DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Pernikahan gaib.


__ADS_3

Anto menggaruk kepala nya yang tidak gatal, memikirkan tingkah laku bu Ema yang berbeda malam ini.


Setelah itu bu Ema masuk kedalam kamar nya, dia berniat menyuapi Rara makanan kesukaan nya tapi anak perempuan nya itu tidak mau memakan masakan kesukaan nya, Rara menggelengkan kepala nya.


Nampak bu Ema heran dengan penolakan Rara, entah apa yang akan dia berikan pada Rara.


Jangan jangan Rara sudah tidak suka makanan manusia, batin bu Ema didalam hati nya.


*


*


Sedangkan Ari yang sudah siap melakukan ritualnya dengan cepat menyiapkan sesajen untuk penguasa hutan angker, Ari duduk dengan bersila tepat dibawah pohon keramat yang ada di hutan itu.


Sesajen dengan bunga tujuh rupa dan juka dupa sudah disiapkan, tidak berselang lama makhluk gaib penguasa hutan itu muncul dengan wujud yang sangat menyeramkan membuat Ari yang baru pertama kali melihat makhluk sejenis itu hampir saja melarikan diru, jika dia tidak ingat Rara istri tercinta nya.


"Apa yang kau inginkan dariku anak muda". Ucap makhluk gaib yang sudah berdiri dihadapan nya.


"Tolong kembalikan sifat istriku seperti dulu lagi, sewaktu dia masih hidup mbah". Tukas Ari dengan menundukan kepala nya.


"Itu masalah yang mudah, tapi apa yang akan aku berikan padamu harus ada imbalan nya". Seru makhluk gaib itu dengan suara berat nya.


"Apapun mbah buto, aku akan lakukan supaya istriku kembali seperti dulu lagi". Cetus Ari dengan menyatukan kedua tangan nya.


"Baiklah jika itu niatmu, sebagai imbalan nya kau harus menikahi anak perempuanku dan kau harus menerima nya sebagai istri gaibmu". Tukas makhluk gaib itu dengan tertawa kencang membuat seluruh pohon yang ada di desa itu bergoyang seperti tertiup angin yang kencang.


Terlihat wajah Ari berubah pucat ketika mendengar syarat yang diminta makhluk gaib yang ada didepan nya, tapi Ari sadar jika dia tidak bisa menolak permintaan makhluk gaib itu karena bisa saja dia dijadikan sasaran amarah nya.


"Baiklah mbah buto saya akan menerima syarat yang mbah minta". Cetus Ari dengan wajah ketakutan.


Setelah itu ada seorang perempuan cantik datang menemui Ari yang sedang menyembah kaki makhluk gaib yang ada didepan nya.


"Salam Romo, ananda langsung datang ketika romo memanggilku, ada apakah Romo memanggilku?". Tanya perempuan cantik itu kepada makhluk gaib penguasa hutan angker.

__ADS_1


"Anakku Sukma melati sekarang Romo mu ini akan menikahkanmu dengan pemuda yang ada disampingmu, apakah kau bersedia menjadi istri nya nduk". Jawab makhluk gaib itu menanyai anak perempuan nya.


"Ananda bersedia Romo". Ucap perempuan cantik itu dengan menyatukan kedua tangan nya.


Setelah itu makhluk gaib itu membawa Ari ke alam nya, karena dia harus segera menikahi puteri nya.


Acara pernikahan gaib itu berlangsung dengan mewah, nampak pernikahan itu di hadiri oleh berbagai jelmaan makhluk gaib yang berubah menjadi rupawan ketika berada di alam mereka.


Rupanya Sukma melati adalah anak tertua mbah buto yang belum menikah sampai saat ini, semua makhluk gaib memandang heran kehadiran Ari di altar pernikahan itu.


Ternyata mbah buto yang dia sembah adalah penguasa besar seluruh tempat gaib yang kini dia datangi.


Sukma melati datang mengenakan baju pengantin khas orang jawa dengan baju kebaya dan juga kain jarik yang melilit tubuh molek nya.


Wah ternyata anak mbah buto ini sangat cantik dan menarik, aku tidak akan rugi menjadikan nya istriku, batin Ari didalam hati nya.


Kemudian ketua adat di alam gaib itu datang meminta Ari menggores jari tangan nya menggunakan pisau, dan ketika darah Ari menetes terlihat semua makhluk gaib yang berada disana berubah seakan ingin memangsa Ari saat itu juga, tapi mereka semua tidak berani mendekati Ari yang saat itu akan menjadi suami dari Sukma melati anak penguasa di alam mereka.


Crup...


Nampak wajah Sukma melati berubah menjadi menyeramkan membuat Ari terperanjat dari tempat duduknya.


"Ada apa kangmas?". Tanya Sukma dengan cemas.


"Ma maaf dek aku hanya terkejut saja". Jawab Ari dengan gagap.


Kemudian ketua adat itu memberi Ari minuman dari darah binatang dan juga makanan dari bunga kantil dan juga sejumput dupa yang harus dia makan sebagai syarat pernikahan gaib mereka.


Setelah Ari melakuakan perintah ketua adat itu, nampak semua warga gaib bersorak bahagia dan bersorak mengucapkan selamat atas pernikahan anak dari penguasa alam mereka.


Bunyi gamelan jawa terdengar di penjuru hutan angker itu membuat suara keramaian itu terdengar sampai ke pos kampling tempat pak Dahlan dan pak Eko yang sedang meronda disana menjadi merinding.


"Kenapa malam malam begini masih ada yang memainkan gamelan ya kang". Ucap pak Dahlan pada pak Eko yang sedang mengusap tengkuk nya.

__ADS_1


"Seperti ada orang yang punya hajatan ya Lan, memangnya di desa kita sedang ada yang punya hajat to?". Tanya pak Eko dengan mengernyitkan dahi nya.


"Jelas tidak ada to kang, kalau pun ada mana mungkin sampai selarut ini masih terdengar suara gamelan". Jawab pak Dahlan dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


"Jangan jangan makhluk gaib di hutan angker sana sedang punya hajatan ya Lan". Seru pak Eko dengan suara bergetar.


"Huss... Jangan bicara sembarangan to kang, nanti jika ada yang datang kesini bagaimana". Tukas pak Dahlan memandang mata pak Eko.


"Kamu itu to Lan yang jangan sembarangan kalau bicara, gak usah bilang ada yang datang segala, kau sengaja mau membuatku ketakutan ya". Seru pak Eko dengan berkacak pinggang.


"Oalah kang, aku hanya bercanda saja sudah kita lanjutkan patroli keliling desa saja". Ajak pak Dahlan seraya bangkit dari duduknya.


Kemudian kedua hansip itu berpatroli keliling desa dengan membawa senter masing masing, nampak pak Eko masih sedikit takut jika membayangkan suara gamelan jawa tadi.


Tapi ketika mereka berdua melewati rumah Ari, kedua hansip itu terkejut ketika melihat ada seorang perempuan muda yang menghadap ke jendela sedang memandang keluar rumah dengan menundukan kepala nya.


"Lan apa kau melihat seorang perempuan di jendela rumah Ari". Tanya pak Eko dengan mengarahkan jari telunjuknya ke jendela rumah Ari.


Lalu pak Dahlan memandangi perempuan yang sedang berada didepan jendela itu.


"Kok sepertinya aku mengenal perempuan itu ya kang". Jawab pak Dahlan dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


"Mungkin saja itu bu Ema Lan". Celetuk pak Eko seraya berjalan mendekat ke arah rumah Ari.


"Yang kita lihat itu perempuan muda kang bukan ibu ibu tua". Seru pak Dahlan dengan nada tinggi.


Karena kedua nya sangat penasaran akhirnya mereka berdua memutuskan untuk berjalan mendekati rumah Ari, supaya mereka bisa lebih jelas lagi melihat wajah perempuan yang ada didekat jendela itu.


*


*


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2