
Terlihat bu Ema begitu menyesali perbuatan almarhum suami nya karena dia juga ikut serta mendukung ritual yang suami nya lakukan, kemudian bu Ema bersimpuh di depan pak Budi memohon ampunan untuk almarhum suami nya.
"Tolong pak maafkan suamiku, lagipula anakmu sudah kembali bersamamu tanpa terluka sedikitpun". Seru bu Ema berderai air mata.
"Apa yang kau lakukan bu, berdirilah kau itu lebih tua dariku tidak sepantasnya kau bersimpuh kepadaku". Tukas pak Budi seraya membantu bu Ema berdiri.
"Tapi pak bisakah kau memaafkan suamiku, aku mohon kepadamu". Ucap bu Ema dengan menyatukan kedua tangan nya.
Terlihat pak Budi mulai luluh dengan permohonan bu Ema dan meraih kedua tangan nya dan berkata jika dia telah memaafkan perbuatan pak Sugeng, dan meminta bu Ema untuk berhenti menangis karena pak Budi tidak tega melihat nya bagaimanapun bu Ema sudah seumuran orang tua nya sendiri.
Lalu pak haji Faruk meminta pak modin untuk membersihkan wajah pak Sugeng yang basah karena air mata nya, dan sesudah pemberian maaf oleh pak Budi nampak jenazah pak Sugeng sudah tidak mengeluarkan air mata lagi.
"Alhamdulillah". Sahut pak modin dengan wajah yang lega karena jenazah itu sudah tidak meneteskan air mata lagi.
Terdengar pak haji Faruk membacakan ayat ayat suci dan melakukan sholat jenazah bersama warga yang lain nya, setelah itu semua orang bergotong royong membawa keranda mayat nya ke area pemakaman.
Hari itu tidak ada kendala yang berarti selama proses pemakaman sampai akhirnya ketika jenazah itu sudah di masukan kedalam liang lahat nampak ular ular berbisa datang melilit tubuh jenazah pak Sugeng, semua mata terbelalak melihat kejadian yang ada didepan mata nya.
"Astagfirullah cobaan apa lagi ini". Seru pak haji Faruk dengan memegang tasbih di tangan kanan nya.
Lalu bu Ema berteriak histeris meminta bantuan semua orang untuk melepaskan ular ular yang melilit di tubuh jenazah suami nya.
"Tolonglah pak ambil ular itu". Tukas bu Ema dengan berlinang air mata.
__ADS_1
Nampak Ari menantu nya menenangkan dirinya supaya tidak terlalu bersedih lagi, karena semua orang akan berusaha melepaskan ular itu dari dalam liang lahat suami nya.
"Tapi bu, ular ini semakin melekat ditubuh jenazah ketika kami berusaha melepaskan nya". Cetus tukang gali kubur dengan wajah cemas.
Kemudian pak haji Faruk meminta kerelaan bu Ema untuk menguburkan suami nya bersama ular ular yang masih melilit di jenazah nya.
Meski bu Ema tidak menginginkan nya tapi dia tidak bisa berbuat apa apa lagi dan menerima kenyataan jika suami nya harus di makam kan bersama ular ular berbisa yang melilit ditubuh nya.
Terdengar para ibu ibu bergunjing mengatakan jika pak Sugeng terkena azab karena perbuatan nya semasa hidup nya, apalagi dia sudah membangkitkan anaknya dari dalam kubur yang entah sekarang masih gentayangan atau tidak.
Sedangkan Ari yang mendengar perkataan ibu ibu itu nampak terdiam dengan menundukan kepala nya.
Istriku apa benar kau sudah bangkit dari dalam kuburmu, jika itu benar dimana kau sekarang, batin Ari didalam hati nya.
Kemudian mereka pergi ke rumah Ari hendak mengusir bu Ema dari desa Rawa belatung karena semua warga menjadi sangat resah dan ketakutan dengan perbuatan yang suami nya pernah lakukan semasa hidupnya, semua warga tidak ingin jika desa nya menjadi sial jika bu Ema masih ada disana karena penguasa hutan angker bisa saja masih mempunyai dendam pada pak Sugeng dan istri nya.
"Pergilah dari desa kami bu, jangan membuat kami menjadi resah karena kau masih berada disini". Tukas pak Broto dengan membulatkan kedua mata nya.
"Kenapa kalian mengusirku dari sini". Ucap bu Ema dengan suara bergetar karena tiba tiba saja dia di usir dari desa itu setelah selesai menguburkan jenazah suami nya.
"Kami tidak mau penguasa hutan angker murka kepada kami semua, jika kau masih berada di desa ini". Seru bu Broto istri dari pak Broto yang terkenal paling kaya di desa Rawa belatung.
Nampak Ari membela ibu mertua nya, dia berkata jika semua kehawatiran warga tidak mungkin terjadi karena almarhum bapak mertua nya sudah menebus semua perbuatan nya sedangkan ibu mertua nya tidak bersalah atas perbuatan yang suami nya lakukan.
__ADS_1
Tapi semua warga itu tidak mau mendengarkan penjelasan Ari dan tetap meminta bu Ema pergi dari desa mereka sekarang juga.
Lalu pak haji Faruk dan pak RT yang baru saja datang ke rumah Ari melerai perdebatan mereka dan meminta semua orang untuk tenang dan berpikir lebih bijak.
"Bapak ibu sekalian tolong lebih bijaklah dalam berbicara, bagaimana mungkin kita mengusir seorang perempuan yang masih berduka setelah di tinggal pergi selama nya oleh anak perempuan semata wayang nya dan juga suami tercinta nya, apa kalian tidak punya hati nurani sama sekali". Seru pak haji Faruk memandangi wajah semua warga yang ada di hadapan nya.
Terlihat semua orang tertunduk tanpa menjawab perkataan pak haji, mereka baru menyadari perkataan pak haji Faruk benar jika perempuan tua yang berusaha mereka usir sekarang hanya seorang diri tanpa keluarga dan hanya Ari mantan menantu nya yang berusaha menghibur kesedihan nya saat itu.
"Jika kalian sudah menyadari kondisi bu Ema, saya minta sekarang juga kalian kembalilah ke rumah masing masing dan tolong jangan bicarakan masalah ini lagi karena bu Ema hanya akan pergi dari desa ini kalau itu kemauan nya sendiri, kalian semua mengerti maksud saya". Tanya pak RT pada semua warga yang ada di depan nya.
"Baiklah pak kami semua mengerti kondisi beliau dan kami akan mengijinkan bu Ema untuk tinggal di desa ini, tapi jika terjadi suatu hal yang buruk karena amarah penguasa hutan angker, bu Ema harus meninggalkan desa kita secepatnya". Jawab pak Broto mewakili semua warga yang ada disana.
Setelah semua warga sepakat dengan ucapan pak Broto, mereka semua meninggalkan rumah Ari.
Sementara bu Ema yang semakin merasa terpuruk sudah tidak mempunyai tenaga untuk berdiri, dia pingsan di pelukan Ari.
"Astaga bu bangunlah, semua akan baik baik saja meskipun Rara sudah tiada ibu akan tetap menjadi orang tua ku". Cetus Ari dengan wajah sendu nya.
Kemudian Anto membantu Ari membopong bu Ema kedalam kamar nya dan mengompres kening nya menggunakan air hangat karena kondisi badan bu Ema sangat lemas dan juga demam.
*
*
__ADS_1
...Bersambung....