
"Sebentar to dek, bicaranya pelan-pelan saja, ini minum air nya dulu". Tukas pak Jarwo seraya memberikan segelas air minum pada istrinya.
Kemudian Kasmi meneguk air minum yang diberikan pak Jarwo, nampak wajahnya sangat pucat pasi karena dia sangat ketakutan setelah mengalami hal yang tidak wajar selama hidupnya.
"Kangmas siapa yang mengiringi gerakan shalatku tadi, aku sangat takut mas". Ucap Kasmi dengan memandang ke segala arah.
"Istighfar dek, mungkin kau hanya kelelahan saja, sudah kembali ke kamar dan tidurlah, bukankah nanti pagi kau harus ke pasar". Tukas pak Jarwo berusaha menenangkan Kasmi.
Kemudian pak Jarwo mengantar istrinya ke kamar karena disana sudah ada Rania yang terlelap, lalu pak Jarwo kembali lagi ke ruang tamu nya dan berusaha melihat melalui mata batin nya.
Jadi simbok yang mengiringi gerakan shalat Kasmi, batin pak Jarwo yang sedang melihat kejadian yang di alami istri nya melalui mata batin nya.
Dan disaat pak Jarwo membuka kedua matanya, nampak arwah mbah Sumi sedang berdiri mengambang didepan pintu rumahnya, kemudian pak Jarwo berjalan menghampirinya.
"Simbok pulanglah ke alammu, urusan Lala biar kami saja yang mengurusnya". Cetus pak Jarwo pada arwah mbah Sumi.
Lalu arwah mbah Sumi pun mengatakan jika dia ingin tetap berada di alam manusia selama Lala belum ditemukan, karena jiwa nya tidak akan tenang sebelum Lala kembali, dan arwah mbah Sumi pun menghilang entah kemana.
Pak Jarwo tertunduk penuh sesal, dia merasa tidak berguna karena tidak dapat menyelesaikan masalah didalam keluarganya sendiri.
*
*
Keesokan paginya Rania berbicara pada mbah Karto dan juga pak Jarwo tentang mimpi nya semalam.
"Mbah mari kita cari botol ajaib itu, pasti arwah mbah Sumi benar karena semalam dia mengatakan, jika ketiga teman hantuku berada di dalam sebuah goa didekat air terjun". Ucap Rania dengan wajah cemas nya.
"Nduk kau pergilah bersama pak Jarwo, karena aku harus mempersiapkan ritual untuk membawa Lala kembali". Jelas mbah Karto dengab mengaitkan kedua alis matanya.
Setelah itu Rania bersama pak Jarwo bergegas pergi ke hutan dan berjalan menyusuri jalanan setapak yang dipenuhi banyak lumut, dan pak Jarwo sengaja memilih jalan melewati tempat terakhirnya meninggalkan mbah Wongso.
Bukankah kemarin aku dan mbah Karto meninggalkan mbah Wongso tergeletak disini, lalu dimana dia sekarang, batin pak Jarwo dengan mengkerutkan keningnya.
Terlihat wajah pak Jarwo berubah sangat cemas, karena dia tidak melihat mbah Wongso disana.
"Pak Jarwo kenapa, kok malah berhenti disini kan air terjun nya masih jauh". Seru Rania dengan membalikan badan nya memandang pak Jarwo yang berdiri mematung.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa nduk, ayo kita lanjutkan perjalanan, sepertinya kita tidak aman berada disini lama-lama". Tegas pak Jarwo seraya melangkahkan kaki nya berjalan menyusuri jalanan setapak di hutan itu bersama Rania.
Disepanjang perjalanan nampak pak Jarwo sangat cemas, pak Jarwo merasa seperti ada yang mengikuti langkahnya, tapi tidak ada seorang pun disana kecuali dirinya bersama Rania.
"Tunggu sebentar nduk, aku akan melihat melalui mata batinku terlebih dulu sebelum kita masuk ke dalam goa itu". Tegas pak Jarwo seraya memejamkan kedua matanya.
Mata batin pak Jarwo menembus dinding goa yang ada didepan nya, dan tidak ada siapapun didalam sana, sehingga pak Jarwo dapat bernafas lega.
Kemudian pak Jarwo masuk ke dalam goa itu untuk mencari botol ajaib yang dimaksud Rania, tapi setelah lama mencari mereka berdua tidak dapat menemukan botol ajaib itu.
Rania menundukan kepalanya dengan mata berkaca-kaca, harapan nya untuk menemukan ketiga teman hantu nya sirna begitu saja.
Jangan-jangan hilanya botol ajaib itu dari dalam goa ini, ada kaitan nya dengan hilangnya mbah Wongso disana, karena tubuh mbah Wongso sudah sangat lemah tidak mungkin dia bisa pergi dari sana seorang diri, pasti ada yang membantunya, jika memang seperti itu aku harus membawa Rania pergi dari hutan ini, batin pak Jarwo seraya mengajak Rania keluar dari area hutan itu.
*
*
Sementara di alam gaib sana Lala yang sudah mendapatkan kesadaran nya berusaha mengingat apa yang telah terjadi padanya, dan dia mengingat setiap sentuhan laki-laki yang tidak dapat dia lihat wajahnya.
Dan di depan kamar itu ternyata ada Elang yang berhenti mendadak, karena dia sedang menggunakan kesaktian nya untuk menembus pikiran Lala.
Braaak...
Elang membanting pintu kamar itu, lalu Lala bangkit dan berdiri gemetar melihat kemarahan di kedua mata Elang.
"Kangmas, kau kenapa menatapku seperti itu". Ucap Lala dengan suara yang bergetar.
"Kau berani sekali menghianatiku". Pekik Elang dengan membulatkan kedua matanya.
"Aku aku tidak pernah menghianatimu kangmas". Sahut Lala menundukan kepalanya.
Plaaak...
Tamparan Elang tepat mendarat diwajah cantik Lala, yang kini terlihat memar kemerahan.
Bruuuk...
__ADS_1
Lala terhempas ke pojok kamarnya, karena Elang mendorong tubuhnya begitu saja.
Terdengar raungan tangis Lala dan ucapan ampun dari bibir mungilnya, tapi Elang tidak memperdulikan nya.
Setelah itu terlihat Seno berusaha menghentikan amarah romonya, dan dia meminta romonya untuk berhenti menyakiti ibundanya.
"Romo tolong jangan sakiti ibundaku lagi, jika memang dia bersalah hukum saja aku romo". Tukas Senopati yang bersimpuh dibawah kaki Elang.
Nampak Elang berusaha menahan amarahnya didepan anak bungsunya itu, dia meminta Senopati kembali ke kamarnya, tapi Seno bersikukuh ingin bersama ibunda nya.
"Anakku dengarkanlah perkataan romomu, lekaslah pergi ke kamarmu nak". Cetus Lala seraya memeluk erat anaknya.
"Baiklah ibu, aku akan menurutimu, tapi jika romo menyakitimu lagi bagaimana". Seru Senopati menatap sendu wajah ibunya yang penuh luka.
Tapi Lala hanya menggelengkan kepalanya seraya mengecup lembut kening Senopati dan memerintahkan anaknya pergi ke kamarnya.
Sedangkan Elang yang sebelumnya sangat marah terlihat sedikit luluh hatinya, karena melihat kasih sayang antara ibu dan anak itu, Elang menundukan kepalanya dengan deru nafas yang kencang.
Setelah Senopati pergi meninggalkan Lala dan Elang hanya berdua saja, nampak Lala duduk dengan menyatukan kedua lututnya di pojokan kamarnya.
Lala sedang menera-nerka didalam pikiran nya, Lala tidak tau kenapa Elang tiba-tiba sangat marah kepadanya, dan sekali lagi Elang yang bisa membaca pikiran Lala nampak menatap tajam ke arahnya.
"Jadi kau tidak merasa bersalah padaku, kau bertanya-tanya kenapa aku bersikap kasar padamu". Pekik Elang dengan membulatkan kedua matanya.
Apakah kangmas Elang sudah mengetahui jika aku sedang memikirkan laki-laki lain dan dia marah, batin Lala didalam hatinya.
"Kau tidak hanya memikirkan nya La, kau sudah menghianatiku, kau tidaj setia padaku, kau bersetubuh dengan laki-laki lain". Cetus Elang dengan menahan amarahnya yang sangat besar.
"Ampun kangmas, aku tidak pernah menghianatimu, aku berkata yang sejujurnya". Seru Lala berderai air mata seraya bersimpuh dibawah kaki Elang.
Lalu Elang menghempaskan tubuh Lala sampai kepalanya membentur tembok yang ada di kamarnya, kening Lala pun berdarah dan mengucurkan darah segar.
Terlihat naluri Elang sebagai sesosok buto pun terpanggil, karena dia mencium aroma darah dari kening Lala yang terluka.
Kedua gigi taringnya yang mencuat nampak menghiasi bibirnya, lalu Elang berjalan perlahan mendekati Lala yang sudah tidak sadarkan diri karena kepalanya mengalami pendarahan yang hebat, naluri Elang sebagai sesosok buto menginginkan darah manusia yang dimiliki Lala, kemudian Elang membuka mulutnya lebar dan hendak meminum darah Lala.
*
__ADS_1
*
...Bersambung....