Detektif Terpilih

Detektif Terpilih
PENYERGAPAN DI KAMP ALMARI I


__ADS_3

Laki-laki itu menatap bintang dilangit, memutar-mutar kuncir yang terdapat pada keffiyehnya dengan salah satu jarinya. “Kau tahu apa yang pernah dikatakan ayahku padaku? Bahwa Tanah Suci adalah cermin dari seluruh dunia. Bila tanah ini dalam keadaan sakit, begitu juga dunia adanya. Dan ketika tanah ini damai, maka, dan hanya itu, akan ada harapan di mana saja.


Di sebelahnya adalah sosok kedua, lebih tua, juga sedang menatap langit, dengan cerutu terjepit di antara giginya. Sinar di ujung cerutunya bergantian antara merah redup dan oranye ketika ia mengisapnya perlahan.


“Ayahmu masih hidup?” Laki-laki yang lebih muda menggelengkan kepalanya. “Wafat tahun 1984. Di Ketziot.


Ayahmu?” Laki-laki dengan rokok cerutu juga menggelengkan kepalanya.


“Enam Puluh Tujuh. Tanah Tinggi Golan. Peluru menembus perutnya.” Mereka terdiam, masing-masing terbenam dalam pikirannya sendiri. Padang pasir di sekitar mereka berbayang dan tenang, daun jendela yang berkarat berderik di belakang mereka seperti celoteh serangga malam raksasa. Bintang terang di atas kepala mereka, memecah langit ke dalam pecahan instan sebelum lenyap kembali. Formasi batu yang aneh terlihat dalam bayangan, seperti cakar yang muncul dari kolam yang dalam dan gelap. Jauh di sana, seekor burung yang terkejut tiba-tiba melesat ke udara, bercicit dengan kerasnya.


“Kau pikir ini akan benar-benar bekerja?” tanya si laki-laki muda pada akhirnya, sambil mengangkat tangan dan menggosok matanya. “Kau benar-benar mengira kita akan dapat membujuknya?” Temannya mengangkat bahu, tidak berkata apa-apa.


“Kadang-kadang aku khawatir kita terlalu terlambat. Sepuluh tahun lalu, bahkan lima kemudian, barangkali, ini akan mungkin terjadi. Tetapi kini, setelah semua kejadian itu....” Ia mendesah.


Kepalanya terkulai sedih ke dadanya. Laki-laki dengan cerutu menatapnya sesaat, kemudian melangkah mendekat dan meletakkan tangannya ke bahu temannya.


“Menjualnya memang selalu akan menjadi bagian terberat. Ini ia menganggukkan kepala ke arah gedung yang berada di belakang mereka tidak pernah lebih dari langkah pertama. Tetapi kini, kita telah mengambil langkah yang mau tidak mau harus kita lanjutkan. Kita harus. Demi ayahmu. Demi anak perempuanku.


Demi orang-orang kita berdua.” Si lelaki muda mendongak ke atas. Untuk sesaat wajahnya kosong, berat; kemudian, tiba-tiba dan tanpa diperkirakan, ia tersenyum.


“Siapa yang telah memikirkannya, eh? Kau dan aku, bertemu di sini seperti sepasang kekasih!” Si perokok cerutu tersenyum juga.


“Kalau kita dapat melakukannya, setiap orang pun dapat. Bagaimana kalau kita ke Yerusalem sekali lagi, hanya untuk memastikan?”


Si laki-laki muda mengangguk dan, berbalik, keduanya pun melangkah menuju gedung, dengan lengan masing-masing di atas bahu yang lain.


PENYERANGAN DI KAMP ALMARI


“Anda ingin aku antar ke mana?” Sopir taksi menatap Ben-Roi dengan curiga.


“Kamp Al-Amari. Jalan Al-Din.” Sopir menggelengkan kepalanya, jari-jarinya mengetuk-ngetuk dengan gugup pada kemudi Peugeot.


“Ini di seberang batas. Anda orang Israel. Bahaya.”


“Aku butuh kendaraan, bukan ceramah,” gerutu Ben-Roi, dalam keadaan tidak ingin berdiskusi. “Kau mau mengantarku atau aku cari taksi lain? Pilihan ada padamu. Cepat.” Sopir menggigit bibirnya, susah memilih antara ingin mendapatkan uang dan ketidakmudahan membawa orang Israel dalam taksinya. Akhirnya, masalah ekonomi menang, dan dengan anggukan enggan ia memiringkan badannya dan membuka pintu penumpang.


“Anda ingin ke Al-Amari, aku antar Anda ke Almari,” ia bergumam. “Itu kuburan Anda.”


Ben-Roi memasuki kabin taksi dan mereka melesat, dalam diam, menelusuri jalan Derekh Ha-Shalom menuju jalan bebas hambatan Yerusalem - Ramallah dan ngebut ke arah utara, ke luar kota. Daerah Yahudi pinggir kota yang baru di Pisgat Ze’ev membentang di sisi kanan mereka, perumahan batu kuning yang seragam berbaris pada lanskap seperti barisan depan tentara yang besar. Ben-Roi memandangnya melalui jendela mobil yang terbuka, rambutnya melambai-lambai tertiup angin. Wajahnya yang kosong dan tenang menyiratkan kegelisahan yang ia rasakan jauh di dalam perutnya.


Sopir ini benar. memang berbahaya untuk seseorang seperti dirinya menyeberangi batas. Seorang polisi Israel, sendiri, di wilayah yang dikontrol oleh PA, dalam iklim politik seperti ini benar-benar berbahaya. Pilihan lain adalah dengan melibatkan otoritas Palestina, atau memanggil Operasi Militer penuh dengan mobil berlapis baja dan Tuhan tahu selebihnya, keduanya dapat membuatnya tertunda berhari-hari. Dan rasa sakit dalam perutnya terlalu kuat untuk itu. Ia ingin sekali tahu apa yang terjadi dengan serangan pembakaran rumah itu. harus tahu. Dengan sedikit keberuntungan ia dapat saja keluar masuk tanpa seorang pun memerhatikannya. Dan bila tidak.... Ia mengangkat tangannya dan menyentuh jaketnya, merasakan buhul metalik pistol Jericho nya yang membuatnya tenang.


Mereka sampai di pos Pemeriksaan Kalandia dan berada di bagian belakang barisan antrian lalu lintas, mengantre selama dua puluh menit sebelum akhirnya berhasil melewatinya dan memacu kendaraan, jalan di sini, di bagian Palestina, berlubang dan tidak rata, bangunannya jorok, murahan dan berantakan, seolah mereka tidak hanya melintasi batas antara dua area dari Negeri yang sama tetapi lebih berupa batas ke dalam daerah yang seluruhnya berbeda dan daerah yang lebih miskin. Tiga kilometer telah mereka lewati menuju pos pemeriksaan kedua, kali ini Palestina hanya beberapa drum minyak yang diatur secara sembarangan di jalan, di jaga seorang polisi penjaga bertampang membosankan dalam Baret Merah sebelum akhirnya mereka berbelok ke kiri dari jalan bebas hambatan utama menuju sisi jalan landai yang mengarah ke gedung suram dari beton abu-abu dan blok sinder, semua tertumpuk di atas yang lain seperti gundukan tulang yang memutih karena matahari.


Sopir memperlambat laju mobilnya dan berhenti.


“Selamat datang di Al-Amari,” ia berkata.


Mereka diam sesaat, memerhatikan pemandangan yang ada, kemudian jalan terus ke bawah, berhenti sejenak untuk menanyakan arah pada seorang anak laki-laki dengan rambut berdebu sebelum bergerak masuk ke dalam area kamp, bangunan abu-abu yang sudah rapuh mengelilingi mereka, penduduknya laki-laki tua dengan Keffiyeh, sekelompok Shebab berkeliaran di sudut jalan melemparkan tatapan curiga pada mereka ketika mereka melewatinya, mobil bergelinjang di jalan berlubang. Hiasan kabel listrik bergelantungan di atas kepala; coret-coretan bahasa Arab dengan bermacam warna menutupi setiap inci yang tersedia dalam ruang dinding Hamas, Al - Mulatham, Matila Israel, Kemenangan untuk Intifada dengan barisan poster di sana-sini berisikan gambar tentang martir bunuh diri lokal.


“Apa sih yang sedang kulakukan di lubang kotoran ini?” Ben-Roi berpikir untuk dirinya sendiri, melawan dorongan untuk mengatakan pada sopir agar berbalik dan cepat keluar dari sana. “Aku pasti sudah gila.” Semakin jauh mereka pergi, semakin dalam dan semakin dalam, jalan-jalan menjadi lebih sempit dan lebih susah untuk bernegosiasi. Perasaan Ben-Roi lebih gelisah, sampai akhirnya, setelah seperti seabad rasanya padahal sebenarnya tidak lebih dari beberapa menit saja, mereka mengitari sudut yang tajam dan berhenti di depan sebuah gang, yang penuh sampah dan material gedung yang dibongkar.

__ADS_1


“Al-Din,” kata sopir. “Nomor berapa yang Anda tuju?”


“Dua.” Laki-laki itu melongokkan badannya keluar jendela dan memandang ke arah gang. “Itu.” Ia menunjuk ke pintu baja yang berat, yang pertama di sebelah kiri, yang di atasnya ada angka Arab besar bercat putih.


“Anda mau aku menunggu?”


“Ya, tentu saja,” kata Ben-Roi, sembari keluar dari mobil.


Ia memandang ke sekeliling, gugup, membayangkan mata yang menatapnya dan suara bisik-bisik. Kemudian, sembari memastikan Jericho-nya dan mengecek apakah telepon genggamnya sudah menyala, ia melangkah ke dalam gang itu, menerobos tumpukan kaleng cat bekas dan kantong sampah. Pintu yang ditunjuk oleh sopir itu agak sedikit terbuka, suara televisi terdengar dari ruangan dalam. Ia mendekati pintu dan mengetuknya.


“Aiwa, Udkhul, Al-bab Maftuh.” Suara seorang perempuan terdengar dari dalam, tampaknya sudah tua. Ben-Roi ragu, tidak mengerti apa yang tadi dikatakannya.


“Udhul!” Ia tetap ragu, menduga mungkin ia diminta untuk masuk, tetapi tidak yakin. Diam sejenak, kemudian suara lain terdengar, kali ini laki-laki, lebih muda.


“La, la, Istani Hinnaak, Ya Umi. Ana rai’h.” Terdengan desis tipis, seperti sepeda yang sedang dikendarai di atas lantai, dan pintu pun terbuka. Seorang laki-laki muda akhir dua puluhan atau awal tiga puluhan, kurus seperti tongkat, dalam balutan jins dan Kaos Manchester United berwarna merah sedang duduk di depannya, tubuh bagian bawahnya terikat di atas kursi roda. Di balik bahunya, Ben-Roi dapat melihat ruang sederhana yang besar dengan lantai keramik, sejumlah gambar berbingkai di dinding foto, kutipan Al - Quran dan, melalui pintu di belakang, area dapur yang sesak. Perempuan tua tak terlihat ada di sisi kanan.


“Mi-in Hinaak?” perempuan itu berkata.


“Yahudi,” jawab si laki-laki muda, sambil melihat Ben-Roi.


“Yahudi! Shu Bidu?”


“Ma-ba’rif,” ia menjawab. Kemudian, kepada Ben-Roi, “Apa yang Anda inginkan?” Detektif itu mengambil kartu identitasnya dan menunjukkan padanya.


“Polisi Yerusalem. Aku mencari seseorang bernama Madji.” mata laki-laki itu mengecil penuh curiga.


“Aku Madji.”


“Shu bidu?” suara perempuan itu lagi, penuh perhatian, bertubi-tubi. Si laki-laki muda menggerak-gerakkan tangannya tak sabar, memberi tanda padanya untuk diam.


“Ya, itu aku.” Ben-Roi menatap kursi roda itu.


“Sudah berapa lama ...?” mata si laki-laki muda ini menyala. “Dua tahun. Sejak punggung ku patah karena peluru karet. Peluru karet dari seorang Israel. Sekarang, Anda mau apa di sini?” Ben-Roi bergerak gelisah.


“Aku perlu mengajukan beberapa pertanyaan pada Anda.” Laki-laki muda ini mendengus. “Ini area Palestina. Anda tidak memiliki otoritas di sini.”


“Kalau begitu aku akan memanggil Militer ke sini dan menarik Anda kembali ke Yerusalem. Itu yang Anda inginkan?” Ia menatap laki-laki itu. “Aku hanya berpikir bahwa akan lebih mudah seperti ini. Untuk kita berdua. Informal saja. Katakan saja padaku apa yang ingin kuketahui, setelah itu aku pergi dan Anda tidak akan mendengar apa pun lagi dariku. Terserah Anda.” Laki-laki muda itu membalas tatapan Ben-Roi dengan wajah penuh sikap antipati dan ketidakpercayaan. Kemudian, dengan dengusan mengalah, ia menggerakkan kursi rodanya mundur kedalam ruangan. Ben-Roi mengikuti, menutup pintu di belakangnya, tak terlihat dari jalan.


“Shu bidu, Madji? Shu aam Bi-mil?” Perempuan tua itu sedang duduk di sofa di sebelah kanan laki-laki muda, berpakaian dalam Thobe berbordir halus dan mendil, tangannya menutup dan membuka di pangkuannya. Madji menggerakkan kursi rodanya mendekati perempuan itu dan menyentuh tangannya, berbicara secara cepat dalam bahasa Arab, menjelaskan apa yang sedang terjadi, dan menenangkan dirinya.


“Ia memiliki pengalaman buruk dengan orang-orang Israel,” Katanya, sambil menggerakkan kursi rodanya sehingga ia kini berhadapan dengan Ben-Roi.


“Kami semua memiliki pengalaman buruk dengan orang Israel.” Ketiganya saling menatap. Satu-satunya bunyi adalah suara dari televisi yang menyala. Kemudian, dengan berat laki-laki muda itu mengangguk ke arah tempat tidur kayu yang disenderkan pada dinding di sebelah pintu, mempersilakan Ben-Roi untuk duduk.


Ben-Roi mengikuti, sambil menatap perempuan tua itu terlebih dahulu, kemudian, merasakan bahwa intensitas tatapan perempuan itu tidak menyamankan. Ia mengalihkan tatapannya ke dinding di atas kepala perempuan itu, tempat sepasang dokumen legal berbahasa Arab kuno tergantung dalam bingkai. Akte propertinya, ia menduga. Ia pernah melihat benda yang sama sebelumnya, di rumah orang Palestina lain pengingat yang menyedihkan dan menyimpang tentang tanah yang pernah mereka miliki dan tetap berharap dengan sia-sia untuk memulihkannya.


“Ada apa tentang Hani?” tanya si laki-laki muda, sembari mengeluarkan kotak rokok Marlboro dari kantong yang tergantung di sisi kursinya dan menarik keluar satu batang dengan giginya.


“Tentang obat-obatan?” Ben-Roi menggelengkan kepala.


“Kalau begitu tentang apa?”

__ADS_1


“Ini tentang sesuatu yang Anda lakukan pada 1990. Apartemen yang kalian bakar. Di Kota Tua.” Laki-laki itu mendengus kaget. “Peristiwa itu terjadi lima belas tahun lalu! Aku menjalani waktuku.”


“Aku tahu Anda begitu.”


“Jadi?”


“Aku ingin Anda mengatakan padaku mengapa Anda lakukan itu,” kata Ben-Roi. Mengapa Anda membakar flat itu.” Laki-laki muda itu kembali mendengus kemudian, sembari menyulut rokoknya, ia bergerak di ruang itu dan mengambil asbak dari atas televisi, meletakkan dengan seimbang pada lututnya dan mundur lagi ke belakang ke sisi perempuan itu.


“Anda sudah melakukan perjalanan sia-sia, Bung. Aku sudah mengatakan semua pada mereka saat itu.”


“Katakan padaku lagi.”


“Aku masih kanak-kanak ketika itu. hanya untuk bersenang-senang. Bukan urusan besar.”


“Kalau Anda ingin membakar properti orang Israel ada banyak target yang lebih mudah daripada satu yang tepat berada di tengah-tengah Wilayah Yahudi.” Madji menggerakkan tangannya tak peduli. “Hanya keberanian. Itu intinya. Anda cuma membuang waktu saja, Bung.”


“Mengapa flat itu?” ulang Ben-Roi, mendesak.


“Aku tak tahu! Itu satu saja yang kami pilih. Tidak ada alasan apa-apa. Aku sudah mengatakan pada mereka tentang semua ini.”


“Anda tahu bahwa perempuan yang memiliki flat itu terbunuh di hari yang sama.” Laki-laki itu bergumam sesuatu.


“Apa?”


“Kami mengetahuinya kemudian. Di stasiun. Kami tidak tahu waktu itu.” Ia menoleh ke televisi, kemudian, seolah dikejutkan oleh pikiran tiba-tiba, mendongakkan kepalanya ke arah Ben-Roi lagi.


“Hey! Kalau Anda mencoba menuduh....”


“Aku tidak sedang menuduh Anda atas sesuatu hal.”


“Karena aku tahu orang macam Anda yang....”


“Aku tidak sedang menuduh Anda atas sesuatu hal! Perempuan itu terbunuh di mesir. Tidak mungkin Anda dapat terlibat di situ.” Laki-laki muda itu bergumam sesuatu dan dengan marah menarik rokoknya, membuangnya ke asbak di atas lututnya.


“Anda berbohong padaku tentang kebakaran itu,” tambah Ben-Roi setelah diam selama beberapa saat. “Aku tahu itu, Anda tahu itu. Perempuan itu terbunuh dan dua jam kemudian seseorang membakar flatnya. Terlalu kebetulan, Madji. Pasti ada sesuatu yang lain. Alasan lain. Sekarang, aku ingin tahu mengapa Anda melakukan itu.”


*****_____*****


Baca Juga Novel yang lainnya Guys "Cinta Kilat Perawan Tua"


Tema Cerita tentang “Kasih Sayang keluarga terlalu manja dan berlebihan kepada anak bar gede dengan jiwa pemberontak, yang bertemu dengan Wanita bangsawan berhati keras serta kaya raya. Hingga akhirnya merubah pola pikir hidup menyendiri dan tidak ingin bertanggung jawab tentang apapun. Akhirnya harus jatuh cinta dengan paman sang gadis beliau. Ikuti ceritanya pasti seru...


*Komen dan sarannya dikolom komentar dibutuhkan, serta jangan lupa Vote ya…*


By the way, Enjoy it


Ikuti juga Instagram di: @itsme.okta


Thanks in Advanced


Best Regards

__ADS_1


*****


__ADS_2