DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Wati bernasib malang.


__ADS_3

Wati mengkerutkan kening nya karena penasaran, dengan apa yang dilakukan Yudistira didalam sana, perlahan Wati berjalan mengendap-ngendap, gadis itu menarik gagang pintu yang ada didepan nya.


Cekleek...


Nampaknya Yudistira menyadari kehadiran seseorang didepan sana.


Apa yang harus ku lakukan, aku tidak tahan mendengar ayat-ayat suci itu, batin Yudistira dengan mengusap rambutnya kasar.


Dan disaat dia membalikan badan nya, nampak Wati sudah berdiri menatap dirinya tajam.


"Ehm Wati apa yang kau lakukan disini." seru Yudistira terkejut.


"Aku aku sedang mencari toilet, kalau kau sendiri sedang apa disini?." tanya Wati berdalih.


"Aku hanya ingin ke kantin saja mencari minuman." jawab Yudistira seraya berjalan pergi meninggalkan Wati.


Apakah benar yang dikatakan nya, entah kenapa aku menjadi curiga padanya ya, gumam Wati pada dirinya sendiri.


Kemudian Wati pun berjalan kembali ke tempat dimana Wulan akan di operasi, tapi setelah berjalan melewati lorong-lorong yang panjang di rumah sakit itu, Wati belum sampai juga kesana.


Kenapa rumah sakit ini sangat sepi ya, perasaan tadi banyak pengunjung yang berjalan disekitar sini, batin Wati dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Dan tidak jauh dari Wati berdiri, ada sosok Bagaskara yang tersenyum licik, karena ternyata Bagaskara sangat kesal pada Wati, karena ketika dia menyamar menjadi Yudistira, Wati seakan mencurigainya, karena itu lah Bagaskara sengaja membuat Wati tersesat di dimensi lain.


Ini adalah pelajaran untukmu gadis sok pintar, kau ingin tau siapa diriku kan, sekarang kau bermainlah dengan makhluk sejenisku, batin Bagaskara seraya melesat pergi.


Sementara Wati yang mulai merasa ketakutan berada di rumah sakit itu, berusaha menghubungi Rania, nampak Wati menekan panggilan telepon berulang kali, tapi jaringan di ponselnya tidak ada, lalu gadis itu berkari ketakutan, karena dia merasakan aura dingin disekitar sana, Wati berlari tidak tentu arah, sampai akhirnya dia berhenti mendadak, karena melihat keramaian disebuah lorong.


Kenapa disana ramai sekali ya, tapi sepertinya mereka sedang sakit, dan menunggu giliran untuk diperiksa, batin Wati didalam hatinya.

__ADS_1


Nampak Wati melangkahkan kaki nya mendekati kerumunan itu, terdengar suara orang terbatuk-batuk, dan sebagian dari mereka terbatuk dengan mengeluarkan darah segar dari dalam mulutnya, terlihat Wati melirik ke sekitarnya, gadis itu membulatkan kedua matanya, menatap tajam ke seorang lelaki yang memuntahkan gumpalan-gumpalan darah dari dalam mulut nya.


Howeek...


Gumpalan darah yang berdenyut terjatuh tepat didepan Wati, gumpalan darah itu lebih mirip jantung yang sedang berdetak dan keluar dari dalam tubuh seseorang, lalu Wati mendongakan kepala nya menatap seseorang yang ada dihadapan nya, tapi jantung Wati seakan berhenti berdetak, karena dia melihat seorang lelaki dengan rongga dada yang menganga lebar, beberapa organ tubuhnya jatuh tercecer di lantai rumah sakit itu.


"Aaaa toloooong." pekik Wati seraya berlari kencang.


Terlihat Wati berlari dengan nafas yang tersengal-sengal, jantungnya berdetak sangat kencang.


Ya Alloh apa yang terjadi padaku, kenapa aku mengalami hal-hal memgerikan seperti ini huhuhu, ibu... Rania tolong aku, batin Wati terisak ketakutan.


Ditengah perasaan nya yang kalut, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang, antara senang atau sedih yang Wati rasakan, gadis itu memberanikan diri untuk membalikan tubuhnya, tapi setelah Wati menghadap ke belakang tidak ada siapapun disana, tapi disebelah pundaknya masih terasa sesuatu yang menyentuhnya, lalu Wati menelan ludahnya kasar seraya menatap tajam sebuah tangan yang menyentuh pundaknya, nampak kuku hitam dan kulit tangan yang mengelupas, tengah menempel disebelah pundaknya.


"Aaaargh... Lepaskan aku." pekik Wati seraya menepis tangan menjijikan itu dari pundaknya.


Potongan tangan itu terjatuh ke lantai, dan bergerak menggapai kaki Wati, dengan sekuat tenaga Wati berlari tak tentu arah, dan tiba-tiba dia sampai di bangsal anak, nampak suasana disana sedikit lebih hangat, Wati duduk di bangku yang menghadap ke arah taman, terlihat dia mengusap peluh dikening nya, dan mencoba menghubungi Rania kembali, berkali-kali Wati menekan tombol panggilan suara, hasilnya tetap saja nihil, karena tidak ada jaringan diponselnya.


Lalu Wati teringat pesan simbahnya pada Rania, yang meminta nya untuk membaca doa pada Alloh, supaya masalah apapun yang di alaminya bisa lekas selesai, dengan berlinang air mata Wati pun memanjatkan doa yang tulus pada Tuhan yang maha kuasa, setelah itu Wati hanya mengirimkan pesan singkat pada Rania, yang mengatakan jika dirinya terjebak di alam lain.


Sementara Rania yang sedang resah menunggu Luna dan juga Wulan, nampak belum menyadari jika sepupunya Wati tidak ada bersamanya, sampai akhirnya ponsel didalam tas nya bergetar, dan Rania meraih ponselnya dan membaca pesan singkat itu.


Rania aku tersesat di alam lain tolong aku, aku sangat takut melihat berbagai penampakan hantu disini.


Seperti itu isi pesan singkat yang Wati kirimkan pada Rania, seketika Rania terperanjat dan memandang ke segala arah mencari keberadaan sepupunya itu.


Perasaan tadi Wati disini, kenapa dia mengirim pesan seperti ini ya, mana mungkin Wati bercanda disituasi genting begini, batin Rania dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ada apa nduk nampaknya kau gelisah sekali?." tanya mbah Darmi dengan wajah sendu.

__ADS_1


"Ehm anu ini mbah Wati kemana ya, bukankah tadi dia bersama kita disini, tapi sekarang dia tidak ada, dan baru saja aku mendapat pesan darinya." jawab Rania dengan menelan ludahnya kasar.


"Apa katanya nduk bukankah Wati datang bersama teman lelaki kalian." tukas mbah Darmi mengingatkan semua orang.


"Oh iya Wati tadi mengikuti Yudistira pergi, entah kemana mereka belum kembali sampai sekarang." jelas Lala dengan mengaitkan kedua alis matanya.


Dan tidak berselang lama nampak Yudistira berjalan dengan membawa kantong plastik, dia mengatakan jika dirinya membeli kue untuk semua orang.


"Yudis bukankah kau pergi bersama Wati, tadi aku melihatnya mengikutimu, kemana dia sekarang." seru Lala.


Ternyata Lala melihat gadis itu mengikutiku, apa yang harus ku katakan pada mereka ya, batin Yudistira dengan mengkerutkan keningnya.


Terlihat Rania berjalan mondar-mandir tanpa mendengar penjelasan Yudistira, lalu Rania berusaha menerawang melalui batin nya, gadis itu mulai terlatih menggunakan kemampuan nya, nampak Rania memejamkan kedua matanya, lalu terlihat didalam batin Rania, jika Wati sedang berjalan mengikuti Yudistira ke sebuah ruangan, sampai akhirnya mereka berpisah disana, karena Yudistira berjalan ke kantin, sedangkan Wati masih berada di dalam ruangan bangsal itu, tapi tiba-tiba Wati menghilang bagaikan ditelan bumi.


"Astagfirullohaladzim kemana Wati pergi." seru Rania seraya membuka kedua matanya.


"Ada apa Ran kenapa kau berkeringat dingin seperti ini." tukas Lala dengan wajah cemas.


"Aku aku tidak tau dimana Wati berada, tapi firasatku mengatakan jika Wati sedang dalam bahaya, entah apa yang terjadi padanya." ucap Rania dengan mata berkaca-kaca.


"Ya Alloh gusti cobaan apa lagi ini nduk, di dalam sana ada dua orang yang sedang bertahan antara hidup dan mati, tapi sekarang salah satu dari kalian juga menghilang huhuhu." seru mbah Darmi berlinang air mata.


*


*


...Kemana Wati sebenarnya, apakah dia bisa lekas kembali ke alam manusia? tunggu cerita selanjutnya, dan jangan lupa baca novel terbaruku, Dendam perempuan berjubah merah, semakin seru loh ceritanya, beri dukungan dengan meninggalkan Vote dan hadiahnya ya teman-teman 😉...


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2