DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Diteror kuntilanak!!!


__ADS_3

Setelah mendapatkan jimat dari mbah Sapto bu Ani meminta adiknya untuk mengantarnya pulang sampai ke rumah karena dia cemas memikirkan anaknya yang sedang sakit.


*


*


Sesampainya di rumah bu Ani memberikan kalung berisi jimat itu pada suami dan anaknya, dia meminta Harto untuk tetap diam dan jangan memberitahu siapa pun jika arwah bu Jamilah penasaran menjadi hantu.


Meski Harto menuruti perintah mbakyu nya tetap saja dia merasa tidak tenang berada di desa kakak perempuan nya itu.


"Mbakyu aku langsung pulang saja ya, kasihan istriku menggarap ladang seorang diri". Cetus Harto dengan mengernyitkan dahi nya.


"Kenapa to Har tak perhatiin setiap kali kau disini seperti tidak nyaman begitu?". Tanya bu Ani menatap tajam pada Harto.


"Aku aku hanya tidak enak berada disini lama lama". Jawab Harto dengan menundukan kepala nya.


"Kau tidak enak pada siapa, kang Slamet sudah menganggapmu seperti adiknya sendiri". Cetus bu Ani seraya duduk disamping Harto yang sedang cemas itu.


"Bukan begitu mbakyu, aku takut jika kau sampai ketahuan warga dan aku akan merasa sangat bersalah telah membantumu". Jelas Harto dengan menghembuskan nafas yang panjang.


"Kau tidak usah takut Har, sekalipun warga akan mengetahui jika aku adalah dalang dibalik kematian bu Jamilah, aku tidak akan menyebut nama mu adikku". Tukas bu Ani merangkul Harto dengan mata berkaca kaca.


"Tapi mbakyu bagaimana nasibmu jika mereka sampai mengetahui kebenaran nya". Seru Harto dengan cemas.


"Sudahlah Har semua belum pasti yang jelas kau tidaj usah risaukan mbakyumu ini". Ujar bu Ani dengan senyum kecil diwajah nya.


Siang berganti malam Harto menginap di rumah mbakyu nya, samar samar dia mendengar suara cekikikan perempuan yang terasa sangat jauh dan ada suara suara anak ayam yang sangat berisik.


Ternyata malam itu kuntilanak itu datang lagi dan menakuti Harto yang sedang berbaring di kursi ruang tamu rumah bu Ani.


Harto terkejut melihat hantu bu Jamilah yang nampak marah dengan muka yang sangat pucat dan rambut berantakan yang mengeluarkan belatung dari dalam kepala nya.


Kemudian tanpa sadar Harto berlari keluar rumah untuk meminta bantuan, tapi ditengah jalan dia di hadang oleh kuntilanak itu.


Kuntilanak itu tertawa memekikan gendang telinga Harto dan membuatnya kesakitan, tiba tiba saja keluar darah segar dari dalam telinga Harto.

__ADS_1


"Aduuuh sakiiit". Pekik Harto dengan memegangi kedua telinga nya.


Lalu Harto berlari tertatih dengan merasakan sakit di telinga nya, tanpa dia sadari ada lubang besar menganga di semak semak yang dia lewati.


Braaaak...


Harto jatuh tersungkur ke dalam gorong gorong yang tertutup semak belukar itu, kepala nya berdarah terbentur batu besar yang ada disana.


Akhirnya Harto tumbang, dia pingsan dengan luka di kepala nya tanpa ada orang yang mengetahui keberadaan nya.


Sementara bu Ani yang terbangun menatap cemas melihat pintu rumah nya terbuka lebar tapi tidak ada Harto di luar sana.


Oalah Harto kemana sih malam malam begini keluar rumah kok pintu nya tidak ditutup, batin bu Ani didalam hati nya.


Saat bu Ani akan menutup pintu rumah nya terlihat kedua hansip di desa itu sedang berpatroli melewati rumah nya.


"Kang apa kalian melihat Harto diluar sana". Tanya bu Ani pada pak Eko dan pak Dahlan.


"Tidak ada orang kok Yu, cuma kami berdua saja, memang tadi kami sempat mendengar teriakan orang minta tolong makanya kami lewat sini". Jawab pak Eko dengan mengernyitkan dahi nya.


Jangan jangan itu teriakan Harto yang meminta tolong setelah melihat hantu perempuan itu, gumam bu Ani didalam hati nya.


"Lho memangnya kenapa Harto berteriak minta tolong Yu, lha tidak ada apa apa di desa ini". Tukas pak Dahlan menatap ke segala arah.


"Pokoknya firasatku tidak enak kang, tolong carikan Harto dimanapun dia berada". Seru bu Ani dengan mata berkaca kaca.


"Oalah mbakyu jangan sedih gitu to, baiklah kami akan berusaha mencari keberadaan Harto". Cetus pak Eko menenangkan bu Ani.


Kemudian kedua hansip itu pamit untuk melanjutkan patroli nya dan juga mencari keberadaan Harto yang mereka sendiri tidak tau dimana.


"Kita mau mencari Harto kemana to kang?". Tanya pak Dahlan pada pak Eko yang sedang berjalan menatap kesegala arah.


"Aku juga tidak tau Lan, yang penting kita usaha saja dulu". Jawab pak Eko dengan memegang senter nya.


"Kok ya tumben lho si Harto itu sering berkunjung ke rumah mbakyu nya, apa ada yang penting ya makanya dia sering datang ke desa ini". Tukas pak Dahlan berpikir keras.

__ADS_1


"Jangan sok tau kau Lan, mungkin saja Harto sedang membantu mbakyu nya mencarikan obat untuk pak Slamet supaya bisa melihat lagi". Seru pak Eko yang tiba tiba saja terperosok kedalam semak semak.


Braaak...


Pak Eko jatuh kedalam gorong gorong yang sama dengan Harto, saat pak Eko berusaha berdiri kembali dia terkejut melihat Harto sedang terbaring dengan bersimbah darah.


"Astaga Harto". Pekik pak Eko mengagetkan pak Dahlan yang ada di atas semak semak.


"Ada apa kang?". Ucap pak Dahlan yang penasaran mendengar pak Eko berteriak.


"Bantu aku Lan, ini ada Harto didalam gorong gorong sepertinya dia sedang terluka". Teriak pak Eko meraih tangan pak Dahlan dari bawah.


Kemudian pak Dahlan menarik tangan pak Eko ke atas, dan mencari bantuan dari warga lain nya untuk menolong mereka membawa Harto kembali ke rumah mbakyu nya.


Setelah meminta bantuan pada warga yang sedang beronda malam itu mereka kembali ke lubang semak semak itu, mereka bahu membahu mengangkat tubuh Harto yang sedang tidak sadarkan diri.


Semua orang tercengang melihat kondisi Harto yang dipenuhi dengan darah diseluruh kepala nya.


"Wah pasti kepala Harto terbentur batu besar itu". Seru pak Eko dengan mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah batu besar dibawah gorong gorong sana.


"Mungkin saja kang, tapi kenapa telinga nya juga mengeluarkan darah ya". Ucap pak Dahlan dengan mengernyitkan dahi nya.


Setelah itu semua orang bahu membahu membopong Harto kembaki ke rumah bu Ani dengan susah payah.


Tok tok tok...


Terdengar suara orang mengetuk pintu rumah nya, lalu bu Ani berjalan keluar dari kamar nya.


Cekleeek...


Mata bu Ani terbelalak melihat adik laki laki nya yang sedang tidak sadarkan diri dengan luka di kepala nya, bu Ani menangis histeris memeluk Harto yang masih pingsan itu.


Dia bertanya apa yang sebebarnya terjadi pada Harto kenapa dia bisa sampai terluka seperti ini, tapi mereka semua tidak ada yang mengetahui penyebab Harto sampai terluka seperti itu.


*

__ADS_1


*


Bersambung.


__ADS_2