
Hari berganti malam terlihat beberapa warga datang untuk melakukan pengajian di rumah Ari, samar samar ada sekelebatan bayangan berwarna putih di atas pohon besar didepan rumah Ari.
Petter yang di utus mbah Karto mengawasi rumah bu Ani dan juga rumah almarhum bu Jamilah terbelalak melihat penampakan kuntilanak yang berada di atas pohon sana ternyata adalah bu Jamilah yang sekarang menjadi arwah yang penasaran.
Saat petter akan menyusul kuntilanak itu ternyata dia terbang menghilang entah kemana, nampak Petter kebingungan mencari arwah penasaran bu Jamilah.
Dia menggaruk kepala nya yang tidak gatal, menatap ke segala penjuru arah tapi mustahil bagi nya menemukan kuntilanak itu.
Sementara di rumah bu Ani, nampak pak Slamet yang seorang diri disana, karena istri nya sedang menemani Harto ke Apotik untuk membeli obat obatan.
Hihihi....
Terdengar suara tawa cekikikan kuntilanak yang membuat bulu kuduk pak Slamet meremang, dia memegangi tengkuknya yang merinding mendengar tawa khas hantu perempuan itu.
Kemudian kuntilanak itu masuk kedalam rumah pak Slamet dan menakutinya, saat pak Slamet berusaha meraba jimat yang dia pake di kalung nya ternyata kalung itu tidak ada di leher nya.
Baru dia teringat mungkin kalung itu terjatuh saat dia tersandung meja tempo hari.
Whuuutt...
Kuntilanak itu menghempaskan tubuh pak Slamet hingga membentur tembok yang ada disebelah nya.
Braakk...
Tubuh pak Slamet membentur tembok sehingga kening nya mengeluarkan darah saat dia berusaha kabur, lalu kaki pak Slamet menabrak meja di ruang tamu nya membuat dia jatuh tersungkur di lantai.
Tanpa pak Slamet sadari air putih yang ada di atas meja itu tumpah dan membasahi sebagian lantai yang ada kabel listrik sobek dibawah sana, seketika kabel listrik itu konslet dan menyetrum tubuh pak Slamet sampai sebagian tubuh nya gosong dan setelah itu tegangan listrik di rumah nya turun membuat keadaan rumah itu menjadi gelap gulita.
Terlihat arwah penasaran bu Jamilah tertawa puas melihat satu musuh nya telah menghembuskan nafas terakhir nya, kuntilanak itu terbang menembus tembok rumah bu Ani dan menghilang di tengah kegelapan malam.
*
*
Beberapa menit kemudian bu Ani dan juga Harto sudah sampai di rumah mereka terkejut melihat keadaan rumah nya yang gelap gulita sementara listrik di rumah tetangga sebelah nampak menyala.
"Lho Har kok aneh to rumahku listrik nya padam tapi yang lain nya nyala". Seru bu Ani dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
"Entahlah mbak coba tak cek dulu saklar listrik nya siapa tau anjlok". Ucap Harto seraya berjalan mendekati kotak listrik yang ada didepan rumah mbakyu nya.
__ADS_1
Cetet...
"Sudah hidup to mbak ternyata saklar listriknya turun makanya mati semua". Tukas Harto memandang wajah bu Ani.
Kemudian bu Ani berjalan terlebih dulu membuka pintu rumah nya.
Cekleek...
Saat pintu rumah nya terbuka lebar bu Ani terperanjat melihat tubuh suami nya tergeletak dibawah lantai dengan kondisi yang setengah badan nya gosong sampai mengelupas kulit nya.
"Aaa bapaaak hu hu hu". Pekik bu Ani menangis histeris menatap tubuh suaminya yang sudah tidak bernyawa.
Setelah itu Harto berlari kedalam rumah menghampiri mbakyu nya yang sudah berdiri lemas dan menangis histeris didepan pintu rumah nya.
"Ada apa to mbakyu?". Ucap Harto dengan wajah yang cemas.
"Hu hu hu mas Slamet Har dia meninggal". Seru bu Ani dengan mengarahkan jari telunjuknya ke arah pak Slamet yang sedang terbaring tidak bernyawa dibawah lantai ruang tamu nya.
Seketika Harto terkejut mata nya membulat menatap tubuh gosong pak Slamet, Harto tidak menyangka dengan apa yang terjadi saat itu, dia tertegun untuk beberapa saat.
Hua hua hua...
Tangisan mbakyu nya itu menyadarkan nya dari lamunan nya, dia mencoba mematikan listrik yang menempel di badan pak Slamet.
"Tapi mbakyu, mas Slamet sudah meninggal dunia". Tukas Harto memberitahu mbakyu nya yang masih menangis histeris itu.
"Tiidaaaak". Pekik bu Ani yang tidak terima dengan kematian suami nya.
Tetangga sebelah rumah nya yang mendengar suara gaduh dari dalam rumah bu Ani, berdatangan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Terlihat semua orang terkejut melihat kondisi pak Slamet yang tergeletak di lantai dengan badan yang setengah gosong itu.
Beberapa ibu ibu menenangkan bu Ani yang masih menangisi kematian suami nya itu.
"Sudah bu yang sabar, ini musibah dari Tuhan". Seru bu Siti memeluk bu Ani yang sudah hampir pingsan.
Sementara Harto dan beberapa warga memindahkan jenazah pak Slamet ke bangku panjang yang ada di ruang tamu nya.
Mereka semua tidak menyangka pak Slamet meninggal dengan cara seperti itu.
__ADS_1
Sedangkan orang orang yang selesai melakukan pengajian di rumah Ari kembali ke rumah nya masing masing, tapi disaat mereka melewati rumah bu Ani yang sudah ramai orang mereka menghampiri keramaian itu.
Terlihat pak haji Faruk yang mendahului rombongan pengajian itu untuk masuk kedalam rumah bu Ani.
"Assalamuallaikum". Seru pak haji Faruk mengucapkan salam.
"Waalaikumsallam, pak haji". Ucap Harto seraya mencium punggung tangan pak haji Faruk.
Kemudian Harto menceritakan kejadian yang terjadi saat itu, dia berkata jika saat mereka meninggalkan rumah pak Slamet sedang bersantai di ruang tamu nya sendirian, tapi saat mereka kembali beliau sudah gosong kesetrum listrik yang konslet.
Nampak pak haji terkejut saat menatap kondisi jenazah pak Slamet yang setengah gosong dan kulitnya mengelupas.
"Bapak bapak mari kita segera urus jenazah pak Slamet". Ucap pak haji meminta bantuan beberapa warga disana.
Terlihat semua orang menatap dengan penuh rasa ngeri melihat kondisi jenazah pak Slamet.
"Duh pak aku kok merinding ya melihat jenazah itu". Cetus pak Rudi berbicara pada pada pak Dahlan yang berada disebelahnya.
"Sama pak saya juga merinding". Tukas pak Dahlan dengan meraba belakang kepala nya.
"Kenapa akhir akhir ini banyak warga desa yang meninggal secara mendadak ya?". Tanya pak Rudi dengan mengernyitkan dahi nya.
"Entahlah pak mungkin memang sudah waktu nya saja". Jawab pak Dahlan dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
Setelah itu semua warga membantu Harto mengurusi jenazah pak Slamet yang harus di mandikan malam itu juga, karena besok pagi mereka akan segera menguburkan jenazah nya.
Sedangkan Harto yang mendampingi mbakyu nya terlihat sangat cemas memikirkan kronologi kematian suami mbakyu nya itu.
Jangan jangan kematian mas Slamet ada hubungan nya dengan hantu bu Jamilah yang menjadi kuntilanak itu, batin Harto didalam hati nya.
Tiba tiba pak haji Faruk datang menepuk pundak Harto, dan membuyarkan lamunan nya.
"Ada apa pak haji?". Tanya Harto mendongakan kepala nya ke atas.
"Cepatlah pergi membeli kain kafan dan juga bunga tujuh rupa, karena persedian di tokoku kain kafan nya sudah habis". Jawab pak haji Faruk dengan mengernyitkan dahi nya.
Setelah itu Harto bersama pak Dahlan bergegas pergi ke kota untuk membeli kain kafan dan juga kebutuhan yang lain nya.
*
__ADS_1
*
...Bersambung....