
Setelah kedua hansip itu sampai di depan rumah Ari, mereka nampak termenung menatap perempuan yang tadi berada didepan jendela itu kini sudah menghilang.
"Kok sudah tidak ada to Lan". Ucap pak Eko dengan menggaruk rambut nya yang tidak gatal.
"Aku juga heran kang, perasaan tadi ada seorang perempuan berdiri disini". Tukas pak Dahlan dengan mengernyitkan dahi nya.
Lalu pak Eko berjalan mengitari rumah Ari dengan menyorotkan cahaya lampu dari senter nya, nampak pak Eko berdiri dengan kaki gemetar menatap seorang perempuan sedang mengintipnya dari balik tirai jendela kamar bu Ema.
Kedua mata pak Eko membulat dan lidahnya kelu tidak dapat mengeluarkan suara nya, kemudian pak Dahlan datang menghampiri pak Eko dengan menepuk pundaknya.
"Kenapa badanmu bergetar kang?". Tanya pak Dahlan menatap wajah pak Eko yang sudah berubah sangat pucat.
"Ra.. Raaraaa...". Jawab pak Eko dengan gagap.
Terlihat pak Dahlan menggaruk rambut nya yang tidak gatal, berusaha mencerna ucapan pak Eko yang masih bergetar hebat disamping nya.
"Kau itu kenapa kang, kemarilah duduk dulu tenangkan dirimu". Tukas pak Dahlan seraya menarik tangan pak Eko ke sebuah bale yang ada didepan rumah Ari.
"Ta tadi a aku melihat perempuan yang wajahnya sangat mirip dengan Rara, dia mengintipku dari balik tirai kamar itu". Seru pak Eko dengan mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah kamar dengan jendela kecil disamping nya.
"Dimana kang, aku tidak melihat apa apa mungkin saja itu memang bu Ema". Jelas pak Dahlan denggan mengaitkan kedua alis mata nya.
"Aku tidak mungkin salah lihat Lan, mataku ini masih normal meski dimalam hari begini". Cetus pak Eko dengan membulatkan kedua mata nya.
Karena pak Dahlan merasa tidak ada yang perlu di hawatirkan lagi, dia mengajak pak Eko untuk kembali berpatroli keliling desa.
Ditengah perjalanan mereka kembali mendengar suara gending gamelan jawa, yang membuat bulu kuduk mereka meremang.
"Aduh Lan jika setiap malam aku harus di teror dengan hal yang berbau mistis lama lama aku bisa pensiun dini jadi hansip di desa ini". Seru pak Eko dengan wajah ketakutan.
"Oalah kang, kau pikir aku ini tidak takut to, tapi bagaimanapun juga ini sudah menjadi tugas kita untuk menjaga keamanan desa ini". Cetus pak Dahlan seraya menepuk pundak pak Eko.
__ADS_1
*
*
Sementara di alam gaib sana, Ari yang sedang melangsungkan pernikahan nya dengan Sukma melati nampak berjalan meninggalkan keramaian acara hajatan mereka.
Sampai pada akhirnya Sukma melati mengajak Ari menuju kedalam sebuah kamar yang sudah dirancang untuk malam pertama mereka, nampak bunga bunga menghiasi seluruh kamar itu dengan ornames keemasan bak kamar tuan puteri didalam sebuah istana.
Dengan perlahan Sukma melati menggoda Ari yang sudah duduk di pinggir ranjang, merubuhkan dirinya dengan sekali dorongan saja.
Ari menatap wajah cantik Sukma dan mengecup setiap bagian tubuh perempuan dari alam gaib itu, dia menggoda Sukma dengan berbagai kelembutan dan membisikan kata kata cinta.
Entah apa yang dipikirkan Ari saat itu, karena baru semalam saja dia bertemu dengan Sukma melati tapi Ari begitu menggilai perempuan yang saat ini sudah ada dibawah nya.
Ari mulai menghentakan tubuhnya di iringi dengan suara suara aneh kedua nya, nampak Ari begitu menikmati permainan nya dengan istri gaib nya itu.
Entah sudah berapa kali hentakan yang sudah dia lakukan bersama Sukma melati sampai akhirnya terdengar lenguhan panjang dari mereka berdua secara bersamaan.
"Terima kasih kangmas, kau begitu membahagiakanku, tidak salah Romo memilihmu menjadi suamiku". Bisik Sukma melati ditelinga Ari.
Lalu kedua nya tertidur bersama dengan berpelukan, tanpa Ari sadari ternyata Sukma melati berubah wujud menjadi seekor ular sanca yang sangat besar, yang saat ini sedang berada dipelukan nya.
Setelah Ari terbangun dari tidur nya ternyata dia sudah ada didepan pohon keramat yang ada di hutan angker itu, kemudian datanglah seekor ular sanca yang sangat besar berhenti tepat didepan Ari.
Lalu ular sanca itu berubah wujud menjadi seorang perempuan cantik yang semalam memadu kasih dengan nya.
"Sukma melati, kau disini". Seru Ari dengan membulatkan kedua mata nya.
"Iya kangmas, ini aku Sukma melati istrimu, aku hanya ingin mengingatkanmu jika kau harus datang menemuiku disini setiap malam jumat dengan meletakan sesajen dan dupa tepat didepan pohon keramat ini, supaya kita bisa bertemu lagi dan menghabiskan malam bersama". Jelas Sukma melati dengan seringai kecil di wajah nya.
"Baiklah istriku, aku akan mengingat pesanmu ini jagalah dirimu baik baik sampai aku kembali lagi". Ucap Ari seraya memeluk istri gaib nya itu.
__ADS_1
"Tentu saja kangmas aku akan menunggu kedatanganmu, tolong jangan lupakan pesanku itu, karena jika kau tidak datang menemuiku setiap malam jumat, aku akan datang mencarimu dan menyakiti semua orang yang kau sayangi". Seru Sukma melati mengancam Ari.
"Ba baiklah istriku, aku akan menepati janjiku padamu". Tukas Ari mengecup punggung tangan Sukma melati.
"Ini titipan dari Romo, kau bisa menggunakan ini untuk mewujudkan keinginanmu supaya jiwa istrimu bisa kembali seperti dulu lagi". Cetus Sukma melati dengan memberikan bungkusan berwarna putih pada Ari.
Setelah itu Ari berpamitan pada Sukma melati karena hari sudah hampir pagi dan dia harus segera meninggalkan hutan angker itu, nampak Sukma melati menatap sendu melepas kepergian suami tercinta nya.
Sedangkan Ari yang berjalan gontai kembali ke rumah nya, terlihat sangat kelelahan karena permainan nya semalam bersama istri gaib nya itu.
Lalu Ari berpas pasan dengan pak Sapri yang akan pergi ke sawah nya, dia menatap heran pada Ari yang wajahnya sangat pucat.
"Kau kenapa Ar, nampaknya kau sedang sakit ya". Seru pak Sapri dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
"Eh tidak pak, aku hanya kelelahan saja setelah pulang bekerja dari kota". Tukas Ari membohongi pak Sapri.
"Kau jangan terlalu lelah bekerja ya Ar, karena sekarang sudah tidak ada yang mengurusmu lagi, jagalah kesehatanmu". Cetus pak Sapri seraya menepuk pundak Ari.
"Ah iya pak Sapri, terima kasih sudah mengingatkanku". Ucap Ari dengan seringai kecil di wajah nya.
"Sama sama Ari, kau sudah seperti anakku sendiri, jika kau membutuhkan bantuanku jangan sungkan sungkan untuk berbicara padaku". Seru pak Sapri seraya berjalan meninggalkan Ari yang sedang berdiri ditempat nya.
Kemudian setelah memastikan dirinya sudah tidak terlalu lelah, Ari melanjutkan perjalanan nya kembali ke rumah nya karena Rara istri yang sangat dicintai nya sudah berada disana.
Sesampainya di rumah nya, nampak Anto masih berada didalam rumah nya, terlihat Ari sedikit terkejut melihat adik laki laki nya yang sudah terbangun sepagi itu.
Ari menghampiri Anto dan bertanya kepada adiknya itu kenapa dia sudah bangun sepagi ini, lalu Anto menjawab jika dia hawatir dengan keadaan bu Ema yang berubah aneh malam kemarin, karena tidak biasa nya bu Ema bersemangat untuk memasak dan mulai tersenyum bahagia tidak seperti hari hari sebelum nya.
Karena sebelum nya bu Ema selalu nampak murung dan mengurung dirinya didalam kamar dan sangat susah untuk di ajak makan bersama, tapi malam itu bu Ema memasak makanan kesukaan almarhum kakak ipar nya, sehingga Anto menjadi hawatir jika bu Ema mengalami gangguan kejiwaan seperti kakak nya dulu.
*
__ADS_1
*
...Bersambung....