
Khalifa muncul dari belakang lori itu, melewatinya dan menyusulnya lagi dan kembali ke jalurnya, memencet klakson mobilnya sembari bermanuver. Jauh di sisi kirinya berdiri bukit kuning di kejauhan yang bergelombang dan besar seperti barisan istana pasir yang rapuh; di sisi kanannya, lebih dekat, di balik sebidang tanah dipenuhi tanaman tebu dan pisang, sungai Nil mengalir berkelok-kelok perlahan menuju utara dengan permukaannya yang hitam dan halus, seperti pita metal yang disemir. Ia menyalakan rokok, menekan pedal gas dan menyalakan radio. Shaaban Abdul-Rahim menyanyikan lagu hitnya, “Ana Bakrah Israel” “Aku benci Israel”. Khalifa mendengarkan sebentar, kemudian beralih ke stasiun lain.
Sebuah tanda lalu lintas terlewati yang mengindikasikan bahwa masih sekitar enam puluh kilometer lagi menuju edfu. Saat itu satu minggu telah berlalu sejak ditemukannya jasad Jansen di malqata, dan selama periode itu ia tidak mendapatkan informasi baru apa pun tentang Piet Jansen yang misterius.
Diakuinya bahwa ia harus menjalankan investigasi itu secara diam-diam tanpa sepengetahuan Chief Hasani, datang ke kantor lebih pagi, bekerja hingga larut malam, membuat beberapa panggilan telepon penting di saat makan siang, menyesuaikan diri semampunya dengan pekerjaan polisi yang ada. Walaupun tanpa batasan seperti ini pun, ia ragu dapat mengungkap lebih banyak lagi tentang subjek kasus ini. Semua tentang kehidupan Jansen, dari keamanan obsesif di vilanya sampai ke kurangnya informasi tentang masa lalunya, tampak disengaja untuk menjaga kehidupannya tetap pribadi. Lebih dari privasi. Rahasia. Terkurung dinding. Tidak dapat diakses.
Ia telah mengajukan aplikasi dan telah diberi kewarganegaraan mesir pada oktober 1945. Itulah paling tidak yang ditemukan Khalifa dari seorang teman lama di Kementerian Dalam Negeri. Setelah itu Jansen tinggal di Iskandaria, menjalankan bisnis penjilidan buku yang lumayan sukses dari sebuah rumah di Sharia Amin fikhry, sebelum pindah ke Luxor pada maret 1972, mem beli vilanya yang pertama dan setelah itu, tujuh bulan kemudian, hotel (mengubah namanya menjadi menna-Ra dari hotel Good Welcome yang lebih prosais). Dokumen banknya mengungkapkan bahwa ia, bila tidak kaya raya, paling tidak berkecukupan secara finansial. Sementara menurut catatan medisnya ia menderita wasir, rematik, radang pada jari kaki, dan kejang, juga kanker prostat yang sudah parah, yang telah didiagnosis sejak Januari 2005.
Kakinya adalah warisan dari kecelakaan mobil pada 1982 yang telah menghancurkan lutut kanannya. Ada beberapa serpihan informasi acak Jansen adalah pengunjung setia perpustakaan egyptological di Chicago house, senang berkebun, tidak memiliki catatan polisi hanya itu saja. Kapan ia pertama kali tiba di mesir, mengapa dan dari mana, dan apabila ada hubungannya dengan hannah Schlegel, semua tetap hilang dalam kabut ketidakjelasan. Banyak orang mengenalnya, sepertinya demikian, tetapi ketika didesak, tidak satu pun yang kelihatan benar-benar mengetahui apa saja tentangnya. hal itu mengesankan seolah ia tidak memiliki masa lalu, seolah tidak ada apa pun dibawah permukaan. Bahkan pendapat Carla Shaw bahwa ia berasal dari Belanda telah sampai pada titik buntu. Kedutaan Besar Belanda memberitahukan bahwa Piet Jansen adalah salah satu nama paling umum di negerinya dan bahwa tanpa tahun kelahiran atau lokasi maka tidak mungkin dapat menelusuri asal-usulnya.
Ada satu petunjuk yang potensial menarik, dan itu berasal dari tagihan telepon laki-laki yang sudah tewas ini. Jansen tidak pernah membuat banyak panggilan telepon, dan biasanya adalah panggilan ke menna-Ra. hanya satu nomor lain dalam tagihannya, di Kairo, terindikasi beberapa kali dihubungi sembilan kali selama tiga bulan terakhir. Khalifa telah memeriksanya pada Egypt Telecom, sambil berpikir bahwa mungkin saja itu adalah salah seorang teman yang disebutkan Carla Shaw ketika mereka mewawancarainya minggu lalu. Akhirnya, ini juga terbukti menjadi fakta yang mengalihkan perhatian, karena nomor itu bukan milik alamat pribadi melainkan ke telepon umum bayar di distrik Al-maadi di kota itu.
Pendeknya, nyaris tidak ada kemajuan berarti. Itulah sebabnya ia berada di dalam mobil ini sekarang. Khalifa mempercepat laju mobilnya, melewati pedesaan kecil dan bobrok, bukit dan sungai di kiri atau kanan yang kadangkala begitu dekat dengan jalan, dan kadangkala jauh dari jalan seolah ketakutan akan lalu lintas yang cepat. matahari naik di sisi kirinya, mengapung di udara seperti telur yang menyembul di air mendidih. Sinarnya yang semakin memanas menyebabkan tanah bumi yang lembab setelah pencangkulan kembali berkilau dan menguap bak kue dipanggang.
Ia sampai di edfu tiga puluh menit kemudian, menyeberangi sungai Nil lewat jembatan empat jalur di kota itu dan menelusuri jalannya melalui jalanan berdebu dan padat merayap sebelum melanjutkan ke arah selatan, di sisi barat sungai. Setelah enam kilometer, ia menghentikan kendaraannya di sisi kedai tepi jalan untuk bertanya tentang arah. Dua kilometer dari situ ia berbelok ke kiri dari jalan utama menuju jalanan berpasir yang menggiring ke arah kebun bawang merah dan kobak, kadang-kadang terempas kelekukan padat pohon falak, sebelum akhirnya tiba di depan sebuah rumah bercat putih dengan ornamen, berdiri di tepi sungai. Rumah Ehab Ali mahfuz, atasan terdahulu Khalifa, laki-laki yang telah memimpin investigasi kasus pembunuhan Schlegel. Ia berhenti dan mematikan mesin mobil.
Datang kemari adalah perjudian besar bagi Khalifa. Walaupun mahfuz sudah mengundurkan diri dari kesatuan tiga tahun lebih cepat, ia tetap masih memiliki pengaruh. Bila ia merasa diserang pada kunjungan ini maka ia akan dengan mudah mengeluarkan pernyataan yang akan menurunkan Khalifa dengan segera menjadi polisi penjaga yang ditempatkan di stasiun terkutuk jauh di tengah Padang Pasir Barat. Itu saja, atau sekaligus didepak keluar dari kesatuan. Bila Khalifa menginginkan kasus ini secara resmi dibuka kembali dan ia telah mencapai titik dalam penyelidikannya tempat ia tidak bisa bekerja lebih jauh lagi dalam keadaan tidak resmi maka ini adalah perjudian tempat Khalifa tidak memiliki pilihan lain kecuali mengambilnya. Chief hasani tampaknya tidak akan membantunya. Bila ia melewati sosok hasani katakanlah ke komisioner wilayah maka hal ini akan menghalanginya dalam kekusutan biropetiis yang bisa saja membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk diselesaikan. mahfuz memiliki kekuasaan untuk membuat banyak hal bergerak segera. Pertanyaannya adalah, akan kah ia siap menggunakan kekuatan itu? Khalifa tidak mengingatnya sebagai seorang laki-laki yang mau mengakui kesalahan.
Khalifa mengetuk-ngetukkan jari-jari tangannya dengan gugup pada kemudi, kemudian meraih laporan yang terketik rapi tentang penemuannya sejauh ini, keluar dari mobil dan menuju pintu depan lalu memencet bel. Ada jeda beberapa saat. Kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat. Pintu terbuka, terlihat seorang perempuan setengah baya berkulit gelap yang berpakaian jubah hitam dan tarha. Pasti pengurus rumahnya, Khalifa menduga.
“Shabahul Khair,” katanya.
“Aku datang untuk bertemu inspektur kepala.”
“Komandan Mahfuz tidak mau menerima siapa pun saat ini,” kata perempuan itu sambil menekankan kata “komandan”, pangkat terakhir mahfuz saat ia pensiun dari kesatuan.
“Untuk beberapa menit saja. Aku datang jauh dari Luxor. Ini penting sekali.”
“Sudah ada janji sebelumnya?” Khalifa mengaku bahwa ia belum membuat perjanjian untuk bertemu.
“maka dia tidak akan mau menemui Anda.” Ia baru akan menutup pintu, tetapi Khalifa melangkahkan kakinya pada rentang sempit yang ada.
“Tolong katakan padanya bahwa Inspektur Yusuf Khalifa ada disini,” katanya dengan tegas. “Katakan padanya ini penting sekali.” Ia menatapnya dengan marah, kemudian memintanya untuk tetap berada di situ, dan menghilang ke dalam rumah.
Khalifa bersandar pada kusen pintu dan menyalakan rokoknya, mengisapnya dalam-dalam. Terlepas dari kebiasaannya untuk selalu berdebat dengan hasani, pada dasarnya ia bukanlah tipe orang yang konfrontasional, dan situasi seperti ini tidak terjadi dengan mudah pada dirinya. Ia sedang berpikir tentang saat di universitas dulu ketika dia menentang gurunya di depan semua siswa di kelas, mengatakan padanya bahwa dia menemukan kenyataan yang salah, dan rasa takut yang membuat sakit perut yang ia rasakan saat mengangkat tangan dan berbicara lantang. Perasaan takut yang sama ia rasakan saat ini—seperti seorang laki-laki malang yang merambat naik melalui tangga dan takut melakukan apa pun yang akan membuatnya turun lagi ke bawah, ke tempat asalnya.
Ia kembali mengisap rokoknya, berbalik dan menatap jauh kelapangan yang tadi dilewati, mengamatinya dari jauh, sesosok setengah telanjang di sana dengan touria, tubuhnya muncul dan tenggelam dengan kepersisan ritmis dan perlahan mainan anak-anak.
“Apa yang kulakukan?” ia berpikir sendiri.
“Apa sih yang sedang aku kerjakan?”
Perempuan itu kembali beberapa menit kemudian. Ia setengah berharap bahwa perempuan itu akan mengatakan mahfuz tidak berkenan menemuinya. Dan memang ya, perempuan itu memintanya untuk mematikan rokok dan melemparkan pandangan padanya seolah mengatakan “ini bertentangan dengan penilaian terbaikku”, mengantarkannya ke ruang dalam yang sejuk.
“Komandan sedang tidak sehat,”
Jelasnya singkat saat mereka melewati beberapa kamar menuju bagian belakang gedung.
“Ia baru keluar dari rumah sakit dua minggu yang lalu. Dokter mengatakan dia tidak boleh diganggu.”
Ia sampai pada ruang tunggu yang besar dan berpenerangan matahari, dengan lantai keramik dan tempat lilin berhias yang tergantung di langit-langit. Di sisi yang agak jauh ada serangkaian pintu kaca menuju kebun penuh bunga.
“Dia di sana,” katanya.
“Aku akan menyediakan teh. Jangan merokok ya.”
Ia menatap lama Khalifa untuk memastikan bahwa laki-laki itu menerima pesannya, kemudian berbalik dan menghilang. Untuk sesaat Khalifa berdiri menatap sebuah foto besar mahfuz dalam bingkai yang sedang bersalaman dengan Presiden mubarak, kemudian melangkah mendekati pintu yang mengarah ke taman.
Di depannya, di area berumput yang terawat rapi dan dibatasi rumpun mawar merah jambu dan kuning, sebuah pelataran kayu berukuran kecil menjorok ke sungai. Di atasnya, membelakangi dirinya, terpasang payung pelindung matahari de ngan garis-garis putih dan hijau. Ia berkomat-kamit berdoa dan mulai melangkah di areal rumput, mencapai pelataran kayu dan merunduk di bawah payung.
“Aku baru saja bertanya-tanya kapan kau akan datang,”
Kata sebuah suara parau dan serak. “Aku begitu mengharapkan kehadiran mu selama lebih seminggu ini.”
Mahfuz sedang berbaring pada bantal-bantal, satu tangannya bersandar pada tatakan lengan, yang lain memegang masker oksigen plastik yang darinya sebuah pipa seperti usus yang cukup tebal menyambung pada silinder metal di bawah tubuhnya. Khalifa begitu terkejut dengan perubahan yang ada pada penampilannya.
Terakhir kali ia melihat komandan ini, lebih dari lima tahun lalu, dia masih begitu gagah, berbahu lebar, berotot dan kuat secara fisik, seperti pegulat berbobot berat (Banteng edfu, ia biasa dipanggil). Kini ia hampir sulit dikenali, tubuhnya layu dan susut menjadi sesuatu yang mengingatkan pada segaris kulit yang sudah terpakai, dengan wajah seperti tengkorak dan anggota tubuh yang tak berdaging. hampir semua rambut dan giginya rontok, dan matanya yang cokelat, yang diingat Khalifa sebagai mata yang bersinar dan galak, telah memudar menjadi warna air yang stagnan. Di balik djellaba putihnya terlihat kantung air seni yang menggelembung.
“Tidak banyak dariku yang masih tersisa.”
__ADS_1
Ia tertahan, memahami ekspresi yang ada pada wajah Khalifa.
“Kandung kemih, usus besar, satu paru-paru, semua sudah hilang. Aku merasa seperti koper kosong.”
Ia mulai batuk dan, dengan mengangkat masker oksigen pada wajahnya, menekan tombol yang ada di depannya dan mulai mengisap.
“Maafkan aku,”
Gumam Khalifa perlahan.
“Aku tidak tahu.”
Mahfuz mengangkat bahu dengan lemah, menarik oksigen, sambil menatap rakit kusut ward-i-Nil perlahan melaju di sungai.
Hampir satu menit lamanya sebelum napasnya stabil, ia dapat menurunkan maskernya lagi, mengangguk pada Khalifa agar duduk di kursi di sebelahnya.
“Aku hampir sebulan,” Katanya parau.
“Dua bulan di luar, Dengan morfin hampir teratasi.” Khalifa tidak tahu apa yang harus dikatakan.
“maafkan aku,” ia mengulang. Mahfudz tersenyum tanpa rasa humor.
“hukuman,” ia mendesis.
“Apa yang sudah pergi, bisa dating kembali. Kesempatan selalu akan ada bila bersabar.” Sebelum Khalifa dapat bertanya apa yang ia maksudkan, pengurus rumah yang tadi datang membawa nampan berisi dua cangkir teh. Ia meletakkan kedua cangkir di meja kayu yang rendah, menaikkan bantal majikannya dan, dengan tatapan masam pada Khalifa, melangkah pergi lagi.
“Umm muhammad,” kata mahfudz.
“Perempuan menyebalkan, eh? Jangan masukkan dalam hati. Ia bersikap begitu pada setiap orang.”
Ia memiringkan badan ke satu sisi dan mengulurkan tangannya yang gemetar ke cangkir teh. Ia tidak dapat meraih cangkir itu, dan Khalifa membantu mengambilkan cangkir itu dan memberikan padanya.
“Nyonya mahfuz?” Tanyanya, mencoba membuka percakapan.
“Sudah wafat. Tahun lalu.” Khalifa malu. Ia sama sekali tidak memperkirakan hal ini.
“Kau berpikir, seharusnya kau tidak usah datang ke sini, ’kan?” Bisiknya, sembari mencoba membaca pikiran detektif ini.
“Bahwa sudah cukup penderitaan orang tua ini. mengapa menambah lagi masalahnya?” Khalifa mengangkat bahu, menatap lantai bawah pelataran kayu, pada air berlumpur yang mengalir di bawahnya.
“Anda tadi bilang Anda mengharapkan kedatanganku,”
Ia berkata pelan setelah diam beberapa saat. Mahfuz mengangkat bahu.
“Hasani menelepon. menceritakan padaku apa yang sedang terjadi. Bahwa kau kini mengendus kasus Schlegel. Kalau kau adalah Khalifa yang kuingat, aku tahu bahwa pada akhirnya kau akan datang.” Ia tersenyum pada dirinya sendiri, ekspresinya terasa lebih kepada sakit daripada gembira, dan terbatuk-batuk, gelas di tangan nya bergoyang, tetesan air teh muncrat mengenai djellabanya. Ia memberi tanda pada Khalifa untuk mengambil gelas di tangannya, mengangkat kembali maskernya, dan menghirup panjang oksigen. Detektif itu mengalihkan pandangan ke seberang sungai.
Pemandangan yang megah air yang biru-gelap, rumpun alang-alang yang berbisik, felluca mengalir mendekati pantai seberang, layarnya yang bergelombang menantang langit seperti pipi yang menempel di bantal. mahfuz memerhatikan arah pandangannya dan menggeser maskernya ke samping.
“Satu hiburan untukku,” Katanya dengan suara parau.
“Paling tidak aku akan mati dengan pemandangan yang indah.” Ia memindahkan masker, kembali menelungkupkannya, menghirup oksigen seperti seekor ikan yang terdampar di tepi ber lumpur.
Khalifa menyeruput tehnya dan mengambil rokoknya, dan kemudian teringat apa yang dikatakan pengurus rumah agar tidak merokok. Maka ia hanya meletakkan tangannya pada pangkuannya. Kembali ke taman, seekor burung pemakan lebah sedang berputar-putar pada rumpun mawar, melihat ke bunga-bunga di bawahnya.
Akhirnya, mahfuz cukup merasa pulih untuk menggeser kembali maskernya. Khalifa mendoyongkan badannya ke depan dan memberikan laporan terketik itu kepadanya.
“Aku pikir Anda perlu melihat laporan ini, Pak.”
Mahfuz menerima laporan itu dan, sambil mengernyit saat ia menyesuaikan posisinya, ia membaca perlahan semua laporan, membalikkan halaman dengan tangannya yang gemetar. Begitu sampai pada bagian akhir, ia membiarkannya dan menyandarkan kepalanya yang lemah kembali ke bantal.
“Aku selalu mencurigai.” Suaranya begitu pelan sehingga Khalifa merasa keliru mendengarnya.
“Ya, Pak?”
“Jansenlah yang membunuh perempuan tua itu. Aku selalu curiga.” Khalifa duduk menatapnya, terkejut.
“Bukan sesuatu yang kau harapkan, eh?” Kata mahfuz dengan suara tertahan.
Ia menggerakkan kepalanya perlahan, melemparkan pandangan pada tepi sungai yang jauh tempat sekumpulan kerbau air telah menenggelamkan diri di dalam air untuk minum, kaki belakangnya yang bertulang berayun seperti pendulum dari sisi yang satu ke sisi lainnya. Khalifa menyentuh dan mengosok-gosok pelipisnya, mencoba mengumpulkan pikirannya. Ia merasa seperti ada gelombang besar menyapu dirinya, membuatnya tersedak dan kehilang an orientasi.
__ADS_1
“Anda tahu?” ia mencoba bergumam.
“Tidak secara pasti,” kata mahfuz.
“Tetapi bukti secara pasti menuju ke arah itu. Topi, tongkat jalan, rumah di dekat Karnak. Bagian telapak kakinya sungguh menarik. Aku tidak tahu tentang hal itu.” Gelembung kecil air liur terbentuk pada sudut bibirnya dan ia menyekanya dengan ujung lengan djellabanya.
“Aku kenal dia, kau tau itu. Jansen. Tidak kenal baik, tetapi cukuplah. Kami berdua senang bertaman, menjadi anggota horticultural Society. Biasa menghadiri pertemuan yang sama. Laki-laki yang sangat tidak menyenangkan. Dingin. meskipun cocok dengan bunga mawar.” Ia tetap mencoba menyeka gelembung kecil itu.
“Ketika aku melihat tanda pada tubuh Schlegel, mendengar cerita penjaga tentang burung atau apa pun itu, maka tampaknya ini adalah kebetulan yang aneh. Khususnya dengan sikap Jansen terhadap warga Yahudi, dan tempat tinggalnya yang begitu dekat dengan tempat kejadian perkara pembunuhan. Diakui bahwa itu bergantung keadaan, tetapi bila kita mengikutinya, aku yakin kita pasti akan dapat menangkapnya.” Ia merendahkan tangannya lagi, bernapas berat. Terdengar suara kecipak air cukup keras ketika sepasang angsa turun ke sungai, kakinya berkecipak di depan mereka dengan sayap yang terentang.
Khalifa melihat tangan laki-laki itu gemetar.
“Tapi mengapa?” Ia bertanya, dengan suara parau, bingung.
“Bila Anda berpikir bahwa Jansen bersalah, mengapa mendakwa Jamal?” Mahfuz melemparkan pandangan pada angsa.
“Karena aku diperintahkan untuk itu.” Setelah sesaat jeda, ia menambahkan, “oleh al-hakim.” Sekali lagi Khlifa merasa seperti terhantam gelombang besar, bergulung-gulung. Segala sesuatu di sekitarnya seolah di luar kendali, semua poin referensinya terhapus. Sampai pada kematiannya tahun lalu, faruk al-hakim adalah kepala Jihaz Amn al-Daulah, jasa keamanan negara mesir.
“Aku selalu tahu ini akan mengejarku,” bisik mahfuz.
“Semua ini tak terkecuali. memang melegakan. hal ini sudah ada bersamaku terlalu lama. Lebih baik mengungkapnya di tempat terbuka. hadapi ini.” Suara klakson yang keras terdengar melengking di sisi kanan mereka, di sekitar tikungan di sungai. Sebuah kapal Nile raksasa sedang berlayar, bermuatan batu pasir. haluannya memperlihatkan galur mendalam melalui permukaan datar air, seperti pahat yang dipalukan pada kayu halus dan gelap. Kapal itu sudah mencapai dan melewati mereka sebelum mahfuz melanjutkan bicaranya lagi.
“Sejak awal aku tahu ini akan menjadi kasus yang sulit,” Keluhnya, suaranya tidak lebih keras dari bisikan.
“Selalu begitu manakala politik sudah ikut campur. Schlegel dibunuh kurang dari sebulan setelah pembunuhan besar-besaran di Ismailiya. Kau ingat? Sembilan wisatawan Israel dihabisi di dalam bus. Dan kini orang Israel lagi yang tewas. Terlihat tidak baik. Khususnya di depan orang Amerika. mereka hampir saja membatalkan beberapa program pinjaman yang besar. Jutaan dolar. Kau tahu apa yang mereka sukai tentang Israel. Persoalan Schlegel dapat mengangkat masalah ini. Percayalah padaku, ada begitu banyak orang khawatir di Kairo sana. Al-hakim mengambil alih secara personal. Ada tekanan yang sangat kuat untuk segera mendapatkan terdakwa.” Ia diam sejenak, mencoba mengatur kembali napasnya. Khalifa mengetuk-ngetukkan jari-jari tangan pada lututnya, mencoba mendapatkan pegangan tentang apa yang baru didengarnya. Dari situ ia telah berasumsi bahwa ia sekadar berurusan dengan keadilan yang gugur secara kebetulan. Kini tampaknya ia tengah terlibat dalam sesuatu yang jauh lebih kompleks dan membahayakan.
“Tapi, kalau Anda tahu Jansenlah pelakunya, mengapa Al-hakim mengatakan pada Anda agar mendakwa seseorang yang lain?” Maffudz menggerakkan tangannya tak berdaya.
“Entahlah. entah dulu, entah juga sekarang. Sudah kuceritakan pada Al-hakim tentang Jansen, tetapi ia mengatakan sudah sampai pada batas. Dikatakan bahwa menarik Jansen ke dalamnya akan membuat keadaan semakin buruk, akan mengenyahkan orang-orang Yahudi lebih banyak lagi. Itulah kata-katanya. Bila kita menyelidiki Jansen maka berarti akan semakin banyak orang Israel dibidik. Ia memintaku mencari seseorang yang lain untuk menerima hukuman. Jadi kami menunjuk Jamal saja.”
Suaranya semakin memburuk, sembari mengangkat masker oksigennya, menghirup beberapa kali, dadanya yang ringkih menyentak naik turun seperti sekumpulan puputan bocor, tangannya gemetar tak terkontrol. Dengan sedikit rasa jijik, Khalifa memerhatikan bahwa kantong yang ada di bawah djellabanya perlahan menggelembung karena ada air seni yang mengalir ke dalamnya melalui saluran di perutnya. Terdengar lagi suara klakson ketika Kapal Nile menghilang di arah utara di tikungan lain sungai itu.
“Kasus itu mengangkat hidupku,” kata mahfuz, sambil menurunkan kembali maskernya. “Aku dipromosi, namaku muncul di media, ada telegram dari mubarak. Semua itu omong kosong belaka dibandingkan pada yang dituduh bersalah. Bukan tentang Jamal. Laki-laki itu hanyalah serpihan kotoran. Layak menerima apa pun yang ia dapatkan. Tetapi istri dan anak-anaknya....” Ia terenyak, mengangkat tangannya yang seperti tongkat dan mengusap matanya. Pertemuan yang aneh dengan istri Jamal menyelinap ke dalam pikirannya. Uang itu datang lewat pos. Tanpa catatan, tanpa nama, tanpa apa-apa. hanya tiga ribu pound mesir, dalam pecahan seratusan.
“Andalah kalau begitu yang mengirimi mereka uang itu terus-menerus,” katanya perlahan.
Mahfuz mengangkat wajahnya, terkejut, kemudian menjatuhkan kepalanya lagi.
“Setidaknya itulah yang bisa kulakukan. membantu mereka bertahan hidup. menyekolahkan anak-anaknya. Tak seberapa.” Khlafia menggelengkan kepalanya, berdiri dan berjalan ke tepi pelataran kayu, memandangi cipratan air Sungai Nil yang menjorok ke tempat dangkal di bawah.
“Apa hasani tahu?” Mahfuz menggoyangkan kepalanya.
“Tidak pada saat itu. Aku beri tahu ia setelahnya, setelah Jamal menggantung diri. Ia hanya ingin melindungi aku. Jangan tuding dia terlalu kasar.”
“Dan arsip kasus ini? Sudah tidak ada di ruang penyimpanan arsip.”
“Hasani membakarnya. Kami pikir itu yang terbaik. Lupakan seluruhnya. Itu milik masa lalu.” Ia tersenyum pahit.
“Tapi kemudian itulah masalahnya dengan masa lalu, ’kan? Ia tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia selalu ada di sana. Bergantung. Seperti lintah. mengisap darah. Apa pun yang kau lakukan, apapun yang kau katakan, kau tidak akan pernah benar-benar keluar darinya. Aku sudah mencoba. Percayalah padaku. Seperti lintah keparat. menguras habis hidupmu.” Ia bergerak lemah untuk mengambil tehnya, memberi tanda bahwa rongga dadanya kering dan memerlukan cairan. Khalifa melangkah mendekat dan memberikan cangkir itu padanya. Ia tidak dapat memegangnya dengan stabil, dan akhirnya Khalifalah yang memegang cangkir itu untuknya. mahfuz mendoyongkan tubuhnya ke depan dan menyeruput tehnya. Begitu selesai, ia kembali bersandar, terkulai tak berdaya seperti boneka kain.
“Aku adalah polisi yang baik,” ia berbisik.
“Apa pun yang mungkin kau pikirkan. empat puluh tahun aku melayani. Tak terhitung jumlah kasus yang sudah kuselesaikan. Perampokan Aswan express. Pembunuhan Gezira. Girgis Wahdi. Kau ingat dia? Girgis al-Gazzar, tukang jagal dari Butneya. Begitu banyak kasus. Tapi hanya satu ini yang terus melekat bersamaku. Aku membiarkan pembunuhnya berlalu bersamanya.” Ia cepat kelelahan sekarang, napasnya pendek-pendek, embusannya tajam, anggota tubuhnya gemetar. Ia kembali meraih masker oksigen dan menghela beberapa kali tarikan napas, mengernyit seolah kesakitan.
“BUKALAH KEMBALI KASUSNYA,”
Ia bergumam, sembari menggeser maskernya ke samping.
“Itu ’kan yang kau inginkan? Aku akan bicara pada Hasani dan siapa pun yang perlu kuajak bicara. Tidak akan ada efek praktis. Al-hakim sudah mati. Jansen sudah mati. Jamal sudah mati. Tetapi paling tidak kau akan dapat menemukan kebenaran. Ini hanya masalah waktu.” Suara langkah kaki terdengar saat pengurus rumah semakin mendekati lapangan rumput, sambil membawa nampan pembedahan kecil.
“Anda?” tanya Khalifa. Mahfuz terbatuk.
“Ada apa denganku? Aku akan mati dalam beberapa minggu. Paling tidak aku akan mengetahui bahwa akhirnya aku melakukan hal yang tepat di akhir hariku.” Ia mengangkat lagi masker oksigennya, menghirup beberapa kali, kemudian dengan kekuatan yang masih tersisa, mengulurkan tangan dan mencengkeram lengan Khalifa.
“Cari kebenaran itu,” bisiknya.
“Untukku, untuk istri Jamal, untuk Allah bila kau mau. Tetapi berhati-hatilah. Ia orang yang berbahaya. Si Jansen itu. memiliki sejumlah teman di kelas atas. Rahasia yang berbahaya. Aku coba untuk melindungimu. Tetapi, hati-hatilah.” Mata yang meredup menatap lelah pada Khalifa, kemudian menutup. Detektif itu memandanginya untuk beberapa saat, kemudian melepaskan tangannya. Ia berjalan melewati pengurus rumah itu dan melintasi taman itu lagi. Setengah jam yang lalu ia telah berdoa agar mahfuz mengizinkan kasus ini dibuka kembali.
Setelah apa yang didengarnya tadi, ia kini merasa lebih baik berharap untuk tidak dibuka lagi saja.
__ADS_1