Detektif Terpilih

Detektif Terpilih
POS PENJAGAAN MILITER KALANDIA


__ADS_3

Sebagaimana diintruksikan, Yunis Abu Jish pergi ke Pos Penjagaan militer Kalandia di tengah hari bolong dengan mengenakan T-shirt ‘Kubah Batu’, mengambil posisi tepat di bawah papan iklan rakasa master Satelit Dishes.


Selama dua puluh empat jam terakhir, sejak menerima panggilan telepon dari perwakilan Al-mulatham, suasana hatinya bergonta-ganti secara liar antara teror yang menghinakan dan kegembiraan yang memusingkan. Pada satu waktu seluruh tubuhnya akan gemetar seakan membeku, terpesona oleh kebesaran misi yang ditawarkan padanya; di saat berikutnya dia akan terhanyut dalam kebahagiaan yang meracuni, seperti ketika dia bermain di tepi pantai semasa masa kanak-kanak, bergulung-gulung dalam ombak yang hangat dan berbusa, tertawa cekikikan dan berpikir itu adalah perasaan paling baik di seluruh dunia.


Kini, dia berdiri sambil menatap garis lalu lintas yang merayap menuju blok jalan Israel. Dia tidak merasakan ketakutan atau ekstasi, atau apa pun sama sekali hanya pendirian yang hampa dan tanpa emosi; penerimaan yang laksana baja bahwa ini adalah apa yang harus dia lakukan; bahwa ini adalah nasib yang dituliskan untuknya. Apalagi yang ada di sana, sesungguhnya? Penaklukkan dan kepahitan sepanjang hidup; menonton tanpa daya dari garis tepi ketika dari hari ke hari bangsa Israel merampas lebih banyak lagi tanah rakyatnya, mengelupas lapisan kehormatan diri mereka lagi? Lingkaran permusuhan, aib, dan penyesalan yang tiada henti?

__ADS_1


Tidak, ia tidak sanggup bertahan dengan itu. Ia sudah tak mampu lagi menanggung untuk waktu yang lama. Inilah jalannya. Satu-satunya jalan. Satu pola yang memberikan kekuatan dan kebanggaan diri, memberinya kesempatan untuk bisa memengaruhi berbagai peristiwa yang sedang terjadi dan bukan semata selamanya ditenggelamkan oleh mereka. Sekalipun jika ini harus membawanya kepada kematian... yahh, memangnya seperti apa hidup nya selain seperti dikuburkan hidup-hidup?


Ia tetap berada di bawah papan iklan itu tepat selama tiga puluh menit, sebagaimana yang diperintahkan kepadanya, memeriksa dan memeriksa kembali jam tangannya untuk memastikan bahwa waktunya tepat. Kemudian, dengan anggukan kepala seolah berkata, “Kau tahu jawabannya,” berbalik dan berjalan menuju kamp pengungsi tempat ia tinggal, bangunannya memakan jalan mereka di lanskap seperti jamur abu-abu yang buruk.


“Kau membuatku takut,” tegurnya, matanya setengah melotot dan tajam seperti lampu indikator mobil. “Aku membawa ... kau tahu....” Ia mengetuk-ngetuk kopornya.

__ADS_1


Khalifa meminta maaf karena telah mengejutkannya. “Walaupun aku kira tidak akan ada orang yang akan menyerangmu didalam kantor polisi,” ia menambahkan.


Pejabat bank itu melemparkan tatapan tak setuju.


“Aku telah beberapa kali diserang di banyak tempat yang tidak menyenangkan dan oleh banyak orang yang tidak menyenangkan pula, inspektur. Termasuk sekali waktu, berat untuk mengatakannya, oleh bapak mertuaku sendiri. Kalau menyangkut emas, tidak ada istilah terlalu berhati-hati. Tidak pernah ada.” Ia menatap mata Khalifa sesaat untuk menekankan pentingnya pesan yang dia maksud, kemudian bangkit dari kursinya menuju meja Khalifa dan meletakkan koper itu di atasnya.

__ADS_1


__ADS_2