
Walaupun sudah berlalu selama lima belas tahun, Khalifa mengingat kasus Schlegel seolah baru terjadi kemarin. Tubuh perempuan itu ditemukan oleh penduduk setempat, Muhammad Ibrahim Jamal, di Pelataran Konshu, sebuah gedung yang gelap, suram, dan jarang dikunjungi, di sudut barat daya kompleks Kuil Karnak. Berusia enam puluh tahun, warga negara Israel keturunan Yahudi, lajang, menurut laporan otopsi menderita serangkaian pukulan keras di kepala dan wajahnya yang disebabkan benda tumpul dengan jenis yang tidak dapat ditentukan.
Seperti keretakan pada tulang rahang dan tengkoraknya di tiga tempat berbeda, senjata pembunuh juga telah meninggalkan bekas tanda pada kulitnya simbol ankh berselang-seling dengan tanda kecil berbentuk mawar, barangkali semacam desain dekoratif pada permukaan senjata.
Terlepas dari luka berat yang terdapat pada tubuh perempuan itu, Jamal yakin sekali bahwa Schlegel masih hidup ketika ia menemukannya. Dalam kondisi bersimbah darah dan tidak sepenuhnya sadar, ia membisikkan dua kata -Thoth dan Tzfardeah- mengulanginya selama beberapa kali sebelum koma dan tak tersadar lagi sejak itu. Tidak ada saksi lain untuk menguatkan pernyataannya dan tidak ada saksi sama sekali terhadap pembunuhan itu sendiri, kecuali penjaga kuil tua yang mengaku mendengar jeritan dari dalam kuil dan sekilas melihat seseorang terburu-buru pergi dari tempat kejadian, terhuyung-huyung dengan “sesuatu di atas kepalanya, seperti burung kecil yang lucu!” Karena laki-laki itu sudah tua dan separuh buta, juga memiliki reputasi sering mabuk dalam bekerja, tidak satu pun yang menganggap serius bukti yang dikemukakannya.
Kepala kepolisian Luxor saat itu, Inspektur Kepala ehab Ali Mahfudz, telah mengambil alih kendali atas kasus ini, dibantu wakilnya Inspektur Abdul Ibn-husani. Khalifa, yang baru saja ditempatkan di Luxor dari tempat asalnya di Giza, juga ditugaskan sebagai tim penyelidik. Ia berusia 24 tahun saat itu, dan ini adalah
__ADS_1
kasus pembunuhan pertama baginya.
Dari sini, investigasi telah terfokus pada dua motif yang paling mungkin di balik pembunuhan tersebut. Yang pertama tampak jelas, didukung juga oleh mahfudz, adalah perampokan, karena dompet milik korban dan jam tangannya hilang. Yang kedua, pilihan kemungkinan yang tipis meski tidak bisa dikesampingkan begitu saja, adalah bahwa ini merupakan bentuk serangan fundamentalis. hanya sebulan sebelumnya, sembilan orang Israel ditembak mati dalam bus wisata di jalan bebas hambatan antara Kairo dan Ismailiya.
Khalifa, yang paling sedikit pengalamannya juga sekaligus anggota tim yang paling muda, sejak awal ragu pada kedua scenario tersebut. Bila perampokan yang menjadi motifnya, kenapa pelaku tidak mengambil Bintang David emas yang tergantung pada kalung di leher korban? Dan bila serangan fundamentalis, kenapa mereka tidak mengklaim pengakuan atas tindakan mereka, sebagaimana yang biasa dilakukan setelah serangan seperti ini? Ada aspek teka-teki yang masih berlanjut dalam kasus ini.
Sebenarnya, ia telah membuat satu panggilan telepon dari kamarnya, pada malam kedatangannya pengurus rumah tangga hotel tidak sengaja mendengarnya saat ia mengantar handuk dan sabun. Dan sebuah pisau dapur yang besar telah ditemukan di dalam tas tangan di samping tubuhnya, baru saja diasah, seolah ia tengah bersiap melakukan kekerasan pada seseorang, atau sebaliknya alasan lain untuk mempertahankan dirinya dalam menghadapi kekerasan dari orang lain.
__ADS_1
Semakin dalam Khalifa berpikir tentang kasus ini, semakin ia yakin bahwa ini tidak ada kaitannya dengan pencurian dan ekstremisme. Kuncinya, ia merasa yakin, adalah panggilan telepon. Dengan siapa Schlegel telah berbicara? Apa yang telah dikatakannya? Ia telah meminta cetak rekam pembicaraan telepon itu dari pihak hotel, tetapi secara kebetulan meterannya telah memilih sore itu sebagai saat yang tepat untuk rusak, dan sebelum ia memiliki waktu untuk mengejar kantor Telekomunikasi mesir guna mendapatkan rincian panggilan telepon untuk seluruh gedung, penyelidikan telah menerima hasil yang tidak diperkirakan: jam tangan Schlegel ditemukan di rumah muhammad Jamal.
Jamal dikenal luas oleh kantor Polisi Luxor. Sebagai penjahat kecil-kecilan yang telah mendarah daging, ia memiliki serangkaian dakwaan hukum sepanjang lengan Anda, mulai dari serangan dan pukulan yang telah membuatnya mendekam di tahanan Al-Awdi Al-Jadid selama tiga tahun hingga pencurian mobil dan suplai ganja (enam bulan di Abu zaabal). Pada saat terjadi pembunuhan itu, ia sedang bekerja sebagai pramuwisata tak berlisensi, dan mengklaim dirinya sudah bersih selama beberapa tahun, klaim yang selalu diabaikan dan tidak dipedulikan oleh Chief mahfudz.
“Sekali penjahat, selamanya tetap penjahat,” katanya. “Seekor macan tutul tidak akan mengubah bintik-bintik yang ada pada tubuhnya, dan sampah seperti Jamal tidak akan berubah menjadi malaikat hanya dalam waktu semalam.” Khalifa hadir pada interogasi terhadap Jamal. Aktivitas yang tidak menyenangkan. Brutal. mahfuz dan hasani melayangkan pukulan membabi buta pada si tersangka. Pertama, ia menolak semua hal yang berkenaan jam tersebut. Setelah dua puluh menit dihajar dan dipukuli, ia tersungkur dan mengaku bahwa, ya, ia telah mengambil jam itu tanpa pikir panjang. Ia memiliki utang, dan keluarganya akan diusir dari rumah mereka, anak perempuannya sakit. Namun, ia dengan keras menolak tuduhan telah membunuh Schlegel atau mengambil dompetnya, dan tetap bersikap seperti itu dalam dua hari pemeriksaan yang semakin keras memperlakukan dirinya. Saat sesi interogasi berakhir, ia kencing darah dan matanya begitu lebam sehingga hampir tidak dapat melihat siapa pun. Ia terus saja menyatakan ketidakbersalahannya.
Khalifa telah mencerna semua ini, menyesali keberadaannya disana yang terlalu takut untuk bicara, ketakutan bahwa bila ia melakukannya maka dalam beberapa hal dapat membahayakan karier kepolisiannya. Yang membuat keadaan menjadi lebih buruk lagi adalah sejak awal ia begitu yakin Jamal telah mengatakan yang sebenarnya. Ada sesuatu dalam kemarahannya yang teramat sangat, yang membuatnya menjerit untuk mengatakan ia tidak membunuh perempuan itu, dalam penolakannya untuk menyerah bahkan di bawah hantaman tinju Hasani, yang begitu meyakinkan Khalifa bahwa ia, seperti yang diakuinya, menemukan Schlegel setelah perempuan itu diserang. Laki-laki ini bisa jadi seorang pencuri, tetapi sudah pasti ia bukan pembunuh! Namun mahfudz tetap bergeming. Dan Khalifa tidak mengatakan apa-apa. Tidak selama interogasi, tidak juga ketika Jamal dikirim ke pengadilan, tidak juga saat ia didakwa dua puluh lima tahun kerja paksa di penggalian Tura, bahkan tidak juga ketika empat bulan setelah penghukumannya ia merenggut hidupnya sendiri, menggantung diri dengan kabel di palang yang ada di selnya.
__ADS_1
Pada tahun-tahun setelahnya Khalifa mencoba melakukan pembenaran untuk dirinya sendiri atas bungkamnya ini, membela diri bahwa Jamal adalah pelanggar hukum yang keji dan sudah mendarah daging, adil atau tidak, mungkin saja tidak kurang dari yang memang layak ia terima. Namun, kebenarannya adalah kepengecutannya telah membuat seorang laki-laki tak bersalah didakwa melakukan kejahatan yang tidak dilakukannya, dan membiarkan seorang perempuan mati tanpa pembunuh sebenarnya di seret ke pengadilan. Dan sekarang, kepengecutannya itu telah datang kembali menghantuinya. Jauh di dalam benaknya, ia selalu tahu hal ini akan terjadi.