
Terlihat amarah di mata Rara ketika melihat bu Siti sedang mengintipnya dari balik jendela, kemudian bu Siti berlari masuk ke dalam rumah nya dan mengunci pintu nya karena merasa tidak aman lagi.
Sedangkan Rara yang murka karena merasa keberadaan nya terancam setelah ada orang lain yang mengetahui jika dirinya hidup kembali terlihat sangat marah.
"Aku harus melenyapkan nya bu". Seru Rara dengan membulatkan kedua mata nya.
"Jangan nduk, biar ibu saja yang akan berbicara pada bu Siti". Cetus bu Ema menahan amarah anak perempuan nya itu.
"Tapi bu, bagaimana jika dia menceritakan keberadaanku pada orang lain di desa ini". Ucap Rara dengan cemas.
"Berilah ibu kesempatan untuk menjelaskan pada bu Siti nduk, ibu hanya tidak ingin ada yang terluka". Tukas bu Ema seraya berjalan menuju rumah bu Siti.
Tok tok tok...
Terdengar suara ketukan pintu di depan rumah nya, tapi bu Siti tidak berani membuka pintu rumah nya, sampai pada akhirnya bu Siti setengah berteriak menjelaskan pada bu Siti.
"Bu tolong bukalah pintumu, aku ingin menjelaskan sesuatu padamu, jika kau tidak membuka pintumu aku tidak akan bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi padamu". Seru bu Ema setengah mengancam.
Kemudian dengan terpaksa bu Siti membuka pintu nya dan berbicara pada bu Ema, terlihat bu Siti menasehati bu Ema jika apa yang dia lakukan itu salah karena telah menghidupkan nyawa anaknya yang telah meninggal.
Tapi bu Ema tetap pada pendirian nya jika dia merasa tidak ada yang salah karena telah mengembalikan hidup anak semata wayang nya, setelah itu terjadi perdebatan di antara kedua nya yang berujung bu Siti berteriak lantang akan memberi tau warga desa jika Rara telah menjelma menjadi manusia lagi.
Nampak amarah dari kedua mata bu Ema setelah mendengar ancaman bu Siti, lalu bu Ema mendorong tubuh bu Siti hingga kepala nya membentur tembok dan pingsan seketika.
Braaks...
Tubuh bu Siti terkapar di ruang tamu rumah nya, dengan kening yang mengeluarkan darah.
Astaga apa yang aku lakukan, batin bu Ema didal hati nya.
Kemudian bu Ema kembali ke rumah nya dan membangunkan Ari yang sedang tidur di kamar nya.
"Le bangunlah tolong ibu Le". Seru bu Ema dengan mata berkaca kaca.
__ADS_1
"Ada apa bu, kenapa kau menangis seperti itu, Rara dimana Rara bu?". Tanya Ari dengan wajah cemas nya.
"Rara baik-baik saja Le, bangunlah ikut ibu ke rumah bu Siti". Jawab bu Ema dengan menarik paksa tangan Ari.
Setelah itu kedua nya berjalan menuju ke rumah bu Siti melalui pintu belakang nya, nampak Ari tercengang melihat kondisi bu Siti yang sudah tergeletak di lantai dengan kening yang mengeluarkan darah.
"Ada apa ini bu". Ucap Ari dengan mulut yang terbuka lebar.
"Sudahlah Le nanti saja aku akan menjelaskan padamu, sekarang kau harus membawa bu Siti ke rumahmu dan kita harus mengurungnya didalam gudang supaya dia tidak dapat kabur". Tukas bu Ema memerintah Ari membopong bu Siti ke rumah nya.
Dengan susah payah Ari membopong bu Siti menuju rumah nya melalui pintu belakang supaya tidak ada warga yang melihatnya, sementara bu Ema menutup pintu rumah bu Siti dan mengunci nya rapat seakan bu Siti sedang pergi dari rumah nya.
Kemudian bu Ema kembali ke rumah Ari dan menjelaskan padanya tentang perdebatan nya dengan bu Siti yang sudah mengetahui jika Rara telah hidup kembali, karena bu Siti mengancam akan memberi tau warga lain nya dengan terpaksa bu Ema mencelakai bu Siti sampai tidak sadarkan diri seperti itu.
"Lalu apa yang harus kita lakukan pada bu Siti?". Tanya Ari seraya mengusap rambut nya dengan kasar.
"Kita tahan saja bu Siti didalam gudang ini Le, jika tidak dia akan membocorkan rahasia kita pada semua warga desa ini". Cetus bu Ema dengan wajah cemas.
Sementara Rara yang mendengar perkataan ibu nya terlihat sangat marah dan ingin mencelakai bu Siti.
Kemudian Ari menarik tangan Rara yang sudah menempel di leher bu Siti.
"Sudahlah sayang, kau jangan menambah dosamu di dunia ini, biarkan aku saja yang akan mengatasi masalah ini". Cetus Ari seraya memeluk erat tubuh Rara.
Terlihat bu Ema berderai air mata menyaksikan anak dan menantu nya begitu saling mencintai, dan tanpa mereka sadari bu Siti mulai mendapatkan kesadaran nya kembali.
"Apa yang kalian lakukan padaku". Pekik bu Siti dengan memegangi kening nya yang terluka.
"Aku tidak akan melakukan apa pun padamu, jika kau menuruti ucapanku tapi kau malah mengancamku, jadi lebih baik aku menahanmu disini selamanya". Seru bu Ema menatap tajam ke arah bu Siti yang sedang meringis kesakitan.
"Ari sadarlah Le, istrimu itu sudah meninggal, kau harus mengembalikan nya ke alam keabadian". Tukas bu Siti dengan berderai air mata.
Lalu Rara mendekati bu Siti dengan tatapan mata yang menakutkan membuat bu Siti bergidik ngeri.
__ADS_1
"Kau harus tau wanita tua, aku dan suamiku saling mencintak dan tidak akan berpisah lagi". Bentak Rara dengan membulatkan kedua mata nya.
Setelah melihat tatapan mata Rara yang menakutkan, bu Siti tidak dapat mengeluarkan kata kata lagi dan dengan cepat bu Ema menyumpal mulut bu Siti dan mengikat tangan dan kaki nya didalam gudang kosong di belakang rumah Ari.
"Kau akan tetap disini sampai kau menyadari jika Rara pantas hidup kembali dan kau tidak akan mengatakan apapun pada semua warga desa". Gertak bu Ema seraya meninggalkan bu Siti didalam gudang itu dan mengunci pintu nya.
Sementara Ari yang nampak cemas dengan apa yang terjadi saat itu terlihat cemas, jika hal buruk akan terjadi padanya setelah dia bisa bersama Rara lagi.
"Tenanglah mas aku tidak akan meninggalkanmu lagi meski aku harus kembali ke alamku, aku akan tetap bersamamu". Tukas Rara dengan memeluk Ari yang sedang berdiri mematung.
"Kalian tenang saja, selama bu Siti kita kurung disana tidak akan ada yang mengetahui keberadaanmu nduk". Cetus bu Ema memeluk anak dan menantu nya.
Dan tanpa mereka sadari Anto yang berada di rumah itu sudah mengetahui keberadaan Rara, tapi dia lebih memilih diam.
Sementara di rumah simbah Parti semua keluarga nya juga sudah mendengar cerita tentang Rara yang hidup kembali dari cerita bu Siti tempo hari lalu.
Siang hari nya nampak bude Walimah mendatangi rumah bu Siti dan mengetuk pintu rumah nya beberapa kali, tapi tidak ada tanda tanda jika beliau ada di rumah nya.
Kok tumben ya bu Siti tidak ada di rumah siang begini, gumam bude Walimah pada dirinya sendiri.
Kemudian bu Ema berteriak dari jendela rumah nya, mengatakan pada bude Walimah jika tadi pagi bu Siti pergi dengan terburu buru bersama seorang lelaki entah kemana.
"Oalah bu Siti nya tidak ada di rumah to bu, pantas saja tidak ada yang menjawab panggilanku, kalau begitu saya pamit pulang saja bu". Seru bude Walimah berpamitan pada bu Ema.
Setelah itu bude Walimah melangkahkan kaki nya kembali ke rumah nya, dan memberi tau simbah Parti jika bu Siti tidak ada di rumah nya.
Terlihat simbah Parti mengernyitkan dahi nya, nampak guratan cemas di wajah tua nya.
Kemana Siti pergi tanpa berpamitan pada kita, setelah menceritakan tentang Rara yang kembali hidup setelah kematian nya, gumam simbah Parti pada dirinya sendiri.
*
*
__ADS_1
...Bersambung....