
"Aduuh sikilku (aduuh kakiku)". Pekik Pak Dahlan meringis kesakitan karena kaki nya terpentok ujung pintu yang terbuka.
Kemudian dua orang warga yang dikira maling oleh pak Dahlan dan pak Eko berteriak ketakutan dan berlari keluar masjid.
Braaaakkk...
Mereka berdua menabrak pak Eko yang sedang menunggu nya di depan pintu Masjid, sontak pak Eko terkejut karena ternyata yang mengintip dari dalam Masjid adalah warga desa nya sendiri yaitu pak Budi dan pak Rudi.
"Loh kalian sedang apa didalam Masjid malam malam begini, ngintip ngintip dari dalam seperti orang mau maling kotak amal saja". Tanya pak Eko menatap bingung kedua orang itu.
"Tadi kami dikejar pocong pak tolong kami". Jawab pak Rudi dengan suara bergetar.
Lalu pak Dahlan keluar dari dalam Masjid dengan berjalan sedikit pincang, pak Dahlan bertanya pada mereka berdua kenapa malam malam mereka berada diluar Rumah.
Kemudian mereka berdua menjelaskan semuanya jika setelah pergi dari rumah bu Jamilah mereka berdua bersama pak Slamet dihadang pocong ditengah jalan.
Karena ketakutan mereka berdua berlari meninggalkan pak Slamet yang wajah nya sudah disembur oleh ludah pocong itu.
"Wah gawat Kang bisa-bisa pak Slamet mata nya jadi buta kalau benar dia diludahi pocong itu". Seru pak Dahlan dengan wajah cemas.
"Ayo Lan kita cari dimana pak Slamet kasihan jika dia kenapa kenapa". Ujar pak Eko yang mengajak dua warga lain nya untuk membantu mencari keberadaan pak Slamet.
"Aduh pak kami takut lebih baik kami pulang ke rumah saja". Sahut pak Budi.
"Yakin kalian mau pulang berdua saja, nanti kalau dihadang pocong lagi jangan minta tolong pada kami ya". Seru pak Dahlan menakuti pak Rudi dan pak Budi.
Keduanya saling memandang karena terpengaruh ucapan pak Dahlan, lalu keduanya memilih mengikuti pak Dahlan dan pak Eko yang berusaha mencari keberadaan pak Slamet.
Disepanjang jalan yang mereka lewati tadi, mereka semua tidak dapat menemukan jejak keberadaan pak Slamet dan memutuskan untuk mencari ke rumah nya.
__ADS_1
Tapi sesampainya di rumah nya, istri pak Slamet berkata jika suami nya belum pulang sejak tiga jam yang lalu.
"Wah jangan jangan pak Slamet dibawa ke alam kubur sama hantu nya pak Kasmuri". Tukas pak Budi yang berdiri gemetaran karena ketakutan.
"Huussh jangan sembarangan kalau bicara, nanti malah kau sendiri yang dibawa ke alam kubur baru tau rasa". Ujar pak Eko yang nampak cemas.
"Iya Bud kamu jangan asal ngucap nanti pak Kasmuri datang malah kamu sendiri yang dibawa". Ucap pak Rudi yang beringsut menempel mendekati pak Dahlan.
"Sudah-sudah lebih baik kalian pulang saja jika tidak bisa membantu kami". Seru pak Dahlan seraya mengajak pak Eko berjalan untuk patroli lagi.
Kemudian pak Budi memilih mengikuti kedua hansip itu untuk berpatroli, sementara pak Rudi yang rumahnya sudah dekat memilih untuk pulang ke rumah.
Bleek bleek bleek...
Congculi (lepaskan pocongku).
Pak Rudi mendengar suara seseorang yang sedang melompat mendekat ke arah nya, dan saat dia menoleh ke belakang ternyata sudah ada sesosok pocong yang berdiri menghadap ke arah nya.
Sementara kedua hansip itu beserta pak Budi yang sedang berpatroli mendadak ketakutan saat mendengar orang yang meminta tolong tapi tidak terlihat batang hidung nya.
"Aduh pak suara apa lagi itu kok tidak ada wujudnya". Ujar pak Budi dengan memegang tengkuk nya.
"Lho Kang ini seperti suara yang kita dengar tadi, kenapa suara ini terdengar lagi". Tanya pak Dahlan menatap tajam pada pak Eko.
Kemudian mereka bertiga berjalan mencari sumber suara itu berasal, dengan menggunakan cahaya lampu ponsel pak Dahlan mencari asal suara seseorang yang meminta tolong itu.
Dan ketika cahaya lampu ponsel itu menyoroti seseorang yang sedang tersungkur di gorong gorong dengan kondisi wajah berlumuran darah dan kelopak mata yang membiru dengan darah yang menetes dari mata nya.
"Pak Slamet". Pekik pak Dahlan terkejut melihat kondisi pak Slamet yang memperihatinkan.
__ADS_1
Lalu pak Eko dan pak Budi menghampiri pak Dahlan yang masih berdiri tercengang menatap kondisi pak Slamet yang berada didalam gorong gorong itu.
Mereka bertiga berusaha menolong pak Slamet dan membawanya naik ke atas, sementara pak Slamet yang tidak bisa melihat apapun terus merintih kesakitan karena matanya terasa sangat perih.
Ketika pak Slamet berhasil ditarik ke atas, mereka semua membantu pak Slamet untuk kembali ke rumah nya, suasana malam itu benar benar sangat mencengkam karena berbagai teror dari hantu pocong itu.
Sesampainya dirumah pak Slamet, istri nya menangis histeris melihat kondisi suami nya yang memperihatinkan itu.
"Bapak kenapa keadaanmu jadi seperti ini hu hu hu". Tangis bu Ani pecah dengan meratapi kondisi suaminya yang menjadi buta.
"Sudah bu tenang dulu lebih baik kita bersihkan luka di wajah pak Slamet dulu". Ujar pak Eko yang membantu membersihkan luka di wajah pak Slamet.
Setelah pak Slamet merasa lebih baik, dia mulai menceritakan kejadian disaat pocong itu menghadang nya dan meludahi wajah nya, dan setelah itu pak Slamet tidak dapat melihat apapun sampai dia terjebak didalam gorong gorong dan pingsan didalam sana.
Pak Budi pun membenarkan jika mereka dihadang hantu pocong setelah pulang dari rumah bu Jamilah, dia menjelaskan jika bu Jamilah dan anak anak nya tidak percaya jika pak Kasmuri lah yang menjadi pocong dan gentayangan di desa Rawa belatung, karena mereka tidak pernah didatangi oleh pocong itu.
Kemungkinan pak Kasmuri marah pada mereka dan menghadang nya ditengah jalan, karena menurut mereka hantu pocong itu menatap penuh amarah ke wajah pak Slamet karena itulah pak Rudi dan pak Budi melarikan diri meninggalkan pak Slamet.
"Memangnya apa yang kalian katakan pada bu Jamilah sampai hantu nya pak Kasmuri sangat marah?". Tanya pak Dahlan pada pak Budi.
"Pak Slamet membentak bu Jamilah dan mengatakan jika pak Kasmuri adalah lintah darat di desa ini, lalu bu Jamilah menangis mendengar ucapan pak Slamet dan membuat kedua anaknya ikut marah dan ingin menghajar pak Slamet". Tandas pak Budi memberikan penjelasan.
"Wah gawat ini jika hantu pocong nya pak Kasmuri marah karena keluarga nya diganggu, bisa bisa dia terus gentayangan dan meneror warga desa ini". Ucap pak Eko dengan mengernyitkan dahi nya.
"Lalu kita harus bagaimanana ini, mbah Karto juga belum kembali ke rumah nya lantas siapa yang bisa menolong kita semua sedangkan pihak keluarga almarhum tidak mau membongkar makam pak Kasmuri". Seru pak Dahlan.
*
*
__ADS_1
" **Bersambung "
Ayo para readers tinggalkan jejak ditiap bab ya dengan like vote atau koment nya, supaya author semakin semangat lanjutin cerita nya.