DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Tumbal bayi.


__ADS_3

Beberapa hari setelah hari pemakaman bu Ani, nampak pak Sugeng kebingungan mencari tumbal seorang bayi karena makhlul gaib sesembahan nya sudah menunggu tumbal yang akan dia berikan.


Sementara Anto dan Ari sudah kembali ke desa Rawa belatung, tapi dia masih belum bisa mempersembahkan tumbal bayi itu.


Lalu pak Sugeng berusaha mencari tau siapa yang sedang hamil tua atau mempunyai bayi yang baru lahir, terlihat dia mendatangi kedua hansip yang sedang melakukan kerja bakti bersama warga yang lain nya.


"Permisi bapak bapak apakah saya boleh membantu". Ucap pak Sugeng berbasa basi.


"Silahkan pak monggo". Terdengar beberapa orang menjawab ucapan nya.


Setelah itu pak Sugeng melakukan aktifitas seperti warga yang lain nya membantu membersihkan lingkungan sekitar desa, sampai pada suatu ketika dia membahas tentang anak perempuan nya Rara.


"Seandainya anak perempuan saya masih hidup, pasti saya tidak akan kesepian dimasa tua saya karena Rara pasti akan memberikan saya cucu". Tukas pak Sugeng dengan mata berkaca kaca.


Nampak beberapa orang disana iba dan menenangkan pak Sugeng dengan memberinya semangat, sedangkan pak Budi yang baru satu minggu menjadi seorang ayah bercerita dengan bahagia pada semua orang disana.


"Bapak jangan bersedih seperti itu, kalau bapak mau bisa datang ke rumahku dan melihat anakku itu, anggap saja dia adalah cucumu sendiri". Seru pak Budi dengan seringai kecil di wajah nya.


"Wah terima kasih mas tapi saya tidak mau merepotkan dengan kedatangan saya". Ucap pak Sugeng dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


Akhirnya aku mengetahui siapa yang mempunyai seorang bayi yang baru lahir di desa ini, batin pak Sugeng didalam hati nya.

__ADS_1


Setelah kerja bakti itu selesai pak Sugeng segera berpamitan pada semua orang yang ada disana, tanpa mereka sadari rencana jahat lelaki tua itu.


Ceklek...


Terdengar pak Sugeng membuka pintu rumah menantu nya, disana sudah ada Anto yang sedang memainkan ponselnya.


Lalu lelaki tua itu menghampiri Anto dan menanyakan keberadaan rumah pak Budi dengan alasan dia habis ngobrol bersama pak Budi dan berencana mampir ke rumahnya tapi dia lupa menanyakan letak rumah pak Budi.


Kemudian Anto memberitau letak rumah pak Budi yang tidak terlalu jauh dari rumah pak RT setempat.


"Baiklah nak, terima kasih sudah memberitau". Tukas pak Sugeng dengan senyum licik di wajah tua nya.


"Tidak usah nak, aku tidak terburu buru kesana kok". Ujar pak Sugeng seraya berjalan kembali ke arah kamar nya.


Tanpa terasa terang berganti gelap, suasana malam di desa Rawa belatung selalu saja dingin dengan berbagai hal gaib yang ada disana, sementara pak Sugeng yang menunggu tengah malam sudah bersiap akan mengambil bayi pak Budi.


Samar samar pak Sugeng berjalan keluar dari rumah menantu nya melewati beberapa rumah warga dan berjalan dengan hati hati tanpa menimbulkan suara, tapi ditengah perjalanan langkah nya terhenti ketika melihat kedua hansip yang sedang berpatroli ke arah nya.


Gawat aku bersembunyi jangan sampai mereka melihatku berada diluar lagi karena mereka akan mencurigaiku, batin pak Sugeng didalam hati nya.


Lalu dia bersembunyi di semak semak yang rimbun supaya kedua hansip itu tidK dapat melihat nya, terdengar pak Dahlan dan pak Eko sedang berbicara tentang penambahan hansip yang akan dibuka di desa itu.

__ADS_1


Aku harus segera mengambil bayi itu sebelum hansip di desa ini bertambah banyak, gumam pak Sugeng dalam hati dengan wajah yang cemas.


Lalu setelah memastikan kedua hansip itu pergi pak Sugeng melangkahkan kaki nya ke rumah pak Budi dengan memastikan ari ari yang ada di sekitar rumah nya.


Ini sudah pasti rumah pak Budi hanya rumah ini yang meletakan lampu di gundukan tanah, batin pak Sugeng dalam hati nya.


Terlihat pak Sugeng membaca rapalan mantra supaya pekerjaan nya lancar tanpa ada yang mengetahui, setelah membaca rapalan mantra nya nampak pak Sugeng seperti hantu yang bisa menembus tembok.


Dia berjalan memasuki rumah pak Budi dengan menembus tembok dan pintu yang ada disana, lalu dengan leluasa pak Sugeng melakukan niat jahat nya mengambil bayi perempuan pak Budi yang sedang tertidur di atas kotak bayi nya.


Dengan perlahan pak Sugeng menggendong bayi iti supaya dia tidak menangis karena setelah pak Sugeng menggendong nya, bayi perempuan itu juga tidak dapat terlihat oleh orang tua nya hanya saja mereka masih bisa mendengar suara tangisan nya.


Aku harus pelan pelan berjalan supaya bayi ini tidak menangis dan membuat semua orang terbangun, gumam pak Sugeng dengan dirinya sendiri.


Setelah lancar melakukan aksi nya dia berjalan keluar dari rumah pak Budi dengan menimang bayi itu supaya tidak menangis, kemudian dia memutuskan untuk berjalan ke hutan angker yang ada didekat desa karena tidak mungkin bagi nya membawa bayi itu kembali ke rumah menantu nya.


*


*


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2