
Keesokan hari nya Luna terbangun dari tidur nya, dengan badan yang terasa sakit, nampak wajah Luna sedikit pucat dengan keringat dingin yang membasahi kening nya, sedangkan ibu nya yang baru saja memasak di dapur terlihat mengkerutkan kening nya seraya melirik pintu kamar Luna yang masih tertutup.
Tumben Luna belum keluar dari kamar nya, lebih baik aku melihatnya di kamar, batin Wulan seraya melangkahkan kaki nya berjalan ke arah kamar Luna.
Tok tok tok...
"Nduk kau sudah bangun belum." seru Wulan di balik pintu.
"Iya bu aku sudah bangun." sahut Luna lirih.
Ceklek...
Nampak Wulan masuk ke dalam kamar Luna, terdengar suara murottal masih berbunyi lalu Wulan mematikan nya, dan mengisi daya batrei ponsel Luna yang sudah hampir habis itu, perempuan tua itu menghampiri anak gadis nya yang masih terbaring di atas tempat tidur.
"Kau kenapa Luna, apakah kau sedang tidak enak badan?." tanya Wulan seraya meletakan punggung tangan nya di atas kening Luna.
Terasa suhu badan Luna sangat panas, dengan keringat dingin yang bercucuran, lalu Wulan melangkahkan kaki nya ke dapur dan segera mengompres kening Luna, supaya demam nya lekas turun.
"Kau istirahat di rumah saja nduk, jangan ke cafe dulu ya, biar ibu saja yang akan membantu disana." tukas Wulan dengan wajah sendu.
Kemudian Luna bangkit dari tidur nya, dan mengatakan pada ibu nya jika dia baik-baik saja dan melarang ibu nya pergi ke cafe.
"Luna baik-baik saja, setelah ini Luna yang akan pergi ke cafe, ibh di rumah saja ya istirahat." pinta Luna seraya memeluk ibu nya.
"Kau yang harus istirahat di rumah Luna, sesekali biarkan ibu yang membantu pekerjaanmu di cafe." seru Wulan dengan menyunggingkan senyum nya.
Mungkin lebih baik aku mengatakan segalanya pada ibu, daripada ibu terkejut setelah mengetahui semuanya, batin Luna didalam hati nya.
Setelah itu Luna meminta ibu nya, untuk mendengarkan semua ucapan nya dan tetap tenang, Luna mengatakan segalanya tentang keadaan di cafr nya saat ini.
"Meskipun usaha Luna cepat atau lambat akan bangkrut, tapi Luna tidak akan menyerah bu, jadi ibu jangan hawatir lagi." jelas Luna seraya mengecup punggung tangan ibu nya.
__ADS_1
"Bagaimana kejadian janggal seperti itu bisa terjadi di cafe nduk, pasti ada seseorang yang sengaja ingin menjatuhkan usaha mu." cetus Wulan dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
"Mungkin itu hanya kebetulan saja, Luna mandi dulu ya bu." seru Luna yang bangkit dari tempat tidur nya.
Nampak gadis cantik itu berjalan sempoyongan, kepala nya terasa berat ditambah beban yang ada dipundaknya.
Braak...
Luna tergeletak di lantai kamar nya, lalu ibu nya berjalan setengah berlari menghampiri Luna, dan memapah nya kembali ke tempat tidur, sedangkan arwah Pardi yang melesat masuk ke kamar Luna, nampak tercengang melihat gadis yang dicintai nya tengah sakit dan lemah.
"Ibu akan membawa mu ke dokter." tukas Wulan dengan mata berkaca-kaca.
"Sudahlah bu, Luna tidak apa-apa hanya kepala Luna sangat sakit." jelas Luna dengan memegangi kening nya.
Lebih baik aku pergi ke desa menemui pakde nya Luna sekarang juga, sebelum semua nya terlambat, batin Wulan didalam hati nya.
"Nduk ibu harus pergi ke suatu tempat, kau istirahat di rumah saja ya." tukas Wulan seraya mengecup kening Luna.
Nampak Wulan menghentikan mobil yang dikemudikan nya, karena tiba-tiba Luna menghubungi nya melalui panggilan telepon, dan memberi tau jika di cafe sedang ada sedikit tragedi, dapur cafe itu terbakar tanpa sebab, untung nya sudah ada beberapa pegawai Luna yang datang.
"Astagfirullohaladzim nduk, sebenarnya apa yang terjadi dengan usahamu itu, ibu akan pergi ke cafe mu sekarang juga, dan mengadakan pengajian malam ini." jelas Wulan seraya memutar kemudi nya.
Aku harus menunda kepergian ku ke desa pakde nya Luna, karena saat ini tempat usaha Luna sedang di ambang kehancuran, dan aku tidak ingin anak ku menanggung beban itu sendiri, gumam Wulan dengan wajah sendu.
Terlihat arwah Pardi sangat terkejut ketika Luna menelepon ibu nya, dan menceritakan jika dapur di cafe nya terbakar, karena Pardi tidak merasa melakukan hal itu, dan dia pun melesat ke cafe Luna untuk mengetahui kejadian yang sebenar nya.
Wuush...
Arwah Pardi sampai di cafe Luna hanya dengan sekelebatan saja, nampak disana ada sesosok kuntilanak peliharaan mbah Ngatimin yang sedang menyulutkan api di beberapa sudut dapur itu.
Kemudian arwah Pardi meminta kuntilanak peliharaan mbah Ngatimin untuk pergi, karena tugas untuk membuat bangkrut tempat itu sudah menjadi tanggung jawab nya.
__ADS_1
"Lekaslah pergi dari sini, jangan kau ganggu pekerjaanku." seru Pardi pada kuntilanak yang sedang tertawa melengking dihadapan Pardi.
Nampak kuntilanak itu mengatakan jika dia diminta untuk membantu disana, karena mbah Ngatimin sendiri yang memerintahkan nya membakar dapur itu.
Jadi dukun itu sengaja memerintahkan ini semua, batin Pardi dengan membulatkan kedua mata nya.
Tidak berselang lama terdengar suara Wulan, yang meminta para pegawai itu untuk membantu memadamkan api, di sudut tempat lain nya, Wulan yang baru saja tiba berjalan terburu-buru untuk melihat dapur yang terbakar itu.
"Untung nya ibu datang, kami sedang menunggu mbak Luna dari tadi, tapi dia belum sampai juga." seru Desi dengan mengusap peluh dikening nya.
"Luna sedang sakit jadi saya yang akan membantu kalian, untung api ini cepat kalian padamkan, dan tidak menjalar ke berbagai tempat." tukas Wulan dengan menghembuskan nafas nya panjang.
Setelah itu Wulan meminta Desi untuk memindahkan meja dan kursi di cafe itu, karena malam nanti Wulan berniat mengadakan pengajian disana.
"Desi beri tau semua pegawai untuk memindahkan meja dan kursi itu ke gudang belakang, dan siapkan makanan kecil untuk tamu yang akan datang nanti malam." pinta Wulan seraya membantu pegawai Luna memindahkan meja dan kursi.
Nampak arwah Pardi semakin panik mendengar ucapan Wulan, arwah Pardi dan kuntilanak itu berniat kembali ke rumah mbah Ngatimin untuk memberi tau niat ibu Luna, yang akan mengadakan pengajian di tempat usaha itu.
Sesampai nya di rumah mbah Ngatimin kedua makhlus halus itu, mengatakan semuanya pada dukun itu, dan dia meminta kedua nya untuk menjauh dari cafe itu dalam beberapa hari saja, karena dukun itu tau jika Wulan mengetahui jika usaha anak nya sedang dalam pengaruh buruk, dan mereka tidak bisa melanjutkan niat nya, karena itu akan membuat Wulan semakin waspada dan melakukan sesuatu untuk menghalangi perbuatan buruk nya.
"Biarkan saja mereka berpikir jika usaha di cafe itu, sudah kembali ramai seperti semula, dan disaat mereka lengah kalian harus menghancurkan usaha nya, hanya dengan waktu singkat, setelah itu mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi selain menutup bisnis nya." jelas mbah Ngatimin dengan seringai diwajah nya.
Sedangkan di cafe Luna, malam itu banyak didatangi oleh anak yatim piatu dari panti asuhan, mereka bersama-sama membacakan ayat-ayat suci untuk membersihkan aura gelap yang melingkupi tempat itu, nampak semua pegawai Luna ikut mengaji bersama supaya hati mereka ikut lega, setelah beberapa hari ini selalu mengalami hal-hal yang tidak terduga.
*
*
...Maaf ya kak kemarin author tidak up bab baru, karena author sedang dalam fase lelah dan butuh dukungan yang lebih dari kalian semua, tolong berikan hadiah dan Vote yang kalian punya, supaya author kembali semangat seperti sebelum nya, terima kasih jika kalian bersedia mendukung ku 🙏🙏🙏...
...Bersambung....
__ADS_1