Detektif Terpilih

Detektif Terpilih
MENYUSUN RENCANA


__ADS_3

Pertemuan itu berlanjut selama beberapa jam lagi. Khalifa dan Ben-Roi yang banyak bicara sekarang, dingin dan formal, menghindar dari tatapan masing-masing, meneliti kembali semua informasi yang mereka miliki tentang Hoth dan Menorah, mencoba menyempitkan pencarian dan mengembangkan garis serangan yang mungkin. Para lelaki yang lain sesekali menyisipkan komentar aneh tetapi kadang mendengarkan dengan tenang saat kedua detektif itu berdiskusi tentang suatu hal antara mereka berdua saja. Sudah lewat tengah malam ketika mereka akhirnya diam.


“Satu hal terakhir yang harus kita diskusikan,” kata Milan, melemparkan sisa rokoknya. “Perempuan Al-Madani ini. harus kita apakan dia?”


Gulami menghabiskan sisa cangkir di tangannya. “Dia tidak bisa ditahan di pengadilan sampai ini terselesaikan?” tanyanya.

__ADS_1


Marsudi menggelengkan kepala. “Dia dikenal luas oleh masyarakat di negeriku. Dan sangat dicintai oleh mereka. Bersikeras menahannya akan menarik banyak perhatian. Sesuatu yang tidak kita perlukan untuk situasi sekarang ini.”


“Jadi?” Gulami berkata sembari meremas cangkir sehingga menjadi bola dan melemparnya ke pojok ruangan. Tidak ada yang menjawab, semuanya diam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Ruangan itu sekarang terasa pekat dengan bias bayangan yang seperti beludru karena lampu karosin itu secara perlahan meredup dan mati. Semenit berlalu.


“Dia bisa bekerja denganku.” Itu suara Ben-Roi. Semua menoleh ke arahnya.

__ADS_1


Atau, apakah karena ia begitu tidak menyukai laki-laki ini sehingga ia tidak dapat mengambil apa pun dari yang dikatakannya sebagaimana adanya? Sebelum ia memutuskan, Gulami berdiri dan mengumumkan bahwa pertemuan ditutup.


Di luar, ketika mereka kembali ke helikopter, Khalifa menyadari bahwa ia berjalan di belakang Ben-Roi, yang menjulang, lebih tinggi dan lebarnya hampir dua kali. Setelah semua yang terjadi malam itu, Khalifa tidak merasakan keinginan untuk menyapanya, untuk melakukan kontak dengannya sama sekali kecuali benar-benar perlu demi tuntasnya pekerjaan. Namun, rasa santunnya membuat dia bersikap lebih baik terhadap Ben-Roi dan, sembari mensejajarkan langkahnya di samping si Israel ini, ia mengatakan padanya bahwa, terlepas dari apa yang telah dikatakan sebelumnya, ia merasa menyesal atas apa yang telah terjadi dengan tunangannya, bahwa dia punya anak-istri dan tidak sanggup membayangkan seperti apa rasanya kehilangan seseorang yang dicintai dengan cara seperti itu. Ben-Roi memandangnya, kemudian bergumam “Kparat kau,” dan melangkah lagi.


“Suatu kebetulan yang aneh, ‘kan?” suara Gulami dari atas kearah mereka. “Seorang mesir, seorang Israel dan seorang Palestina memulai semua proses ini. Dan kini di tangan si mesir, Israel dan si Palestina inilah keselamatan hidup orang banyak bergantung. Aku senang berpikir bahwa mungkin ini adalah tanda baik.”

__ADS_1


“Tolong kami Tuhan, jadikanlah ini tanda yang baik,” kata Milan.


“Tolong, Tuhan,” kata Marsudi, mengulang.


__ADS_2