
Keesokan hari nya bu Ani bergegas pergi ke gubuk mbah Sapto untuk mengambil syarat yang akan diberikan oleh mbah Sapto.
Pagi itu bu Ani pergi seorang diri ke kediaman mbah Sapto karena Harto harus mengurus sawah di pagi hari, sesampainya dia di gubuk tua mbah Sapto ternyata mbah Sapto sudah berada diluar.
"Kau pagi sekali nduk datang ketempatku? ". Tanya mbah Sapto yang sedang memberi makan sapi nya.
"Saya sudah tidak sabar ingin membalaskan dendam pada mereka mbah". Jawab bu Ani dengan tatapan tajam nya.
"Tunggu disini sebentar akan ku ambilkan syarat yang harus kau bawa". Ucap mbah Sapto seraya berjalan masuk kedalam gubuk nya.
Tidak berselang lama mbah sapto keluar membawa bungkusan plastik dan juga kain kafan yang sudah tidak bersih lagi.
"Ini nduk bawalah didalam sana ada boneka yang harus kau beri nama calon korban mu kemudian bungkus lah menggunakan kain kafan itu tusuk tusuk lah boneka itu di bagian mana saja kau mau dengan membacakan mantra yang sudah aku tuliskan dikain kafan itu kemudian kau tebarkanlah tanah yang ada didalam plastik hitam itu kedepan halaman rumah orang yang akan kau kirimkan santet itu, dan tunggu saja santet nya akan segera berpengaruh pada calon korbanmu". Ujar mbah Sapto dengan menyerahkan bungkusan itu pada bu Ani.
"Terima kasih mbah sudah menolongku". Tukas bu Ani seraya memberikan sebuah amplop putih berisi beberapa lembar uang berwarna merah.
Kemudian bu Ani segera pulang ke rumah orang tua nya, menunggu Harto adiknya pulang dari sawah dan meminta untuk mengantar nya kembali ke desa Rawa belatung.
*
*
__ADS_1
Setelah itu Harto mengendarai motornya menuju ke rumah mbakyu nya itu melewati hutan angker dipedalaman desa nya.
Hampir dua jam perjalanan akhirnya mereka sampai di Desa Rawa belatung, dengan cepat bu Ani masuk kedalam rumah nya tanpa mempersilahkan adiknya untuk masuk kedalam rumah.
Bu Ani masuk kedalam kamar menyalakan dupa dan membacakan mantra mantra yang tertulis dikain kafan yang terlihat lusuh itu, ditulisnya nama bu Jamilah di boneka yang akan digunakan sebagai perantara santet, setelah membungkus boneka santet menggunakan kain kafan bu Ani terlihat seperti orang kesetanan menusuk nusuk tiap bagian yang ada dibadan boneka itu, kemudian bu Ani meminta Harto menaburkan tanah yang sudah dimantrai mbah Sapto ke depan halaman rumah bu Jamilah.
Harto sempat menolak perintah mbakyu nya itu, tapi dia tidak tega melihat mbakyu nya menangis terisak meminta bantuan nya.
Dengan sangat terpaksa Harto berjalan perlahan menuju rumah bu Jamilah dan kebetulan siang itu kediaman bu Jamilah sedang sepi sehingga Harto bisa dengan bebas menaburkan tanah itu ke tiap sudut halaman rumah bu Jamilah.
Tapi tiba tiba pak Dahlan hansip di desa lewat menggunakan sepeda kayuh nya dan menyapa Harto yang sedang celingak celinguk melihat keadaan sekitar.
"Eh Harto apa kabar? ". Sapa pak Dahlan dengan seringai kecil di wajah nya.
"Kamu ngapain disini Har? ". Tanya pak Dahlan yang masih duduk di atas sepeda kayuh nya.
"Ehm aku sedang mencari ayam mbakyu ku yang kabur dari kandang karena aku akan membawanya pulang ke desa ku". Jawab Harto membohongi pak Dahlan.
"Wah bisa lama jika kau mencari seorang diri, mari ku bantu Har". Ucap pak Dahlan menawarkan bantuan.
"Tidak perlu kang nanti merepotkanmu saja". Ujar Harto yang panik.
__ADS_1
"Kau yakin Har tidak mau aku bantu? ". Pak Dahlan meyakinkan Harto.
"Tidak apa kang sebentar lagi juga ketemu, kau pergi saja jika ada kerjaan". Tukas Harto dengan seringai kecil di wajah nya.
Kemudian pak Dahlan mengayuh sepeda nya menjauh dari Harto yang masih berdiri kaku di depan halaman rumah bu Jamilah.
Setelah menyelesaikan perintah dari mbakyu nya, Harto berjalan gontai dengan penuh perasaan bersalah menuju ke rumah mbakyu nya itu.
"Apa kau sudah menebarkan tanah itu Har?". Tanya bu Ani dengan cemas.
"Sudah mbak kebetulan di rumah itu sedang sepi, tapi tadi kang Dahlan sempat memergoki ku sedang berada di halaman rumah bu Jamilah dan aku terpaksa berbohong padanya". Jawab Harto dengan mengernyitkan dahi nya.
"Terima kasih Har, sudah membantu mbakyu mu ini". Ucap bu Ani dengan mata berkaca kaca.
*
*
Di malam hari nya bu Jamilah yang sedang tidur didalam kamar nya berteriak kesakitan dengan meraung raung seperti orang kerasukan membuat seisi rumah nya panik dan ketakutan melihat kondisi ibu mereka tidak seperti biasa nya.
*
__ADS_1
*
Bersambung.