Detektif Terpilih

Detektif Terpilih
BUKU RAHASIA


__ADS_3

Kembali kekantornya, Khalifa mengunyah lobak china dari kemasan torshi yang dibelinya dalam perjalanan pulang dari vila milik Hoth. Sembari mendesah ia mengangkat telepon dan memutar nomor telepon genggam Ben-Roi. Teleponnya berdering empat kali, kemudian diangkat oleh sang empunya. Seperti biasa, Israel satu ini tidak ingin repot dengan segala formalitas.


“Jadi?”


“Tidak dapat apa-apa,” jawab si mesir.


“Sialan!”


“Kau sendiri?”


“Seperti apa kedengarannya?” Khalifa menggelengkan kepala, sembari bertanya apakah laki-laki ini bisa membangun kalimat yang tidak melulu mengandung sumpah serapah. Tidak pernah dalam hidupnya....


“Kau bertemu dengan saudara laki-lakinya lagi?” Khalifa bertanya, mencoba tetap menjaga suaranya agar sopan, tidak terlalu memikirkan betapa Israel satu ini selalu kasar tutur bahasanya.


“Baru saja selesai.”


“Dan?”


“Persetan semua. Laki-laki itu zombie. hanya duduk disana asyik dengan bukunya sambil menggumamkan sesuatu yang terdengar aneh.” Terdengar suara perempuan barangkali suara Layla Al-Madani menanyakan Ben-Roi apa yang sedang dikatakan dan si Israel menjawab dengan agresif, ’Tunggu sebentar!’


“Tidak ada apa-apa sama sekali di rumah Hoth?” suara Ben-Roi menggelegar di jalur telepon. “Kau yakin?”


“Yakin,” jawab Khalifa. “Aku sudah memeriksa setiap inci bagiannya.”

__ADS_1


“Kebunnya?”


“Ya, itu juga.”


“Bagaimana dengan ...?”


“Dan mobilnya. Hotelnya. Polisi Iskandaria juga telah memeriksa tempat tinggalnya dulu. Tidak ada lagi yang dapat diperiksa, Ben-Roi. Tidak di sini. Tidak di mesir. Tidak ada apa-apa.”


“Yahh, kau pasti melewatkan sesuatu.”


“Tidak ada yang terlewat,” seru Khalifa sambil mengencangkan kepalan tangannya. “Aku bilang, tidak ada apa-apa di sini!”


“Yahh, teruskan mencari.”


“Bila itu yang perlu dilakukan, ya! Kita harus menemukannya. Aku harus....” Si Israel ini terhenti, tiba-tiba saja, seolah sedang mengendalikan dirinya sendiri dari komentar yang tidak ia inginkan. Terjadi jeda sesaat, kemudian ia memulai lagi, berusaha kuat menjaga level suaranya.


“Kau tahu apa risikonya. Teruslah mencari.” Si mesir menghela tangannya tak berdaya. Seperti sedang berbicara dengan dinding batu sialan! Ia bergumam dengan bibir mengencang, “Baiklah, baiklah, akan kulihat nanti apa yang bisa kulakukan,” dan menggerakkan badannya ke depan, hendak meletakkan gagang telepon.


“Ngomong-ngomong, buku apa itu?” tanyanya.


“Apa?”


“Kau bilang saudaranya Schlegel memegang buku.” Diam sesaat, si Israel ini benar-benar terempas oleh pertanyaan itu, kemudian terdengar kata-kata berguman saat ia bertanya pada Layla. hal berikutnya, begitu kerasnya sehingga Khalifa menjauhkan gagang telepon dari telinganya, terdengar suara ban mencicit di jalan begitu mobil itu mengganti arah, dibarengi suara klakson yang nyaring menyakitkan telinga.

__ADS_1


“Ben-Roi?”


“Nanti kutelepon lagi!” teriak si Israel. Kemudian, kepada Layla, “Kenapa kau tidak....” Jalur telepon terputus.


*****_____*****


Tema Cerita tentang “Kasih Sayang Orang Tua, Di Terlantarkan, Penghianatan dan balas dendam serta Ambisius, pertualangan berskala besar….”


“Setting cerita membuat segalanya masuk akal, dan alur cerita yang terentang ribuan tahun menjadi latar belakang penuh warna bagi berbagai kesulitan yang dialami para pelaku utamanya.”


“Pertualangan yang menggairahkan dan menyenangkan menumpas kasus yang akhirnya menyeret kepada kejadian yang tidak terduga, melibatkan beberapa Bangsa dan Kepercayaan dari tiga (3) Agama dalam memperebutkan Tanah Suci dengan Politik Timur Tengah yang suram dan tidak tenang, di selingi dengan kisah romansa cinta sesaat dari pelaku itu sendiri.”


*Komen dan sarannya dikolom komentar dibutuhkan, serta jangan lupa Vote ya…*


By the way, Enjoy it


Ikuti juga Instagram di: @itsme.okta


Thanks in Advaned


Best Regards


*****

__ADS_1


__ADS_2