DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Hantu di Rumah Sakit berdatangan.


__ADS_3

"Pak kau tidak akan percaya dengan apa yang baru saja aku lihat". Ucap Anto dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Sudahlah To kau tidak usah bicarakan apa yang kau lihat lebih baik kita lanjutkan perjalanan ke ruang bu Ema, karena sebentar lagi sudah subuh dan kita harus kembali ke IGD". Jelas pak Dahlan seraya membantu Anto berdiri kembali.


Lalu mereka melanjutkan perjalanan nya melewati beberapa pengunjung yang sedang menunggu di ruang tunggu, dan pak Dahlan yang merasa kelelahan meminta beristirahat sebentar di bangku ruang tunggu.


Kemudian Anto dan pak Dahlan menyenderkan bahu nya di kursi kayu tempat semua pengunjung menunggu pasien, di sela-sela ingatan nya Anto mengatakan pada pak Dahlan jika yang mereka lewati di depan kamar mayat tadi bukanlah manusia karena wujud mereka sangat menyeramkan.


Sedangkan pak Anto yang merasa perlu menjelaskan pada Anto pun akhirnya jujur, tentang security yang tadi dia ajak bicara.


"Sebenarnya aku sudah menyadari dari awal To, sewaktu kau selesai bertanya pada security di depan bangsal anak-anak tadi, kau tau tidak sewaktu aku mengucapkan istigfar itu karena aku melihat wujud menyeramkan security itu, tapi aku tidak ingin memberitahumu karena kau akan bereaksi ketakutan begini". Terang pak Anto dengan menghembuskan nafas yang panjang.


Namun tiba-tiba ada seorang bapak-bapak tua yang datang dan duduk disamping Anto, bapak tua itu nampak pucat dan bercucuran keringat membuat Anto dan pak Dahlan saling memandang karena merasa ada yang ganjal, lalu bapak tua itu terbatuk-batuk sampai suara nya nyaring dan serak sehingga Anto yang ada disamping menjadi sedikit hawatir.


"Pak bapak tidak apa-apa mari saya antar ke apotik untuk menebus obat jika batuk bapak seperti ini terus nanti tenggorokan bapak bisa luka". Tukas Anto menawarkan bantuan.


Tapi bapak tua itu tetap diam saja dan tak bergeming sama sekali bahkan suara batuknya semakin nyaring dan dari dalam mulut nya keluar darah segar berwarna merah dengan gumpalan darah yang sudah membeku, sedangkan Anto yang terlihat terkejut nampak mengkerutkan kening nya.


Kemudian bapak tua itu membalikan badan nya menatap datar ke arah Anto yang sedang duduk disamping, sementara pak Dahlan yang dapat mencerna situasi yang tidak beres berusaha menyadarkan Anto dari lamunan nya.


"To ayo cepat pergi dari sini, sepertinya kita tersesat di dimensi lain". Cetus pak Dahlan yang berusaha menarik lengan Anto untuk segera bergegas pergi dari ruang tunggu itu.


Karena Anto tidak mendengar ucapan nya, akhirnya pak Dahlan berinisiatif untuk menarik paksa tangan Anto, sampai kedua nya terjungkal di lantai.


Bruuk...


"Aduuh... sakit to pak". Seru Anto dengan mengusap kening nya yang terbentur dinding tembok.

__ADS_1


"Kau tidak lihat wajah bapak tua itu, ayo kita harus cepat pergi dari sini". Ajak pak Dahlan yang berusaha bangkit dari lantai Rumah sakit.


Akhirnya Anto menuruti ajakan pak Dahlan untuk segera pergi dari sana, karena sepertinya bapak tua tadi bukanlah manusia, dan setelah berlari cukup jauh akhirnya mereka sampai di ruang rawat inap isolasi.


Terlihat beberapa ruangan yang diisi oleh beberapa pasien didalam nya, kemudian Anto dan pak Dahlan terduduk lemas di depan ruang rawat inap, keduanya nampak berkeringat dengan baju yang sangat basah.


"Pak Dahlan kita istirahat sebentar ya, sebelum melihat kondisi bu Ema didalam, karena kaki ku ini sudah sangat lemas". Ucap Anto dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Ya sudah To kita disini saja dulu, sekalian nunggu pakaian kita kering". Tukas pak Dahlan dengan mengibas-ngibaskan kerah baju nya.


"Kita dosa apa ya pak, niat baik nganterin pak Eko ke Rumah sakit malah kita diteror seperti ini". Kata Anto dengan mengusap peluh dikening nya.


"Entahlah To, mungkin lebih baik setelah ini kita mandi bunga tujuh rupa untuk membuang sial". Terang pak Dahlan yang sedang memikirkan kejadian-kejadian aneh yang dia alami malam ini.


Nampak keduanya sedang mengatur nafasnya seperti semula didepan ruang rawat inap itu, terdengar suara burung hantu disana semakin membuat suasana menjadi menyeramkan, lalu Anto mengajak pak Dahlan untuk segera masuk ke dalam ruangan dan mencari ranjang yang ditempati bu Ema.


Pintu ruangan itu terbuka sendiri sebelum salah satu dari mereka membuka nya, lalu mereka berdua saling memandang seakan ingin memberitahu jika hal itu tidak wajar, tapi mulut mereka serasa terkunci dan tidak dapat mengeluarkan suara sama sekali.


Dengan berat hati akhirnya Anto dan pak Dahlan memasuki ruang rawat inap itu, mata mereka sibuk memandang ke semua arah seakan berjaga-jaga dari sesuatu yang bisa terjadi kapan saja.


Nampak pak Dahlan berdiri memandang sebuah kalender, disana jelas-jelas tertulis kalender tahun 1943.


Kenapa kalender ini masih dipajang di ruangan ini ya, batin pak Dahlan didalam hatinya dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


"Ada apa pak, kenapa kau berdiri disana?". Tanya Anto seraya menghampiri pak Dahlan yang sedang sibuk memperhatikan sebuah kalender.


"Lihatlah To kalender ini bukankah terlalu kuno untuk dipasang disini". Jawab pak Dahlan dengan menunjukan angka 1943 yang ada dikalender itu.

__ADS_1


Wah jangan-jangan kita terjebak didunia lain lagi, kenapa kalender sekuno itu ada disini, batin Anto didalam hatinya.


Dan disaat keduanya sibuk dengan pikiran nya masing-masing nampak seorang noni Belanda sedang berjalan anggun melintasi mereka dengan memakai baju tidur berenda dengan warna putih.


Terlihat Anto dan pak Dahlan terdiam dengan nafas nya yang berderu kencang, karena saat ini noni Belanda itu sedang berhenti didepan mereka berdua.


"Hoi inboorlingen, wat doe jij hier? maak je werk snel af (hai pribumi, apa yang kalian lakukan disini? cepat selesaikan pekerjaanmu)". Seru noni Belanda itu dengan membulatkan kedua mata nya.


Nampak Anto dan pak Dahlan menggaruk kepala nya yang tidak gatal, keduanya kebingungan mendengar perkataan noni Belanda itu.


Karena mereka berdua hanya terdiam tanpa menjawab perkataan noni Belanda itu, akhirnya noni Belanda itu terlihat marah karena perkataan nya tidak dituruti oleh Anto dan pak Dahlan, dia menatap keduanya dengan tatapan penuh amarah dan juga berkacak pinggang.


"De inboorlingen hebben geen hersens, ik meld je bij het Nederlandse leger (dasar pribumi tidak punya pikiran, aku akan melaporkan kalian ke tentara Belanda)". Pekik noni Belanda itu seraya berjalan meninggalkan keduanya di ruangan itu.


"Loh pak ini tahun berapa to, kok masih ada penjajah disini". Ucap Anto dengan mengkerutkan dahi nya.


"Aku juga bingung To, perempuan bule tadi apa ngomong pakai bahasa belanda ya kok bahasa nya tidak seperti bahasa inggris". Tukas pak Dahlan dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


"Ah pak Dahlan ini seperti tau bahasa inggris saja, tapi memang benar sih pak perempuan tadi tidak berbicara dalam bahasa inggris, tapi darimana pak Dahlan tau jika perempuan tadi berbicara bahasa belanda?". Tanya Anto dengan memandang wajah pak Dahlan yang sudah berubah sangat pucat.


"Aku aku hanya menebak saja To, kau lihat kalender itu pada tahun 1943 kan dan tiba-tiba saja muncul perempuan berbicara dengan bahasa asing, sementara di tahun 1943 negara Indonesia kan masih dijajah oleh Belanda To". Jawab pak Dahlan dengan keringat dingin yang mengucur deras dari atas kening nya.


*


*


...Bersambung....

__ADS_1


...Kak jangan tanya kenapa tahun 1943 diceritakan Belanda masih menjajah Indonesia karena itu di tulis sengaja sama Author sebagai bagian dari cerita yang akan disambung di bab berikutnya ya Terima kasih buat pembaca setia yang selalu memberi kesan dan pesan, sehat selalu ya buat kalian semua 💕...


__ADS_2