
Saat itu sore hari sebelum Layla akhirnya sampai kembali di Yerusalem. Kamel mengantarnya sampai di ujung Jalan Nablus, dengan anggukan kepalanya yang tak beraturan. Kamel sendiri kembali melanjutkan perjalanannya, menghilang di seputar sudut yang mengarah ke jalan Sultan Sulaiman. Saat itu mulai gerimis, percikan air dingin dan lembut menerpa dari atas seperti kerudung yang menggelembung, menerpa rambut dan jaketnya, membasahi atap rumah dan teras tanpa suara. Potongan langit biru terlihat jelas di atas Gunung Scopus jauh di timur, di atas kepalanya langit berwarna abu-abu dan pekat, menekan kota seperti pe nutup tempat sampah baja yang sangat besar.
Layla membeli setengah lusin roti yang masih hangat di kedai tepi jalan dan menaiki bukit, melewati pintu masuk ke Pemakaman Garden, hotel Yerusalem, dan barisan orang-orang Palestina bertampang aneh yang sedang mengantre untuk memperbarui izin tinggal mereka di luar pagar metal abu-abu di kantor Kementrian Dalam Negeri Israel. Akhirnya ia sampai di depan pintu sempit antara toko roti dan toko grosir, berseberangan de ngan areal tertutup berdinding tinggi ecole Biblique. Seorang tua dengan setelan abu-abu dekil dan keffiyeh sedang duduk di bagian dalam, bersandar pada tongkatnya, mengamati air hujan.
“Assalamualaikum, fathi,” katanya. Si Pak tua menengok, menyipitkan mata dan mengangkat tangannya yang rematik untuk membalas salam.
“Kami mengkhawatirkanmu.” Ia terbatuk. “Kami berpikir mungkin kau sedang ditahan.” Layla tertawa. “Israel tak akan berani. Bagaimana Ataf?”
Pak tua itu mengangkat bahunya. Jari-jarinyanya yang keriput mengetuk-ngetuk gagang tongkat.
“Biasa-biasa saja. Punggungnya sakit hari ini, jadi dia istirahat di tempat tidur. Kau mau teh panas?” Layla menggelengkan kepala.
“Aku ingin segera mandi. Ada banyak tugas yang harus kukerjakan. Lain waktu saja. Sampaikan pada Ataf untuk memberitahuku bila ia ingin berbelanja.” Layla melangkah melewati pak tua dan melintasi aula utama, menaiki dua anak tangga ke atas menuju kamarnya yang menempati bagian atas rumah tersebut. Tempat ini begitu sederhana, berlangit-langit tinggi dan sejuk dengan dua kamar tidur yang salah satunya berperan ganda sebagai ruang kerja, serta ruang tamu yang luas. Di belakang ada dapur dan kamar mandi, tangga sempit dari beton menuju atap dengan pemandangan di bawah ke Gerbang Damaskus dan kumpulan papan main dam dari Kota Tua.
Ia telah tinggal di sana selama hampir lima tahun, menyewanya dari pengusaha setempat yang orangtuanya, fathi dan Ataf, tinggal di lantai dasar dan berlaku sebagai pengawas gedung. Dengan jumlah uang yang ia dapatkan dari kerja lepas, ia dengan mudah dapat membeli sesuatu yang berkelas di wilayah Syeikh Jarrah misalnya, dengan blok apartemen dan rumah-rumah berdinding tinggi.
Ia sudah mengambil keputusan dasar untuk tetap berada di sana di jantung kota Yerusalem Timur, di antara hiruk-pikuk, kebisingan dan sampah. Semua itu menyiratkan pesan: Aku bukan salah satu jurnalis yang mendapatkan apa yang kuinginkan dari Anda dan kemudian pensiun sebagai penjaga keamanan hilton atau koloni Amerika. Aku adalah salah satu dari Anda. orang Palestina. Itu merupakan bahasa tubuh yang kecil, tetapi perlu. Ia selalu berusaha membuktikan dirinya sendiri, mempertahankan tampilan luarnya.
Layla melemparkan barang-barang bawaannya ke sofa yang bersama meja makan kecil, TV dan beberapa kursi tangan yang dekil merupakan furniturnya di ruang keluarga. Lalu, sembari meraih botol evian dari lemari pendingin, ia masuk ke ruang kerjanya. Lampu mesin perekam pesan berkedip di telepon. Sambil
meneguk air, ia berjalan di ruang itu dan duduk di meja kerjanya, mengamati sejenak, sebagaimana biasa, foto besar ayahnya dalam bingkai di dinding atas, dalam jaket putih dokter dan stetoskopnya. Itu adalah foto ayahnya yang paling dia disukai, satu-satunya yang dia simpan setelah kematiannya. Tiba-tiba Layla merasa kerongkongannya tercekat untuk sejenak, sebelum melihat ke bawah lagi dan menekan tombol “play”. Ada sebelas pesan. Satu dari Guardian yang menagih tulisannya mengenai kaki tangan Palestina; satu dari Tom Roberts, laki-laki di konsulat Inggris yang telah mencoba dan gagal mengajaknya berkencan selama enam bulan terakhir; satu lagi dari temannya Nuha, yang bertanya apakah dia ingin bertemu nanti untuk minum bersama di hotel Yerusalem; dan satu dari Sam Rogerson, kontak Reuters, yang mengingatkannya tentang pendudukan para Pejuang David di Kota Tua, yang sudah ia dengar di Ramallah. Sisanya adalah kecamaan atau ancaman kematian. “Kau menjijikkan, cabul, pendusta.” “Nikmati hari ini Layla, karena ini akan menjadi yang terakhir bagimu”. “Kami sedang mengamati dirimu, dan suatu hari kami akan datang dan melesakkan peluru di batok kepalamu. Setelah kami memperkosamu tentunya.” “Kami akan tancapkan pisau ke dalam kemaluanmu dan mengiris-ngirisnya, kau ****** nista!” “mati kau Arab! Israel! Israel!” Dari aksennya, kebanyakan panggilan telepon adalah, seperti biasa, kalau tidak dari orang Israel, ya orang Amerika. Ia mengganti nomor teleponnya secara berkala, tetapi mereka selalu dapat
menemukan nomor baru itu dalam sehari atau lebih sejak nomor baru tersebut diaktifkan, dan panggilan telepon pun terus berdering tanpa henti. Bertahun-tahun lalu, ketika ia pertama kali melakukan perjalanan, mereka telah membuatnya marah. Ia sudah terbiasa dengan semua itu hingga mereka kini tak berpengaruh sama sekali. Ia lebih tertekan oleh editor yang mengejarnya dan meminta salinan tulisannya. hanya pada malam hari, sunyi, sendiri, gangguan itu datang, juga kengerian tentang sesuatu yang melibatkan dirinya, seperti racun memasuki aliran darahnya. malam-malam itu bisa jadi begitu menakutkan. Sungguh menakutkan.
Ia mendengarkan semua pesan dan kemudian menghapus rekam an itu sampai bersih, memasukkan telepon genggamnya kedalam alat pengisi baterai dan melakukan beberapa panggilan telepon dengan cepat. Satu ke Nuha untuk mengatur acara minum bersama sore hari, yang lain untuk mendapatkan detail tentang pendudukan rumah oleh orang Yahudi di Kota Tua. Ia telah menulis sejumlah tulisan selama beberapa tahun belakangan ini tentang Chayalei David, dan baru-baru ini telah dikomisikan oleh the New York Review untuk menghasilkan profil mendalam tentang sang pemimpin kelompok, militan, kelahiran Soviet, Baruch Har-zion. Pendudukan sekarang ini akan memberikan kesempatan baik, dan ia baru saja menimbang-nimbang apakah ia tidak perlu segera turun ke Kota Tua. Ia memutuskan bahwa beberapa jam tidak akan membuat perbedaan apa pun dan, sembari menghabiskan air minumnya, ia menuju kamar tidur lalu menanggalkan seluruh pakaiannya.
Ia mandi air panas dalam waktu yang cukup lama, menyabuni tubuh rampingnya, menyandarkan kepalanya, membiarkan air membasuh wajah dan mendesah dengan penuh kesenangan ketika kehangatan menghapus daki dan keringat dari permukaan kulitnya. Selama tiga puluh detik terakhir, ia memutar tombol ke suhu dingin, kemudian melilitkan tubuhnya dalam jubah handuk, ia kembali ke ruang kerja, duduk dan menyalakan laptop Apple-nya.
__ADS_1
Layla bekerja selama dua jam berikutnya, menyelesaikan tulisan yang sudah dia mulai tentang malnutrisi di kalangan anak-anak Palestina, dan memulai menyusun artikel kolaborasi dengan Guardian, yang kadang-kadang merujuk pada catatan yang ditulisnya tetapi kebanyakan terbangun dari ingatan. Jari-jarinya menari di antara tuts keyboard komputernya, citra dan suara di kepalanya tercurah tanpa usaha keras ke dalam jalinan kata dalam layar laptopnya.
Sebenarnya, meskipun begitu mudah dia lakukan, jurnalisme bukanlah pilihan karier pertama atau bahkan kedua. Sebagai remaja, sebelum pembunuhan terhadap ayahnya, ia telah mempersiapkan diri menjadi dokter seperti ayah, bekerja di kamp-kamp pengungsian di Gaza dan Tepi Barat. Tapi kemudian, di Universitas Beit zeit, tempat ia telah membaca sejarah kontemporer Arab, ia tergoda dengan gagasan untuk mendalami politik. Akhirnya ia memutuskan jurnalismelah yang akan memberinya kesempatan terbaik untuk membawanya mewujudkan apa yang ia canangkan sebagai misi hidupnya.
Begitu lulus, Layla mendapatkan pekerjaan di harian Palestina Al-Ayyam, tempat editornya saat itu adalah perokok berat berpunggung besar dengan nama Nizar Sulaiman, mengajaknya bergabung di bawah sayapnya, menimbulkan banyak kritik dalam prosesnya karena sejarah keluarga Layla begitu dikenal luas. Tulisan feature pertamanya, sebuah tulisan tentang kamp indoktrinasi Palestina tempat anak usia enam tahun diajarkan berbagai lagu anti-Israel dan seni pembuatan bom molotov (banyak Vaseline di sekitar putaran, itulah kuncinya, sehingga petrol yang menyala dapat melekat ke target), telah mengalami enam belas kali penulisan ulang sebelum Sulaiman dengan enggan mengizinkan untuk diterbitkan. Dengan berat hati ia berpikiran untuk menghentikan kariernya di sana. Sulaiman menolak membiarkannya pergi
“Bila kau berhenti sekarang aku akan menendangmu!” dan feature keduanya, tentang pemindahan suku asli Badui oleh Israel di Negev, telah mengalami penulisan ulang sebanyak lima kali.
Feature ketiganya tentang orang-orang Palestina yang, karena desakan ekonomi, terpaksa menerima pekerjaan membantu pembangunan perkampungan Israel, telah disindikasikan kepada tiga surat kabar berbeda dan memberi kemenangan jurnalisme yang pertama baginya. Setelah itu popularitasnya menanjak dengan mantap. Latar belakangnya yang campuran ibu dari Inggris dan ayah seorang Palestina, serta pengetahuan yang mendalam tentang dunia Palestina, belum lagi kefasihannya dalam bahasa Arab, Ibrani, Inggris, dan Prancis, memberinya permulaan yang baik pada banyak korespondensi lain. Dan ia menerima tawaran untuk menjadi staf di Guardian dan New York Times (ia menolaknya). Ia bekerja pada al-Ayyam selama empat tahun, kemudian menjadi wartawan lepas, menulis apa saja mulai dari penggunaan siksaan oleh jasa keamanan Israel sampai proyek menumbuhkan bayam di Lower Galilee, memperoleh reputasi bergantung dari arah mana kau melihatnya—untuk kampanye jurnalisme atau bias anti-Israel yang menutup mata.
Urusan bias adalah salah satu dari sejumlah kritik dan banyak sekali yang terus-menerus ditujukan kepadanya; bahwa ia hanya menceritakan dari satu sisi saja; menyuarakan penderitaan Palestina tetapi mengabaikan hal sama yang terjadi pada masyarakat sipil Israel; melaporkan kengerian yang berlangsung di kamp pengungsian tetapi tidak pernah melaporkan orang-orang tak bersalah yang tereduksi menjadi daging cincang oleh bom mobil dan bom bunuh diri. Sungguh-sungguh tidak adil. Setelah bertahun-tahun, ia berhasil menyelesaikan banyak artikel tentang masyarakat sipil Israel yang menjadi korban, belum termasuk korupsi dan pelanggaran hAm dalam otoritas Palestina. Namun, kenyataannya, ini bukan konflik yang dapat kau laporkan secara objektif. Betapapun kuat usahamu agar dapat seimbang, pada akhirnya kau tidak akan dapat bertahan kecuali dengan berpihak.
Dan intinya, dengan latar belakang yang ia miliki, dia tidak bisa dipandang memberikan hal yang tak diinginkan terhadap sensibilitas Israel.
Layla menghasilkan sekitar seribu kata dalam tulisannya mengenai kaki-tangan, kemudian mengirimkan artikel tentang malnutrisi ke kantor al-Ahram di Kairo melalui e-mail dan mematikan laptopnya. Ia tidak cukup tidur selama beberapa hari terakhir dan sekarang kelopak matanya terasa berat. Tahun-tahun pelaporan, dengan jam kerja yang tidak teramalkan dan tenggat waktu yang ketat telah membawanya pada kelelahan. Namun begitu, dia tetap ingin turun ke Kota Tua untuk mencari tahu tentang pendudukan.
Fathi, si pengurus rumah baru saja tiba di anak tangga teratas dengan terengah-engah. Satu tangannya memegang tongkat, yang lain memegang amplop.
“Ini tiba untukmu pagi ini,” katanya. “Aku lupa mengatakannya padamu lebih awal. maaf.” Ia mengulurkan sebuah amplop. Tidak ada cap pos atau alamat, hanya namanya yang tertulis dengan tinta merah darah,
dengan huruf-huruf yang ditekan dan teratur, seperti barisan serdadu yang berdiri siap siaga.
“Siapa yang mengantar?” tanyanya.
“Anak-anak,” jawab si orang tua, berbalik dan mulai menuruni tangga lagi. “Tak pernah melihat dia sebelumnya. Dia tahu-tahu datang, bertanya apakah kau tinggal di sini lalu memberikan ini
padaku, kemudian pergi.”
__ADS_1
“orang Palestina?”
“Tentu saja orang Palestina. Sejak kapan anak-anak Yahudi bermain-main di bagian kota ini?” Ia mengibaskan tangannya seolah berkata “pertanyaan aneh” dan menghilang di sudut jalan.
Layla membalik amplop itu, menelitinya, merasakan apakah ada kawat atau isi yang potensial mengancam. merasa aman, ia membawanya ke apartemen, meletakkannya di meja, dengan hati-hati membukanya, menarik keluar dua lembar kertas yang disatukan dengan stapler. Bagian atasnya adalah surat pengantar dalam tulisan gotik seperti yang tertera pada amplop, yang lain adalah salinan berukuran A4 tentang sesuatu seperti dokumen lama. Ia melihatnya sekilas pada yang kedua, dan memusatkan perhatian pada catatan yang ada, yang ditulis dalam bahasa Inggris.
Nona Al-Madani,
Saya sudah begitu lama mengagumi tulisan jurnalisme Anda, dan hendak mengajukan sebuah tawaran pada Anda. Beberapa waktu lalu Anda mewawancarai pemimpin yang dikenal sebagai al-mulatham. Saya memiliki informasi yang tak ternilai harganya bagi laki-laki ini dalam perjuangannya melawan zionis penindas; dan berkeinginan mengontaknya. Saya yakin Anda akan dapat membantu saya. Sebagai imbalannya, saya dapat menawarkan hal yang, saya yakin, akan menjadi laporan ekslusif terbesar dalam karier Anda yang sudah cemerlang.
Dengan situasi yang genting, Anda akan menghargai keinginan saya untuk terus bergerak dengan penuh kehati-hatian dalam hal ini. Sampai pada titik ini, saya tidak akan mengungkapkan lebih banyak lagi.
Mohon tawaran saya dipertimbangkan, dan bila mungkin, sampaikan ini pada teman kita. Saya dapat dihubungi dalam waktu dekat.
PS. Petunjuk kecil, sekadar untuk merangsang selera Anda.
Informasi yang saya kemukakan tadi terkait erat dengan dokumen terlampir. Bila Anda seorang jurnalis setengahnya saja dari yang saya perkirakan, maka tentunya Anda tidak akan mengambil waktu lama untuk menemukan signifikansi tawaran saya ini.
Tidak ada tanda tangan.
Ia membaca catatan itu berulang-ulang, kemudian melihat kembali dokumen fotokopi. Ini seperti sebuah surat, bila dinilai dari gaya tulisannya, tua, sangat tua. Dokumen itu menggunakan abjad timbul, tetapi jauh di luar itu, ia tidak tahu ujung pangkalnya, selain kata dan kalimat individual yang tampak terdiri atas sekuen huruf-huruf tunggal tak terpecah, yang betapapun keras ia melihatnya, tetap gagal menerjemahkan ke dalam Bahasa yang ia kenal.
Di bagian bawah, agak terpisah dan dalam tulisan yang lebih besar, ada inisial GR yang tidak berarti apa-apa baginya selain bagian membingungkan.
Ia melihatnya kembali untuk beberapa saat lamanya. matanya menyipit, bingung, kemudian ia kembali ke surat pengantar. Wawancara yang dirujuk oleh surat itu adalah yang telah ia publikasikan lebih dari setahun lalu. Wawancara tersebut telah menarik minat saat itu karena merupakan satu-satunya kesempatan ketika subjeknya, ******* Palestina al-mulatham, telah menyibak tabir rahasia yang menyelimuti dirinya dan berkenan berbicara di depan publik. Jasa keamanan Israel telah memperlihatkan minat khusus, menyita notepad dan laptopnya serta mengajukan banyak pertanyaan terhadapnya. Ia telah mampu mengungkapkan sedikit tentang tujuan surat itu sebagaimana telah ia jelaskan dalam artikelnya, wawancara dilaksanakan di sebuah tempat rahasia dan matanya ditutup sepanjang aktivitas itu dan kecurigaannya sekarang adalah bahwa surat dan dokumen fotokopi itu bukanlah bentuk tipu muslihat Shin Bet yang baik untuk mengetahui apakah ia tahu lebih banyak tentang asal-usul pemimpin ******* daripada sekadar yang ia tulis. Ini tentu saja bukan kali pertama mereka mencoba menjebak dan mendiskreditkannya. Beberapa tahun belakangan ia pernah didekati seorang laki-laki yang mengaku aktivis Palestina dan menanyakan apakah ia bisa menggunakan status persnya untuk membantu membawa senjata melintasi pos penjagaan militer erez ke Gaza sejenis agen diprovokasi secara terang-terangan begitu ia tertawa dan menjawab dalam Bahasa Ibrani bahwa dirinya lebih senang menemani Ami Ayalow makan malam.
Ya, pikirnya, surat ini pastilah sejenis petunjuk jasa keamanan. Atau, lelucon yang dielaborasi. Tidak sepadan bila harus menghabiskan waktu untuk memikirkannya. Kemudian, setelah sekali lagi melihat dokumen fotokopi tersebut, ia pun membuangnya, berikut surat yang menyertainya, ke keranjang sampah dan pergi meninggalkan flat.
__ADS_1