DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Perjalanan sepiritual mbah Karto.


__ADS_3

Nampak mbah Karto memejamkan kedua mata nya dengan membaca rapalan mantra, ilmu batin mbah Karto hanya bisa melihat sampai batas desa Rawa belatung karena ternyata ketiga hantu itu pergi meninggalkan desa entah kemana.


"Nduk kau tenang dulu ya, sepertinya ketiga hantu itu sudah pergi meninggalkan desa ini, nanti mbah Karto akan mencari tau lagi kemana perginya Petter dan orang tua nya, tapi yang terpenting saat ini adalah keselamatan Lala, kau sampaikan saja pada pak Jarwo jika aku harus mencari tau siapa dalang dibalik masalah yang terjadi pada Lala, bilang saja dua hari lagi aku akan ke desa Randu garut". Jelas mbah Karto dengan mengkerutkan keningnya.


"Baiklah mbah kami pamit pulang dulu". Ucap Rania dan Wati seraya mengecup punggung tangan mbah Karto.


*


*


Sedangkan di desa Randu garut nampak pak Jarwo sudah lebih membaik, dia sudah bisa bangun dari tempat tidurnya tapi tetap saja ilmu batin pak Jarwo belum kembali sepenuhnya, karena kondisi fisiknya yang masih lemah sehingga kekuatan nya pun ikut melemah.


Terlihat pak Jarwo memandang sendu Lala yang kini sudah berbadan dua, hanya dalam hitungan minggu perut Lala sudah membesar seusia kandungan sembilan bulan, sedangkan mbah Sumi yang mengetahui jika Lala sudah mengandung justru semakin jatuh sakit kondisinya semakin melemah setiap harinya, nampak orang tua itu tidak dapat menahan kepiluan hatinya karena memikirkan nasib anak perempuan nya yang tengah mengandung anak buto ireng.


"Sudah bu jangan terlalu dipikirkan, kita yang ikhlas saja mungkin ini sudah takdirnya Lala". Tukas suami mbah Sumi.


"Aku dosa apa to pak, sehingga nasib buruk ini menimpa anakku hu hu hu". Ujar mbah Sumi terisak di atas tempat tidurnya.


Gubraaak...


Terdengar suara sesuatu yang terjatub sangat keras, membuat mbah Sumi dan juga suaminya terkejut.


"Suara apa itu pak coba kau lihat". Seru mbah Sumi dengan mengaitkan kedua alis matanya.


Ternyata Lala yang sedang di kamar mandi jatuh terpeleset dan membuat perutnya terasa sakit, nampak Lala berteriak kesakitan membuat seisi rumahnya panik dan bergegas mendatangi Lala yang masih berada di dalam kamar mandi.


"Nduk adikmu Lala dimana, tadi bapak memdengar dia berteriak". Seru mbah Abdul panik.


"Tadi Lala ke kamar mandi pak". Tukas Kasmi dengan mengaitkan kedua alis matanya.

__ADS_1


"Jangan-jangan Lala kenapa-kenapa dek". Celetuk pak Jarwo seraya berlari ke arah kamar mandi.


Sesampainya mereka di depan kamar mandi terlihat oleh mereka, jika Lala sedang jatuh tersungkur dengan darah yang membasahi kedua kaki nya.


"Astagfirullah nduk". Pekik Kasmi dengan membulatkan kedua matanya.


Nampak pak Jarwo dan mbah Abdul bergegas membopong Lala ke kamarnya, mereka semua panik karena Lala mengalami pendarahan.


"Bagaimana ini mas, kasihan Lala". Ucap Kasmi dengan wajah cemas.


"Entahlah dek kondisiku belum memungkinkan untuk membantu, mbah Karto juga tidak mungkin datang sekarang". Sahut pam Jarwo gelisah.


Setelah itu mbah Abdul memutuskan untuk pergi ke pondokan mbah Wongso dan meminta tolong pada Bima, karena mereka semua tidak tau mau minta tolong kemana lagi, terlebih kondisi Lala yang sedang mengandung anak dari makhluk gaib sangat ditutup rapat dari warga desa lain nya.


Sedangkan di pondokan mbah Wongso nampak buto ireng datang menemui Bima dan memerintahkan nya ke rumah mbah Sumi untuk menolong Lala, buto ireng itu tau jika Lala mengalami pendarahan setelah terpeleset di kamar mandi.


Nampak Bima berjalan tergesa-gesa keluar dari area hutan tempatnya tinggal, tapi di tengah perjalanan Bima bertemu dengan bapak Lala yang sedang ingin meminta tolong padanya.


"Iya pak saya sudah tau apa yang terjadi, mari kita ke rumah bapak, saya takut jika kita terlambat menolongnya bisa-bisa ibu dan calon bayi nya kenapa-kenapa". Seru Bima seraya berjalan tergesa-gesa.


Dan sesampainya mereka di rumah itu, nampak Bima sangat terkejut melihat pendarahan yang Lala alami, lalu Bima meminta Kasmi untuk membantu membersihkan darah dari badan Lala.


Lalu Bima membacakan rapalan mantra jawa dengan memegang perut Lala yang sudah berkedut sangat kencang.


Niat ingsun amatek ajiku tameng wojo, klambine wesi kuning sakilan sageblok kande’le, ototku kawat balungku wesi, kulitku tembogo, dagingku wojo, kep karekep barukut, kinemulan wojo inten mekangkang sekilan sadempu sakehing brojo datan nedasi, mimis bedil ngumluk kadi kapuk tan tumomo ing badane Lala.


Ternyata Bima sedang membacakan mantra untuk menenangkan calon bayi yang ada didalam perut Lala, karena bayi itu akan segera lahir di malam bulan purnama sesuai keinginan buto ireng sebagai calon bapaknya.


Karena pendarahan yang di alami Lala sudah berhenti, Bima mengatakan pada semua keluarganya jika Lala akan segera melahirkan dan setelahnya bayi itu akan diambil oleh buto ireng sebagai bapaknya, karena bayi yang sedang didalam kandungan Lala bukanlah bayi manusia melainkan keturanan buto, sehingga buto ireng itu akan membawa bayi Lala ke alamnya.

__ADS_1


Nampak wajah Kasmi dan bapaknya sangat cemas, mereka takut jika Lala akan dibawa juga, sedangkan pak Jarwo yang mendengar penjelasan Bima hanya terdiam dengan mendongakan kepalanya ke atas.


Maafkan aku ya Lala, karena kondisiku yang melemah saat ini aku tidak dapat melakukan apapun untuk menolongmu, tapi aku berjanji tidak akan membiarkan buto itu membawamu, mungkin dia bisa membawa bayimu karena dia sejenis dengan bapaknya, tapi kau... Batin pak Jarwo didalam hatinya tidak sanggup berkata-kata lagi.


Terlihat kedua mata pak Jafwo berkaca-kaca dia nampak mengutuk dirinya sendiri yang tidak bisa membantu adik iparnya.


"Sudah kangmas jangan menyalahkan dirimu seperti ini, mungkin sudah takdirnya Lala mas, lagipula kau sedang tidak sehat jadi wajar saja kau tidak memiliki kemampuan untuk membantu Lala". Ucap Kasmi berderai air mata seraya memeluk suaminya yang tertunduk penuh sesal.


"Tapi dek seharusnya aku bisa melakukan sesuatu untuk menolong Lala, tapi aku malah jatuh sakit dan menyusahkanmu juga". Tukas pak Jarwo dengan wajah sendu nya.


Kemudian Kasmi pun menangkan suaminya yang merasa bersalah itu, dia meminta suaminya untuk beristirahat lagi supaya dia lekas sembuh dan mendapatkan kekuatan nya kembali.


Sementara itu mbah Karto yang berada di dalam kamar khususnya sedang melakukan ritual, jiwa mbah Karto sedang pergi ke suatu tempat dimana kejadian Lala dinodai oleh buto ireng itu.


Buto ini meminjam raga manusia, sehingga aku tidak dapat melihat siapa pemilik raga yang dipinjamnya, batin mbah Karto penuh tanya.


Lalu jiwa mbah Karto melanjutkan perjalanan sepiritualnya menuju ke gerbang gaib tempat tinggal buto ireng itu, sesampainya disana mbah Karto menjelaskan maksud dan tujuan nya yang ingin tau siapa manusia yang telah mempersembahkan Lala sebagai tumbalnya.


"Siapa kau berani ikut campur dengan urusanku". Pekik buto ireng itu menatap tajam pada jiwa tua mbah Karto.


"Maafkan aku Ki, aku tidak bermaksud ikut campur tapi gadis yang dijadikan tumbal itu adalah cucuku". Cetus mbah Karto dengan mengkerutkan keningnya.


"Aku tidak ada urusan denganmu, aku hanya menerima tumbal yang sudah disiapkan untukku, pergilah jika kau sudah selesai bertanya padaku". Ucap buto ireng itu dengan suara beratnya.


"Tolong Ki beritau aku siapa yang telah menjadikan cucuku sebagai tumbal untukmu?". Tanya mbah Karto memohon jawaban dari makhluk gaib yang ada didepan nya.


*


*

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2