
Si perempuan tua memukul sesuatu, menanyakan apa yang sedang terjadi. Laki-laki muda itu menjawab, kemudian menatap kembali sang detektif. “Seperti yang telah kukatakan pada mereka saat itu, dan seperti itulah yang kukatakan padamu sekarang: kami melakukan itu untuk berani-beranian saja. Anda mengerti? Itu saja. Tidak ada yang lain. Kalau Anda tidak memercayaiku, bawalah aku dan tahan aku.”
Ia menatap tajam sang detektif, menantang, kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke layar televisi yang menayangkan adegan dua laki-laki sedang berkelahi, berguling-guling dalam tempat seperti kolam besar berisi minyak hitam. Ben-Roi meneliti catatannya, kemudian melihat ke perempuan tua, lalu ke dokumen tanah yang sudutnya terlipat di atas kepalanya. Ben-Roi tahu bahwa ia sedang diperdaya, dibohongi, dapat terlihat dalam ketegangan yang ada pada bahu laki-laki itu, tarikan pendek dan gugup saat ia mengisap rokoknya. Ia bisa saja menggertak, sangat tahu bahwa ia sedang menembak di dalam gelap dan tidak memiliki bukti bahwa ia tengah berbohong. Ia dapat membawanya ke tahanan, menginterogasinya sebagaimana biasanya, menginterogasinya dengan cara biasa dia lakukan dan itu tidak akan berhasil baik.
Ia terhenti pada kisahnya di tahun 1990, dan ia melekat di situ sekarang. Ben-Roi tidak akan mendapatkan apa-apa lagi darinya. Kecuali.... Ben-Roi perlahan berdiri, berjalan menuju televisi dan mematikannya. Dia tidak merasa bangga dengan apa yang akan dilakukannya ini, hanya saja dia tidak mampu melihat cara lain lagi.
“Aku bisa mempersulit saudaramu,” katanya. Napas laki-laki muda ini terlihat tercekat.
“Ia baru menjalani hukuman selama dua tahun, hanya untuk asosiasi. Bila hukuman dinaikkan, mungkin bisa sampai lima atau enam tahun. mungkin lebih. Kau pikir dia sanggup menjalaninya?”
“Brengsek kau!” Ben-Roi menggeretakkan giginya. Ia tidak merasa nyaman memainkan permainan pikiran seperti ini, tidak pernah merasa nyaman, bahkan setelah kematian Galia, ketika menyakiti orang Palestina tampak menjadi hal penting utama dalam hidupnya. Kini ia telah memulai, ia harus menyaksikannya.
“Enam tahun di Ashkelon,” lanjutnya. “Enam tahun bersama para pemerkosa dan pembunuh dan orang-orang bejat. Dan mereka masih termasuk orang-orang baik kalau dibandingkan dengan para penjaga. masa-masa keras, Madji. Aku tidak yakin Hani bisa mengatasinya. Jadi, apa kau ingin mengatakan padaku mengapa kau bakar flat itu?” Perempuan tua itu dapat melihat ekspresi tersiksa di wajah anak laki-lakinya dan nyerocos sesuatu padanya, cemas, ingin mengetahui apa yang baru saja dikatakan. Si laki-laki muda menjawab, matanya tidak pernah lepas dari Ben-Roi, tubuhnya terlihat tegang mengencang dengan ikat pinggang yang menahannya di kursi.
“Dasar brengsek kau orang Israel!” ulangnya. Detektif itu tidak berkata apa-apa.
“Tahi kucing kau!” Rokoknya telah terbakar sampai ke puntungnya dan, dengan tangan gemetar, ia tuntaskan rokoknya ke dalam asbak, menekannya keras-keras, melumatkannya sehingga otot-otot lengan bawahnya menegang dan membesar. Ia melihat ke puntung yang hancur, menggelengkan kepalanya dengan pahit, seolah ia sedang melihat bayangan dirinya sendiri; kemudian, dengan memegang roda pada kursinya, ia bergerak dalam ruang itu, mengembalikan asbak ke atas televisi dan kembali ke sisi perempuan tua. Ada kesenyapan yang panjang.
“Off The Record?” akhirnya ia berbicara. Ben-Roi mengangguk.
“Dan Hani? Anda akan biarkan dia sendiri? Anda tidak akan menyakitinya?”
“Pegang omonganku.” Laki-laki muda itu mendengus tanda mengejek. Ia memandang Ben-Roi sekilas, kemudian melihat ke lantai lagi.
“Aku dibayar,” ia bergumam, suaranya hampir tak terdengar. Ben-Roi maju setengah langkah.
“Oleh siapa?”
“Pamanku. Ia berbisnis dengan seorang laki-laki di Kairo. ekspor buah-buahan jeruk, lemon, sejenis itulah.
Suatu hari laki-laki itu menelepon, mengatakan bahwa ia memerlukan bantuan. Ingin apartemen itu dibakar. Ia akan membayar dengan bayaran yang bagus. Lima ratus dolar. Tetapi itu harus dilakukan dengan cepat. Tidak ada pertanyaan. Kemudian, pamanku meneleponku.”
“Kau tahu siapa laki-laki itu?” Madji menggelengkan kepala. “Aku tak pernah bicara padanya. Pamanku yang mengatur semuanya.” Ia mengangkat tangannya dan mulai menggosok matanya. “Gad, Getz, seperti itulah. Bukan nama mesir.”
Ben-Roi menulis semua itu dalam buku catatannya.
“Dan pamanmu? Di mana dia?”
“Sudah wafat. Empat tahun lalu.” Di luar, terdengar suara metal seolah seseorang baru saja menendang kaleng cat. Ben-Roi terlalu terbenam dalam wawancara sehingga tak terlalu memperhatikannya.
“Jadi, Gad, Getz ini, ia menelepon dari Kairo, menawarkan lima ratus dolar untuk membakar flat perempuan tua itu....”
“Kami tidak tahu flat milik siapa itu. Ia hanya memberikan alamat.”
“Dan dia tidak mengatakan alasannya? Tidak ada penjelasan?” Laki-laki muda itu menggelengkan kepala.
__ADS_1
“Kau tidak berpikir hal itu aneh?”
“Tentu saja kami pikir ini sesuatu yang aneh. memangnya apa yang seharusnya kami lakukan? menolaknya? Kami menginginkan uang itu.” Ben-Roi menatap tajam padanya, kemudian kembali ke dipan dan duduk lagi.
“Baik, jadi dia mengatakan padamu untuk membakar flat. Kemudian apa?”
Laki-laki muda itu mengangkat bahu. “Seperti yang telah kukatakan pada mereka waktu itu, kami pergi ke Wilayah Yahudi. Ada gang di belakang gedung itu; Hani berdiam di situ untuk mengawasi, kami naik ke flat, memecah jendela, menuangkan minyak pada apa saja yang ada, lalu menyulut api. Seseorang melihat kami turun, mengejar kami, dan kami tertangkap. Itu saja.
Seperti yang telah kukatakan pada mereka ketika itu.”
“Ada apa di dalamnya?”
“Apa maksudmu?”
“Di dalam flat. Ada apa saja di dalam flat itu?”
“Bagaimana mungkin aku ingat? Itu terjadi lima belas tahun lalu!”
“Kau pasti mengingat sesuatu.”
“Aku tak tahu! Furnitur, Meja, TV ... barang-barang biasa. Dimiliki siapa saja.” Ia menarik sebatang marlboro lagi, menyelipkannya di bibir dan menyulutnya. Terdengar suara gemerincing di luar, dan apa yang terdengar seperti bisik-bisik.
“Ada banyak sekali kertas.”
“Itulah sebabnya tempat itu terbakar dengan cepat. Banyak kertas di mana-mana.”
“Surat kabar?”
“Bukan, bukan. Berkas dan sejenisnya. fotokopi. Di mana-mana, bertumpuk-tumpuk. Seperti sejenis....” Ia berhenti, mencoba menemukan kata yang tepat. Ben-Roi mengingat apa yang dikatakan perempuan Weinberg tentang Schlegel yang bila pulang kerja selalu membawa setumpuk kertas dari Yad Vashem.
“Berkas?” ia bertanya.
“Ya, sejenis arsip. Kau hampir tak bisa bergerak karena kertas. Dan pada salah satu dinding, di ruang tengah, ada foto besar, terbakar, sebesar ini....” Ia membuat gerakan dengan tangannya.
“Seorang laki-laki. Dalam seragam tertentu. hitam dan putih. Kau tahu, seperti foto yang dibuat sudah lama sekali. Itu satu-satunya gambar di tempat itu.” Ada lebih banyak lagi suara di luar, derap kaki. Ada kerumunan orang yang kelihatannya melewati gang itu.
“Dan kau tidak mengenal laki-laki yang ada dalam foto itu?” Tanya Ben-Roi, tak memerhatikan suara-suara di luar.
“Tidak pernah melihatnya sebelumnya. Seperti kataku, itu foto tua. hitam-putih. Bukan keluarga, aku kira.” Detektif itu menyorotkan matanya sambil bertanya-tanya.
“Bagaimana kau tahu tentang itu?”
“Aku tak tahu. Aku hanya tidak seperti keluarga. Dibesarkan seperti itu, dan ditempelkan di dinding. Itu lebih seperti ia mengisap rokoknya seperti gambar yang kau dapatkan di kantor polisi. Kau tahu, seperti orang-orang yang dicari. Seperti itulah kira-kira. Gambar yang dicari polisi. Aneh.” Ia menyisipkan rokok ke dalam mulutnya dan, menggerakkan kursi rodanya kembali ke televisi, mengambil asbak, dan diletakkan pada dengkulnya dan terus menuju area dapur. Terdengar suara bergemuruh pipa, dan kemudian cipratan air keran yang menyala.
Ia muncul kembali beberapa saat kemudian, dengan segelas air putih terkepit di antara pahanya.
__ADS_1
“Itu saja yang kuketahui,” katanya. “Tidak ada hal lain lagi.” Ia kembali ke sisi perempuan tua itu dan memutar kursinya.
Ben-Roi mengajukan sedikit lagi pertanyaan, tetapi jelas bahwa laki-laki muda ini sudah menceritakan kebenaran, dan setelah beberapa menit, menerima bahwa ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan, ia pun menutup buku catatannya dan bersiap.
“Baiklah,” katanya bergumam. “Itu saja.” Tidak terlalu penting untuk mengucapkan selamat tinggal ini pastinya bukan kunjungan sosial jadi, dengan menyusupkan kembali buku catatannya ke dalam saku, ia hanya menganggukkan kepala dan beranjak menuju pintu. Ketika ia berjalan, perempuan tua itu mengucapkan sesuatu di belakangnya.”
“Ehna Mish Kilab.” Ben-Roi membalikkan badan.
“Apa itu?” Madji mendongak, sambil mengisap rokoknya.
“Apa yang dia katakan?” Ben-Roi mengulang pertanyaannya.
Laki-laki muda itu mengembuskan asap yang melingkar-lingkar. “Dia bilang bahwa kami bukanlah anjing.”
Perempuan tua itu menatap tajam sang Detektif. Ekspresinya bukan takut bukan juga menantang, hanya kesedihan yang membosankan dan tak terbatas. Ben-Roi separuh membuka mulutnya membuat suatu respons, mengatakan padanya tentang Galia, bagaimana mereka memisahkan kepalanya, memotong kaki nya, orang yang sama yang wajahnya kini diplester pada poster di perkemahan seperti pahlawan. Tetapi ia tidak dapat berpikir tentang apa yang akan dikatakannya, kata apa pun yang mampu mengekspresikan dalamnya kesepian dan kebenciannya. Maka, dengan hanya menggelengkan kepala, ia pun berbalik, berjalan menuju pintu dan membukanya, “Al-maut li Yahudi! Al-maut li yahudi!”
Ledakan suara berisik menerpa wajahnya. Gang kecil, yang tadinya sepi, kini dipenuhi laki-laki muda, dengan gigi terlihat, tangan mengepal, mata bersinar dengan gembira, pemburu yang bernafsu dan tahu mereka telah memojokkan mangsa buruannya.
Sejenak diam, hanya beberapa detik, seperti gelombang sedang berada pada titiknya yang tertinggi sebelum pecah menuju pantai, dan kemudian gerombolan itu melesak mendekatinya, sembari berteriak.
“Uqtul! Uqtul! Uqtul Al-yahudi!” Ben-Roi bahkan tidak memiliki waktu untuk bereaksi. Ia sedang berdiri di pintu. Kemudian, lusinan pasang tangan telah mencengkeram jaketnya, bajunya, rambutnya, dan ia ditarik keluar ke gang.
Seseorang menarik pistol dari sarungnya dan meletuskannya ke udara tepat di sebelah telinganya, membuatnya tuli; dekat di bagian belakang kerumunan ia menangkap sekilas anak laki-laki Palestina yang ditanya oleh sopir taksi tentang arah tadi sedang tertawa bertepuk tangan di atas kepalanya. Jerat terasa di sekitar lehernya dan mengencang; sesuatu dihantamkan pada perutnya pemukul baseball, kayu, menghajarnya, menghabiskannya.
“Aku mati,” pikirnya, tercekat penuh ketakutan dan pada saat bersamaan terlepas secara aneh, seolah ia sedang menonton video penyerangan daripada benar-benar menjadi bagian darinya.
“Tuhanku, aku mati.” Ia mencoba meletakkan lengannya pada kepalanya, melindungi diri dari pukulan bertubi-tubi. Tetapi mereka merenggut lagi dan menghantam punggungnya. Ludah menghujani dirinya dari segala arah, panas, lengket, mengalir di pipi dan dagunya seperti jalur siput. Ia merasakan dirinya didorong ke bawah gang seolah tertangkap dalam celah berlumpur.
Dan kemudian, secepat awal terjadinya, serangan itu tiba-tiba saja berhenti. Di suatu saat ia dipukuli dan ditarik, berikutnya, tak dapat dijelaskan, kerumunan bubar dan menarik diri ke balik dinding gang, meninggalkannya meringkuk, dengan suara mendenging menggema di telinganya. mulanya ia berpikir itu akibat pukulan; kemudian, begitu inderanya mulai jernih kembali, ia menyadari bahwa itu adalah suara teriakan seorang perempuan. Ia tetap dalam keadaannya, batuk, ketakutan bila bergerak seinci pun akan memicu kekerasan baru lagi. Lalu, secara perlahan, ia menegakkan tubuhnya, tali masih menjuntai dari lehernya seperti dasi yang terpasang secara acak-acakan.
Madji sedang duduk di pintu rumahnya, wajahnya memucat, tangannya memegang kencang roda kursinya. Ibunya, bungkuk dan lemah, sedang berdiri di luar, melambaikan tangannya, memukul-mukul kerumunan, memperingatkan mereka. Walaupun dari kejauhan ia adalah orang yang paling kecil di gang itu, orang-orang kelihatan takut akan kehadirannya, tidak mampu menahan tatapannya yang berapi-api. Ia terus berteriak selama hampir satu menit, menggerakkan tangannya dengan suara serak, kemudian melangkah mendekati Ben-Roi.
“Keefak?” Ben-Roi melihat sekeliling secara liar, darah mengucur dari pelipisnya, seluruh tubuh gemetar, dan tidak mengerti apa yang dikatakan perempuan tua itu.
“Kau terluka?” teriak Madji.
Ajaibnya, dengan keganasan serangan seperti itu, ia tidak merasakan sakit. Beberapa luka memar, bibir yang terluka, tali yang membakar lehernya hanyalah luka biasa, tak ada yang serius. Ia mencoba berbicara, tetapi kata-katanya terasa terhenti di kerongkongannya, dan akhirnya yang dapat dilakukannya adalah memberikan anggukan perlahan, seperti boneka kayu dengan leher patah. Perempuan tua itu membungkuk mengambil pistolnya, yang terjatuh dalam pergumulan, dan, sambil tertatih ke depan, memberikannya pada Ben-Roi, mengangkat tangannya yang lemah dan menyekakan lengan bajunya pada dagu Ben-Roi yang dipenuhi bercak darah.
“Ehna Mish Kilab,” katanya pelan. “Mish Kilab.”
Ben-Roi menatap matanya untuk sesaat, kemudian berbalik dan melangkah menjauh dari gang itu, menarik tali dari lehernya dan memasukkan kembali pistolnya ke dalam sarung, bisikan kerumunan orang itu mengikutinya seperti embusan angin yang marah.
Di bawah sana, sopir taksi sedang berdiri di dekat mobilnya, gemetar. “Sudah kubilang berbahaya datang ke sini,” katanya. “Aku bilang Anda....”
“Aku tak peduli apa yang kau katakan!” desis Ben-Roi, sambal membuka pintu penumpang, mengempaskan dirinya ke dalam mobil dan menarik botol dari sakunya. “Bawa aku keluar dari lubang kotoran sialan ini. Bawa aku pergi sekarang.”
__ADS_1