
Keesokan hari nya tersiar kabar jika bu Jamilah sudah meninggal di Rumah sakit, semua warga desa terkejut mendengar berita kematian bu Jamilah karena kemarin siang beliau masih sehat dan mengikuti pengajian di rumah pak haji Faruk.
Sementara bu Ani dan pak Slamet yang mengetahui jika bu Jamilah sudah tiada sangat senang mereka berdua tertawa bahagia karena tujuan mereka terlaksana, sedangkan Harto yang merasa bersalah memilih segera pulang ke desa nya.
"Mbakyu aku tak langsung pulang saja" Celetuk Harto dengan buru buru.
"Kenapa buru buru to Har, ayo sarapan dulu". Pinta bu Ani pada adik laki laki nya itu.
"Tidak usah mbakyu, aku harus segera ke sawah takut padi nya habis dirusak burung". Tukas Harto membohongi mbakyu nya.
Lalu Harto mengendarai motor nya begitu saja meninggalkan mbakyu nya yang masih berdiri menatap punggung nya dari kejauhan.
"Kang kenapa aku merasa ada yang Harto sembunyikan dariku ya". Cetus bu Ani pada suami nya.
"Oalah dek itu hanya perasaanmu saja, ngomong ngomong apa kau akan pergi melayat ke rumah bu Jamilah?". Tanya pak Slamet yang sedang duduk di atas kursi ruang tamu nya.
"Mana mungkin aku mau menginjakan kaki ku di rumah lintah darat itu". Pekik bu Ani dengan mata yang tajam.
__ADS_1
Tidak berselang lama terdengar suara sirine ambulance yang membawa jenazah bu Jamilah pulang ke rumah nya, terlihat wajah bahagia dari bu Ani melihat ambulance yang membawa jenazah bu Jamilah melewati rumah nya.
Satu persatu warga terlihat mulai berdatangan ke rumah bu Jamilah, semua keluarga bu Jamilah menangis sedih terutama kedua anak laki laki nya yang masih belum bisa menerima kepergian ibu nya.
Simbah Rania dan mbah Karto datang bersama untuk melayat, ketika memasuki rumah duka nampak mbah Karto merasakan aura gaib yang kental disana, tapi dia tidak bisa mencari tau darimana asal aura gaib itu karena saat ini keadaan disana sedang berduka.
Lalu mbah Karto berbicara pada simbah Rania jika dia merasa ada hal gaib yang melingkupi rumah bu Jamilah, meskipun simbah Rania bukan orang sakti seperti mbah Karto tapi dia juga dapat merasakan aura yang tidak enak didalam rumah ini.
Kemudian pak haji Faruk membantu mengurusi jenazah bu Jamilah dan melihat banyak tanda aneh yang dikatakan ibu ibu yang membantu memandikan jenazah nya, mereka berkata jika jenazah bu Jamilah terus mengeluarkan air mata meski sudah di usap bersih air mata nya terus mengalir dari kedua mata nya.
Setelah itu pak haji Faruk berkonsultasi pada mbah Karto tentang kondisi jenazah yang terus menerus mengeluarkan air mata.
Simbah Rania yang mendengar perkataan mbah Karto hanya terdiam karena terkejut mengetahui dugaan mbah Karto jika ada yang berniat jahat pada keluarga bu Jamilah setelah kejadian tempo hari sewaktu suaminya gentayangan menjadi pocong.
Pasti semua keluarga nya bertambah hancur hatinya karena kini ibu mereka telah tiada.
Sedangkan Rara menantu bu Jamilah yang sedang menerima tamu didepan teras melihat senyum bahagia bu Ani yang sengaja berjalan lewat didepan rumah nya.
__ADS_1
Kenapa dia tersenyum bahagia mengetahui kematian ibu mertuaku jangan jangan dia... ah sudahlah Ra jangan perdulikan orang itu, batin Rara didalam hati nya.
Terdengar warga membicarakan bu Ani yang tidak datang melayat tetapi hanya tersenyum melewati rumah bu Jamilah begitu saja.
"Loh Ra kenapa bu Ani tidak melayat kesini, apa dia masih marah pada keluargamu?". Tanya bu Siti pada Rara.
"Entahlah bu, aku juga tidak perduli jika dia mau datang melayat atau tidak, keluarga kami tidak menantikan kedatangan nya". Seru Rara membulatkan mata nya menatap tajam pada bu Ani yang sudah menjauh dari depan rumah nya.
Lalu bu Siti membicarakan perihal bu Ani yang tidak melayat pada beberapa warga lain nya, dan menimbulka kecurigaan jika bu Ani masih dendam pada keluarga bu Jamilah.
Sementara mbah Karto dan Simbah Rania belum berani menanggapi ucapan warga tentang bu Ani yang tidak melayat karena masih menaruh dendam pada keluarga bu Jamilah.
"Semoga saja ucapan warga itu tidak benar ya kang". Cetus simbah menatap wajah curiga mbah Karto.
"Sepertinya aku harus menemui Slamet dan melihat kondisi mata nya yang buta, dan aku akan membujuk Ani untuk datang melayat supaya tidak ada warga yang menggunjingkan nya lagi". Seru mbah Karto seraya berjalan keluar dari rumah bu Jamilah.
*
__ADS_1
*
Bersambung.