
Lala terhempas dan berguling di tengah hutan, tubuhnya terasa semakin sakit tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa.
Tubuhku sakit sekali, rasanya aku tidak sanggup berdiri sendiri, Seno... Dimana anakku kenapa dia belum menyusulku, batin Lala yang meringis kesakitan.
Sementara itu Bagaskara yang berada di alam gaib segera menyusul Lala ke alam manusia, Bagaskara benar-benar memanfaatkan situasi itu.
Aku akan menemui Lala di alam manusia dan aku bisa memilikinya seutuhnya, sedangkan kangmas Elang pasti akan sangat murka dengan anaknya sendiri karena sudah mengirim ibunya pergi, tapi sebelum pergi aku harus membuat suatu kesalahpahaman di antara Senopati dan juga romonya, batin Bagaskara seraya melesat masuk ke dalam kamar Senopati.
"Seno bangunlah, kenapa kau tergeletak disini". Ucap Bagaskara seraya menyadarkan Senopati.
"Ehm paman, aku aku tadi". Sahut Senopati terbata-bata.
"Aku tau apa yang kau lakukan, lebih baik kau jangan menceritakan ini pada romo mu, karena jika romo mu sampai tau kau yang mengirim ibunda mu pergi, dia bisa saja menghukummu dan juga menyakiti ibumu lagi, biar saja ibundamu hidup bahagia di alam nya, bukankah itu lebih baik untuknya, dan setelah kesaktianmu kembali kau bisa menemui ibundamu di alam manusia". Tukas Bagaskara dengan menyeringai.
Terlihat Senopati duduk dengan mengkerutkan keningnya, dia sedang mencerna perkataan paman nya.
Mungkin paman Bagaskara benar, jika aku tidak mengatakan apapun tentang kepergian ibunda, romo tidak akan marah padaku dan dia tidak bisa menyakiti ibuku lagi, batin Seno dengan menghembuskan nafasnya panjang.
"Tapi paman bagaimana jika romo menggunakan kekuatan nya untuk mencari dimana keberadaan ibuku, sudah pasti romo juga akan tau jika aku yang mengirim ibundaku pergi". Ucap Senopati dengan wajah cemas.
"Mungkin kau tidak tau jika romo mu tidak akan bisa menggunakan kesaktian nya untuk menyelami pikiranmu, karena kau adalah darah dagingnya sendiri, dan soal ibundamu biarkan aku yang akan membantunya, tapi kau harus berjanji padaku jika kau tidak akan memberitau siapa pun jika aku berniat untuk membantu ibundamu di alam manusia". Jelas Bagaskara menatap tajam pada Seno.
"Baiklah paman, aku berjanji asal kau dapat membantu ibundaku, dan toling sampaikan padanya jika secepatnya aku akan menemuinya". Cetus Seno dengan wajah sendu.
Setelah itu Bagaskara meninggalkan Seno seorang diri dan melesat keluar dari istana itu, dan di luar sana Bagaskara nampak membaca ajian mantra untuk membuka gerbang gaib alamnya, lalu Bagaskara melesat melewati gerbang gaib itu.
Wuuuush....
Kedatangan Bagaskara disertai dengan angin kencang yang membuat mata Lala perih karena debu yang memasuki matanya.
Lala mengusap kedua matanya dengan lembut dan setelah itu dia nampak terkejur karena ada sepasang kaki yang sedang berdiri dihadapan nya.
__ADS_1
Denyut jantung Lala berdegup kencang, Lala sangat takut jika pemilik sepasang kaki itu adalah Elang, dengan nafas yang tersengal-sengal Lala mendongakan kepalanya ke atas dan menatap orang itu dengan penuh curiga.
"Kau... Siapa kau sebenarnya, sepertinya kita sudah pernah bertemu". Seru Lala dengan membulatkan kedua matanya.
"Apakah kau lupa padaku, waktu itu aku sudah pernah menolongmu". Sahut laki-laki tampan dengan badan yang wangi dan tegap.
Aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku La, kau akan mengingat setiap sentuhanku, bukankah kau sangat menyukainya, batin Bagaskara yang sedang menyamar menjadi laki-laki tampan yang pernah Lala temui sebelumnya.
"Ah maafkan aku mas, aku terlambat mengenalimu, tapi kenapa kau ada disini, bukan kah itu sejenis mereka". Tukas Lala dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Hahaha... Aku masih mempunyai darah manusia jadi aku ini setengah manusia, kau tidak perlu takut padaku, perkenalkan namaku Satria". Ucapnya seraya menjabat tangan Lala.
"Aku Lala mas". Cetus Lala dengan senyum manisnya.
"Kenapa kau duduk ditempat seperti ini La, mari aku akan membantumu pergi dari sini". Jelas Satria seraya berjongkok dihadapan Lala.
"Tidak perlu mas, sebenarnya aku sedang menunggu anakku, dia sepertimu setengah manusia dan aku sangat mencemaskan nya, karena anakku berkata dia akan segera menyusulku". Jelas Lala dengan mata berkaca-kaca.
"Tolong bawa saja aku kembali ke alam gaib, aku tidak ingin meninggalkan anakku seorang diri disana, pasti dia akan sangat sedih tanpa ada aku di dekatnya". Tukas Lala menyatukan kedua tangan nya dihadapan Satria.
"Maafkan aku La, tapi aku sudah berjanji pada Seno untuk menjagamu selagi dia mengumpulkan kesaktian nya kembali, dan satu lagi pesan anakmu, kalau kau tidak boleh kembali ke rumah orang tuamu, karena pasti suamimu akan datang kesana, dengan begitu usaha anakmu Seno akan sia-sia saja". Tegas Satria memandang Lala penuh arti.
"Bagaimana kau tau semuanya, dan aku harus kemana, aku tidak mungkin kembali ke rumah orang tuaku, tapi aku tidak tau harus kemana". Seru Lala berderai air mata.
"Senopati sudah menceritakan segalanya padaku, jika kau mau ikutlah bersamaku ke rumah peninggalan ibuku yang sudah tiada, kau bisa tinggal disana sementara waktu". Ucap Satria seraya menyentuh wajah cantik Lala.
Nampak Lala menepis tangan Satria dan memalingkan wajahnya.
"Maaf aku hanya terkejut melihat wajahmu yang penuh luka, ikutlah bersamaku aku akan mengobati lukamu". Ajak Satria tersenyum ramah.
"Tapi aku tidak bisa bangun dan berdiri, seluruh tubuhku terasa sangat sakit". Jelas Lala dengan menundukan kepalanya.
__ADS_1
"Baiklah aku akan membopongmu, rumahku tidak jauh dari sini, dan kau akan aman disana karena suami gaibmu tidak akan bisa menemukanmu disana". Tukas Satria seraya berjalan menyusuri jalanan di hutan itu.
Lala menghirup aroma tubuh Satria yang mengingatkan nya dengan mimpi indahnya tempo hari, disaat dia sedang tertidur ada seseorang dengan aroma tubuh yang wangi nya sama dengan Satria, didalam mimpinya laki-laki itu telah menjamah tubuhnya.
Apakah benar itu hanya mimpi, tapi kenapa aku merasakan setiap sentuhan laki-laki yang tidak dapat ku lihat wajahnya itu, batin Lala didalam hatinya.
Cekleeek...
Satria membuka pintu rumahnya yang sederhana, rumah itu ada di sisi selatan tepi hutan.
"Apakah kau tinggal disini seorang diri mas?". Tanya Lala dengan mengkerutkan keningnya.
"Aku jarang berada disini, setiap sore hari aku akan kembali ke alam gaib karena ada sesuatu yang harus aku kerjakan disana, kau tidak takut kan sendirian di rumah ini". Jawab Satria dengan pertanyaan.
"Tapi jika aku sendirian disini, bagaimana aku bisa mencari makan". Tukas Lala dengan menundukan kepalanya.
"Hahaha... Kau tenang saja, aku akan menyiapkan semua kebutuhanmu sebelum aku pergi, mendekatlah aku akan mengobati lukamu". Pinta Satria seraya mengobati luka di kaki dan tangan Lala karena benturan di hutan tadi.
"Maafkan aku mas, karena aku sudah merepotkanmu". Seru Lala yang meringis kesakitan karena luka nya terasa perih.
"Aku tidak keberatan direpotkan perempuan cantik sepertimu, ngomong-ngomong suami macam apa yang tega menyakiti istrinya seperti ini, jika kau adalah istriku pasti aku akan menjagamu dengan baik". Ucap Satria dengan seringai diwajahnya.
"Sebenarnya suamiku sangat baik, tapi dia sudah salah paham padaku, dan dia tidak bisa mengendalikan emosinya saat itu". Cetus Lala dengan wajah sendu.
Kurang ajar, kenapa dia masih memikirkan suaminya itu, lihat saja tidak lama lagi kau akan melupakan nya, dan hanya akan ada aku dipikiranmu, batin Satria dengan mengaitkan kedua alis matanya.
*
*
...Bersambung....
__ADS_1