Detektif Terpilih

Detektif Terpilih
TAMU MISTERIUS


__ADS_3

Mereka terdiri atas dua orang, atau paling tidak lebih dari dua orang sejauh yang kuketahui. Mereka menghampiriku dari belakang, memegang tanganku. Salah seorang memegang kepalaku sehingga aku tak dapat melihat wajah mereka. mereka tidak menyakitiku. mereka tenang dan berbicara dengan baik.


Jelaslah bahwa, ketika mereka membawaku dan mendorongku ke dalam mobil lalu melemparkan selimut ke kepalaku, mereka tidak akan mentoleransi sikap perlawanan.


Kami mengendarai kendaraan selama dua jam, mungkin lebih setelah hanya dalam beberapa menit aku telah kehilangan orientasi waktu dan arah. Kami berjalan menaik, kemudian turun lagi, yang membuatku berpikir bahwa kami sedang menuju arah tenggara di luar Yerusalem menuju Jericho dan dataran Laut mati, walaupun mungkin saja sangat mungkin mereka hanya berputar-putar saja untuk membuatku disorientasi dan memastikan bahwa kami tidak diikuti orang lain.


Setelah kira-kira setengah jam perjalanan, kami berhenti. orang ketiga menaiki mobil dan duduk di kursi penumpang bagian depan. Ada bau asap rokok. Aku rasa Farid, walaupun aku tidak begitu yakin. Anehnya, aku tidak takut. Selama berada di wilayah ini, aku telah beberapa kali berada dalam situasi ketika instingku mengatakan aku berada dalam bahaya, tetapi kali ini tidak.


Apa pun tujuan dari penculikkan diriku ini, pasti bukan kekerasan. Sejauh ini aku melakukan apa yang dikatakan. Selama dua puluh menit terakhir kami berada dalam jalur yang bergelombang, dan kemudian di suatu desa atau permukiman kamp pengungsiankah? karena aku dapat mendengar suara, sesekali musik, dan mobil bolak-balik seolah sedang mencari jalan kecil.


Akhirnya kami berhenti, dengan selimut masih bergelayut di kepalaku, aku tergesa-gesa menuju sebuah gedung. Aku menapaki sejumlah anak tangga dan masuk ke sebuah ruangan. Aku duduk di atas kursi kayu. Di sela-sela kain selimut, aku melihat sekilas lantai ubin biru dan putih sebelum aku merasa seperti ada kacamata selam diikatkan di kepalaku, kedua lensanya ditutup pita sehingga aku dibuat buta. Aku dapat merasakan ada seseorang di belakangku, seorang perempuan bila dinilai dari suara napasnya, dan dapat mendengar suara-suara di salah satu area di rumah itu, sangat sayup dan nyaris tak terdengar. Aku kira aku dapat menangkap sejumlah kata dalam bahasa Arab mesir, yang agak berbeda dengan dialek Palestina, walaupun aku begitu kehilangan orientasi sehingga tidak merasa yakin.


Aku tak mendengar laki-laki ini memasuki ruang atau duduk. Semua yang membuatku menyadari akan kehadirannya adalah embusan lembut wewangian setelah bercukur manio (aku punya teman yang biasa mengenakannya). Walaupun aku tak melihatnya, aku kira ia seorang yang tinggi, ramping dan serba lengkap. Perempuan di belakangku melangkah maju dan memberi kan kertas serta pena di tanganku. Ada keheningan yang cukup lama sehingga aku dapat mendengar tarikan lembut napasnya, merasakan tatapan mata nya ke arahku.


“Anda akan menjalani wawancara,” akhirnya ia angkat bicara. Suaranya perlahan dan terukur, berpendidikan, suara yang tidak memberikan tanda tentang usia atau asalnya.


“Anda diberi waktu tiga puluh menit.”


“Dan siapa sebenarnya yang akan mewawancarai aku?”


“Aku lebih suka menyimpan namaku untukku sendiri. Tidak akan ada artinya apa-apa untukmu, samaran lebih patut.”

__ADS_1


“Dan itu adalah?” Ada helaan napas yang redup, seolah laki-laki di depanku ini tengah tersenyum.


“Anda boleh memanggilku Al-mulatham. Waktumu kini dua puluh sembilan setengah menit lagi.” Layla menggeliat dan, berbaring di sisi majalah, berdiri dan berjalan ke dapur kecilnya. Saat itu pukul 2.30 dini hari, dan, selain suara gemuruh dengkuran Fathi si pengurus rumah dari bagian gedung di bawah, dunia ini seluruhnya terasa sepi.


Ia menjerang air dalam ketel, membuat kopi hitam untuk dirinya sendiri dan kembali ke ruang tengah, menyeruput kopi dalam cangkirnya. Ia tiba di rumah setengah jam lebih awal, mabuk, setelah menghabiskan dua botol anggur dan beberapa brandi bersama Nuha. Ia mandi keramas untuk membersihkan kepalanya, meneguk beberapa gelas air putih, kemudian menghilang ke ruang kerjanya dan mengungkap kembali surat misterius dari keranjang, surat yang ia terima sebelumnya di hari itu, dengan tulisan tebal dalam tinta merah darah dan fotokopi yang terlampir.


Nona Al-madani, Aku telah begitu lama menjadi pengagum jurnalisme Anda, dan berniat untuk menyampaikan sebuah proposal pada Anda. Beberapa waktu lalu, Anda mewawancarai pemimpin yang dikenal sebagai Al-mulatham...


Ia melihat kembali kertas fotokopi itu, kemudian berjalan menuju lemari arsipnya dan mencari potongan wawancara yang dirujuk oleh surat tersebut. Wawancara itu muncul di observer magazine di bawah judul berita YANG TERSEMBUNYI KINI TERUNGKAP – WAWANCARA EKSKLUSIF DENGAN LAKI – LAKI YANG PALING DI TAKUTI DI TIMUR TENGAH.


Ia menarik arsip tersebut, membawanya ke ruang tengah dan mulai membacanya. Ia digambarkan sebagai Saladin baru, inkarnasi Setan, laki-laki yang membuat hamas dan Jihad Islam kelihatan seperti teman baik Israel. Sejak Persaudaraan Palestina meluncurkan serangan bunuh dirinya yang pertama kali tiga tahun lalu, yang menewaskan lima orang di hotel di Netanya, ia bertanggung jawab atas lebih dari 400 korban tewas, yang mayoritasnya adalah warga sipil. Sementara kelompok ekstremis Palestina lain paling tidak telah memperlihatkan kerelaan untuk memasuki gencatan senjata dan negosiasi, al-mulatham na ma


Ini adalah kampanye yang mempolarisasi politik dari wilayah yang telah terpolarisasi, menghancurkan harapan yang masih hidup akan adanya proses perdamaian yang berarti dan membawa bangsa Israel dan Palestina menuju perang habis-habisan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi.


Polling memperlihatkan bahwa dengan masing-masing serangan, opini publik Israel, yang telah diperkeras oleh aktivitas kelompok ekstremis Palestina lain, semakin didorong lebih jauh ke kanan, dengan dukungan untuk politisi sayap kanan seperti Baruch har-zion yang muncul siang itu.


Pada saat bersamaan, kekerasan dan kesewenang-wenangan yang semakin meningkat dari aksi pembalasan Israel pada gilirannya telah menunjukkan kenaikan dukungan untuk organisasi militan seperti Persaudaraan Palestina. Dalam kata-kata politisi moderat Palestina, Sa’ib Marsudi, laki-laki yang keterlibatannya sepanjang hidup dalam aktivitas Palestina belum termasuk masa lima tahun di penjara karena membantu menyelundupkan senjata ke Gaza memberikan bobot tertentu pada kritiknya terhadap al-mulatham: “Ini adalah lingkaran setan. Para ekstremis itu saling memberi makan dan mendukung sesamanya. Ketika al-mulatham membunuh lima orang Israel, Israel membunuh sepuluh orang Palestina, kemudian al-mulatham membunuh lima belas orang Israel, dan seterusnya, dan seterusnya. Kita sedang berenang di danau penuh darah.”


Apa yang menyisihkan Persaudaraan bukanlah semata regularitas dan kecepatan serangan, tetapi fakta bahwa terlepas dari adanya usaha ekstensif dari jasa sekuritas Israel dan lusinan negara lain, termasuk otoritas Palestina itu sendiri, tidak ada yang diketahui tentang organisasi itu atau orang yang memimpinnya. Di mana markasnya, siapa yang menjadi anggotanya, bagaimana “Martir” nya direkrut dan dana untuk menjalankan operasinya semuanya tetap menjadi misteri seutuhnya. Tidak ada informan andal pernah tampil ke depan, tidak ada anggota kelompok yang pernah ditahan. Ini adalah tingkat organisasi dan kerahasiaan yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah aktivisme Palestina, dan yang telah membawa banyak ahli berspekulasi bahwa operasi keamanan negara yang mantap pada akhirnya harus berada di balik serangan.


Iran, Libya dan Suriah semuanya telah diperdebatkan sebagai sponsor paling mungkin, sebagaimana jaringan al-qaeda yang dipimpin Osama bin Laden.

__ADS_1


“Bangsa Palestina tidaklah sebaik itu,” salah seorang ahli keamanan Israel pernah berkomentar. “Pasti ada informan yang selalu dapat Anda temui. Bagaimana Persaudaraan itu beroperasi adalah cara yang terlalu canggih untuk sel pembelot Palestina. Pendorongnya mestilah sesuatu dari luar.”


Terlepas dari spekulasi seperti itu, tidak satu pihak pun yang mendekati pengungkapan kebenaran tentang Al-mulatham. Dan kini aku duduk di depannya. Saladin Baru.


Inkarnasi Setan. Laki-laki paling berbahaya di Timur Tengah. Ia bertanya apakah aku mau minum teh dan makan biskuit. Dari luar terdengar bunyi tutup wadah gandum. Layla menggosok matanya, berdiri dan berjalan menghampiri jendela, melihat jalan di bawah. Dua laki-laki sedang memuat roti yang masih hangat ke dalam bagian belakang Van; jauh di dekat bukit, sekelompok kecil orang sudah mulai antre di luar kantor Kementerian Dalam Negeri Israel dengan penuh harap untuk memperbarui izin tinggal mereka di dalam kota. Sedikit di atas mereka, di sisi lain jalan, sebuah BMW putih diparkir di depan pintu gerbang menuju Garden Tomb, dengan nomor kendaraan Israel berwarna kuning dan transparan bagian dalamnya. Sesosok bayangan tampak sedang duduk tak bergerak di kursi kemudi.


Layla telah melihat mobil yang sama diparkir di sana beberapa kali sebelumnya. Dan walaupun penjelasan rasionalnya bahwa itu kendaraan Shin Bet yang sedang terus mengawasi antrean orang Palestina di sisi seberang, ia tidak dapat melepas kecurigaan sang sopir sebenarnya sedang menatap langsung ke jendela apartemennya. Ia melihat ke bawah sekarang, lebih merasa penasaran daripada tidak nyaman. Kemudian, sambil geleng-geleng kepala, ia kembali ke sofa dan membaca artikel itu lagi.


Ia membaca sisa tulisan dalam artikel tersebut yang pada dasarnya merupakan serangkaian kutipan yang diperluas untuk menjadi pembenaran bagi al-mulatham atas kampanye kekerasannya dan bersumpah untuk melanjutkannya “sampai tanah Palestina menjadi merah oleh darah anak-anak Yahudi” sebelum membaca kembali beberapa paragraf terakhir, yang selalu mengirim getaran halus pada tulang punggungnya.


Dan kemudian, tiba-tiba, semendadak saat dimulainya, wawancara itu sampai pada akhir. Satu menit kami bicara, berikutnya aku berdiri dan menuruni tangga, dengan kacamata gelap tetap bertengger di kepalaku. Begitu aku sampai di lantai dasar, aku mendengar suaranya dari atas.


“Akan ada banyak pertanyaan tentang apakah wawancara ini benar-benar terjadi, Nona Al-madani. Untuk menenangkan keragu-raguan, harap beritahu jasa sekuritas Israel bahwa pada jam 9:05 malam ini salah satu operator kami akan memartir dirinya sendiri atas nama Palestina merdeka. Semoga perjalananmu selamat.” Dua jam kemudian aku ditinggalkan di sisi jalan di selatan Bethlehem. Aku memberitahu otoritas Israel apa yang terjadi.


Pada malam yang sama, pada jam yang telah ditentukan, sebuah bom meledak di Alun-alun hagar di Yerusalem Barat, menewaskan delapan orang dan melukai sembilan puluh tiga orang. hal itu mengatakan lebih dari apa yang dapat dikatakan oleh wawancara apa pun tentang nihilisme dari laki-laki yang dikenal sebagai al-mulatham, bahwa mereka yang tewas dan diuntungkan sedang menghadiri reli perdamaian Gush Shalom.


“Dia telah membuat kerusakan pada orang-orangku sebanyak kerusakan pada penciptaan Negara Israel,” kata Sa’ib marsudi. “Lebih dari itu, mungkin, karena sekali waktu kita pernah dipandang sebagai korban. Kini, berkat dia, kita dipandang sebagai pembunuh.” Aku curiga Al-mulatham akan menganggap ini sebagai pujian.


Layla meletakkan artikel itu di sisinya dan memungut lagi surat yang membuat penasaran itu, membaca seluruhnya sekali lagi, dengan alis mata berkerinyut. Jelas-jelas ada sesuatu tentangnya, sesuatu yang ... memaksa. Ia terlalu lelah untuk dapat memberikan tanggapan apa pun saat ini, dan meninggalkan kedua artikel beserta surat itu di meja kerjanya. Ia kemudian melangkah ke kamar tidur, jatuh tertidur segera setelah kepalanya menyentuh bantal.


Inisial GR menggema di tepi pikirannya seperti gemuruh halilintar di kejauhan pada malam musim dingin yang gelap.

__ADS_1


__ADS_2