Detektif Terpilih

Detektif Terpilih
PEJUANG DAVID


__ADS_3

Layla tidak bisa melewati gerbang Damaskus di Kota Tua, dengan lengkungan menara kembarnya yang mengesankan, batu-batu ubin yang menghitam dan rombongan para pengemis serta penjual buah, tanpa mengingat kembali saat pertama ia datang kesini bersama kedua orangtuanya semasa ia berusia lima tahun.


“Lihat, Layla,” kata ayahnya dengan bangga, sambil berjongkok di sisinya dan membelai rambutnya yang panjang sepinggang. ’Al-quds’ kota paling indah di dunia. Kota kita. Lihatlah betapa terang dan cerah batu itu di bawah sinar matahari pagi; ciumlah aroma za’atar dan roti yang baru dipanggang, dengarlah panggilan muazin dan teriakan para penjual tamar hindi. Ingatlah semua hal ini, Layla, simpan di dalam hatimu. Karena bila orang Israel sudah menguasai, kita semua akan diusir dan al-quds akan menjadi tak lebih dari sekadar nama tempat yang kita baca dalam buku sejarah.” Layla melingkarkan lengannya pada leher sang ayah.


“Aku tidak akan membiarkan mereka melakukan itu ayah!” teriaknya. “Aku akan lawan mereka. Aku tidak takut!” Ayahnya tertawa dan menggendongnya, memeluk dan mendekapnya erat ke dada, yang rata dan kuat, seperti marmer.


“Pejuang kecilku! Layla, yang tak terkalahkan! oh ... betapa hebatnya putriku.” Ketiganya telah mengelilingi bagian luar kota, mengikuti garis tembok yang pada saat itu telah membuat Layla terkagum-


kagum karena begitu besar dan menakutkan, batu bergelombang besar yang ada di atas, dan kemudian melewati Gerbang Damaskus ke jalan berlabirin di atas sana. mereka minum Coca-cola di kafe tepi jalan, ayahnya mengisap pipa shisha dan berbicara penuh semangat dengan sekelompok orang-orang tua, sebelum menuruni jalan Al-Wad menuju haram al-Syarif, berhenti pada waktu-waktu tertentu sehingga ia dapat menunjukkan toko roti yang selalu ia datangi untuk menikmati kuenya ketika masih kanak-kanak, alun-alun tempat ia bermain bola dengan teman-teman, pohon ara tua yang tumbuh di luar tembok dan buah-buahan yang biasa ia petik.


“Bukan untuk dimakan,” jelas ayahnya. “Terlalu keras dan pahit. Kami memakainya untuk melempar teman. Sekali waktu aku pernah kena lemparan tepat di hidungku. Seharusnya kau mendengarkan bunyi gemeretaknya. Darah di mana-mana.” Ayahnya tertawa mengingat kenangan itu, Layla pun tertawa dan mengatakan pada ayah betapa lucunya peristiwa itu menurutnya, walaupun kisah itu menakutkannya karena membayangkan ayahnya kesakitan. Ia begitu mencintai ayahnya sehingga selalu ingin menyenangkannya, menunjukkan padanya bahwa ia tidak lemah atau takut, tetapi kuat seperti dirinya seorang Palestina sejati yang berani.


Dari pohon ara, mereka tiba di jalan sempit berliku, yang pada akhirnya tiba di titik dengan gedung di sisi kiri dan kanannya melengkung tepat di atas kepala mereka, membentuk terowongan.


Sekelompok serdadu Israel sedang berdiri di bagian dalam pintu masuk dan menatap ke arah mereka dengan penuh curiga saat mereka lewat.


“Lihat bagaimana mereka memandang kita,” keluh ayah.


“mereka membuat kita merasa seperti pencuri di rumah sendiri.” Ia menggandeng tangan Layla dan mengajaknya menuju pintu kayu yang di atasnya ada kusen diukir dengan desain buah dan batang anggur yang halus. Plakat braso mendeklarasikan bahwa itu adalah Yeshiva untuk memperingati Alder Cohen; mezuzah tertanam pada kusen batu di sebelah kanannya.


“Rumah kita,” katanya dengan sedih, sambil menyentuh pintu itu. “Rumah kita yang indah.”


Keluarganya keluarga Layla telah melarikan diri selama pertempuran pada Juni 1967, meninggalkan kota hanya dengan sedikit perbekalan dan mencari perlindungan ke kamp Aqabat Jabr di luar Jericho, empat puluh kilometer jauhnya. Tadinya keadaan itu diduga sebagai tindakan sementara, dan mereka akan kembali segera setelah perang berhenti. Namun kemudian, rumah mereka diambil alih oleh orang Israel dan tidak satu pun keluhan terhadap penguasa kota yang baru dapat merebut kembali tempat itu. Sejak


itulah mereka hidup sebagai pengungsi.


“Aku dilahirkan di sini,” demikian ayahnya pernah berkata, sambil mengelus panel pintu kayu dengan lembut dan menyentuh kusen yang diukir. “Begitu juga ayahku. Dan ayahnya ayahku, dan ayahnya juga sebelum itu. empat belas generasi. Tiga ratus tahun. Kini semuanya hilang, begitu saja!” Ia mengibaskan jari-jarinya ke udara. Layla melihat air mata menetes dari mata cokelat ayahnya yang besar.


“Tak apa, ayah,” katanya sambil memeluk ayahnya, mencoba menguras seluruh kekuatan dan cintanya ke dalam tubuhnya yang kurus dan keras. “Ayah akan mendapatkannya kembali suatu hari nanti. Kita semua tinggal di sini bersama-sama. Semua akan baik-baik saja.” Sang ayah memiringkan badannya dan menggesek-gesekkan wajahnya pada rambut hitam Layla yang panjang.


“Kalau saja hal itu benar, Layla sayangku,” ia berbisik, “Tetapi tidak semua kisah berakhir bahagia. Terutama untuk orang-orang kita. Kau akan belajar tentang ini bila kau besar nanti.”

__ADS_1


KENANGAN INI DAN YANG LAIN berkelebat di benak Layla sekarang begitu ia melewati gerbang dan menapaki tanah Jalan Al-Wad yang disemen.


Biasanya, bagian kota ini akan ramai dengan kedai aneka warna yang menjual aneka bunga, buah dan rempah-rempah, para pembeli yang berbondong-bondong kian kemari, bocah laki-laki yang sambil mendengung melewati kereta kayu yang membawa tumpukan tinggi daging. hari ini, segala sesuatunya tenang tidak seperti biasanya tidak diragukan lagi, berkat penjagaan para Pejuang David yang sampai jauh ke dalam kota. Sekumpulan orang tua sedang duduk di bawah kerai timah yang berombak dari sebuah kafe; di sisi kirinya seorang perempuan petani sedang berjongkok di pintu dengan tumpukan jeruk nipis di depannya, wajahnya tenggelam dalam tangannya yang cokelat penuh keriput. Di luar itu, satu-satunya orang yang hadir adalah militer Israel dan personel polisi: trio dari brigade Giv’ati muda yang sedang wajib militer dan bersiap di belakang karung pasir penyangga meriam; satu unit polisi perbatasan mengenakan baret hijau sedang bermalas-malasan pada anak tangga di depan kafe; patroli polisi di dalam pintu gerbang, jaket biru mereka menyatu ke dalam bayangan sehingga kepala, lengan dan kaki mereka seperti menghilang ke dalam lubang kosong tempat tubuh mereka seharusnya berada.


Layla memperlihatkan kartu persnya kepada salah satu mereka, gadis cantik yang mestinya dapat menjadi model kalau saja dia tidak menjadi polisi wanita, dan bertanya apakah dirinya dapat masuk ke dalam rumah yang diduduki.


“Jalan ditutup di bawah sana,” kata perempuan itu, sambal mengamati kartu. “Tanya saja di sana.” Layla mengangguk dan terus berjalan ke pusat kota, melewati Austria hospice, Via Dolorosa, gang berisi pohon ara yang pernah diceritakan ayahnya beberapa tahun lalu yang tampak nyaris tidak tumbuh sepanjang waktu itu. Ketika tengah berjalan ia mendengar teriakan-teriakan di depannya, lalu para polisi dan serdadu semakin ramai berdatangan. Ia mulai melewati sekelompok syabab, pemuda Palestina, sebagian mengenakan ikat kepala fatah hitam dan putih, yang lain membawa bendera Palestina merah, hijau, hitam dan putih. Kelompok itu berbaur ke dalam kerumunan sehingga orang-orang jadi berjejal-jejalan. Jalan kecil menggemakan suara hiruk-pikuk yang ada, tangan-tangan yang mengepal diacungkan ke udara. Serdadu Israel menyebar di setiap sisi jalan, mencegah para pemrotes melesak ke dalam kota. Wajah-wajah tanpa ekspresi para serdadu bertentangan dengan wajah para pemrotes yang penuh amarah. Serakan abu dan kardus yang terbakar mengotori bongkahan batu tempat api dinyalakan. Kamera pengawasan Israel tergantung pada dinding seperti bangkai hewan mati, lensa-lensanya pecah dan hancur.


Layla melanjutkan perjalanan mendekati kerumunan. orang-orang yang sedang berbondong-bondong semakin rapat, dan sepertinya dia mungkin tidak akan dapat menerobos sama sekali sampai dia dikenali seorang laki-laki muda yang pernah dia wawancarai beberapa bulan lalu untuk artikelnya mengenai Gerakan Pemuda fatah. Laki-laki itu memberi salam padanya dan menjadikan dirinya sebagai pengantar Layla, melesak masuk menerobos massa sampai mereka mencapai perbatasan yang dibangun melintang oleh Israel di jalan itu. Ada sekelompok kecil Peace Now Israel sedang berkumpul bersama di sini di antara orang-orang Palestina, kemudian seseorang, perempuan yang sudah tua dalam topi rajutan, memanggilnya.


“Aku harap kau akan menulis tentang kehebohan ini, Layla! mereka akan memulai perang!”


“Itulah sesungguhnya yang ingin mereka lakukan,” teriak laki-laki di sebelahnya. “mereka akan membunuh kita semua. Usir mereka yang menduduki rumah itu! Kami ingin perdamaian. Perdamaian sekarang!” Ia maju ke depan dan menggerakkan kepalan tangannya pada barisan polisi perbatasan bersenjata lengkap yang berbaris di sisi jauh perbatasan. Di luar mereka, kerumunan jurnalis dan kru TV,


banyak dari mereka mengenakan helmet dan jaket anti-peluru, berkumpul bersama di luar rumah yang diduduki. Jauh di ujung jalan blok pembatas kedua juga sudah dibangun, yang ini menahan kerumunan orang Yahudi haredi dan kelompok sayap kanan Israel, untuk menunjukkan solidaritas dengan penghuni rumah.


Salah seorang memegang papan bertuliskan KAHANE BENAR! Yang lain adalah spanduk yang mengklaim ARAB MEREBUT TANAH BANGSA YAHUDI. Layla memperlihatkan kartu persnya kepada salah seorang serdadu di perbatasan dan setelah beberapa kali berkonsultasi dengan atasannya, ia diizinkan masuk, menerobos kerumunan para jurnalis dan berhenti di samping laki-laki berjanggut yang mengenakan kacamata kawat dan helmet pelindung plastik.


segelas air pada laki-laki itu karena menuliskan pernyataan yang merendahkan kaum perempuan Palestina, dan itu hampir membentuk pola hubungan mereka sejak itu. mereka tetap mempertahankan sopan santun baku, tetapi ada sedikit cinta yang hilang pada keduanya.


“Lihatlah topimu, Schenker,” gerutu Layla.


“Kau akan berharap bisa memakainya ketika teman Arabmu mulai melempar batu dan botol,” balasnya.


Seolah menekankan apa yang baru saja dia katakan, sebuah botol yang dilempar para pemrotes Palestina mendarat, mengempas pelataran beberapa meter di sebelah kanannya.


“Kubilang juga apa,” serunya. “Tapi aku kira mereka tidak akan pernah melempar apa pun padamu. Bukan begitu, Assadiqa? Inilah jurnalis paling pantas yang ingin mereka sakiti!” Layla setengah membuka mulutnya untuk membalas penghinaan itu, tetapi ia tidak mau ribut, dan sebagai gantinya ia hanya mencemooh dengan jarinya dan berlalu, melangkah ke barisan depan kerumunan wartawan. Jerold Kessel dari CNN sedang berjuang menyampaikan berita di depan kamera di tengah-tengah penganiayaan; di sisi kirinya polisi perbatasan Israel telah mengangkat pembatas dan mendorong mundur para pemrotes Palestina, mengarahkan mereka untuk menjauh. Teriakan-teriakan semakin membahana. Semprotan gas air mata kemudian ditembakkan. Botol-botol pun lebih banyak lagi yang dilemparkan.


Untuk sesaat Layla berdiri tak bergerak, memerhatikan sekitar, kemudian menarik kamera yang tercangklong di bahunya dan mulai memotret, mengambil gambar menorah yang disemprot di bagian pintu depan identitas tradisional para Pejuang David Bendera Israel yang terbentang di depan gedung, tentara yang bersiaga di atap pada semua sisi, barangkali untuk mencegah penduduk lokal menyerang rumah dari atas. Layla baru saja berbalik ke kanan untuk memotret pemrotes yang berpihak pada pendudukan ketika ia tiba-tiba saja merasa kerumunan di sekitarnya semakin padat dan mendesak ke depan.


Pintu rumah yang diduduki telah terbuka. Suasana hening, kemudian sosok Baruch Har-zion yang gemuk dan pendek melangkah keluar, didampingi penjaganya yang berpotongan rambut cepak, Avi Steiner. Para penentang yang pro-pendudukan bersorak dan hanyut dalam nyanyian “hatikva”, lagu nasional Israel. orang-orang Palestina dan pemrotes perdamaian, yang kini telah didorong hampir seratus meter ke belakang dan tidak dapat melihat dengan baik dan menyeluruh apa yang tengah terjadi, mendesak pembatas dan mengumandangkan lagu mereka sendiri, “Kampung halamanku, Kampung halamanku”. Steiner mendorong dengan marah para jurnalis yang berkerumun membentuk setengah lingkaran, mencoba mendorong mundur mereka. Beberapa kamera menyorot seperti lampu kelap-kelip.

__ADS_1


Untuk beberapa detik pandangan mata Har-zion bersirobok dengan mata Layla, dan kemudian mengalihkan pandangannya. Berbagai pertanyaan dilontarkan padanya seperti rentetan tembakan, tetapi ia mengabaikannya, menolehkan kepalanya ke sana kemari, senyum tersamar membuat kedua ujung mulutnya berlipat, sebelum perlahan memutar kepalanya ke beberapa arah dan mengangkat tangan kanannya secara perlahan, menandakan ia menghendaki suasana tenang. Pertanyaan mengalir dan kerumunan orang semakin ke depan, alat perekam disorongkan ke hadapan nya. Layla menyilangkan kembali kameranya di bahu dan mengeluarkan buku catatannya.


“Sebuah pepatah Yahudi Kuno mengatakan,” kata Har-zion dengan aksen bahasa Inggris yang kental, suaranya berat dan rendah seperti batu berguling. “Hamechadesh betuvo bechol yom tamid ma’aseh bereishit. Tuhan membuat rumah baru setiap harinya. Kemarin tanah ini berada di tangan musuh-musuh kami. hari ini ia telah dikembalikan kepada pemiliknya yang sah, orang-orang Yahudi. Ini adalah hari yang mulia. hari bersejarah. hari yang tidak akan dilupakan. Dan percayalah padaku, saudara-saudara sekalian,


akan datang lebih banyak lagi hari-hari seperti itu.”


*


*


*


*


*


*****_____*****


Baca Juga Novel yang lainnya Guys "Cinta Kilat Perawan Tua"


Tema Cerita tentang “Kasih Sayang keluarga terlalu manja dan berlebihan kepada anak bar gede dengan jiwa pemberontak, yang bertemu dengan Wanita bangsawan berhati keras serta kaya raya. Hingga akhirnya merubah pola pikir hidup menyendiri dan tidak ingin bertanggung jawab tentang apapun. Akhirnya harus jatuh cinta dengan paman sang gadis beliau. Ikuti ceritanya pasti seru...


*Komen dan sarannya dikolom komentar dibutuhkan, serta jangan lupa Vote ya…*


By the way, Enjoy it


Ikuti juga Instagram di: @itsme.okta


Thanks in Advanced


Best Regards

__ADS_1


*****


__ADS_2