
Efeknya begitu seketika. Sinar menyapu dan ada tanda jejak kaki begitu orang-orang Israel itu bergerak menuju sisi kiri elevator, diikuti oleh amukan letusan senjata api yang memekakkan telinga.
Ketika hal itu mulai berlangsung, Khalifa dan Ben-Roi mulai berlari, sambil berpegangan tangan, dalam kegelapan, mengikuti apa yang mereka terka mudah-mudahan, sebagai garis gang sentral, sambil mengernyit dengan setiap langkah kalau saja mereka harus terhantam ke tumpukan peti atau kesukaran lain. Kadang mereka membiarkan aksi, rasa takut, dan adrenalin menggerakkan mereka, melintasi sekitar separuh panjang gua sebelum melambatkan larinya, melepaskan pegangan tangan mereka dan berjalan di salah satu gang sempit di antara rak, melompati kumpulan benda lain yang membuat gang itu tersumbat. Di belakang mereka rentetan letusan senjata api semakin berkurang untuk kemudian berhenti sama sekali.
Mereka berdiri di tempatnya, mencoba mengatur napas mereka kembali. Kegelapan menyelimuti mereka seperti gesekan beludru hitam, gua itu hening kecuali bunyi berulang engkol generator dan suara obrolan orang-orang Israel itu, pelan pada awalnya, tetapi kemudian secara perlahan terdengar penting dan mendesak.
Ben-Roi mengencangkan lehernya, mendengarkan.
“Sialan,” bisiknya.
“Apa?”
“Api.”
“Apa?”
“Tembakan tadi. Bisa membuat peti ini menyala.” Saat mereka membicarakan itu, lubang hidungnya menangkap bau kayu terbakar.
“Tempat ini seperti genting bubuk,” kata Ben-Roi. “Akan segera meledak!” Khalifa tidak perlu mendapatkan penjelasan. Ia telah melihat isi gua itu dengan matanya sendiri: drum minyak, peti berisi amunisi, bahan peledak, rak yang terbuat dari kayu kering.
“Sialan!” ia mendesis. “Sialan!” Ia menyalakan pemantik apinya dan, sambil melindungi api dengan tangannya untuk menjaga sinarnya, mulai panik melihat ke sekeliling, mencari sesuatu, apa saja, yang dapat mereka gunakan untuk menemukan jalan keluar dari gua. Kaki tangan Har - Zion mulai menembaki lagi, suara mereka semakin menimbulkan kepanikan karena letusan semakin kuat dan menyebar. Suara gemuruh engkol generator semakin mendesak.
“Ayo!” kata Ben-Roi. “Kita perlu senjata!”
“Tidak ada satu pun di sini!” Khalifa semakin mendesak jauh ke dalam tumpukan peti, tidak lagi peduli dengan bunyi bising yang mereka hasilkan, menggerakkan korek api ke sana-sini. Ia menemukan lukisan, pahatan, apa yang terlihat seperti bagian tempat lilin yang besar. Tetapi tidak ada senjata, dan ia mulai putus asa ketika akhirnya, setelah menggeser kantong yang penuh berisi uang kertas, ia menemukan wadah metal panjang yang, ketika dibuka, berisi selusin senjata submesin merek Schmeisser baru. Wadah yang sama yang ada disisinya berisi penuh klip amunisi.
“Alhamdulillah,” bisiknya. Ia mengambil salah satu senjata dan dengan beberapa klip ia serahkan pada Ben-Roi. Khalifa mengambil satu lagi untuk dirinya sendiri, dan memeriksanya, mencoba menyesuaikan dengan mekanisme yang belum dikenalnya, ketika terdengar derak rentetan letusan senjata secara tiba-tiba. mereka segera merunduk, mengira rentetan itu diarahkan pada keduanya, dan baru menyadari dari teriakan peringatan para kaki-tangan Har - Zion bahwa itu adalah kotak amunisi yang segera meledak.
__ADS_1
“Tempat ini akan menjadi gunung berapi,” desis Ben-Roi.
Mereka berdiri dan kemudian berjalan menyusuri kembali gang itu, korona berwarna oranye pekat mengisi gua jauh di sebelah kanan mereka. Ketika mereka sampai di mulut gang, terdengar ledakan drum minyak, kira Khalifa, atau mungkin beberapa drum minyak yang diikuti langsung oleh suara generator karena ia akhirnya menyala kembali, sinar putih es menyapu seluruh ruang gua, membuat semuanya terlihat. Kaki-tangan Har - Zion mengeluarkan teriakan kegembiraan, dan dengan suara gemerincing, elevator itu mulai naik lagi. Ben-Roi mengintip ke arah gang, dan kemudian menarik kepalanya.
“Mereka tidak jauh dari sini,” ia berbisik. “Satu ada di pelataran di atas. Aku akan urus dia. hitung sampai tiga ya?” mereka mengokang senjatanya.
“Satu ... dua....”
Terdengar suara ledakan yang lain, seluruh gua terasa bergetar.
“Tiga!” Mereka menyelinap ke gang. Kebakaran yang terjadi lebih buruk daripada yang diperkirakan Khalifa. Dalam hitungan menit, kebakaran itu telah melalap seluruh barisan kotak di sebelah kanan mereka, mulut api yang menganga menjilati dan menghanguskan apa yang terlihat, melalap barisan peti semakin dalam. Lidah api mulai menjilati dinding gua; percikan reruntuhan yang menyala beterbangan di udara seperti kunang-kunang. Di atas kepala, asap abu-abu pekat bergulung secara perlahan di langit-langit gua.
Semua itu ia perhatikan dalam setengah detik sebelum ia berjongkok, bertumpu pada lututnya dan mulai menembaki. Schmeisser mengentak dan meraung dalam genggaman tangannya.
Di sampingnya, Ben-Roi sedang melakukan hal yang sama, memberondong sisi terjauh gua dengan rentetan peluru yang tak henti-hentinya. Serangan itu sepertinya membuat Har - Zion dan pengikutnya terkejut. Ben-Roi dapat mengenai sasaran yang sedang berada dipelataran atas, Khalifa mengenai dua orang lagi yang ada di elevator, yang kedua dari mereka terjatuh ke depan melewati tuas kontrol elevator sehingga membuat mekanismenya ke arah sebaliknya.
Peluang mereka hanya sebentar. Setelah bingung beberapa saat, tiga orang Israel yang masih tersisa Har - Zion, Steiner, dan yang lain tiarap pada lantai elevator dan meluncurkan rentetan letusan pistolnya dengan tepat. Khalifa mundur kembali ke gang antara rak peti; Ben-Roi diam sesaat, kemudian berjalan ke gang yang lain pada sisi seberang gang pemisah.
“Jangan biarkan mereka memegang kendali!” teriaknya.
Salah seorang Israel sedang mencoba melakukan hal itu, Har - Zion dan Steiner melindunginya ketika ia bergulung di platform dan menarik tubuh yang terjungkal melewati tuas naik-turun.
Khalifa menangkapnya dan meluncurkan rentetan tembakan padanya, tetapi terdesak untuk mundur saat itu juga. Ben-Roi lebih banyak berhasil, memuntahkan peluru ke gua yang langsung mengenai sisi orang Israel, membuatnya melayang di udara sebelum terbanting lagi pada dasar Menorah.
Elevator itu kini hampir sepenuhnya berada di lantai gua. Dalam usaha terakhir yang habis-habisan untuk membuatnya naik lagi Steiner mengosongkan Uzinya dengan cara menembaki gang, meneriakkan sesuatu pada Har - Zion dan, ketika yang terakhir ini melindunginya dengan pistol Hecker and Kochnya, berjuang di platform, mayat yang terjungkal dan, otot lehernya menonjol, merobeknya, meletakkan tangannya pada tuas kontrol untuk mengembalikan arahnya. elevator itu pun terhenti, jeda sejenak seakan sedang mengambil napas, kemudian mulai naik lagi.
Har - Zion meneriakkan pekik kemenangan, hanya sampai suara itu terhenti di bibirnya ketika pistolnya kehabisan amunisi. Laki-laki dengan kebebasan normal untuk bergerak pasti hanya akan memakan waktu beberapa detik untuk menyiapkan klip baru dan memasukkannya ke dalam tempat peluru. Karena kekencangan kulitnya yang terbakar, ia tidak dapat memasukkan benda seperti itu secara cepat. Ia meneriakkan sesuatu, Steiner berteriak balik, mengindikasikan bahwa ia juga kehabisan amunisi, dan dalam kebingungan yang sangat singkat itu Ben-Roi melihat peluang untuknya.
__ADS_1
Sambil memanggil Khalifa untuk mengikutinya, ia keluar dari tempat persembunyiannya dan mulai berlari mendekati elevator. Ia diam sejenak karena terdengar ledakan besar di belakangnya telah menggoyang seluruh gua sebelum memperoleh kembali posisinya, jari-jari siap pada pelatuk senjatanya. Tembakan pertamanya meleset secara liar, menghilang ke dalam neraka jauh disisi kanan. Begitu juga dengan tembakan berikutnya, yang terpental pada dinding batu di atas elevatornya. Tembakan ketiganya mencapai sasaran, menghantam leher dan dada Steiner, menghantam mundur dirinya ke salah satu jalur vertikal tempat berjalannya elevator. Untuk sesaat lamanya ia berdiri di sana, darah keluar dari mulutnya, keterkejutan menghiasi wajahnya; kemudian, secara perlahan, ketika platform muncul di bawahnya, tubuhnya terjepit pada jalur dan tertangkap di bawah roda metal yang berjalan di atasnya, menggertak mereka. Terdengar jeritan begitu motor lift mencoba melintasi blokade, rodanya melintasi mayat itu, sebelum akhirnya, tidak mungkin dapat melintasinya, mesin meledak menjadi hujan api gemerlap dan elevator itu terhenti sama sekali, satu setengah meter di atas lantai.
Har - Zion masih mencoba mendapatkan amunisi baru, menjerit dalam kesakitan karena keterbatasan gerakannya menyebabkan daging tubuhnya yang diawetkan robek dan rusak di balik kemejanya. melihat betapa ia tak berdaya, Ben-Roi memperlambat larinya, kemudian berjalan. Ia mendekatinya, mengangkat Schmeisser dan menekan ujungnya keras-keras pada kepala Har - Zion, tampak lupa pada nyala api yang kini membakar semua area.
“Ini untuk Galia,” bisiknya. Ia menarik pelatuknya sampai batas yang hampir penuh, kemudian menghentikannya. Ia telah memimpikan momen ini begitu lama, setiap hari selama setahun terakhir untuk menempelkan senjata pada kepala laki-laki yang telah membunuh kekasihnya, menjagalnya, sama seperti yang dialami Galia. Namun, ketika saatnya tiba, senjata telah menempel pada titik sasarannya dan ia tidak perlu melakukan apa pun kecuali menarik pelatuknya, entah bagaimana ia jadi tak sanggup melakukannya. Tidak dengan cara seperti ini, tidak secara kejam. Ia menggigit bibirnya, merelakan dirinya untuk menembak, membalas kebenciannya, tetapi tetap tak terjadi; suara kecil satu-satunya jauh di dalam dirinya suara perempuan itu mengatakan padanya bahwa hal itu bukan sesuatu yang baik, bukan sesuatu yang benar, lebih akan membuatnya sakit daripada menyembuhkannya. Har - Zion tampak peka, merasakan penolakannya ini.
“Tolonglah aku,” ia meratap, menjulurkan kepalanya untuk menatap Ben-Roi. “Lakukanlah apa pun yang ingin kau lakukan terhadap diriku di luar, tetapi demi Tuhan, selamatkanlah Menorah itu.” Ben-Roi menatapnya, tangan gemetar, wajah mengkilap oleh peluh akibat panas yang meningkat yang ditimbulkan oleh api. Kemudian dengan rengekan tak berdaya, ia melepaskan senjatanya. Har - Zion langsung berdiri, sambil merintih kesakitan.
“Kita akan menaikkannya,” katanya. “Kita perlu kabel atau tali. mana si orang Arab?” Ben-Roi melihat ke sekeliling. Ia mengira Khalifa ada tepat dibelakangnya, mengikutinya ketika ia menuju elevator tadi. Si mesir memang mencoba melakukan seperti itu. Namun, ketika ia muncul dari tempat persembunyiannya, ledakan besar yang sama yang hampir membuat Ben-Roi menyerah telah membuat setengah lusin peti jatuh berserakan menimpanya, membuatnya tidak sadarkan diri. Ia kini terbaring di tengah-tengah gang, wajahnya menghadap lantai, sebuah peti besar menindihi kakinya. Ben-Roi berlari ke arahnya dan menyingkirkan peti itu, sambil berlutut.
Pada awalnya ia berpikir Khalifa telah mati. Namun, ia berusaha memberikan rangsangan dan, tidak sempat lagi mengkhawatir kan kalau-kalau ada tulang yang patah, ia pun mengangkat si mesir ke bahunya dan bergegas kembali ke elevator, terbatuk karena menghirup asap yang memenuhi ruang. Har - Zion telah menemukan tali dan mengikatkannya pada batang Menorah.
“Kita akan mengeluarkan Lampu dulu dan kembali lagi untuknya,” katanya. “Bantulah aku.”
Ben-Roi menggeleng. “Aku akan mengangkatnya ke atas terlebih dahulu.”
“Tidak! Kita harus menyelamatkan Menorah!”
“Aku akan membawanya dulu,” ulang Ben-Roi, sambil mengangkat Khalifa ke platform, ia sendiri kemudian melangkah ke platform dan mengangkat lagi si mesir ke bahunya. Ketika ia melakukannya ujung pistol dipukulkan ke bagian belakang lehernya.
“Itu akan dimuat kembali,” kata Har - Zion. “Sekarang, turunkan dia.” Ada jeda beberapa saat. Drum minyak lain meledak pada sisi lain gua, jilatan api menjalar ke atas hampir mencapai langit-langit, menelan dan menguapkan bendera raksasa Nazi, kemudian, sambil mengesampingkan pistol itu, Ben-Roi melangkah ke jalur elevator terdekat. Har - Zion mengangkat pistolnya dan meletuskannya ke udara.
“Turunkan dia!” teriaknya. “Kau mengerti? Kita harus menyelamatkan Lampu. Turunkan dia dan bantulah aku!”
“Kalau kau membunuhku, kau tak akan bisa mengeluarkannya,” kata Ben-Roi, mata melihat pada jalur elevator. “Aku akan membawanya ke atas dan kembali lagi.”
“Tidak!” jerit Har - Zion, sambil menembakkan tembakan peringatan berikutnya. “Kita harus menyelamatkannya sekarang! Sekarang! Kau mengerti?” Detektif itu mengabaikannya, melangkahi mayat Steiner yang berlumuran darah, meraih batang logam horizontal yang menuju ke atas antara rak seperti anak tangga dan ia mulai memanjatnya.
__ADS_1