
Setelah beberapa warga datang ke rumah bu Siti mereka heran kenapa bu Siti sampai berteriak histeris seperti tadi, Simbah pun menjelaskan jika baru saja bu Siti didatangi sesosok pocong yang meminta tali pocong nya dilepas.
"Wah desa ini sudah tidak aman lagi, bagaimanapun kita harus tegas pada kekuarga bu Jamilah jika tidak setiap malam pocong itu akan gentayangan terus". Seru pak Slamet tetangga depan rumah bu Siti.
"Tadi siang saya dan beberapa warga sudah berusaha memberitahu bu Jamilah, tapi dia tidak percaya dan memarahi semua warga yang berdiskusi tentang hantu pocong yang diduga adalah pak Kasmuri itu". Tegas bude Walimah.
Sementara simbah yang sedang mengoleskan minyak kayu putih ke hidung bu Siti menyarankan semua warga kembali ke rumah nya masing masing karena mereka tidak memiliki bukti jika harus menuduh pak Kasmuri lah pocong itu, takut nya nanti akan terjadi keributan di rumah bu Jamilah yang sedang ada pengajian itu.
"Toloong.. toloong ada pocong". Seru bu Siti yang tersadar dari pingsan nya.
"Tenanglah nduk pocong itu sudah tidak ada minumlah dulu air ini, biar kau tenang". Ujar Simbah seraya memberikan segelas air putih untuk bu Siti.
Kemudian beberapa warga pulang ke rumah nya masing masing tapi pak Slamet dan dua orang warga lain nya malah nekat mendatangi rumah bu Jamilah yang baru saja selesai dipakai untuk pengajian.
Mereka semua berteriak dan membentak bu Jamilah supaya segera membongkar makam pak Kasmuri dan segera melepas tali pocong nya karena sudah ada beberapa warga yang diteror sampai ketakutan dan pingsan mereka tidak mau sampai ada korban lagi.
Bu Jamilah tetap tidak terima jika almarhum suaminya dibilang gentayangan sebagai pocong, dia menangis histeris dan berkata jika memang almarhum suaminya menjadi pocong kenapa semua orang di rumah nya belum ada yang melihat.
Karena itu lah bu Jamilah berpendapat jika semua warga hanya ingin memfitnah almarhum suami nya, karena beberapa warga desa ada yang tidak suka dengan pekerjaan pak Kasmuri dulu yang sebagai lintah darat di desa Rawa belatung itu.
"Aku tau kau tidak suka pada suamiku karena dulu kau pernah terlilit hutang padanya". Pekik bu Jamilah menunjuk ke arah pak Slamet.
"Ya kau benar sekali, aku memang tidak suka pada suamimu tapi aku tidak memfitnahnya sama sekali, jika kau tidak percaya padaku tanyalah ke beberapa warga yang sudah pernah melihat hantu pocong suamimu itu". Seru pak Slamet dengan mata tajam menatap bu Jamilah.
Kemudian kedua anak laki laki bu Jamilah keluar dari rumah dan memaki pak Slamet, mereka tidak terima almarhum Bapaknya dibilang sebagai hantu pocong gentayangan.
Hampir saja muka pak Slamet terkena bogem mentah dari Ari anak pertama bu Jamilah yang sudah sangat emosi sejak Ibu nya dimaki oleh pak Slamet dan dua warga yang lain nya.
__ADS_1
Bu Jamilah memegangi tangan anaknya supaya tidak memukul muka pak Slamet dan meminta semua warga meninggalkan rumah nya.
"Tenang Le... Sudah jangan kau dengarkan omongan mereka semua kasihan bapakmu di alam kubur sana pasti dia tidak bisa beristirahat dengan tenang". Ujar bu Jamilah dengan berderai air mata.
"Tapi bu mereka semua tidak bisa didiamkan begitu saja, karena nanti mereka bisa menghasut warga yang lain nya". Seru Ari yang ingin mengejar pak Slamet dan dua warga lain nya yang sudah pergi dari rumah mereka.
Tapi tiba-tiba bu Jamilah jatuh pingsan karena terlalu lelah menghadapi berbagai masalah setelah kepergian pak Kasmuri, lalu kedua anaknya membawa bu Jamilah ke kamar nya.
Sementara pak Slamet dan kedua warga yang masih berjalan ke arah pos kampling desa malah dihadang oleh hantu pocong pak Kasmuri.
Bleek bleek bleek...
Congculi (lepaskan tali pocongku).
Bleek bleek bleek...
Kali ini pocong itu menatap wajah pak Slamet dengan penuh amarah, lalu pocong itu terbang menghampiri pak Slamet yang sedang berdiri kaku karena masih terkejut dengan penampakan pocong pak Kasmuri.
Kedua warga yang lainya berlari berhamburan tidak tentu arah sampai salah satu dari mereka tercebur ke dalam saluran irigasi sawah.
Sosok pocong yang sedang terbang mengambang itu meludahi wajah pak Slamet sehingga dia tidak bisa melihat lagi, pak Slamet yang ketakutan setelah diludahi pocong itu berjalan dengan merangkak karena kedua matanya tidak bisa melihat lagi.
"Tolooong tolooong ada pocooong". Teriak pak Slamet yang masih berjalan merangkak ditengah jalan
Setelah meludahi wajah pak Slamet pocong itu berjalan ke arah dua warga yang melarikan diri itu, tapi mereka berhasil sembunyi dari kejaran pocong pak Kasmuri dengan cara masuk kedalam masjid.
Seketika pocong yang ingin mengejar mereka terpental jauh, karena dia tidak masuk kedalam area Masjid.
__ADS_1
Sementara pak Slamet yang masih berteriak minta tolong itu terjebak masuk kedalam gorong gorong yang sangat dalam sampai dia lemas dan pingsan didalam nya.
Pak Dahlan yang sedang patroli bersama hansip desa yang lain nya merasa mendengar seseorang yang meminta tolong, tapi saat mereka sampai ke tempat dimana suara itu berasal mereka tidak menemukan siapapun disana.
"Lho Kang kok tidak ada orang disini ya, perasaan tadi aku dengar orang berteriak minta tolong". Ujar pak Dahlan menatap pak Eko rekan kerja sesama Hansip.
"Sama Lan tadi aku juga mendengar orang berteriak minta tolong, tapi kok tidak ada siapapun disini jangan jangan tadi ada pocong yang gentayangan disekitar sini". Seru pak Eko seraya memegangi tengkuknya karena bulu halus di leher nya meremang.
"Ayo lah Kang kita pergi saja dari sini sebelum pocong itu menghampiri kita". Ajak pak Dahlan untuk kembali ke pos kampling.
Dengan berjalan setengah berlari pak Dahlan dan pak Eko terkejut melihat ada dua orang yang sedang mengintip ke luar dari dalam Masjid, mereka mengira ada maling kotak amal di dalam masjid itu.
Pak Dahlan meminta pak Eko untuk siaga didepan pintu untuk menangkap maling itu, sedangkan pak Dahlan berjalan masuk ke arah masjid untuk membuat kedua maling kotak amal itu keluar dari persembunyian nya.
"Pelan pelan saja Lan jalan nya nanti Maling nya tau jika kita berada diluar untuk menangkap mereka". Ucap pak Eko berbicara pelan di telinga pak Dahlan.
"Aduh Kang geli to jangan berbisik di telingaku". Ujar pak Dahlan dengan mengibaskan daun telinga nya.
"Kalau tidak berbisik nanti kedua maling itu bisa mendengar suara kita". Tegas pak Eko yang sudah melangkah didepan pintu Masjid.
Kemudian pak Dahlan berjalan perlahan di dalam Masjid, karena suasan gelap kaki pak Dahlan membentur ujung pintu.
Duuugghh...
_ Bersambung _
Bantu like koment dan vote nya ya, karena semua itu bisa memberi sedikit semangat tolong hargai usaha para Author dengan meninggalkan jejak di tiap bab cerita terima kasih para readers tercintah semoga sehat selalu.
__ADS_1