Detektif Terpilih

Detektif Terpilih
SEJARAH PEPERANGAN


__ADS_3

“Perang antara Israel dan Palestina dan jangan salah, ini memang perang sedang berlangsung pada banyak tingkatan berbeda dengan senjata yang berbeda-beda pula. Yang paling jelas, tentu saja, adalah konfrontasi fisik: batu melawan senjata Galil, bom Molotov melawan tank merkava, bom mobil dan serangan bunuh diri melawan helikopter Apache dan Jet F16.


“Bagaimanapun juga ada banyak elemen dalam konflik ini, yang jika kurang terlihat tak kurang signifikan. Diplomasi, agama, propaganda, ekonomi, intelijen, budaya semua adalah arena tempat pergolakan yang berlangsung antara bangsaku dan penindas Israel bermain setiap harinya. Dalam artikel ini aku akan berkonsentrasi pada satu dari sekian medan perang pengikisan yang paling kecil kemungkinan terjadinya, dan yang paling krusial dari semuanya, satu yang berada pada jantung atau pusat dari konflik yang sudah korosif ini: arkeologi.


Layla berhenti sejenak. Jemarinya bergerak di atas keypad laptopnya, memindai apa yang baru saja ia tulis, membacanya keras-keras untuk memastikan tulisannya mengalir lancar dan masuk akal. Ia menambahkan kalimat lain “Bagi bangsa Israel, arkeologi, khususnya penggalian bukti untuk mendukung eksistensi Negara Israel yang tercantum dalam kitab suci di tanah yang mereka kuasai sekarang, telah menjadi komponen kunci dalam perang melawan Palestina” kemudian, dengan *******, ia menjauhkan diri dari mejanya, berdiri dan beranjak menuju dapur untuk membuat kopi.


Artikel untuk Palestine-Israel Jurnal itu telah berputar dalam benaknya sejak beberapa minggu lalu, sejak ia bertemu dengan pwmud Yunis Abu Jish di kamp pengungsi Kalandia. Ini adalah subjek yang bagus, dan dengan kecepatannya menulis dan kenyataan bahwa dia telah merencanakan segala sesuatunya di dalam kepalanya merupakan artikel yang harus ia tuntaskan dalam beberapa jam atau kurang.


Karena dia telah mengerjakan artikel ini selama dua kali dari lamanya waktu itu, sejak kembali dari pertemuan dengan Bapa Sergius, dan walaupun saat itu masih belum terlalu malam, ia tetap baru menghasilkan potongan kecil dari dua ribu kata yang ingin ia tulis. Andai saja ini subjek yang lain, ia mungkin bisa berkonsentrasi dengan lebih baik. Referensi arkeologi dan sejarah adalah pengingat konstan dalam semua hal berkaitan dengan William De Relincourt; Layla baru menulis beberapa kata saja karena pikirannya mulai beralih, menjauhkannya dari pekerjaannya sekarang dan kembali ke De Relincourt dan harta misterius yang dianggap ditemukan olehnya yang terpendam dalam gereja makam Suci.


Apakah isinya? Ia terus bertanya-tanya di dalam hati. Bagaimana hal ini terkait dengan Al-mulatham? Siapa koresponden misterius yang telah membuatnya tahu mengenai cerita ini pada awalnya? Apa? Bagaimana? Siapa? Pertanyaan itu menggema di telinganya seperti dering lonceng yang terus-menerus, memecah konsentrasinya.


Ia membuat kopi untuk dirinya sendiri, membuatnya dalam gaya Palestina, menjerang air dalam teko logam lalu menambahkan kopi dan gula. Setelah itu ia naik ke atap dan memandang arah timur dalam kegelapan langit, mencoba menjernihkan kepalanya.


Di puncak Gunung Scopus, lampu Universitas hebrew telah menyala, tajam dan dingin, seolah puncak bukit itu ditutupi lembaran es yang berkilau; di sisi kanan, di Gunung olive, Gereja Kebangkitan dapat terlihat, dibungkus dalam sinar korona yang lebih hangat, seperti lingkaran halo. Ia tersenyum tipis pada dirinya sendiri, mengingat kembali momen saat ia dan ayahnya berlomba menuruni bukit dari gereja ke Basilika Gethsemane di bawah.


Waktu itu ayahnya bertaruh satu dolar Layla tidak bisa mengalahkan ayahnya sampai di bawah. Walaupun tahu ayahnya akan membiarkannya menang, dengan sengaja Layla tetap bertahan di belakang, suatu keadaan yang tidak mungkin menghilangkan kepekaannya akan kemenangan saat ia melintasi garis finish yang telah disepakati bersama, mengangkat tangannya yang ramping dan bersorak gembira sebelum sambil terengah-engah menuntut uang hadiah untuknya.

__ADS_1


Itu adalah, seperti begitu banyak kenangan tentangnya, gambaran yang ambivalen, yang penuh kebahagiaan sekaligus simbolisme melankolis. Namun demikian, ia tetap melanjutkan lomba itu. Sejak kematiannya, ayah selalu berada di bahunya, membayanginya, mendorongnya, tidak pernah menyurut, bagaimanapun kerasnya ia berlari. Perbedaannya adalah ketika itu ada jarak pasti untuk dilalui, ujung yang jelas terlihat, hadiah bagi tenaganya yang terkuras, kini ada ... apa? Tidak ada apa-apa. Tidak ada harapan akan kemenangan atau kesenangan, tidak ada kenikmatan. hanya lari yang tiada henti, lari cepat tanpa harapan dari kekosongan ke kekosongan. Dan selalu kenangan tentang ayahnya berada di belakangnya, tengkorak kepalanya yang memburai, tangan yang terborgol di punggung belakang seperti hewan tertambat di meja penjagalan. Selalu ada di sana. Selalu hadir. Selalu menggerakkannya.


Ia mengucek matanya, menghapus kelembaban yang ada di sana, dan memandang ke arah kerlip bintang redup terakhir yang secara perlahan melebur ke dalam malam. Angin dingin mulai terasa menerpa wajahnya. Ia menutup matanya, menikmati kesegaran udara malam yang begitu tenang. Layla tetap berada dalam keadaan begitu untuk beberapa saat, berharap ia dapat berada di atas atap dan terbang, melarikan diri dari semua kekejaman, meninggalkan semuanya di belakang; kemudian, dengan *******, ia menghabiskan kopinya dan kembali ke ruang kerjanya, duduk di depan laptopnya dan membaca sekali lagi apa yang sudah ia tulis. Ia menambahkan beberapa kalimat, dengan ragu-ragu, kemudian, menyadari bahwa ini hanya membuang waktu saja, bahwa ia terlalu terpaku, segera menutup arsip yang sedang dia kerjakan, menyimpan buku catatannya dan membuka internet, membuka Google dan mengetik “William De Relincourt” di dalam kotak subjek.


Layla menghabiskan lima jam berikutnya menelusuri setiap daftar yang relevan mengenai De Relincourt, mencari petunjuk baru tentangnya, sesuatu yang mungkin saja belum ia miliki pada pencarian pertamanya di malam sebelumnya. William De Relincourt dan Holy Grail, William De Relincourt dan Rosicrucian, William De Relincourt dan Atlantis yang hilang, William De Relincourt dan Konspirasi Vatikan untuk mengambil alih dunia Layla meneliti semuanya, masing-masing terlihat lebih buram daripada yang sebelumnya. Kalau saja ia telah mencari artikel tentang keanehan zaman Baru, atau Sejarah sebagai mistis Baru, ia pasti akan memiliki waktu untuk melakukan apa yang dia suka.


Ternyata, dia tidak menemukan apa pun sebagai tambahan bagi fakta yang telah diketahuinya.


Begitu sudah kelelahan mencari semua data tentang William De Relincourt, Layla mulai mengetik variasi lain, memperluas jaringan: Guillelmus De Relincourt; Gillom of Relincar; Esclarmonde De Relincourt; De Relincourt Jews; De Relincourt France; De Relincourt Languedoc; De Relincourt C. Dan tetap nihil. Kadang kala tidak ada pasangannya sama sekali, terkadang lusinan tetapi tidak relevan; kadang ada pasangannya tetapi sudah ia peroleh di bawah judul lain.


hanya satu kombinasi yang terbukti, bila tidak bisa dianggap menolong, tapi paling tidak menarik, dan itu adalah “Guillelmus Relincourt Hitler”, yang ia ketik dengan dasar informasi dari Bapa Sergius pagi tadi. Ia kini dihadapkan kembali pada lebih banyak teori gila, termasuk yang mengatakan bahwa De Relincourt telah menemukan sejenis senjata magis rahasia yang mampu menguapkan seluruh populasi Yahudi di dunia, sebuah senjata yang, untuk alasan gamblang, telah membuat hitler begitu cemas untuk memegang dengan tangannya (dan juga membuat cemas sang penulis, didasarkan pada nuansa antisemit dalam artikel itu).


Kebanyakan referensi itu singkat dan tidak banyak detail yang berkaitan, tetapi ada satu, artikel yang ditulis seorang Prancis Jean-michel Dupont dengan catatan kaki menggelitik yang dipetik dari buku harian Dietrich eckart, seorang ideolog Nazi dan orang yang kepadanya hitler mendedikasikan mein Kampf: November 13, 1938 Thule Soc. makan malam, Wewelsburg. Semangat tinggi setelah peristiwa 9-10, dengan WvS membuat lelucon tentang “Ceceran harapan bangsa Yahudi”. Dh mengatakan mereka akan lebih tercecer bila apa saja tentang Relincourt terlepas, yang setelah itu ada diskusi panjang tentang Cathars, dan lain-lain. Burung ayam pagar, sampanye, cognag. mohon maaf dari FK dan WJ.


Beberapa silang referensi mengungkapkan bahwa Wewelsburg adalah kastil di Jerman barat laut, markas besar SS-nya Himmler; Thule Society adalah perintah Quasi-Esoterik yang diabdikan untuk promosi mitologi bangsa Arya; “peristiwa 9-10” adalah perusakan massal terhadap properti milik bangsa Yahudi yang selanjutnya dirujuk sebagai “Kristallnacht”; dan Cathars adalah nama yang Layla temukan dalam beberapa artikel lain, sejenis sekte Kristen Heretikal yang berkembang pada abad keduabelas dan ketigabelas (menariknya, mereka secara khusus aktif dalam wilayah Languedoc di Prancis.) Inisial WVS, FK dan WJ, sejauh yang dapat ia identifikasi, adalah milik Wolfram Von Sievers, friedrich Krohn dan Walter Jankuhn, akademisi Nazi dan anggota regular Thule Society.


Semuanya benar-benar menarik. Sayangnya, satu bagian dari intisari yang benar-benar ia perlukan sebagai sumber, yaitu pemilik inisial Dh dan maksud kalimat “Bila hal berkaitan dengan Relincourt lepas”, tidak ia temukan. Tidak ada nomor atau alamat Jean-Michel Dupont, dan setelah ke sana kemari selama setengah jam dalam internet mencoba mengklarifikasi isu tersebut Layla akhirnya memutuskan bahwa semua itu mengalihkan konsentrasinya dan untuk sementara dia menyerah.

__ADS_1


“Sialan benar!” ia mendesis marah sembari menendang kaki meja. “Apa sih yang sebenarnya aku cari? Brengsek!” Waktu sudah hampir tengah malam. Ia memandang layar, mata bergerak dengan keletihan, kemudian mengulurkan tangannya untuk mematikan laptop, pasrah dirinya tidak akan mendapatkan apa-apa lagi malam itu. Ketika ia melakukan itu, yang lebih karena kelelahan daripada karena ia pikir hal itu akan membuatnya lebih baik, ia menuliskan kombinasi kata terakhir secara acak kedalam kotak subjek, yang pertama melintas dalam benaknya, bahkan tak sempat ia pikirkan, hanya menekan keyboard secara otomatis seolah itu lebih merupakan sentuhan jarinya daripada pikirannya yang telah mengambil inisiatif: “Relincourt france treasure Nazis secret Jews”. Ia berhenti sejenak, melihat pada apa yang telah ia ketik, kemudian, lagi-lagi, lebih karena refleks daripada rasional, mengganti “Relincourt” dengan “William” kemudian meng klik ikon “Search”. muncul dalam daftar pasangan pertama.


St John’s College history Society ... Professor magnus Topping, dengan anak judul “Little William and the Secret of Castelombres: A Tale of Nazis, treasure....” Situs itu, sebagaimana tertera dalam judulnya, merupakan milik masyarakat sejarah dari St John’s College, Cambridge, dan terutama terdiri atas laporan yang panjang dan bukan laporan yang agak berbunga-bunga dari terminologi terdahulu tentang peristiwa dan aktivitas, yang kebanyakan, dinilai oleh J-peg yang menyertai para lulusan yang mabuk dalam toga dan rambut palsu oranye, hanya sedikit atau tidak berhubungan sama sekali dengan sejarah.


Paragraf dalam laporan itu berbunyi:


Pembicaraan terakhir dalam terminologi penyangga dari suatu ceramah yahh pembicaraan yang banyak sekali diberikan oleh Profesor kita magnus Topping, dengan ceramah berjudul “Little William and the Secret of Castelombres: Cerita tentang Nazi, harta karun, Casthars dan Inkuisisi”. Dalam diskusi yang mencerahkan dan penuh warna, Profesor Topping menjelaskan bagaimana risetnya mengenai akuisisi abad ketiga belas telah mengungkapkan hubungan yang tidak diperkirakan antara harta karun Cathars dan apa yang disebut “Secret of Castelombres”, yang terakhir ini adalah kastil di wilayah Languedoc Prancis tempat, menurut legenda zaman pertengahan, beberapa harta tak ternilai disimpan di sana. Dari titik tolak ini kita dibawa ke dalam wisata yang menyenangkan menuju dunia pemujaan misteri Judais, Arkeolog Nazi dan kengerian mendalam dari Inkuisisi Katolik (William kecil adalah interogator yang brutal), efek keseluruhannya tidaklah merupakan seminar sejarah milik Anda seperti biasanya tetapi lebih merupakan pelaku sejarah sepenuhnya. malam yang benar-benar penuh kenangan yang semakin mengesankan oleh demolisi dari pembicara yang mulia tentang seluruh isi botol Lagavulin. ohh menangislah kalian semua yang tidak bisa hadir.


Reaksi spontan Layla begitu membaca teks ini adalah kesenangan ringan dengan gaya yang sedikit sombong, bercampur perasaan kecewa karena, berlawanan dengan yang dia harapkan pada awalnya, William tersebut jelas-jelas dikatakan tidak ada kaitannya dengan William yang sedang menjadi minat dan perhatiannya. Ini merupakan tanda betapa lelah dan sesaknya Layla, belum lagi sikap skeptis setelah malam ketika ia bersusah payah berada dalam kebohongan historis yang penuh lumpur, sehingga baru ketika ia membaca yang kedua kalinya koneksi antara laporan dan risetnya sendiri mulai terlihat. Dan baru ketika ia membaca yang ketiga kalinya, seperti burung muncul dengan suara berisik dari semak belukar, kata “Castelombres” tiba-tiba melompat ke layar monitor. Castelombres, Languedoc. C.


Untuk sesaat ia berdiam di tempatnya, memerhatikan nama itu dengan saksama, menelaahnya secara mendalam, kemudian, dengan aliran deras adrenalinnya, dengan sangat bersemangat dia mulai mengumpulkan semua catatan yang tercecer di mejanya, menarik terjemahan surat bersandi dan memegangnya di bawah lampu, dan matanya membaca teks. Aku kirimkan ini segera sekarang dengan perkiraan hal ini akan aman di C.


“Ya Tuhan!” bisiknya.


Ia meneliti laporan itu sekali lagi, dengan berhati-hati, sambal menulis, kemudian menyimpan arsip website tersebut dalam folder arsip favoritnya kemudian kembali ke Google dan mengetik “Castelombres” pada kotak pencarian. Ada enam tanggapan. Layla mengklik yang pertama, “A Geneacology of the Comptes de Castelombres”. Untuk beberapa lama, layar tetap kosong, kemudian, seperti kabut yang menghilang sebelum ada angin kuat, sebuah silsilah keluarga perlahan tampak di layar. Sebenarnya itu lebih mirip semak keluarga, karena hanya kurang dari selusin nama yang tertera pada cabangnya seperti dedaunan yang compang-camping.


Satu yang tertangkap oleh matanya adalah yang berada di tengah.

__ADS_1


Layla menatapnya sejenak, memeriksa dan memeriksa ulang, kemudian, dengan mendengung tajam karena begitu lega dan senang, ia pun menghantamkan kepalan tangannya pada meja.


“Dapat!” teriaknya.


__ADS_2