
Tanpa terasa tujuh hari berlalu, peringatan meninggalnya Ari berlangsung, lantunan ayat suci terdengar di rumah itu, nampak Lala sedang membantu di rumah itu, mempersiapkan makanan yang akan disuguhkan untuk warga yang datang, Lala merasakan panggilan batin dari suami gaib nya, tapi Lala enggan untuk mendengarkak panggilan dari suami gaibnya itu, Elang menyampaikan pesan nya melalui batin, jika dia ingin berbicara langsung dengan nya.
"Kau kenapa La wajahmu nampak gelisah." seru Rania.
Apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya pada Rania, tapi aku tidak mau Rania terlibat dengan semua kerumitan dihidupku, batin Lala dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
Plaak...
Nampak Rania menepuk pundak Lala, menyadarkan nya dari lamunan nya, dengan menundukan kepalanya Lala tidak mengatakan yang sebenarnya.
"Rania kau selesaikan semua pekerjaan disini ya, sepertinya aku tidak enak badan, aku ingin istirahat dulu." jelas Lala seraya melangkahkan kaki nya kembali ke rumah Rania.
Terlihat Anto melihat Lala melangkahkan kaki nya gontai, gadis itu berjalan sempoyongan dengan memegangi kepala nya.
Sepertinya Lala sedang tidak sehat, lebih baik aku mengikutinya dari belakang, dan memastikan nya baik-baik saja, batin Anto seraya berjalan dibelakang Lala.
Dan ternyata di luar sana ada sosok Elang, yang sedang menyembunyikan wujudnya, karena tiba-tiba Anto berjalan dibelakang perempuan yang sangat dicintai nya, padahal kedatangan Elang kesana untuk memberitau Lala, jika Sekar tidak akan bisa mengganggu nya lagi, karena jika Sekar masih berani mendatangi Lala, Elang akan memberikan hukuman yang sangat besar untuk istri pertama nya itu.
Bruuk...
Nampak Lala terjatuh dan tersungkur di jalanan desa itu, lalu Anto berlari menghampiri Lala dan membantunya berdiri, seraya memapahnya kembali ke rumah simbah Rania, terlihat Elang membulatkan kedua matanya, menatap benci pada Anto, yang tengah berjalan dengan merangkul Lala, perempuan yang sangat dicintainya, tengah bersama lelaki lain, sangat terlihat jelas didepan kedua matanya, jika Anto memiliki perasaan pada Lala, karena itulah Elang sangat murka, dan ingin mencelakai Anto, tapi Elang mengurungkan niat nya itu, karena di desa itu ada beberapa manusia sakti, yang bisa kapan saja membuatnya semakin berjarak dengan Lala.
Jika aku mencelakai lelaki itu, manusia-manusia sakti itu akan menyadari keberadaanku, dan mereka bisa membuatku semakin jauh dari Lala, batin Elang resah didalam hati nya.
Elang menahan amarah didalam dirinya, meski Elang tau jika Lala masih mencintainya, tapi dia tidak rela ada lelaki lain disamping Lala, karena Anto terlalu menunjukan perhatian nya pada Lala, bahkan sesampainya di rumah simbah Rania, terdengar Anto menawarkan diri untuk mengantarkan Lala periksa ke dokter.
__ADS_1
"Tidak usah mas Anto, aku baik-baik saja, lebih baik mas Anto kembali ke rumah, acaranya kan sudah mau selesai, masa yang punya rumah malah tidak ada." ucap Lala dengan menyunggingkan senyum nya.
"Tapi kau terlihat lemah La, wajahmu pucat dan suhu tubuhmu panas sekali, lebih baik aku mengantarmu ke dokter, supaya kau lebih cepat mendapat penanganan." jelas Anto dengan meletakan punggung tangan nya dikening Lala.
Terlihat dari jarak jauh jika Elang sudah tidak bisa menahan amarahnya, kedua matanya membulat sempurna dengan gigi taring yang mencuat keluar dari mulutnya, Elang dengan kesaktian nya membuat sebatang pohon rubuh, dan menimpa Anto yang berada dibawahnya.
Sementara Lala yang menyadari jika pohon di samping Anto akan rubuh, bergegas mendorong tubuh Anto, supaya lelaki itu tidak tertimpa batang pohon yang besar itu.
Braak...
Terdengar suara runtuhan batang pohon yang jatuh ke jalan, nampak Lala dan Anto jatuh terguling ke tanah, kedua nya terjatuh berguling ke tanah dengan saling memeluk, nampak kedua mata mereka saling memandang, terdengar suara degup jantung Anto yang berdetak sangat kencang, karena perempuan yang sedang disukainya, sedang berada didekapan nya.
"Ma maaf mas Anto, aku hanya ingin menolongmu supaya pohon itu tidak menimpamu." tukas Lala dengan wajah yang memerah malu-malu.
Lala bangkit berdiri dengan menundukan kepalanya, dia merasa malu karena sempat jatuh tepat diatas tubuh Anto, sementara Anto yang tengah berbunga-bunga hanya melemparkan senyum pada hadis cantik yang ada dihadapan nya.
Wuuush...
Tiba-tiba Elang nekat melesat menghadang langkah kaki Lala, lelaki gaib itu membulatkan kedua mata nya menatap tajam pada Lala, sementara Anto yang masih berdiri dibelakang punggung Lala, memandang bingung gadis yang telah merebut hati nya, Anto berjalan menghampiri Lala dan menanyakan kenapa dia tidak masuk ke dalam rumah.
"Ehm mas Anto kembali saja ke rumah, aku hanya ingin menikmati udara segar sebentar." jelas Lala dengan menelan ludah nya kasar.
"Baiklah La aku pulang dulu, jika kau merasa tidak sehat dan ingin ke dokter, minta Rania atau Wati untuk menghubungiku, supaya aku bisa membawamu ke dokter." cetus Anto seraya berjalan kembali ke rumahnya.
Nampak Elang memandang Anto dengan penuh amarah, lagi-lagi Elang ingin mencelakai Anto menggunakan kesaktian nya, tapi Lala yang mengetahui niat suami gaibnya itu, memintanya untuk menghentikan perbuatan nya.
__ADS_1
"Kangmas jangan kau celakai dia, sekarang aku tau kau lah yang membuat pohon besar tadi tumbang." seru Lala.
"Aku tidak menyukai caranya memandangmu La, kau adalah istriku dan hanya akulah yang boleh mendekatimu." sahut Elang mendengus kesal.
"Kangmas dunia kita berbeda, lupakanlah saja aku, hiduplah berbahagia dengan kedua istrimu, jagalah anak kita didiklah dia dengan baik, kita sudah tidak bisa melanjutkan semuanya." tukas Lala dengan wajah sendu.
"Tidak jangan katakan itu La, aku tau kau mengatakan ini karena Sekar mengancammu, aku sudah memperingatkan nya, supaya dia tidak mengusik hidupmu lagi." seru Elang dengan menggenggam kedua tangan Lala.
"Awalnya aku memang terganggu dengan ucapan mbakyu Sekar, tapi aku sadar dengan ucapan nya, dia mengatakan yang sebenarnya, kita memang tidak bisa bersama lagi, jadi untuk apa kita masih bertemu, kita hanya akan saling menyakiti kangmas." ujar Lala dengan wajah sendu.
Setelah itu Elang menatap sendu wajah Lala, lelaki itu mengiba seraya mengungkapkan kerinduan dan cinta nya, nampak Lala hanyut dalam duka suami gaibnya itu, keduanya saling memeluk dengan perasaan sedih, Elang tidak sanggup jauh lagi dengan Lala, sudah cukup baginya menjauhi Lala karena perbuatan konyol Bagaskara dan juga Sekar.
"Aku tau kau tidak pernah menghianatiku La, semua karena ulah adik tiriku itu, dan Sekar juga mempengaruhiku, maafkanlah aku dan kita bisa kembali seperti dulu lagi." cetus Elang dengan mengecup kening Lala.
"Semua sudah selesai kangmas, penyesalanmu tidak akan merubah segalanya, biarkanlah aku menjalani kehidupan ku di alamku, aku ingin hidup normal seperti manusia lain nya huhuhu." ucap Lala berderai air mata.
"Apa kau sudah tidak mencintaiku La, tataplah kedua mataku dan katakanlah, jika kau sudah tidak mencintaiku." tegas Elang dengan wajah sendu.
"Sudah kangmas kita tidak perlu melanjutkan pembicaraan ini, kembalilah ke alam mu sebelum ada yang menyadari keberadaanmu." jelas Lala dengan memalingkan wajahnya.
Ternyata tidak jauh dari tempat itu, ada Anto yang masih memandang Lala dibalik pohon, Anto mencemaskan kesehatan Lala, tapi dia justru melihat dengan mata kepalanya sendiri, jika Lala tengah berbicara dengan sosok yang tak kasat mata, Anto yang semakin menghawatirkan keadaan Lala, bergegas kembali ke rumahnya, dan mengatakan segalanya pada pak Jarwo dan juga mbah Karto.
*
*
__ADS_1
...Jangan lupa berikan Vote dan hadiah nya ya kak, silahkan baca novel horor terbaruku, yang berjudul Dendam Perempuan Berjubah Merah, sehat selalu ya kalian semuanya 😉...
...Bersambung....