya.
"Entahlah bu hanya Tuhan yang maha mengetahui, semoga saja kita dijauhkan dari perbuatan buruk sehingga di akhir hidup kita tidak seperti almarhum pak Slamet". Tukas bude Walimah seraya berjalan meninggalkan area pemakaman.
Sementara pak haji Faruk yang selesai menangani proses pemakaman membantu Harto mengurusi berbagai administrasi pemakaman dan menyuruh nya membawa bu Ani ke parkiran mobil pick up nya.
Lalu meminta Harto membawa mbakyu nya menumpang mobil pick up nya supaya mereka cepat sampai kembali ke rumah nya.
*
*
...Bersambung....
__ADS_1