Detektif Terpilih

Detektif Terpilih
PENYEKAPAN DETEKTIF KHALIFA


__ADS_3

“Kau berutang padaku lima belas pound. Kau mau yang lain?” Sebagai jawaban, Khalifa menghabiskan sisa teh dan berdiri, menutup kotak backgammon, memberi tanda bahwa tidak, ia tidak ingin permainan yang lain.”


“Penakut,” kata Ginger, sambil mengisap pipa shishanya.


“Selalu begitu, dan akan selalu begitu,” jawab Khalifa, sambil membuka dompetnya dan menghitung kekalahannya. “Walaupun sekarang aku tidak kalah darimu, aku khawatir sudah terlambat pulang untuk Zenab. Dia sedang memasak dan aku berjanji padanya akan sampai di rumah jam delapan.” Temannya mengembuskan asap tembakau dengan aroma apel dan sembari menjulurkan ibu jarinya lalu membalikkan dan memutarnya di permukaan meja, mengindikasikan bahwa Khalifa berada “di bawah kendali seseorang”.


Terdengar gelak tawa keras dari teman-teman lain yang sedang duduk di sekitarnya. Pengabdian detektif ini pada istrinya sudah menjadi pengetahuan umum, dan ’hiburan’ yang umum.


“Waktunya sang Inspektur Takut Istri pulang ke rumah!” salah satu temannya berteriak.


“Khalifa si penakut,” sambung yang lain.


“Kalau siang si anjing galak,” kata yang ketiga, “kalau malam....”


“Tikusnya Zenab!” semua menjawab serempak, dibarengi dengungan kata-kata yang berseliweran.


Khalifa tertawa. hal seperti itu tidak pernah mengganggunya, ledekan yang alamiah ini, dan sebenarnya ia agak menikmati dan menyenangi malam ini, yang menjadi tanda bahwa ia sudah kembali ke kehidupan normal setelah semua kehebohan selama dua minggu terakhir. Ia menyerahkan uang pada Ginger untuk kemenangannya ia tidak ingat terakhir kali ia bermain backgammon dengan temannya dan menang dan, sambil mengatakan pada setiap orang agar menenggelamkan diri mereka di Sungai Nil, Khalifa mengambil dua tas plastik yang ia sandarkan di kaki kursinya dan meninggalkan kafe, serentetan ledekan mengikutinya sejauh dua puluh meter setelah di jalan sebelum larut ke dalam hiruk-pikuk pasar malam.


Perasaannya enteng dan senang. Asyik. Lebih baik daripada apa yang telah ia lakukan selama bertahun-tahun, seolah beban berat telah terangkat dari bahunya. Ia menyerahkan laporan terakhirnya kepada Chief Hasani, mengirim semua barang tentang menorah ke si Israel, yang dapat menggunakannya untuk apa pun keperluannya, dan kini ia sedang menuju Zenab dan anak-anak dengan tas penuh berisi brosur penginapan Laut merah di Hurghada. Hanya ada satu catatan penuh pertentangan: ketika ia meminta Hasani mengantarkan salinan laporan kasus itu ke Chief Mahfudz, atasannya ini memberi tahu bahwa laki-laki tua itu sudah meninggal dunia larut malam lalu. Kabar itu membuat Khalifa sedih, walaupun tidak begitu terlihat. Seperti yang dikatakan Mahfudz itu sendiri, paling tidak dia akan mati dengan pengetahuan bahwa ia telah melakukan hal yang benar pada akhirnya.


Khalifa berhenti untuk menyapa Mandur si penjual Kaos, seorang laki-laki sintal dengan penglihatan tidak sempurna yang kebiasannya mengejar pelanggan ke sana-sini di jalan itu memuji kebaikan barang jualannya hampir menjadi atraksi turis tersendiri, kemudian melanjutkan perjalanannya, sambil mengayun tas di sisinya, dan berpikir tentang pantai, ombak, dan yang paling asyik, Zenab dalam pakaian renang Tuhan, alangkah serunya. Sebelum ia sadar dirinya sudah berdiri di luar blok apartemen abu-abu, tempat tinggalnya, satu dari barisan blok yang sama sepanjang tepi kota bagian utara seperti sebuah garis batu monolit berbintik- bintik.


Ia berhenti sejenak untuk menyelesaikan rokoknya, kemudian menaiki tangga menuju lantai empat dan setenang yang ia bisa, memasukkan kunci ke pintu apartemennya. Ia tidak membuka pintu itu segera.


Malah, ia tetap meninggalkan kunci tergantung, ia membuka sepatunya, berjongkok dan, merogoh salah satu tas plastik, mengeluarkan sepasang flippers karet murah, yang ia masukkan ke kakinya, kemudian Masker diving dan snorkel, dan mengenakannya di wajah dan mulutnya. Kemudian ia masuk ke apartemennya, hampir tidak dapat mengendalikan diri dari kegembiraannya membuat lelucon yang sedang ia mainkan.


“Tsonly ee,” ia berkata, kata-katanya terganggu oleh benda karet yang terselip di bibirnya. “Aku tiba!” Tidak ada jawaban. Ia melangkah ke ruang tengah, sambil bertanya-tanya ke mana penghuni rumah.


“Aku tiba!” ia mengulang, lebih keras.

__ADS_1


“Penyelam laut dalam sudah naik ke permukaan!” masih belum ada jawaban. Ia melongok ke ruang dapur kosong kemudian menuju ke air mancur di tengah lantai dan berjalan seperti bebek, menuju ruang keluarga di bagian dalam flat, tersentak oleh pikiran tiba-tiba bahwa barangkali mereka sedang mempermainkan dirinya. Lucu sekali! Pintu menuju ruang tengah terbuka sedikit dan, berhenti sesaat untuk membersihkan maskernya yang berembun, ia mendorongnya dan melangkah masuk, membuat gerakan dengan tangannya yang ia harapkan akan terlihat seperti perenang laut dalam.


“Wow, sungguh luar biasa di bawah sini dengan semua ikan dan....” Kata-katanya terhenti. Zenab, Ali dan Batah semuanya sedang duduk di sofa, wajah mereka pucat, ketakutan. Di seberangnya, dua orang pria, yang satu duduk, yang lain berdiri, dalam setelan abu-abu. Jaket yang berdiri agak terbuka sedikit memperlihatkan, tidak salah lagi, Pistol Heckler dan Koch. Jihaz Amn Al-Daulah. Tidak diragukan lagi. Jasa Dinas Keamanan Negara.


“Ayah!” Ali berlari dari sofa ke arahnya, dengan mata penuh air mata. “Mereka akan membawamu pergi, Ayah! Katanya ada seseorang yang ingin berbicara dengan Ayah. mereka akan mengirim Ayah ke penjara.” Khalifa membuka masker dan snorkelnya, melirik ke Zenab yang terlihat begitu ketakutan.


“Ada apa ini?” ia bertanya, tetap berusaha tenang, dan kuat demi keluarganya. Laki-laki yang duduk yang lebih tua dan diduga lebih senior dari yang lain berdiri.


“Seperti yang dikatakan bocah laki-laki itu: Seseorang memiliki sejumlah pertanyaan untukmu. Anda harus ikut kami. Sekarang. Tidak bisa membantah.” Ia melihat ke arah temannya dan keduanya tersenyum.


“Mungkin Anda ingin mengganti sayapnya. Aku rasa Anda tak akan memerlukan benda itu nanti.” Sebuah Sedan bergaya Limosin sedang menunggu di pinggir jalan mengkilap, hitam, jendela yang dapat mengusir asap; ia tidak habis pikir bagaimana ia sampai tidak melihatnya tadi dan dengan diantar oleh kedua laki-laki itu, ia masuk ke tempat duduk belakang. Laki-laki yang lebih muda duduk di sebelahnya, sementara yang lebih tua duduk di kursi penumpang di depan. Laki-laki ketiga, dalam seragam setelan abu-abu yang sama dan potongan rambut cepak duduk di belakang kemudi. Bahkan sebelum pintu tertutup sepenuhnya, ia telah menyalakan mesin dan melaju. mobil meluncur halus di jalan yang tidak rata, keanggunan yang ganas dari mobil patroli panter.


Khalifa mencoba bertanya tentang apa yang terjadi, ke mana ia dibawa, apa semua ini berkaitan dengan Piet Jansen dan Faruk Al-Hakim, seperti yang ia tahu akan seperti ini. Laki-laki itu tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap mantap ke depan dengan ketenangan seorang Eksekusioner Profesional. Setelah beberapa menit ia berhenti mencoba berkomunikasi, menyalakan rokok dan melempar pandangan keluar jendela, mengutuk diri sendiri karena kenaifannya, karena berangan-angan dirinya dapat mengekspos seseorang seberkuasa Al-Hakim dan tidak ada risiko di dalamnya.


Jihaz selalu mengejar dengan cara mereka sendiri. Dan selalu menghukum mereka yang berseberangan dengannya. Tuhan, bagaimana bisa ia begitu naif? Di sebelahnya dalam kegelapan ujung rokok Cleopatranya menyiratkan pola berwarna oranye pada jendela dari tangannya yang gemetar.


Awalnya mereka mengarah kembali ke pusat kota Luxor, ia asumsikan salah satu dari banyak kantor pemerintah yang berkumpul di pusat kota. Namun, begitu mereka melewati Luxor General dan ini semakin menambah kecemasannya mereka berbelok ke jalan tol bebas hambatan dan keluar lagi menuju arah timur kali ini, menuju bandara. Lagi-lagi, ia mencoba bertanya pada laki-laki itu ke mana mereka menuju. mereka tetap menolak untuk menjawab. Keheningan tampak melesak masuk ke dalam dada dan paru-parunya seolah rongga dadanya secara perlahan mengencang dalam tali tebal yang melilit, membuatnya susah menarik napas.


Ketika ia dibimbing keluar mobil, ia bertanya untuk ketiga kalinya, dengan suara mengiba sekarang, tentang apa semua ini, ke mana mereka akan pergi, apa yang akan terjadi padanya. Kedua agen itu tetap tak berkata apa-apa, hanya mengantarnya ke tangga yang menuju kabin pesawat jet dan menunjukkan tempat duduk dengan jok kulit untuknya, dan memberi tanda agar mengencang kan tali pengaman.


Pintu tertutup, instruksi terdengar ke arah ruang kokpit, dan pesawat berjalan keluar menuju landasan pacu, bergerak perlahan untuk sesaat lamanya seolah mengumpulkan kekuatannya sebelum mempercepat lajunya dan melesat dengan anggun menembus udara. Khalifa melihat ke area padat gedung terminal di bawah ketika pesawat ini ada di atasnya, dan bersandar, menatap langit-langit kabin.


Di belakangnya ia dapat mendengar salah satu agen sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon genggamnya. Hebatnya, dalam keadaan demikian, ia pasti telah tertidur lelap karena hal berikutnya yang ia tahu adalah bahunya digoyang dan ia diminta bangun. Dengan grogi, ia melepas tali pengaman dan berdiri. mereka sudah mendarat. Untuk sesaat ia berpikir barangkali ia hanya bermimpi sudah lepas landas dan ia masih berada di Luxor. Begitu ia melewati pintu kabin dan menuruni tangga pesawat, ia menyadari ini bukan mimpi karena ini adalah bandara yang lain, lebih kecil daripada Luxor, konfigurasinya berbeda, bau yang tidak biasa di udara sehingga awalnya ia tidak dapat mengenalinya tetapi kemudian menyadari bau itu adalah bau keras payau dari air garam. Laut. Di mana mereka...? Ia melirik jam tangannya. Bukan Hurghada tentu saja. mereka terlalu lama berada di dalam pesawat, hampir lima puluh lima menit.


Iskandaria? Port Said? Belum cukup lama di udara untuk sampai di sana. Jadi di mana? Sharm Al-Syeikh? Ya, bisa jadi ini di Sharm Al-Syeikh. Atau Taba, mungkin. Ya, Sharm al-Syeikh atau Taba, walaupun apa yang sedang mereka lakukan di Semenanjung Peninsula tidak dapat dia bayangkan. Di mana pun mereka saat ini, jelas ini bukanlah tujuan akhir karena pada anak tangga terbawah ia dibawa memutar ke sisi lain dari Learjet, tempat sebuah Helikopter Chinook Ch-47 sedang menunggu mereka, bertengger di landasan pacu seperti mantis raksasa. Mereka hampir tidak memiliki waktu untuk masuk ke dalam perutnya yang panjang dan sempit dan mendudukkan diri mereka sendiri pada kursi masing-masing sebelum rotornya berfungsi dan mereka mengudara lagi, menjauh dari bandara dan memasuki kegelapan malam.


“Tuhan tolong aku!” Khalifa berbisik, mengingat semua kisah yang ia dengar tentang Jihaz yang melempar orang dari helikopter di tengah-tengah negeri antah-berantah, tubuhnya tertinggal di antara batu karang dan pasir. “Aku mohon Tuhan, Tolong aku!” Mereka terbang ke utara, dilihat dari posisi bulan di luar jendela, kabin bergetar dengan irama wub-wub dari mesinnya.


Hamparan padang pasir tandus yang berwarna merkuri terlewati cepat di bawahnya, permukaannya koyak oleh bubungan tajam dan tersilang-silang oleh jejak wadis yang berkelok-kelok, seperti jejak ular menggores lanskap. Dua puluh menit berlalu, kemudian mereka menurun lagi, roda bulat helikopter menjejak pada punggung padang pasir, rotornya melambat sampai ke posisi diam, menyesaki ruang dalam heli dengan keheningan yang padat dan menakutkan. Salah satu agen menyorongkan tubuhnya ke depan, dan menyentuh lengan Khalifa.

__ADS_1


“Bangun!” Khalifa membuka sabuk pengamannya, bersalaman tangan dan mengikuti laki-laki itu ke depan kabin ketika mereka membuka pintu, menampakkan malam yang gelap dan kelam yang membuatnya hanya dapat melihat lanskap campur aduk dataran dan bumbungan di bawah langit penuh bintang.


“Keluar!” Khalifa sedikit ragu. Mengapa mereka membawaku ke sini? Apa yang sedang mereka lakukan terhadapku? Kemudian ia loncat, sepatunya menyelusup pada lantai padang pasir, bulu romanya berdiri di lengannya karena dinginnya udara. Kedua agen itu tetap berada di belakangnya pada pintu Chinook.


“Di sebelah sana,” kata salah seorang. “Ayo!” Laki-laki itu mengacungkan ujung senjatanya, menunjuk ke kanan, menuju sebuah bangunan batu yang rendah sekitar seratus meter jauhnya dari mereka di kaki tanjakan berbatu, garis luarnya suram dan tak jelas, jendelanya diterangi kilau tipis kekuningan seperti mata besar yang melihat dari keremangan. Tempat perhentian Badui? Pos Perbatasan Militer? Yang mana pun Khalifa tidak menyukainya. Ia menoleh ke belakang ke arah laki-laki itu, tetapi mereka hanya menunjuk dengan senjatanya dan menyuruhnya maju terus, jadi ia berjalan lagi.


Setelah lima puluh meter ia berhenti dan menengok ke belakang, memerhatikan untuk pertama kalinya ada dua helikopter lain terparkir bersisian di luar yang baru saja membawanya, kemudian berjalan lagi. Keimanan tumbuh sejalan dengan langkah kakinya bahwa inilah saatnya, ia akan dieksekusi, tidak akan ada penjelasan lain yang mungkin untuk kehadirannya di sini di tengah malam buta di tengah areal yang tidak diketahuinya. mungkin ia harus mencoba melarikan diri, pikirnya, menghilang di kedalaman padang pasir, bersembunyi di balik bebatuan. Paling tidak ia memiliki beberapa peluang, sekalipun yang jauh kemungkinannya.


Tetapi dia tidak dapat melakukan ini, tidak dapat memicu adrenalin yang diperlukan oleh kakinya, sehingga dia hanya berjalan ke depan sampai tiba di bangunan itu dan sedang berdiri pada anak tangga di depan pintu besi yang berkarat.


Ia melemparkan pandangan terakhir kembali ke Chinook, kemudian mengucapkan doa, dan sekarang merasa pasti bahwa hidupnya akan segera berakhir, menjulurkan tangannya yang bergetar, mendorong pintu agar terbuka dan melangkah masuk, sambil bertanya-tanya apakah dia benar-benar mendengar tembakan yang membunuhnya atau apakah segala sesuatunya akan begitu saja kosong dan tiba-tiba saja dia mendapatkan dirinya telah dipindahkan ke dunia yang betul-betul berbeda.


“Masaulkhoir, Inspektur. mohon maaf telah membawa Anda ke tempat seperti ini, tapi karena situasinya begitu mendesak, kami hanya punya sedikit pilihan lain. Silakan membuat teh sendiri.”


*****_____*****


Baca Juga Novel yang lainnya Guys "Cinta Kilat Perawan Tua"


Tema Cerita tentang “Kasih Sayang keluarga terlalu manja dan berlebihan kepada anak bar gede dengan jiwa pemberontak, yang bertemu dengan Wanita bangsawan berhati keras serta kaya raya. Hingga akhirnya merubah pola pikir hidup menyendiri dan tidak ingin bertanggung jawab tentang apapun. Akhirnya harus jatuh cinta dengan paman sang gadis beliau. Ikuti ceritanya pasti seru...


*Komen dan sarannya dikolom komentar dibutuhkan, serta jangan lupa Vote ya…*


By the way, Enjoy it


Ikuti juga Instagram di: @itsme.okta


Thanks in Advanced


Best Regards

__ADS_1


*****


__ADS_2