
Khalifa suka sekali reruntuhan Kuil Karnak, Khususnya di akhir hari, ketika kerumunan orang sudah menipis dan matahari terbenam menyelimuti seluruh kompleks dengan kabut keemasan. Iput-Isut, begitu orang-orang zaman dulu menyebutnya, “tempat paling bernilai”, dan ia dapat mengerti karena memang ada sesuatu yang magis di dalamnya, kota reruntuhan yang terentang di tengah-tengah antara bumi dan surga. Berada di sana selalu mampu membawanya keluar dari dirinya sendiri, menghaluskan dan menenangkannya, seolah ia telah dipindahkan ke dimensi waktu dan ruang berbeda, meninggalkan semua masalah yang sedang melanda.
Tetapi tidak hari ini. hari ini, patung monumental dan dinding yang dipenuhi hieroglif telah membuatnya membeku dingin. Memang ia hampir tidak memerhatikan mereka, begitu hanyut dalam pikirannya sendiri, melintasi pilar pertama dan kedua lalu masuk ke dalam ruang rimba dalam Aula hypostyle yang besar dengan menatap sekilas pada sekelilingnya. Saat itu hampir pukul 5 sore. Atas perintah Chief hasani, ia telah menghabiskan hampir seluruh sore harinya di Winter Palace, berurusan dengan turis perempuan Inggris yang telah melaporkan kehilangan perhiasannya. Ia dan Sariya telah menghabiskan waktu tiga jam mewawancarai seluruh staf rumah tangga sebelum perempuan itu akhirnya ingat bahwa ia tidak membawa perhiasannya.
“Anak perempuanku memintaku meninggalkan perhiasan itu di rumah saja,” jelasnya, “nanti malah dicuri. Anda tahu, di negara-negara Arab....” Setelah menyelesaikan persoalan tersebut, Khalifa kembali ke kantor dan duduk sendiri di meja kerjanya, terus-menerus merokok, mencoret-coret bukunya, berpikir tentang Piet Jansen dan hannah Schlegel serta pertemuannya dengan Chief hasani, mengulang-ulang kembali seluruh hal yang ada di kepalanya.
Setelah satu jam, ia bangkit dan turun ke ruang arsip di lantai bawah tanah untuk mencari catatan tentang kasus Schlegel, sadar bahwa ia harus meninggalkan kasus ini namun tidak mampu menahan diri. Namun, di sini, misteri lain telah menyapanya, karena catatan itu tidak dia temukan. Nona Zafouli, perawan tua yang, seingat Khalifa sepanjang yang bisa diingat oleh siapa pun telah menjadi penjaga kasus-kasus lama milik kantor, telah mencarinya kian kemari tapi tetap nihil. Arsip itu hilang.
“Tidak bisa kujelaskan,” katanya bergumam. “Pokoknya tidak bisa kujelaskan.” Khalifa meninggalkan lantai bawah tanah dengan perasaan lebih gelisah lagi daripada sebelumnya dan, tanpa berpikir panjang, langsung melompat ke dalam taksi yang segera meluncur ke Karnak. Bukan untuk membersihkan pikirannya sebab itu adalah tempat terbunuhnya Hannah Schlegel dan karenanya, bagaimanapun, merupakan titik pusat semua keragu-raguan dan kekhawatirannya.
Kini ia tengah menyusuri Aula hypostyle yang besar, pilar-pilarnya yang berbentuk lontar menjulang di atasnya seperti batang pohon sequoia, dan keluar melalui pintu di dinding selatan.
Saat itu hampir mendekati waktu ditutupnya kuil, dan polisi wisata mulai mengimbau para pengunjung untuk kembali menuju pintu masuk utama. Seseorang mendekati Khalifa sembari memainkan jemarinya, namun kemudian sang detektif menunjukkan ID-nya dan diizinkan melanjutkan perjalanan.
Mengapa Hasani demikian bersikeras meminta Khalifa tidak kembali membuka kasus Schlegel? Itu adalah pertanyaan yang tidak kunjung lenyap dari pikirannya. mengapa Chief ini kelihatan begitu gugup? Ada yang tidak beres di sini. Sangat salah. Dan dia mencoba menemukan apa yang terjadi dan akan membawanya pada masalah. Banyak sekali masalah. Namun tetap saja, Khalifa tidak dapat membuangnya.
“Sialan!” gerutunya, sambil mematikan rokok Cleopatra di bawah sol sepatunya dan langsung menyalakan yang lain. “Sialan benar!” Ia menuju sudut tenggara area kuil, mengikuti jalur antara baris-baris blok batu pasir yang dipenuhi Hieroglif, seperti potongan puzzle mozaik yang banyak sekali, sebelum akhirnya sampai di gedung persegi panjang yang agak terpisah dari bagian kompleks lainnya. Pelataran Khonsu. Ia melambat sebentar, memandangi dinding monumental dari batu pasir yang kusam, kemudian jantungnya tiba-tiba berdebar, saat ia menyelusup pintu samping menuju bagian dalam.
Bagian atau ruang dalam terasa dingin dan teduh, sangat tenang, begitu senyap, dengan sinar matahari pada lantai pelataran yang masuk dari pintu seberang, seperti aliran emas yang mencair.
Di bagian kirinya serambi yang disangga pilar terbuka; di sisi kanannya adalah halaman terbuka lainnya, dan jauh di sisi sana adalah jalan rendah menuju tempat suci utama. Ia sendiri sedang berdiri di dalam aula sempit hypostyle yang merupakan bagian tengah atau pusat gedung, dengan delapan pilar berbentuk lontar berjajar di depannya, empat di masing-masing sisi. Di bawah pilar ketiga sebelah kiri itulah tubuh Hannah Schlegel ditemukan.
Ia biarkan matanya menyesuaikan diri dengan kesuraman yang ada, kemudian melangkah maju. Walaupun telah mengunjungi Karnak beberapa kali dalam tahun-tahun berselang, ia selalu menghindari bagian khusus ini. Saat ia melintasi aula itu sekarang, ia setengah berharap dapat menemukan beberapa jejak darah merah yang dulu menempel tetap ada menandai lantai pelataran, atau garis kapur yang membentuk tubuh. Namun, tidak ada tanda yang mengatakan bahwa kekerasan telah terjadi di sini; tidak ada bekas darah, tidak ada kapur, tidak ada kenangan kecuali yang tersimpan dalam bebatuan itu sendiri, yang tampak memiliki sejenis kesadaran elemental, ketenangan. “Kita telah menyaksikan banyak hal,” seolah mereka berkata, “baik dan buruk. Tetapi kita tidak akan bicara tentang hal itu.” Ia sampai di pilar ketiga itu lalu berjongkok, mengingat kembali momen saat pertama kali melihat mayat perempuan itu. Untuk alasan tertentu, keadaan tubuh mayat secara keseluruhan tidak terlalu berpengaruh baginya dibandingkan beberapa detail yang tidak relevan: ****** ***** korban yang berwarna hijau, yang terlihat karena roknya tersingkap hingga di atas pinggangnya; barisan semut di dekat kaki kanannya yang tidak bersepatu; codet atau bekas luka yang melintang di perutnya seperti garis pensil yang dibuat oleh pemabuk; selain itu semua, yang paling utama adalah adanya tato aneh di lengan atas bagian kiri, segitiga yang diikuti lima angka dalam tinta biru gelap yang sudah memudar, seperti lajur yang tergambar pada permukaan keju. Tanda Yahudi, kata Chief mahfuz menjelaskan. Sejenis tanda keagamaan atau sesuatu yang lain. Seperti tanda yang kau temukan pada daging untuk memperlihatkan dari mana ia berasal. Analogi itu mengejutkan Khalifa, seolah korban hanyalah seonggok bangkai tanpa nama yang tergeletak di meja tukang jagal. Seperti tanda yang kau temukan pada daging. mengerikan.
Ia menggosok-gosokkan tangannya pada lantai. Telapak tangan nya membuat suara desis kering pada lantai batu yang berdebu, kemudian berdiri lagi, memusatkan matanya ke dinding di belakang ruang berisi relief kuno yang menggambarkan Firaun Ramses XI sedang disucikan oleh Dewa Horus dan Thoth, yang terakhir digambarkan dengan tubuh manusia berkepala ibis.
Thoth dan Tzfardeah, itu yang dikatakan Schlegel sesaat sebelum mengembuskan napas terakhir.
__ADS_1
Tzfardeah, ia merasa pasti, merujuk ke telapak kaki Jansen yang bentuknya tidak lazim. Lalu, bagaimana dengan Thoth? Apakah ia begitu saja, dalam saat-saat sekarat, menyatakan apa yang dapat ia lihat di atasnya? Thoth, SiIbis itu, pastilah citra terakhir yang menjadi fokus mata perempuan malang itu. Atau, adakah makna lain yang lebih dalam, resonansi yang lebih mengungkapkan?
Ia mengisap rokoknya dan mengosok-gosok pelipis, berpikir lebih dalam, menarik keluar apa saja yang dapat ia ingat tentang dewa. Kearifan, kesusastraan, penghitungan dan obat-obatan ini adalah karakter khusus yang dilekatkan pada Thoth. Juga Keajaiban, karena dialah yang, menurut mitologi mesir, telah menyediakan mantra yang memungkinkan Dewi Isis menghidupkan kembali suami/saudara laki-lakinya yang terbunuh, osiris.
Apalagi? Ia adalah pesuruh dan utusan para Dewa, Pencipta Hieroglif, penulis hukum suci mesir, pencatat putusan abadi dalam hati orang yang sudah mati. Ia diasosiasikan begitu dekat dengan bulan ia sering digambarkan dengan cakram atau lempeng bulan di atas kepalanya dan memiliki pusat pemujaan di Hermopolis, mesir Tengah, tempat ia dikenal, di antaranya, sebagai “Jantungnya Dewa Ra”; “Sang Pengukur Waktu”; dan “Pemilik Sabda Tuhan”. Kapal Barque peraknya memindahkan jiwa orang yang telah mati melintasi langit malam. Ia menikahi Seshat, “Perempuan Pecinta Buku”, pustakawan para dewa.
Ada banyak keterkaitan yang mungkin ada dalam kasus ini, banyak cara bagi Khalifa untuk mengaitkan ucapan Schlegel tentang kata ‘Thoth’ ke dalam tuduhan yang dikaitkan pada Piet Jansen.
Jansen adalah orang yang cerdas dan membaca dengan baik; ia dapat berbicara dalam banyak bahasa; ia punya perpustakaan yang besar. Bila ahli mesir purbakala memiliki minat dalam arkeologi, Thoth akan hampir pasti merupakan dewa pelindung nya.
Namun, terlepas dari kesamaan ini, Khalifa masih tetap memiliki kepekaan bahwa ada sesuatu yang kurang darinya; bahwa ia masih belum mendapatkan esensi dari apa yang telah disampaikan Schlegel. Schlegel bermaksud mengatakan sesuatu yang spesifik, dan ia tidak memahaminya. Dia benar-benar tidak memahaminya.
Khalifa menyelesaikan Cleopatra-nya dan menginjak puntung rokok itu di bawah sepatunya. mungkin hasani benar, pikirnya. mungkin aku memang hanya membayangkan sesuatu, mencoba melakukan sesuatu yang berlebihan. Dan bahkan, andaipun aku tidak sedang berimajinasi, apa yang dapat kulakukan dalam hal itu? meneruskan investigasi tanpa sepengetahuan Chief, mempertaruhkan seluruh karirku? Dan untuk apa? Ketika semua sudah terjadi, Schlegel pun hanyalah seseorang dari masa lalu.
Suara langkah kaki bergema di kejauhan. mulanya ia menganggap itu pasti penjaga. Dengan langkahnya yang semakin dekat, Khalifa menyadari bahwa suara itu terlalu lembut untuk langkah seorang laki-laki. Lima detik berlalu, sepuluh, kemudian seorang perempuan dalam djellaba sudah memasuki aula dari ujung selatan, setumpuk bunga liar terangkum di antara kedua tangannya, selendang hitam menutupi kepalanya sehingga wajahnya tersembunyi. Matahari telah berlalu sekarang, dan dalam senja yang pekat,
perempuan itu tidak menyadari keberadaan Khalifa, yang telah bergeser ke balik pilar. Ia datang ke tempat tewasnya Hannah Schlegel dan melepas selendangnya, berjongkok kemudian meletakkan bunga-bunga di lantai. Khalifa melangkah mendekati.
“Jangan takut,” katanya sambil mengangkat tangan memberi tanda bahwa ia tidak akan membahayakan orang lain. “Aku tak bermaksud membuatmu takut.” Ia berdiri, mundur menjauh, melihat ke arah laki-laki itu penuh curiga. Sesaat kemudian ia mengenali Khalifa.
“Khalifa,” bisiknya. Ada jeda sejenak dan kemudian: “orang yang membunuh suamiku. Salah satu dari laki-laki itu.” Perempuan itu telah berubah sejak ia terakhir kali melihatnya di ruang pengadilan pada hari penentuan hukuman bagi Muhammad Jamal. Ia perempuan muda yang cantik. Kini penampilannya berbeda, terlihat lelah, wajahnya layu seperti kayu yang sudah lapuk.
“Kenapa Anda mengawasiku?” tanyanya.
“Aku tidak sedang mengawasi Anda. Aku hanya....” Ia berhenti, tidak mampu menjelaskan secara pasti mengapa ia datang ke kuil itu. Perempuan itu menatapnya, kemudian menurunkan pandangannya kembali pada bunga-bunga, berjongkok dan mengaturnya kembali di sekitar lantai ruang itu. Burung bangau putih muncul di luar pelataran depan, mematuk-matuk lantai berdebu.
“Aku datang ke sini setiap waktu,” katanya setelah beberapa saat, lebih mirip seperti berbicara pada dirinya sendiri daripada kepada Khalifa, memetiki akar bunga dengan jari-jarinya yang keriput. “Muhammad tidak punya makam yang layak. mereka hanya mendepaknya di halaman luar penjara. Terlalu jauh bagiku untuk pergi sampai Kairo. Jadi aku datang ke sini. Aku tidak tahu mengapa. Aku duga, ini adalah ... yahh, tempat dia mati.” Nada suaranya menunjukkan realita dengan apa adanya, tidak secara terbuka menuduh, yang entah bagaimana malah lebih tidak mengenakkan bagi Khalifa. Ia merasa tidak nyaman, tangannya memainkan uang logam di dalam sakunya.
__ADS_1
“Aku tinggalkan bunga-bunga ini untuk perempuan tua itu juga,” katanya melanjutkan. “Itu bukan kesalahannya, ’kan? Dia tidak menuduh muhammad.” Ia mengatur bunga-bunga itu sesuai dengan keinginannya dan berdiri lagi, bersiap untuk pergi. Khalifa melangkah mendekatinya.
“Anak-anak?” tanyanya cemas, tiba-tiba saja, sehingga percakapan itu belum berakhir.
Ia mengangkat bahu. “Mansyur mendapatkan pekerjaan sebagai mekanik. Abdul baru saja menyelesaikan sekolahnya. Fatma sudah menikah, sebentar lagi akan punya anak. Dia tinggal di Armant sekarang. Suaminya bekerja di pabrik tebu.”
“Dan kau, sudah....”
“Menikah lagi?” Ia menatap laki-laki itu dengan mata sayup.
“Muhammad adalah suamiku. Dia mungkin bukan orang baik, tetapi dia tetap suamiku.” Burung bangau putih telah berjalan menuju pintu dan kini sedang melangkah dengan anggun ke dalam aula, kepalanya melongok ke sana-sini; kakinya yang bagai jarum rajut naik dan turun dengan irama yang terkontrol dan lembut bagai penari balet.
Ia berada dalam jarak satu meter dari perempuan itu, kemudian bergerak ke tempat lain lagi.
“Dia tidak melakukannya, kau tahu,” katanya perlahan. “Dia memang mengambil jam tangan itu, yang ternyata buruk. Sangat buruk. Tetapi dia tidak membunuh perempuan tua itu. Dan dia tidak mengambil dompetnya. Bukan dompet.” Khalifa menatap lantai.
“Aku tahu,” gumamnya. “maafkan aku.” Ia mengikuti burung bangau itu dengan matanya sampai terbang ke pilar.
“Anda adalah yang terbaik,” bisiknya. “Satu-satunya yang kupikir mungkin dapat menolongnya. Tetapi kemudian Anda....” Ia mendesah dan berbalik pergi, bergerak beberapa langkah sebelum menengok kembali.
“Uang itu memang menolong. memang tidak bisa membuatnya hidup kembali, tetapi cukup menolong. Jadi terima kasih untuk itu.”
Khalifa mendongak, bingung.
“Aku tidak ... uang apa?”
“Uang yang Anda kirim. Aku tahu itu dari Anda sendiri. Anda satu-satunya yang baik.”
__ADS_1
“Aku tidak..., uang apa? Aku tak tahu apa yang kau bicarakan.” Ia tengah menatap jauh ke balik bahu Khalifa, ke bayang-bayang yang pekat pada bagian belakang aula, matanya kering dan kosong mata seseorang yang darinya semua harapan telah sirna.
“Setiap tahun. Beberapa saat sebelum Idul Adha. Uang itu datang melalui pos. Tanpa catatan, tanpa nama, tanpa apa-apa. hanya 3000 pound mesir, dalam lembaran seratus. Selalu dalam lembaran ratusan. Kiriman itu dimulai satu minggu setelah Muhammad bunuh diri, dan terus-menerus hingga kini. Setiap tahun. Dengan itulah aku dapat menyekolahkan anak-anak dan bertahan hidup. Aku tahu itu pasti dari Anda. Anda adalah laki-laki yang baik, terlepas dari hal-hal lain.” Ia menatapnya, kemudian berbalik dan bergegas keluar dari kuil.